Beranda / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 615. BERKAT BANTUAN ANGGA DAN SHASHA...

Share

615. BERKAT BANTUAN ANGGA DAN SHASHA...

last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 19:54:56

“Aku takut, Mas. Aku takut kalau nanti karier kamu hancur. Karier yang dibangun selama ini hancur karena video sampah itu. Aku nggak mau...” ucap Gendis dengan suara yang bergetar hebat. Ia meremas kemeja suaminya, menyalurkan segala kecemasan yang berkecamuk di dalam dadanya.

“Nggak, karier saya nggak akan bisa hancur secepat ini. Kamu percaya sama saya, Sayang. Saya punya banyak cara...” ucap Rain lirih. Ia mendekap Gendis semakin erat, lalu dengan lembut mengusap air mata yang membasahi pi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PELAN PELAN SAYANG   634. MARTHA MENDADAK MENGALAMI DHD DI LAPAS?

    “Aku cinta sama kamu, Mas...” bisik Gendis dengan suara serak. Kakinya masih terasa sedikit gemetar setelah pertempuran panas yang baru saja berakhir dengan ledakan gairah yang hebat. Rain tersenyum tipis, penuh kemenangan sekaligus kasih sayang. Ia segera menarik Gendis ke dalam dekapannya, membawanya duduk di atas kloset duduk yang tertutup dan memangku istrinya itu dengan posesif. Ia ingin menenangkan napas Gendis yang masih belum sepenuhnya teratur. “Capek nggak?” tanya Rain pelan. Jemarinya yang besar bergerak lembut, mengusap perut rata istrinya dengan gerakan melingkar yang protektif, seolah sedang menyapa kehidupan kecil yang mungkin sedang tumbuh di sana. “Banget, Sayang. Tapi aku suka dan aku harus layani kamu,” ucap Gendis tulus. Ia menyandarkan punggungnya pada dada bidang Rain, mencari kenyamanan dari sisa-sisa kehangatan tubuh suaminya. “Maaf, kalau saya terlalu sering menguras tenaga kamu tiap kali kita berhubungan seks,” ucap Rain penuh ketulusan. “Untung aja

  • PELAN PELAN SAYANG   633. RAIN TERLALU KUAT. GENDIS SAMPAI LUPA KALAU...

    “Sayang, ayo mandi,” ajak Rain saat melihat istrinya baru saja memasuki kamar sore itu. Rain sudah berada di dalam kamar mandi, mempersiapkan diri untuk melepas penat setelah hari yang panjang. “Tunggu sebentar, Sayang! Jangan tinggalin aku!” sahut Gendis sambil tertawa kecil. Ia segera menanggalkan pakaiannya dengan gerakan cepat, tak ingin kehilangan momen kebersamaan dengan suaminya. “Sayang...” panggil Rain lagi dari dalam bathtub yang sudah dipenuhi busa hangat, suaranya terdengar berat dan menggoda. “Tungguin!” seru Gendis. Ia berlari kecil menuju kamar mandi; tubuhnya yang indah bergerak alami mengikuti langkahnya yang tergesa. Tak lama, Gendis pun menyusul masuk ke dalam bathtub. Mereka berdua bertemu dalam dekapan air hangat yang menenangkan. Rain segera menarik pinggang istrinya agar duduk bersandar pada dadanya, membiarkan keheningan sore itu diisi oleh suara percikan air dan detak jantung mereka yang mulai berirama. “Kenapa tadi lama banget, Sayang?” tanya Rain dengan

  • PELAN PELAN SAYANG   632. APA MARTHA BENAR-BENAR BERUBAH? MERAGUKAN.

    “Jadi, Cipta sama Wanda mau pindah?” tanya Martha siang itu, sembari menikmati makan siang bersama anak, menantu, dan cucunya. “Iya, Ma. Dinas di sana,” ucap Wanda sambil mengunyah makanannya perlahan. “Tapi tenang, Ma. Dekat kok, Surabaya,” sahut Gendis menimpali, juga sembari menikmati hidangan yang dibawa oleh Rain. Sementara itu, Rain dan Cipta tampak asyik berbincang mengenai pekerjaan dan rencana kepindahan tersebut. Mereka menikmati makan siang dengan lahap, sementara Bima duduk manis di samping ayahnya sambil sesekali menjalankan mobil mainan kecilnya di atas meja. Suasana rutan yang biasanya dingin dan kaku, siang itu sama sekali tidak membuat mereka risih. Malahan, momen tersebut terkesan hangat dan santai, seolah-olah mereka sedang berpiknik atau berlibur bersama di tempat biasa. “Mama cuma bisa berdoa dari sini supaya kalian bahagia dan sehat di sana, ya. Jaga baik-baik kandungan kamu, Wanda. Gendis juga, ini anak kedua, kamu harus sehat, ya,” ucap Martha penuh kas

  • PELAN PELAN SAYANG   631. KUNJUNGAN KE RUTAN. BIMA BERTEMU MARTHA.

    “Kalau boleh tahu, Ibu Martha sendiri kenapa bisa sampai di dalam sel?” tanya salah satu penghuni rutan itu pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh bising suasana rutan sambil tangannya terus mengusap kedua lutut yang tampak gemetar.Martha terdiam sejenak. Ada gurat ketakutan yang mendalam bercampur rasa sedih yang menyesakkan dada saat ia kembali memutar memori kelam tentang kejadian yang menyeretnya hingga harus ditahan.“Maaf kalau saya lancang bertanya begitu, Bu. Habisnya, saya lihat Ibu Martha ini bukan dari kalangan seperti kami—yang miskin, lapar, dan tertinggal. Kami melakukan semua kejahatan itu karena terpaksa, hanya untuk sekadar bertahan hidup, sampai akhirnya... ya, berakhir di sini,” ucap penghuni rutan itu lagi sembari menunduk dalam, mengenang getirnya kemiskinan yang membuatnya nekat melanggar hukum, dengan melakukan pencurian kecil demi memberi makan anak-anaknya.Martha tersenyum pahit, ada rasa malu yang merayapi hatinya. “Justru itu yang membuat saya merasa lebih

  • PELAN PELAN SAYANG   630. MARTHA DAN DUA TEMAN BARU DI PENJARA.

    “Mama sudah pindah ke rutan,” ucap Cipta pagi itu dalam percakapan telepon bersama Rain. Suaranya terdengar jauh lebih tenang setelah proses administrasi yang melelahkan itu akhirnya selesai. “Oke. Thanks ya, Cipta. Jangan lupa, jam makan siang mampir ke sana. Kita makan bareng Mama juga,” sahut Rain sambil tersenyum tipis. Ia meletakkan dumbbell di samping kursi di ruang gym pribadinya. Napasnya masih sedikit memburu, dan ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang basah oleh peluh keringat, menampakkan hasil latihan paginya yang intens. “Sama-sama, Rain. Aku juga nanti ke rutan, jemput Wanda dulu dari kantor,” ucap Cipta mengakhiri pembicaraan sebelum menutup sambungan telepon. Rain mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang tersampir di bahu. Kabar kepindahan Mama ke rutan setidaknya memberikan kepastian hukum yang lebih jelas. Meski tempat itu bukan tempat yang ideal bagi seorang ibu, Rain berkomitmen untuk memastikan Mama mendapatkan perlakuan yang layak selama masa

  • PELAN PELAN SAYANG   629. SAMPAI GENDIS MENYERAH, RAIN TETAP TAK BERHENTI!

    Gendis memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya meremas seprai dan rambut Rain secara bergantian. Tubuhnya melengkung, merespons sentuhan panas yang diberikan suaminya. “Ouh... Mas... Aaah... Um...” Gendis mendesah parau. Kepalanya mendongak ke atas, mengekspos leher jenjangnya saat Rain mulai memberikan kecupan-kecupan basah dan hisapan yang dalam di dadanya. Gairah yang sedari tadi mereka tahan di dalam mobil kini tumpah tak terbendung. Bunyi kecupan yang intim terdengar jelas di keheningan kamar, menandakan betapa Rain sangat merindukan setiap jengkal tubuh istrinya. “Um...” Rain hanya mengerang rendah. Ia benar-benar tenggelam dalam setiap sesapan yang ia berikan, seolah ingin menyesap habis seluruh aroma vanila dan kehangatan yang menguar dari kulit Gendis. Nafsunya berkobar, mengaburkan segala rasa lelah yang sempat menghinggapinya. “Aaah....” Desahan Gendis kembali lolos saat jemarinya kini berpindah, mencengkeram bahu tegap Rain, menuntun pria itu untuk terus menjelajahi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status