Beranda / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 75 - GENDIS PINGSAN SETELAH BERHUBUNGAN BADAN. RAIN PANIK!

Share

75 - GENDIS PINGSAN SETELAH BERHUBUNGAN BADAN. RAIN PANIK!

last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-30 14:16:45

“Sakit?” tanya Rain, ia menyelimuti tubuh Gendis dengan hati-hati setelah keduanya lelah bercinta.

“Aku cuma capek, Mas…” ucap Gendis lirih sambil memejamkan mata. Tubuhnya terkulai, masih dibalut selimut tebal, tanpa sehelai pakaian pun melekat.

“Apa saya terlalu kuat tadi?” tanya Rain, suaranya terdengar panik melihat calon istrinya begitu lemah.

“Mungkin aku yang terlalu lemah buat melayani kamu, Mas,” ucap Gendis sambil tersenyum tipis. Namun, tatapan matanya jelas menyimpan lelah yang tak bisa ia sembunyikan.

“Saya minta maaf, Sayang…” ucap Rain, menundukkan kepala dengan penyesalan yang dalam. Ia sadar, hasratnya yang berlebihan sering membuat Gendis kewalahan.

“Aku harus terbiasa menghadapi suami aku ini yang punya nafsu terlalu… besar,” ucap Gendis sambil mengangkat tangannya, menyentuh lembut wajah Rain, sebelum akhirnya tubuhnya jatuh lemah tak sadarkan diri.

“Sayang? Sayang, kenapa! Sayang!” ucap Rain panik, mengguncang tubuh Gendis yang terpejam.

Dengan sig
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PELAN PELAN SAYANG   564. TINGKAH ANEH MARTHA. GERAK GERIK RETNO.

    “Ya, Cipta. Gimana?” sahut Rain sambil mengunyah makanannya dengan tenang. “Rain, nanti ke kantor, kan?” tanya Cipta yang suaranya terdengar renyah, seolah sedang menikmati sarapan pagi yang hangat bersama Wanda. “Iya, ke sana. Sesuai pesan kamu semalam,” ucap Rain. Ia melirik Gendis yang duduk di sampingnya, mencoba mencari ketenangan di mata istrinya sebelum menghadapi kerumitan urusan ibunya kembali. “Oke. Soalnya Dokter Retno jam tujuh nanti mau ke sana. Kamu harus jadi wali Mama juga untuk persetujuan pengobatan beliau,” tutur Cipta. Suaranya kini sedikit merendah, menyadari betapa berat beban yang harus dipikul Rain untuk menghadapi kondisi psikis Martha. “Oh, oke,” balas Rain singkat. Ia mengangguk pelan, meski dalam hati ada sedikit rasa pahit yang tersisa setiap kali nama sang ibu disebut sebagai pasien. “Bima mana? Biasa... Wanda kangen nih,” ucap Cipta kembali ceria, mencoba mencairkan suasana. “Oh, ada dong. Video call aja,” sahut Rain. Ia segera mengusap layar

  • PELAN PELAN SAYANG   563. TELEPON DARI SIAPA?

    Suasana kamar yang tadinya penuh kecemasan berubah drastis saat matahari pagi mulai naik. Ketukan sopan dari luar pintu menjadi penanda hari baru telah dimulai. “Bu... Pak... Sarapan sudah siap...” ucap Yuni, asisten rumah tangga mereka, dengan nada ramah. “Iya, Yuni! Terima kasih ya!” sahut Gendis lantang agar suaranya terdengar sampai keluar. Mendengar Yuni sudah menjauh, Rain melirik ke arah Bima yang ternyata sudah bangun sepenuhnya. Mata bulat balita itu berbinar, sisa-sisa air mata semalam telah hilang digantikan oleh binar kejenakaan. “Sarapan dulu, Sayang. Saya juga mau olahraga sebentar dan... kayaknya ada yang sudah bangun tidur nih...” ucap Rain sambil melirik jahil, berpura-pura tidak melihat Bima yang sedang berusaha menarik perhatiannya dengan senyum lebar. Gendis yang baru saja selesai mengancingkan pakaiannya setelah memberikan ASI, ikut masuk ke dalam permainan suaminya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat. “Um... masa

  • PELAN PELAN SAYANG   562. MIMPI BURUK

    Suasana hening pukul empat pagi pecah seketika. Suara tangisan Bima dari monitor bayi tidak terdengar seperti tangisan lapar biasanya; itu adalah jeritan ketakutan yang menyayat hati, seolah ia tengah terjebak dalam mimpi yang sangat buruk. “Bima?” ucap Rain dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan. Tanpa sempat memakai alas kaki, ia segera beranjak dari ranjang dengan gerakan kilat, membuat Gendis yang sedang terlelap langsung terjaga. “Mas? Kenapa?” tanya Gendis dengan suara serak karena terkejut. Namun, begitu telinganya menangkap suara teriakan Bima yang semakin melengking dari monitor kecil di atas nakas, kesadarannya pulih seratus persen. “Bima!” Gendis segera menyibak selimut dan mengejar punggung Rain yang sudah lebih dulu berlari menuju kamar anak mereka. Jantungnya berdegup kencang, memenuhi dadanya dengan firasat buruk. Begitu pintu kamar Bima terbuka, mereka mendapati anak gempal itu sedang meronta dalam tidurnya, dengan mata yang masih tertutup rapat namun air mata

  • PELAN PELAN SAYANG   561. SESEORANG YANG MELINDUNGI MARTHA, SIAPA?

    ​“Gimana, Mas?” tanya Wanda cemas malam itu. Ia langsung bangkit dari duduknya saat mendapati Cipta baru saja menginjakkan kaki di kamar mereka tepat pukul sebelas malam. “Minum dulu, Sayang. Biar aku ambilin, ya?” ​“Kamu istirahat aja, Sayang. Tiduran aja di sana, aku bisa ambil sendiri,” sahut Cipta lembut. Ia melemparkan kunci motornya ke atas meja rias, lalu memberikan senyum lelah namun menenangkan. “Yang pasti, besok pagi ruang kerja suami kamu ini bakal disulap jadi ruang konsultasi kesehatan.” ​Cipta mulai membuka kancing pakaiannya satu per satu. Wanda kembali duduk di tepi ranjang, memerhatikan setiap gerak-gerik suaminya dengan tatapan haru. ​“Jadi... kamu rela berkorban demi Mama, Sayang?” tanya Wanda, suaranya sedikit bergetar karena rasa tidak percaya sekaligus bangga. ​“Harus, dong. Siapa lagi kalau bukan kita dan adik kamu, yang bantuin dia?” ucap Cipta. ​Kini pria itu sudah bertelanjang dada, menyisakan celana jinsnya saja saat ia melangkah menuju kamar mand

  • PELAN PELAN SAYANG   560. DOKTER RETNO TAK DAPAT IZIN DARI CIPTA?

    ​“Pak Cipta, ada yang mau bertemu,” ucap salah seorang anggota polisi yang menghampiri Cipta malam itu. ​“Suruh masuk sekarang,” sahut Cipta singkat. ​Penampilannya malam itu tampak sangat santai, jauh dari kesan kaku seorang penyidik. Ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna gelap dan celana jins, mengingat jam kantor resminya memang sudah berakhir beberapa jam yang lalu. ​“Saudara Cipta?” tegur Retno saat memasuki ruangan. Ia segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan pria di hadapannya. ​“Iya, benar saya, Bu. Silakan duduk,” ucap Cipta ramah, mempersilakan Dokter Retno menempati kursi di depan mejanya. ​Retno memperhatikan penampilan Cipta sejenak sebelum duduk. “Sepertinya jam kerja Anda sudah habis, ya? Saya mengganggu waktu istirahat Anda tidak?” tanya Retno merasa sedikit tidak enak hati. ​Cipta terkekeh pelan, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang tampak sudah tua. “Kebetulan saya baru sampai sepuluh menit yang lalu dari rumah, terpanggil lagi karena

  • PELAN PELAN SAYANG   559. GENDIS TAKUT KALAU MARTHA...

    “Apa maksud kamu, Rain? Apa yang dilakukan Ibu Martha pada Bima?” tanya Dokter Retno dengan suara yang hampir berbisik, tangannya gemetar saat ia kembali memegang berkas medis di atas meja. Gendis yang berada di samping Rain mulai terisak pelan, tidak sanggup lagi menahan beban kenyataan bahwa ibu mertuanya sendiri adalah ancaman nyata bagi keselamatan buah hatinya. “Mama saya sering melakukan tindakan kekerasan sama cucunya sendiri. Dari yang paling disebut ringan, sampai yang paling berat... yang terjadi semalam. Dia memukuli anak kami seperti memukul binatang,” ucap Rain dengan rahang mengeras. Suaranya bergetar hebat, menahan ledakan emosi dan amarah yang nyaris pecah di depan Dokter Retno. “Huh... ibu Martha... sudah sejauh itu?” gumam Dokter Retno lemas. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Benar, Bu Dokter. Dan sekarang... Mama ada di kantor polisi,” tambah Gendis dengan suara serak, tangannya sibuk menyeka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status