Home / Romansa / PELAN SEDIKIT, TUAN / Bab 81. Rencana Sherina

Share

Bab 81. Rencana Sherina

Author: Nanitamam
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-30 16:42:39

“Ma, kita sudah berkeliling hampir seluruh area mal. Mama tidak merasa lelah?” tanya Zavira.

Sejak tadi, Nyonya Dayana tak henti-hentinya menarik tangan Zavira berpindah dari satu toko ke toko lainnya. Mulai dari memilih gaun, sepatu, hingga beragam aksesori pendukung.

Tumpukan paperbag di tangan sopir yang mengikuti mereka terlihat begitu banyak dan berjejer rapi.

Nyonya Dayana menoleh ke arah menantunya, lalu terkekeh geli. “Mama sama sekali tidak lelah, Sayang. Kita bahkan belum menemukan ga
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 90. Resepsi Pernikahan

    "Pengantinnya sangat cantik," puji para tamu yang hadir. "Tuan Xafier juga terlihat bahagia."Gedung megah di pusat kota kini dipenuhi tamu undangan dan tokoh penting. Hari ini, Xafier dan Zavira menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Keluarga Zavira pun turut hadir, ikut merasakan kebahagiaan di momen istimewa ini.Zavira menoleh, menatap suaminya dengan pandangan hangat. “Aku kira aku takkan pernah sampai di titik ini, Mas,” ujarnya pelan.“Tapi nyatanya kamu ada di sini, tepat di sisiku, Sayang,” jawab Xafier lembut. Tangannya melingkar erat di pinggang istrinya, mendekapkannya ke pelukan seolah tak mau melepaskan barang sedetik pun. “Maaf ya … karena bersamaku, kamu harus melewati badai yang begitu berat duluan. Tapi mulai saat ini, aku berjanji takkan membiarkan hal buruk menimpamu lagi. Sekalipun nanti ada cobaan lain datang menghadang rumah tangga kita, aku pastikan aku akan selalu ada untuk melindungimu. Aku harap, kamu tetap mau menemaniku melewati segalanya, ya?

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 89. Melepaskan obsesi

    Hening. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar jelas, memenuhi seluruh ruangan. Semua mata tertuju pada dokter, menanti penjelasan dengan perasaan harap-harap cemas, apalagi Zavira yang berdiri tepat di sisi ranjang suaminya, hatinya berdebar kencang menahan segala kekhawatiran. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Zavira dengan suara lirih yang bergetar. Setelah selesai memeriksa dan memastikan seluruh kondisi tubuh Xafier, dokter itu tersenyum tipis lega. “Syukurlah, Tuan Xafier sudah sadar sepenuhnya, dan tidak ditemukan masalah serius apa pun yang perlu dikhawatirkan,” jawabnya tenang. “Meski begitu, kami tetap harus memantau perkembangan kondisinya secara rutin untuk beberapa waktu ke depan.” Senyum Zavira mekar lebar seketika. Raut bahagia juga terlihat jelas di wajah Nyonya Dayana, Tuan Eshal, Samuel, dan Donita yang ada di sana. Sementara itu, Xafier hanya menatap mereka dengan pandangan yang masih lemah namun mulai terlihat nyata. Tanpa pikir panjang, Zavira langsung m

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 88. Xafier koma

    “Kritis?!” seru mereka serentak, suaranya melengking kaget dan penuh kepanikan."Oh My God." Johan melongo, bibirnya terbuka lebar. Suster itu hanya mengangguk perlahan dengan wajah yang tampak sedih dan penuh rasa iba. “Kini tinggal doa dan harapan kita. Kita hanya bisa berserah diri dan berharap ada keajaiban dari Tuhan yang menyelamatkan nyawanya.”Tanpa buang waktu, Zavira segera bangkit dari ranjangnya. Nyonya Dayana dan Donita sigap menahan dan menopang tubuhnya agar tidak jatuh.“Kamu mau ke mana, Nak? Jangan bertindak sembarangan,” tanya Nyonya Dayana cemas.Air mata Zavira jatuh membasahi pipinya seketika. Ia tetap melangkah maju, sementara kedua wanita itu terus menuntun dan mendampinginya berjalan.“Aku harus menemuinya. Aku mau ke tempat Mas Xafier berada,” jawabnya.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Mereka hanya mengikuti langkah Zavira menuju ruangan tempat suaminya dirawat.Sesampainya di sana, pandangan Zavira terkunci lekat pada pintu berwarna merah

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 87. Zavira hamil

    "Jangan sampai terjadi sesuatu pada Zavira, Tuhan. Aku mohon." Doa Nyonya Dayana dalam hati. Kelopak mata Zavira perlahan terbuka sepenuhnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menatap sekelilingnya yang tampak begitu asing baginya. Di samping ranjangnya, tampak Nyonya Dayana yang duduk sambil menyandarkan kepalanya, sepertinya tertidur karena kelelahan.“Ma …,” panggil Zavira lirih.Nyonya Dayana seketika tersentak kaget. Matanya yang tadinya setengah terpejam langsung terbuka lebar seketika.“Kamu sudah sadar, Sayang? Syukurlah. Ada yang sakit? Katakan saja sama Mama, biar Mama segera panggil dokter,” ujarnya cemas, lalu hendak bangkit dari duduknya.Namun, tangan Zavira dengan cepat menahan pergerakan wanita itu.“Tidak usah, Ma. Aku tidak merasa sakit apa-apa, aku baik-baik saja,” ucapnya lembut namun jelas. Wajahnya tampak cemas saat kembali bertanya, “Bagaimana keadaan Mas Xafier, Ma? Operasinya berjalan lancar, kan? Dia baik-baik saja, kan, Ma?”“Tenanglah, Nak. Tanyakan satu pe

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 86. Sherina ditangkap polisi

    "Aku melukai Xafier.... "Sherina terduduk lesu di sudut ruangan, tubuhnya meringkuk. Tangisnya tak henti sejak kejadian itu berlangsung. Sebenarnya, hatinya ingin berlari menyusul Xafier, namun ayahnya tegas menahan. Ia tak mau putrinya hadir di sana dan justru memicu keributan yang lebih parah lagi.Di saat itu, Liam—sosok yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya—mendekat perlahan. Ia berjongkok tepat di hadapan Sherina, lalu mengusap lembut helai rambutnya yang berantakan.“Sudah, jangan menangis lagi,” bujuknya pelan.“Pergi! Aku tak butuh belas kasihan atau bantuanmu!” bentak Sherina keras sambil menepis tangan itu dengan kasar.Liam menghela napas panjang. Namun tak sedikitpun berniat mundur. “Jangan bersikap begitu, Sherina. Aku mengerti betapa terguncangnya dirimu saat ini, dan aku sama sekali tak menyalahkanmu.”Sementara itu, Bram hanya duduk diam. Pikirannya berputar kacau mengingat kelakuan putrinya. Ia sadar betul, setelah kejadian ini, Tuan Eshal pasti takkan tinggal

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 85. Jangan tinggalkan aku, Mas

    "Ya Allah, lindungi suamiku!"Ketegangan membentang begitu lama di ruang tunggu UGD yang sunyi itu. Saat Tuan Eshal tiba dengan napas yang masih memburu, pemandangan yang tertangkap oleh matanya membuat jantungnya serasa diremas kuat. Di sana, Zavira berdiri kaku tepat di depan pintu tertutup ruang perawatan, matanya tak lepas menatap celah pintu itu seolah berharap bisa melihat ke dalam. Sementara di kursi tidak jauh dari sana, Nyonya Dayana terisak hebat, menutup wajahnya dengan kedua tangan.Hati Tuan Eshal terasa perih, nyaris hancur melihat keadaan kedua wanita yang dicintai putranya itu. Ia melangkah mendekat perlahan, namun tak disadari air matanya justru menetes diam-diam membasahi pipinya“Sayang …,” panggilnya lirih, tepat di samping istrinya.Nyonya Dayana mendongak perlahan. Matanya bengkak dan sembab, tatapannya tampak kosong namun penuh kepedihan. Ia seketika bangkit dan langsung memeluk tubuh suaminya erat-erat.“Kamu dari mana saja, Mas? Aku dan Zavira sudah menunggu

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 83. Xafier tertusuk

    "Apa yang dikatakan Tuan Xafier barusan?""Sherina pembunuh? Apa maksudnya?"Semua orang saling berbisik dengan mata tertuju pada Sherina. "Brengsek, jadi dia benar-benar tidak peduli padaku?"Tangan Sherina mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang meledak-ledak di dadan

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 82. Pria masa lalu

    "Dia pasti datang."Malam yang selama ini dinanti-nantikan oleh Sherina akhirnya tiba juga. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah maroon yang terlihat begitu menyala dan memikat.“Kamu tampak begitu cantik malam ini, Sherina,” puji seorang pria di sela keramaian.Sherina menoleh perlahan. Ia me

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 80. Penguntit

    Wajah Xafier tertunduk lesu. Ia lalu menoleh, menatap Zavira yang tampak diam saja di sampingnya. Hatinya terasa sesak, ia merasa sangat bersalah karena telah menyeret istrinya ke dalam situasi yang tak nyaman seperti ini.“Aku minta maaf—” “Lebih baik kamu turuti saja permintaan Papa, Mas,” poton

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 79. Undangan makan malam

    "Dari Papa, " jawab Xafier dengan helaan nafas panjang. "Papa? Apa ada hal penting wajah kamu sampai tegang begini?""Entahlah."Suara detak jarum jam terdengar jelas, menjadi satu-satunya irama yang mengisi keheningan di ruangan itu. Kepala Nyonya Dayana terasa begitu berat, namun pesan yang dik

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status