Beranda / Romansa / PELAN SEDIKIT, TUAN / Bab 80. Penguntit

Share

Bab 80. Penguntit

Penulis: Nanitamam
last update Tanggal publikasi: 2026-04-30 07:02:39

Wajah Xafier tertunduk lesu. Ia lalu menoleh, menatap Zavira yang tampak diam saja di sampingnya. Hatinya terasa sesak, ia merasa sangat bersalah karena telah menyeret istrinya ke dalam situasi yang tak nyaman seperti ini.

“Aku minta maaf—”

“Lebih baik kamu turuti saja permintaan Papa, Mas,” potong Zavira dengan cepat namun nada bicaranya lembut.

Mata Xafier seketika membelalak. “Apa maksudmu?”

Zavira tersenyum tipis. Ia menatap lekat manik mata suaminya. “Kita datang saja ke acara itu, Mas.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 90. Resepsi Pernikahan

    "Pengantinnya sangat cantik," puji para tamu yang hadir. "Tuan Xafier juga terlihat bahagia."Gedung megah di pusat kota kini dipenuhi tamu undangan dan tokoh penting. Hari ini, Xafier dan Zavira menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Keluarga Zavira pun turut hadir, ikut merasakan kebahagiaan di momen istimewa ini.Zavira menoleh, menatap suaminya dengan pandangan hangat. “Aku kira aku takkan pernah sampai di titik ini, Mas,” ujarnya pelan.“Tapi nyatanya kamu ada di sini, tepat di sisiku, Sayang,” jawab Xafier lembut. Tangannya melingkar erat di pinggang istrinya, mendekapkannya ke pelukan seolah tak mau melepaskan barang sedetik pun. “Maaf ya … karena bersamaku, kamu harus melewati badai yang begitu berat duluan. Tapi mulai saat ini, aku berjanji takkan membiarkan hal buruk menimpamu lagi. Sekalipun nanti ada cobaan lain datang menghadang rumah tangga kita, aku pastikan aku akan selalu ada untuk melindungimu. Aku harap, kamu tetap mau menemaniku melewati segalanya, ya?

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 89. Melepaskan obsesi

    Hening. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar jelas, memenuhi seluruh ruangan. Semua mata tertuju pada dokter, menanti penjelasan dengan perasaan harap-harap cemas, apalagi Zavira yang berdiri tepat di sisi ranjang suaminya, hatinya berdebar kencang menahan segala kekhawatiran. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Zavira dengan suara lirih yang bergetar. Setelah selesai memeriksa dan memastikan seluruh kondisi tubuh Xafier, dokter itu tersenyum tipis lega. “Syukurlah, Tuan Xafier sudah sadar sepenuhnya, dan tidak ditemukan masalah serius apa pun yang perlu dikhawatirkan,” jawabnya tenang. “Meski begitu, kami tetap harus memantau perkembangan kondisinya secara rutin untuk beberapa waktu ke depan.” Senyum Zavira mekar lebar seketika. Raut bahagia juga terlihat jelas di wajah Nyonya Dayana, Tuan Eshal, Samuel, dan Donita yang ada di sana. Sementara itu, Xafier hanya menatap mereka dengan pandangan yang masih lemah namun mulai terlihat nyata. Tanpa pikir panjang, Zavira langsung m

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 88. Xafier koma

    “Kritis?!” seru mereka serentak, suaranya melengking kaget dan penuh kepanikan."Oh My God." Johan melongo, bibirnya terbuka lebar. Suster itu hanya mengangguk perlahan dengan wajah yang tampak sedih dan penuh rasa iba. “Kini tinggal doa dan harapan kita. Kita hanya bisa berserah diri dan berharap ada keajaiban dari Tuhan yang menyelamatkan nyawanya.”Tanpa buang waktu, Zavira segera bangkit dari ranjangnya. Nyonya Dayana dan Donita sigap menahan dan menopang tubuhnya agar tidak jatuh.“Kamu mau ke mana, Nak? Jangan bertindak sembarangan,” tanya Nyonya Dayana cemas.Air mata Zavira jatuh membasahi pipinya seketika. Ia tetap melangkah maju, sementara kedua wanita itu terus menuntun dan mendampinginya berjalan.“Aku harus menemuinya. Aku mau ke tempat Mas Xafier berada,” jawabnya.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Mereka hanya mengikuti langkah Zavira menuju ruangan tempat suaminya dirawat.Sesampainya di sana, pandangan Zavira terkunci lekat pada pintu berwarna merah

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 87. Zavira hamil

    "Jangan sampai terjadi sesuatu pada Zavira, Tuhan. Aku mohon." Doa Nyonya Dayana dalam hati. Kelopak mata Zavira perlahan terbuka sepenuhnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menatap sekelilingnya yang tampak begitu asing baginya. Di samping ranjangnya, tampak Nyonya Dayana yang duduk sambil menyandarkan kepalanya, sepertinya tertidur karena kelelahan.“Ma …,” panggil Zavira lirih.Nyonya Dayana seketika tersentak kaget. Matanya yang tadinya setengah terpejam langsung terbuka lebar seketika.“Kamu sudah sadar, Sayang? Syukurlah. Ada yang sakit? Katakan saja sama Mama, biar Mama segera panggil dokter,” ujarnya cemas, lalu hendak bangkit dari duduknya.Namun, tangan Zavira dengan cepat menahan pergerakan wanita itu.“Tidak usah, Ma. Aku tidak merasa sakit apa-apa, aku baik-baik saja,” ucapnya lembut namun jelas. Wajahnya tampak cemas saat kembali bertanya, “Bagaimana keadaan Mas Xafier, Ma? Operasinya berjalan lancar, kan? Dia baik-baik saja, kan, Ma?”“Tenanglah, Nak. Tanyakan satu pe

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 86. Sherina ditangkap polisi

    "Aku melukai Xafier.... "Sherina terduduk lesu di sudut ruangan, tubuhnya meringkuk. Tangisnya tak henti sejak kejadian itu berlangsung. Sebenarnya, hatinya ingin berlari menyusul Xafier, namun ayahnya tegas menahan. Ia tak mau putrinya hadir di sana dan justru memicu keributan yang lebih parah lagi.Di saat itu, Liam—sosok yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya—mendekat perlahan. Ia berjongkok tepat di hadapan Sherina, lalu mengusap lembut helai rambutnya yang berantakan.“Sudah, jangan menangis lagi,” bujuknya pelan.“Pergi! Aku tak butuh belas kasihan atau bantuanmu!” bentak Sherina keras sambil menepis tangan itu dengan kasar.Liam menghela napas panjang. Namun tak sedikitpun berniat mundur. “Jangan bersikap begitu, Sherina. Aku mengerti betapa terguncangnya dirimu saat ini, dan aku sama sekali tak menyalahkanmu.”Sementara itu, Bram hanya duduk diam. Pikirannya berputar kacau mengingat kelakuan putrinya. Ia sadar betul, setelah kejadian ini, Tuan Eshal pasti takkan tinggal

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 85. Jangan tinggalkan aku, Mas

    "Ya Allah, lindungi suamiku!"Ketegangan membentang begitu lama di ruang tunggu UGD yang sunyi itu. Saat Tuan Eshal tiba dengan napas yang masih memburu, pemandangan yang tertangkap oleh matanya membuat jantungnya serasa diremas kuat. Di sana, Zavira berdiri kaku tepat di depan pintu tertutup ruang perawatan, matanya tak lepas menatap celah pintu itu seolah berharap bisa melihat ke dalam. Sementara di kursi tidak jauh dari sana, Nyonya Dayana terisak hebat, menutup wajahnya dengan kedua tangan.Hati Tuan Eshal terasa perih, nyaris hancur melihat keadaan kedua wanita yang dicintai putranya itu. Ia melangkah mendekat perlahan, namun tak disadari air matanya justru menetes diam-diam membasahi pipinya“Sayang …,” panggilnya lirih, tepat di samping istrinya.Nyonya Dayana mendongak perlahan. Matanya bengkak dan sembab, tatapannya tampak kosong namun penuh kepedihan. Ia seketika bangkit dan langsung memeluk tubuh suaminya erat-erat.“Kamu dari mana saja, Mas? Aku dan Zavira sudah menunggu

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 20. Menguji perasaan.

    Dr. Bima tidak langsung menjawab. Ia justru menarik napas pelan, lalu menatap Xavier.“Kamu tidak gila, Xafier. Tapi kamu sudah menemukan seseorang yang membuatmu merasa nyaman.”Kening Xafier langsung berkerut. Ia seperti baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.“Itu konyol,” potongnya cepat.Dr

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 18. Pria Hyper

    “Pinggangku.”Ringisan pelan lolos dari bibir Zavira bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka. Ia mencoba bergerak sedikit dan langsung menyesalinya.“Awww!” desisnya lirih sambil memejamkan mata lagi.Perihnya menjalar dari pinggang sampai ke punggung. Bahkan sekadar menarik napas saja sakit.De

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 10. Harga yang harus dibayar

    Di kantor lain."Kalian kenapa?" Zavira duduk dengan wajah kebingungan. Alisnya mengerut dalam saat melihat dua kartu ATM yang disodorkan ke hadapannya. “Aku tanya maksud kalian apa?” tanya Zavira lagi dengan nada pelan, suaranya terdengar ragu.Di depannya, Johan atau yang lebih sering dipanggil

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 7. Pelukan Nyaman

    "Kenapa tidak diangkat? Sebenarnya pergi kemana sih dia?" geram Sherina seraya berjalan mondar-mandir sejak tadi.Gaun tidur satin yang ia kenakan menjuntai mengikuti langkahnya. Gaun yang cukup terbuka dengan warna mencolok. Namun orang itu tak kunjung muncul.Sherina kembali meraih ponselnya dar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status