Home / Thriller / PELUKAN BERDARAH / API MARAH DAN PENYESALAN

Share

API MARAH DAN PENYESALAN

Author: Ayuwine
last update Last Updated: 2025-08-19 06:35:50

“Ya… yaa benar! Bunuh saja istriku dulu! Dia sudah mengaku memilih dirinya sendiri! Kalau begitu kami bisa bebas!” suara Surya meledak tanpa rasa malu sedikit pun.

Darah Vita seolah mendidih. Jantungnya berdentum keras, tak percaya bahwa suami yang selama ini ia cintai, lindungi, dan taati bisa mengucapkan kata setega itu. Tatapannya membara, air matanya menetes bukan lagi karena takut, melainkan karena hancur dan marah.

Tanpa pikir panjang, Vita yang sejak tadi sudah tak terikat bangkit dengan tubuh gemetar namun penuh keberanian. Dengan cepat, ia merebut pisau dari tangan Nayla. Semua mata terbelalak, waktu seakan melambat.

BLES!

Ujung pisau itu menancap dalam di tangan Surya. Darah segar menyembur, jatuh menodai lantai.

“AHK!!!” teriakan Surya menggema memenuhi ruangan. Tubuhnya meronta, matanya melotot tak percaya istrinya sendiri yang menusuknya.

“Mamaaa!!” Tiara dan Arya berteriak bersamaan, suara mereka pecah di udara yang semakin mencekam.

Namun Nayla? Ia hanya b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELUKAN BERDARAH   UANG ATAU CINTA?

    “Mau kemana?” tanya Edward di pagi hari, nada suaranya datar namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa heran saat melihat istrinya sudah sangat rapi dan cantik. Nayla menoleh, tersenyum manis. Senyum itu begitu tulus, membuat dada Edward sedikit terhentak—seolah untuk sesaat ia lupa siapa dirinya sebenarnya. “Kamu lupa, Mas? Di rumah sewaanku yang dulu ada Kak Riko dan Tama. Aku ingin menemui mereka. Aku sudah rindu…” jawabnya penuh semangat. Edward terdiam. Mas? ucapannya bergema di telinganya. Panggilan itu sederhana, tapi anehnya, membuat hatinya terasa hangat—perasaan yang seharusnya tak boleh ia rasakan. Nayla melangkah mendekat, tangannya yang lembut melingkar di leher Edward. Ia menatap dalam, lalu berbisik di telinganya, “Kamu suamiku… dan aku akan memanggilmu Mas mulai sekarang.” Edward menelan ludah, kaku, mencari alasan untuk mengalihkan. “Kamu berlebihan, Nay. Kenapa nggak seperti biasa saja…” Hap! Bibirnya tiba-tiba direbut Nayla dalam kecupan singkat nam

  • PELUKAN BERDARAH   SIAPA SANGKA?

    Dan waktunya pun tiba. Nayla terpaksa berpamitan, meninggalkan Riko sendirian di Hongkong. Di dalam hati, ia berdoa sungguh-sungguh—semoga hubungan Kakaknya dengan Tama bisa lekas membaik, bisa kembali pulih. Hanya dengan begitu, rasa bersalah yang menghantuinya mungkin bisa sedikit reda. Mereka berpisah di bandara. Pelukan hangat menyatukan keduanya, pelukan yang menenangkan Nayla meski hatinya terasa berat. “Aku janji akan datang ke pesta pernikahanmu. Jangan lupa… selalu hubungi Kakakmu ini,” bisik Riko lembut di telinganya. Nayla mengangguk, air matanya kembali mengalir. Sebelum benar-benar melepas, Riko menyempatkan mengusap wajah adiknya, menghapus sisa air mata dengan ibu jarinya. Mulai sekarang, ia sadar… Nayla bukan lagi hanya miliknya. Nayla melangkah masuk bersama Edward ke dalam pesawat. Mereka menemukan kursinya, Nayla duduk di dekat jendela. Dari balik kaca, ia melambaikan tangan, menatap ke arah Riko yang berdiri di ruang tunggu bandara. Riko tersenyum, meng

  • PELUKAN BERDARAH   INI SALAH KU

    “Ed…” panggil Nayla lagi sambil meraih tangan kekasihnya. Namun Edward menepisnya dengan kasar, sorot matanya penuh kekecewaan. “Kenapa kamu nggak pernah memberitahuku soal ini? Siapa pelakunya, Nay?” suaranya pecah antara khawatir dan marah. Nayla terdiam, bibirnya bergetar tapi tak sanggup menjawab. “Mari masuk, Ed. Kita bicarakan di dalam,” sela Riko dengan nada rendah. Ia bisa merasakan dan mengerti betul kemarahan yang membara di dada calon adik iparnya itu. Edward menoleh sekilas, napasnya berat. Tanpa sepatah kata pun, ia akhirnya melangkah masuk, melewati Nayla begitu saja, seakan-akan mengabaikan keberadaan gadis itu. Nayla berdiri terpaku di depan pintu, hatinya remuk oleh tatapan kecewa Edward yang masih membekas. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Di meja, sebuah laptop terbuka dengan layar yang masih menyala. Nayla menatap benda itu dengan mata melebar. Ia menggeleng pelan, dadanya sesak. Kenapa Kak Riko malah menunjukkannya…? Kenapa harus rekaman CCTV itu…? batin

  • PELUKAN BERDARAH   KEDATANGANNYA

    Dua hari sudah berlalu. dan kini Tama terdiam di depan pintu dengan ragu. Ia tahu, ia tak bisa terus begini. Semua harus diperbaiki, bagaimanapun caranya. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah berharap rasa gugup itu ikut pergi bersama hembusannya. Tangannya terkepal, terangkat ke udara— Tok... tok... tok... Namun, tak ada jawaban. Pintu tetap tertutup rapat. Tama meringis, diam sejenak, matanya tak lepas dari pintu yang tak kunjung terbuka. Beberapa detik ia terjebak dalam hening, sampai akhirnya kesadaran menohoknya. “Astaga… kegugupan ini membuatku lupa,” gumamnya lirih, menatap bel rumah yang menempel manis di samping pintu. Tama menekan bel itu perlahan, seolah takut bel berbunyi terlalu keras. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Hingga— Kreeet. Pintu terbuka dari dalam. Tama menoleh, lalu seketika tubuhnya membeku. Nayla. Dialah yang muncul di ambang pintu. Wajahnya masih tampak bengkak dan memar, membuat dada Tama sesak. Namun,

  • PELUKAN BERDARAH   CEMBURU BERLEBIHAN

    Flashback Tama berlari sekuat tenaga, air matanya menetes deras tanpa henti. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin meledak bersama rasa malu yang menyesakkan dada. Bruk! Pintu rumah terbuka dengan hentakan keras. Kedua orang tuanya sontak menoleh. Ali dan Vita saling bertatapan, terkejut sekaligus heran melihat wajah putri mereka yang pucat dan berantakan. Ali melangkah mendekat, pandangannya tajam penuh tanya. Namun sebelum sempat berkata banyak, tubuh Tama sudah merosot lemah ke lantai. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, bahunya berguncang menahan tangis. “Aku malu, Ayah…” suaranya parau, nyaris tak terdengar. “Semua hanya salah paham. Dia bukan selingkuhannya… dia adiknya.” Vita terbelalak, wajahnya berubah pucat. “Apa?” teriaknya tak percaya. Sang ibu menutup mulutnya dengan tangan, napasnya memburu. “Astaga… ini bencana, Tama.” Panik melanda. Vita mendekat, suaranya meninggi, “Kau harus segera kembali pada Riko. Minta maaflah. Aku yakin dia akan memaafka

  • PELUKAN BERDARAH   TAMA

    “Aku… aku tidak tahu kalau dia Nayla,” ucap Tama terbata, suaranya bergetar. Air matanya jatuh, seolah berharap Riko akan luluh. Namun tiba-tiba suara lemah terdengar memecah keheningan. “Kenapa… kamu tadi begitu lantang bicara bahasa Inggris?” sela Nayla dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, dada terasa perih akibat tendangan brutal yang baru saja diterimanya. “Sekarang… kenapa beralih ke bahasa Indonesia?” Kata-kata itu membuat ruangan seolah membeku. Semua mata tertuju pada Tama. Tama tercekat. Tubuhnya gemetar, wajahnya memerah menahan malu. Perlahan kepalanya tertunduk, seakan tak sanggup menatap siapapun lagi. Sementara itu, semua orang di ruangan menatap dengan penuh keheranan. Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka, pasalnya tak satu pun dari mereka yang mengerti bahasa yang baru saja digunakan. “Bicara apa mereka?” tanya seorang pria berjas, dengan alis terangkat bingung. “Apa mereka sedang berbicara bahasa Indonesia?” sambung yang lain dalam bahasa Ingg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status