Share

PEMBANTU NAIK KELAS
PEMBANTU NAIK KELAS
Penulis: artfinger

Bab 1. Cincin Berlian

TIIN. TIIN.

Sebuah klakson mobil terdengar begitu nyaring, yang membuat kesal beberapa anak kos di bangunan tempat mobil itu menghentikan lajunya.

Mobil sport dua pintu berwarna putih, dilengkapi suara knalpot Akrapovic itu menanti seseorang.

Rere berlari tunggang langgang dari kamarnya menuju sumber suara yang membuat kegaduhan barusan.

Ternyata benar, suara klakson tadi berasal dari mobil seseorang yang sudah dia nanti sejak setengah jam yang lalu.

Bahkan, dia sudah begitu sulit memilah dan memilih baju untuk hari ini sejak dua jam yang lalu. Akhirnya, sebuah dress merah selutut yang warnanya agak pudar, dilengkapi lengan tiga per empat, serta dandanan ala kadarnya pun membuatnya begitu percaya diri untuk mendekati mobil tersebut.

Saat tiba di pintu gerbang, salah satu anak kos laki-laki di rumahnya sedang berdiri memegang pagar, dan berbicara dengan tamunya.

“Wih, mobil baru lagi, bree?” tanya anak kos itu, “Mau jemput siapa? Turunlah! Nggak sopan, dong, cuma ngebunyiin klakson doang.”

“Freza, nggak usah ikut campur deh. Aku yang punya rumah ngerasa biasa saja. Zeega sopan, kok.” Segera saja Rere menjawab kalimat Freza, lelaki yang menyewa salah satu kamar kos di rumahnya.

Rere segera meminta maaf kepada Zeega atas kelakuan Freza, yang dibalas segera oleh Zeega, “Nggak pa-pa Re, dia bener.”

Zeega melenggang turun dari mobil sport-nya, dan segera membukakan pintu bagi Rere. Yang dibukakan pintu langsung senyum-senyum sendiri kegirangan, tetapi hanya sebuah senyum simpul yang berani dia tunjukkan.

“Terima kasih ya.”

“Dengan senang hati, tuan putri.” Zeega menjawab dengan sedikit membungkuk dan satu tangannya dilambaikan, serta tangan lainnya di depan dada. Adegan yang sudah pasti membuat para kaum hawa seperti diterbangkan ke awan, merasa sangat dihargai dan dihormati.

“Lebay,” ledek Freza dengan senyum sinisnya. Mata Rere langsung saja melotot ke arah Freza dan memonyongkan bibirnya.

Tidak perlu waktu lama, Zeega sudah melangkah memasuki mobil, sambil melambaikan tangan ke arah Freza dengan tatapan hormat dan sedikit membungkuk.

Maklum, meskipun Freza seakan akrab dengan mereka, sebenarnya dia satu tingkat di atas mereka berdua. Namun, karena beberapa masalah yang terjadi pada Freza, dia telat satu tahun sehingga saat ini berada di semester terakhir bersama Rere dan Zeega.

Dengan tak acuh, tubuh Freza berbalik untuk memasuki area bangunan kos dan tidak menyambut salam dari Zeega.

Seakan, dia merasa tidak menyukai Zeega. Padahal, Zeega terkenal selalu berperilaku baik di kampus.

***

Hanya perlu 20 menit bagi Zeega untuk melajukan mobil, hingga tiba di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Waktu yang cukup singkat bagi seorang lelaki yang begitu pandai mengemudi, didukung dengan lalu lintas yang belum begitu ramai saat siang hari.

Berbeda dengan Rere yang merasa waktu 20 menit itu begitu lama. Selama perjalanan, mulut Rere seakan kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun. Kedua tangannya saling ditelungkupkan, sembari punggungnya bersandar ke kursi.

Sesekali dia mencuri pandang ke pria di sebelahnya, yang terlihat begitu anggun mengemudi. Dan segera mengalihkan lirikan mata saat wajah Zeega seakan tertuju padanya.

Zeega tidak memasuki gedung parkiran, melainkan berhenti di depan lobby dan menyerahkan kunci pada petugas valet parking.

Tak lupa, lagi-lagi tindakan Zeega membukakan pintu bagi Rere, mampu melelehkan diri wanita itu hingga rasanya lutunya lunglai. Namun, dia tidak boleh sampai jatuh.

Beberapa orang melirik ke arah pasangan yang baru turun dari mobil itu.

Dengan tak acuh, mereka terus melenggang melewati beberapa pasang mata yang mengawasi. Bagi Rere, pandangan itu membuatnya sedikit sombong.

Dia merasa bahwa orang-orang itu iri dan tidak habis pikir bagaimana bisa seorang lelaki tinggi, tampan, dengan kulit yang begitu putih bak pualam bisa berjalan bersama seorang wanita berkulit kuning langsat, disertai dandanan yang sangat minimalis.

Apalagi mereka turun dari mobil yang tidak biasa.

Zeega menuntun untuk memasuki pintu masuk gedung perbelanjaan, dan mereka menuju ke area yang lebih sepi.

Di area ini banyak diperjual-belikan barang-barang dari brand ternama, sehingga pantas jika memang tidak banyak pengunjung.

Langkah kaki pria berambut hitam dengan gaya french-crop itu menuju sebuah toko perhiasan. Rere bingung.

Belum sempat dia bertanya, suara ponsel Zeega berbunyi dan langsung diangkat oleh pemiliknya.

“Re, kamu pilih-pilih dulu cincin yang menurut kamu bagus ya. Aku angkat telepon dulu sebentar.” Kaki pria itu melangkah keluar toko untuk menjawab telepon.

Kalimat terakhir tadi membuat tubuh Rere kaku. Dia berusaha mencerna kalimat Zeega, tetapi tetap saja bingung dan tidak menemukan jawaban dari kebingungannya.

Jantungnya yang dari tadi sudah berdetak kencang, kini terpacu menjadi semakin kencang. Bagaimana bisa aku milih cincin? Cincin untuk apa? tanyanya dalam hati.

Rere berusaha mengingat kejadian beberapa hari terakhir. Memang mereka berdua sering bersama di kampus, untuk mengerjakan tugas, makan siang, bahkan sesekali Zeega mengantar-jemputnya.

Beberapa kali pria itu memang meminta tolong untuk dibantu belajar dan mengerjakan tugas. Selain itu, kelakuan Zeega terasa begitu baik terhadap Rere.

Namun, dia selalu membuang jauh-jauh pikiran bahwa Zeega memang menyukainya. Selain karena status sosial mereka berbeda, dia pun bukan wanita populer dan cantik di kampus, meskipun juga tidak termasuk cewek jelek.

Contohnya hari ini, laki-laki itu memperlakukan Rere layaknya sang putri. Tangannya memegang dadanya, menahan detakan jantungnya yang semakin cepat.

Apa maksud semua ini, pikirnya.

“Nona, maaf. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang wanita penjaga toko.

Sontak saja Rere kembali tersadar dan memandang ke sumber suara.

Saat tubuhnya mendekat ke meja kaca transparan yang memamerkan beberapa perhiasan, wanita tadi seakan menahan tawanya. Sesekali dia berbalik muka ke belakang untuk mengatur napas.

Rere tidak peduli dengan tingkah pelayan toko di hadapannya.

“Mbak, coba lihat yang ini dan itu,” pinta Rere kepada sang pramuniaga.

Dua buah cincin kini diletakkan di atas meja untuk diteliti oleh Rere. Dia mengangkat salah satu cincin dan melihat dari berbagai sudut. Cicin itu bertatahkan emas puti dan batu-batu permata berukuran kecil.

Dia pun mencoba cincin yang satu lagi. Hanya ada satu batu permata berukuran cukup besar pada cincin kedua tersebut.

Dia memasukkan cincin itu di salah satu jarinya, dan menjulurkannya untuk melihat apakah terlihat indah. Saat dia mendekati sebuah cermin bundar di atas meja untuk melihat keserasian cincin dengan jarinya, dia mendapati ada yang aneh dengan wajahnya.

Hah! Bagaimana bisa? Berarti dari tadi pelayan toko ini ngetawain aku? gumamnya dalam hati. Dia segera berlari keluar toko tanpa melepaskan cincin tersebut.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status