Share

Bab 4. Prosesi Akad

Tidak terasa sudah selesai masa-masa perkuliahan bagi Rere dan teman-teman seangkatannya, termasuk Freza dan beberapa mahasiswa lain yang juga telat pun mampu mengikuti wisuda di periode yang sama.

Masih terasa aneh bagi Rere bahwa, saat wisuda beberapa hari yang lalu tidak diikuti oleh Zeega. Padahal, tiga bulan sebelumnya, dia malah takut saat mau masuk ke kampus akan bertemu temannya itu, setelah kejadian di mall yang memalukan itu. Namun, dia malah disuguhi berita bahwa sehari setelah kejadian tidak mengenakan di mall, Zeega memutuskan pindah kuliah dan tidak ada lagi kabarnya.

Karena menjadi misteri, bahkan setelah beberapa bulan pun kepergian Zeega yang tiba-tiba masih menjadi berita segar yang selalu diperbincangkan di beberapa kesempatan. Rere pun terkadang masih bertanya-tanya, bahkan sesekali membicarakan hal ini kepada Freza.

“Apaan sih, Re. Udah lama, masih dibahas juga. Kita ini sudah wisuda, yang berlalu biarlah berlalu,” jawab Freza ketus.

“Iya sih. Tapi, aku itu kasian. Katanya perusahaan keluarganya bangkrut. Kok, bisa? Padahal kemarinnya masih bisa beli cincin mahal begitu sama aku. Eh, besoknya langsung dapat kabar kayak gitu. Kasian, kan ....” Rere masih saja merasa iba dengan kejadian yang menimpa Zeega dan keluarganya.

Freza tidak lagi menanggapi kalimat-kalimat Rere. Freza begitu kesal. Sejak tubuhnya mendarat sempurna di kursi ruang tamu Rere, wanita itu langsung nyerocos mengenai Zeega, bukannya bertanya keperluannya datang.

“Lho, ada Nak Freza. Katanya sudah mau keluar kos, ya, akhir bulan ini? Sudah dapat kerja? Rere ini malah sibuk nulis saja di depan laptop, nggak tahu nulis apa. Katanya malah mau jadi penulis novel saja. Ibu sampai bingung.” Bu Suli tiba-tiba muncul dari dalam dan ikut duduk di ruang tamu.

“Lho, kamu sudah mau pindah, Mas? Kok, aku nggak tahu?” Rere ikut bertanya, penasaran.

“Ya, bagaimana mau tau, yang kamu omongin Zeega melulu, orang yang nggak ada di sini. Ibumu malah lebih tahu tentang aku.” Dia berhenti sejenak, lalu menghadap ke Bu Suli dan berkata, “Saya sudah dapat kerja, Alhamdulillah. Tapi, di luar Pulau Jawa. Nantinya, dapat tempat tinggal sementara dari perusahaan.”

Wajah Rere memerah karena malu. Dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang seseorang yang paling dekat dengannya saat ini. Sebelum dia bertanya lebih lanjut, Bu Suli sudah menimpali kalimat Freza.

“Alhamdulillah. Semoga lancar ya, Nak. Setelah kerja, disegerakan menikah, agar punya teman hidup yang halal.”

Rere tertawa mendengar nasihat ibunya itu. Bagaimana mau menikah, sekarang saja tidak ada wanita yang dikencani oleh Freza, pikirnya. Tawanya langsung mengundang pelototan mata Freza, yang merasa kesal.

“Baik, Bu. Itu juga maksud saya ke sini. Saya ingin melamar Rere. Jadi, dia tidak perlu susah-susah cari kerja. Insya Allah saya siap lahir dan batin. Alhamdulillah, saya mendapat pekerjaan bagus. Rere bisa sesukanya jika ingin menulis novel, atau tetap mencari kerja.”

Seperti petir di siang bolong, kalimat itu membekukan tubuh Bu Suli dan Rere di waktu yang sama. Melihat reaksi ibu dan anak itu, Freza menjadi begitu canggung. Dia tidak mengharapkan reaksi ini. Lelaki itu sudah siap jika ditolak atau dimarahi. Namun, ekspresi mematung itu malah membuatnya bingung.

***

Beberapa bulan kemudian, setelah pembicaraan yang tidak sebentar, prosesi sakral ijab-kabul pun berjalan bagi Rere dan Freza. Sesuai permintaan Rere, yang sebelumnya hanya berupa gurauan, kini dipenuhi oleh Freza sebagai kenyataan, yaitu sebuah cincin dengan batu berlian yang cukup besar serta mas kawin 10 gram emas batangan 24 karat.

Dengan alasan susahnya memboyong keluarga ke pernikahan, Freza hanya membawa dua lelaki dewasa yang katanya adalah pakdenya. Acara begitu khidmat. Untuk sementara, pernikahan mereka tidak akan didaftarkan di pencatatan sipil, hanya akad secara agama.

Tidak hanya itu, sehari sebelum pernikahan, mereka menandatangani sebuah surat perjanjian pra-nikah. Di dalamnya disebutkan bahwa keduanya akan berpisah sementara waktu, maksimal satu tahun, setelah pernikahan berlangsung.

“Kamu tidak mau, kan, istrimu ini tidak menyelesaikan tanggung jawabnya?” Selalu itu kalimat yang Rere ulang-ulang untuk meyakinkan suaminya. Dia menceritakan bahwa, ada satu naskah novel yang harus diselesaikan sebagai tanggung jawab kontrak dengan sebuah penerbitan.

Sayangnya, pembantu sebagai tokoh utama di novelnya kurang menjiwai dan banyak cacat logikanya. Sehingga, setelah lulus kuliah menjadi waktu yang tepat baginya untuk mencoba menjadi seorang pembantu sungguhan. Agar mampu menulis cerita yang baik, dan naskahnya tidak ditolak lagi.

Karena Freza sudah berjanji untuk mendukung wanita yang dicintainya itu, dia pun rela berpisah jarak dan waktu sementara ini. Sesekali, dia akan menyempatkan datang ke Surabaya menemui Rere.

Selesai dengan semua prosesi pernikahan yang begitu sederhana, para tamu berpamitan satu per satu. Hanya beberapa kerabat dari orang tua Rere yang masih di rumahnya, karena memang menginap di sana.

Karena kondisi rumah yang ramai, Freza dan Rere pun memutuskan untuk menyewa sebuah hotel untuk menghabiskan malam sebagai pengantin baru. Dengan motor hitam kesayangannya, dan sebuah tas ransel di punggung, Freza melajukan motornya di jalanan Surabaya yang ramai menuju salah satu hotel bintang lima yang bisa dibilang cukup mentereng.

Tiba di kamar yang telah di pesan Freza, Rere mengitari ruangan yang luasnya bahkan lebih besar dari rumahnya. Saat menyibak gorden, dia bisa melihat lampu jalanan serta lampu kendaraan yang berkelap-kelip terlihat dari atas kamar.

“Ini hotel mahal, lho. Uangmu nggak habis untuk pesan kamar ini?” tanya Rere penasaran.

“Kebetulan aku dapat diskon besar dari aplikasi online. Jadilah harga kaki lima, kualitas bintang lima.” Seperti biasa, tawa meluncur dari mulut Freza, berusaha mencairkan suasana.

Rere membongkar tas ransel dan mengeluarkan pakaian ganti untuk dirinya dan Freza, sepasang piama baru yang telah Freza siapkan juga sebelumnya. Rere bagaikan putri yang hanya perlu menyiapkan diri, sedangkan semua keperluan telah diatur oleh Freza.

Selesai berganti pakaian, Rere tidak segera keluar kamar mandi. Di memandangi cermin di hadapannya. Kali ini bukanlah sekadar ilusi hati dan pikirannya. Ini semua benar-benar nyata. Dia sudah menjadi seorang istri. Mengingat seseorang menantinya di luar kamar, jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya lemas. Apa yang harus aku lakukan nanti?

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Dia segera membuka pintu, dan sudah ada seorang lelaki berdiri di ambang pintu. Rere tidak bisa keluar kamar mandi karena terhalang tubuh sang suami.

Jantungnya semakin bertalu-talu kencang saat tubuh Freza mendorong tubuhnya hingga masuk kembali ke dalam kamar mandi. Pintu di balik punggung lelaki itu didorong hingga tertutup.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status