Share

Bab 5. Hadiah dari Ibu

Rere terus terpojok hingga tubuhnya membentur meja wastafel, hingga dia tidak bisa kabur ke mana pun.

“Mas, kamu mau apa? Aku mau keluar dulu, biar kamu bisa ganti piama,” kata Rere lirih sambil berusaha mendorong tubuh tinggi besar itu. Sayangnya, usahanya tidak membuahkan hasil. Tubuh kecilnya tidak mampu menyingkirkan lelaki di hadapannya.

Kedua tangan Freza melingkari pinggang Rere, tanpa berucap sepatah kata pun. Wajah wanita itu menjadi semerah kepiting rebus. Napasnya tidak beraturan. Dia tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi terhadap keduanya di dalam sini. Sedangkan Freza, hanya senyum-senyum menikmati kegugupan istrinya itu.

Rere menutup matanya seketika. Dan detik berikutnya, sebuah suara ponsel dari arah kamar, membuatnya membuka mata kembali.

“Ada telepon, Mas. Jangan-jangan itu Ibu. Aku angkat dulu, ya?” Tangan Rere berusaha melepaskan rengkuhan lengan Freza di pinggangnya. Dia berlari secepatnya saat kesempatan kabur terbuka lebar. Lelaki itu terus tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat malu.

“Halo, Assalamualaikum,” ucap Rere saat mengangkat panggilan telepon di ponselnya.

Suara sepupunya di seberang sana terdengar parau saat mengabarkan sebuah berita, “Re, ibumu sekarang ada di rumah sakit Seger Waras. Sekarang sudah ada dokter yang menangani. Kalau bisa, kamu segera ke sini, ya?”

Tanpa pikir panjang, Rere segera menutup teleponnya dan mengajak Freza untuk menuju rumah sakit yang disebutkan sepupunya barusan. Keduanya melesat dengan motor hitam Freza, membelah jalanan kota Surabaya malam itu.

Selama perjalanan, Rere terus melantunkan doa-doa dan pengharapan agar ibunya baik-baik saja. Hingga dia tidak menyadari bahwa roda motor Freza sudah memasuki lobby rumah sakit, berhenti di depan ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

“Re, kamu bisa turun duluan. Aku parkir motor dulu,” perintah Freza dengan nada lembut.

Tubuh Rere segera menuruni motor dan berlari menuju dalam ruang UGD. Dia mencari seseorang yang dapat dikenali. Matanya menangkap sosok sepupunya sedang duduk di salah satu kursi tunggu dengan muka sembab.

“Na, bagaimana Ibu?” Rere mendekati sepupunya, Lena, dan langsung bertanya kondisi ibunya.

Melihat Rere sudah tiba, Lena memeluknya seketika. Sepupu perempuannya itu hanya mengatakan agar Rere sabar dan banyak berdoa. Setelah keduanya duduk, Lena menceritakan kalau tadi ibunya terjatuh di kamar mandi, saat akan buang air kecil sebelum tidur. Kejadian itu membuat Bu Suli pingsan hingga dibawa ke rumah sakit. Saat ini, tim dokter sedang memeriksa Bu Suli, sehingga para keluarga diminta menunggu di ruang tunggu.

Pakde dan Bude Rere berbincang sambil berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Dia menghampiri dan menyalami tangan mereka. Sang bude memeluk Rere dan memberi kalimat penghiburan, agar dia terus bersabar.

Freza masuk dari pintu dan segera menghampiri keluarga Rere. Semua orang menunggu kabar dari dokter untuk tahu kondisi Bu Suli saat ini. Setelah menunggu sekitar 20 menit, seorang dokter datang menyampaikan perkembangan kondisi Bu Suli. Karena benturan yang begitu keras di bagian belakang kepala, wanita itu mengalami cedera otak yang parah.

Kondisi Bu Suli pun semakin menurun. Sehingga pihak rumah sakit menyarankan untuk memindahkan pasien ke ruang intensif, agar mendapatkan penanganan lebih lanjut dengan alat penunjang yang lebih baik.

Pihak keluarga diminta segera menandatangani sebuah surat pernyataan jika memang bersedia dengan proses pemindahan tersebut. Rere mengajak keluarganya berdiskusi sebentar. Keraguannya muncul karena dia tidak memiliki uang yang cukup besar saat ini untuk biaya rumah sakit. Bagaimana jika ibunya harus di ICU beberapa waktu ke depan, di mana harga rawat di ICU tidaklah murah.

“Re, kamu lupa, ya? Kan, ada aku, suamimu. Aku masih punya simpanan, dan juga nanti aku bisa dapat gaji dari kerjaku. Kamu putuskan apa pun demi kebaikan Ibu, dan jangan pikirkan masalah biaya. Ok, sayang?” Tangan Freza membelai lembut pipi kanan Rere yang sudah basah oleh air mata sejak tadi.

Rere akhirnya menyelesaikan semua administrasi dalam proses pemindahan ibunya ke kamar ICU. Belum sempat dia selesai berpindah dari meja administrasi, seorang dokter yang tadi mendampingi pemindahan Bu Suli datang menghampirinya.

“Bu, maaf. Kami sudah berusaha sebisa mungkin, tetapi takdir berkata lain. Belum sempat kami selesai memasang semua peralatan di ICU, kondisi pasien semakin memburuk. Dan, beliau tidak bisa diselamatkan. Semoga keluarga bisa tabah dengan berita ini.”

Berita itu hinggap di telinga Rere dengan sukses. Mentalnya langsung down, membuat lutunya lemas hingga tubuhnya roboh ke lantai rumah sakit. Keluarga yang melihat kejadian itu segera berlari menghampiri Rere dan dokter. Setelah mengulang informasi duka tersebut, sang dokter undur diri untuk menyelesaikan proses penanganan kepada Bu Suli.

***

Selesai dari pemakaman, Rere segera masuk ke kamar ibunya. Dia duduk di kasur yang biasa digunakan sang ibu. Bahkan dia sering tidur di situ, menemani ibunya. Ternyata saat dirinya diberi seorang pendamping baru, seorang lain harus diambil dari sisinya. Memang ini adalah perjalanan hidup yang harus dilalui. Hanya saja, hal ini tetap menyisakan kepedihan di hatinya.

Apalagi, ada satu ganjalan di hatinya. Sebuah permintaan sang ibu yang hingga kini belum dipenuhinya. Andai saja dia mampu memenuhinya saat Bu Suli masih hidup, maka dia pasti mampu melihat senyum kebahagiaan sang ibu.

Tubuhnya bergerak mendekat ke lemari di dekat tempat tidur ibunya. Dia membuka pintu kayu itu dan mendapati sebuah kotak yang membuatnya begitu kaget. Kotak dengan tulisan namanya. Hatinya kembali teriris, matanya panas dan air mata kembali mengumpul, lalu jatuh satu per satu hingga begitu derasnya.

Tangannya mengambil kotak dari dalam lemari Bu Suli, menyapu bagian atas kotak dengan telapak tangannya.

“Ibu, aku sudah menerima kotak ini. Kotak dengan namaku di atasnya. Terima kasih. Maaf, aku belum bisa menjadi seseorang yang Ibu inginkan.”

Dia duduk sambil membawa kotak itu menuju atas tempat tidur. Saat dibuka tutup kotak, terlihat sebuah surat yang dilipat rapi di dalamnya, di atas barang yang telah disiapkan sang ibu untuk putri semata wayangnya ini.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status