LOGINAngin kencang berhembus liar di atas Plaza Sembilan Pedang, menerbangkan jubah perak milik Pemimpin Sekte Lin Cang yang kini berdiri megah di atas singgahsana utamanya. Aura dari Ranah Jiwa Murni (Nascent Soul) meluap keluar tanpa tertahan, menciptakan gelombang tekanan spiritual yang membuat udara di sekitar altar seolah-olah membeku.Di hadapannya, Jing Huan berdiri tegak dengan kuda-kuda yang kokoh. Di tangan kanannya, Pedang Dewa Abadi menancap setengah inci ke dalam lantai batu pualam, memancarkan pendaran cahaya keemasan bercampur perak yang membentuk perisai tak kasatmata di sekeliling tubuhnya."Jing Huan..." suara Lin Cang berderak berat, diiringi oleh tatapan mata yang menyiratkan dilema antara seorang pemimpin sekte dan seorang kakek. "Serangan pertama ini adalah Telapak Pemecah Jiwa. Persiapkan dirimu!"BOOM!Lin Cang melambaikan tangan kanannya ke depan. Seketika, bayangan telapak tangan raksasa berwarna perak transparan yan
Keheningan yang mencekam menyelimuti Plaza Sembilan Pedang. Puluhan ribu pasang mata terpaku menatap tajam ke arah Altar Utama. Udara di sekitar arena terasa begitu pekat, seolah-olah setiap orang menahan napas demi menyaksikan akhir dari konfrontasi keluarga yang paling menggemparkan dalam sejarah Sekte Pedang Suci.Di singgasana tertinggi, Pemimpin Sekte Lin Cang—yang tidak lain adalah kakek kandung Jing Huan—perlahan menurunkan tangannya yang sempat terangkat. Sepasang mata tuanya yang tajam menatap lekat ke arah pemuda berjubah abu-abu di bawah sana.Bukan kemarahan meledak-ledak yang terpancar dari wajah Lin Cang, melainkan gelombang keterkejutan yang amat dalam. Di dalam lubuk hatinya, sang Pemimpin Sekte tidak pernah menyangka bahwa bayi dari putrinya yang dulu dibuang ke benua bawah kini tumbuh menjadi monster kultivasi yang berdiri di puncak Ranah Inti Emas dengan kepemilikan Tubuh Pedang Abadi dan Sembilan Warna Petir Surgawi."Jing Hu
Gemuruh sorak-sorai dan riuhnya tepuk tangan dari puluhan ribu penonton di Plaza Sembilan Pedang perlahan mereda, menyisakan keheningan yang sarat akan ketegangan.Di atas Altar Utama, wasit senior yang memegang gulungan giok penghargaan melangkah mendekati Jing Huan. Di hadapan sang juara baru, sebuah nampan giok putih berisi pil spiritual tingkat tinggi dan lencana emas Murid Nomor Satu Sekte Pedang Suci disajikan dengan penuh hormat."Wuming," ucap sang wasit senior dengan suara menggelegar ke seluruh penjuru arena, "sebagai pemenang Mutlak Turnamen Puncak Murid Inti, kau berhak menerima anugerah ini, serta hak istimewa untuk memasuki Ruang Meditasi Es di Puncak Pedang Terlarang selama tiga hari!"Semua pasang mata di tribun penonton tertuju penuh iri dan kagum ke arah Jing Huan. Menjadi Murid Nomor Satu berarti membuka jalan lebar menuju jajaran Tetua Inti di masa depan.Namun, alih-alih mengulurkan tangan untuk menerima nampan pengh
Pagi hari di Sekte Pedang Suci diselimuti oleh aura ketegangan yang teramat pekat. Di atas puncak gunung utama, Plaza Sembilan Pedang—sebuah arena pertarungan raksasa yang dikelilingi oleh ribuan patung pedang purba—tampak dipadati oleh lautan manusia. Seluruh murid luar, murid inti, para tetua pembimbing, hingga anggota Dewan Kehormatan sekte duduk memenuhi tribun penonton.Hari ini adalah hari paling sakral dan ditunggu-tunggu setiap tiga tahun sekali: Turnamen Puncak Murid Inti.Ajang ini bukan sekadar pameran kekuatan, melainkan penentu siapa yang berhak menduduki posisi sebagai murid nomor satu sekte, serta mendapatkan hak istimewa untuk memasuki Ruang Meditasi Es di Puncak Pedang Terlarang.Di kursi kehormatan tribun timur, Lin Xiu duduk dengan jubah peraknya, wajahnya tampak tenang namun menyimpan debar ketegangan yang luar biasa. Di tribun seberang, kelompok Fraksi Hukuman pimpinan Tetua Agung Feng Wuji duduk dengan tatapan dingin dan pen
Lembah perbatasan Hutan Bintang Jatuh perlahan diselimuti kembali oleh kabut malam yang dingin, meninggalkan jejak kehancuran total berupa jurang raksasa dan genangan darah yang membeku. Di antara tumpukan puing-puing batu, sisa-sisa pasukan Sekte Iblis Darah yang berhasil lolos dari gelombang kejut Pembelah Alam bergegas menyelamatkan pemimpin mereka yang telah kehilangan lengan kanannya. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir serta teknik pelarian terlarang berbasis darah, Gu Feng yang merintih kesakitan diseret oleh dua pengikut setianya menembus kegelapan malam, kabur meninggalkan zona pertempuran menuju markas besar Sekte Iblis Darah di lembah selatan Benua Tengah. Aula Utama Istana Darah Sekte Iblis Darah. Suasana di dalam aula besar yang diterangi oleh obor api berwarna biru tua itu terasa sangat mencekam. Dinding-dinding batu kuil dihiasi oleh ukiran tengkorak dan rantai besi purba, memancarkan aura penindasan dari para
"Putra dari wanita jalang pembangkang dan manusia rendahan dari benua bawah!" jerit Gu Feng dengan suara melengking penuh kebencian. Urat-urat di lehernya menonjol keluar, dan seringai di wajahnya tampak semakin mengerikan di bawah sorotan cahaya api darah. "Kalian berdua hanyalah sampah yang seharusnya mati sejak belasan tahun lalu! Jika ibumu tidak keras kepala memilih pria tak berguna itu, dia tidak akan membusuk di dasar Puncak Es Penjara Jiwa!" BOOM! Begitu nama kedua orang tuanya diinjak-injak dengan begitu keji, seluruh darah di dalam tubuh Jing Huan mendadak mendidih. Batu Hitam di rongga dadanya berdenyut dengan kecepatan yang memekakkan telinga, memompa gelombang Qi keemasan dari Meridian Dewa hingga meluap menembus pori-pori kulitnya. Pendaran mata keemasan Jing Huan berubah menjadi kilatan merah keemasan yang sangat pekat—tanda kemurkaan mutlak dari Tubuh Pedang Abadi. Di belakang Jing Huan, Han Feng dan para m







