MasukDi dunia kultivasi, kebaikan adalah kelemahan. Lin Yuan pernah menjadi murid inti Sekte Awan Giok, seorang jenius yang bertarung di garis depan demi kehormatan sekte. Ia percaya pada sumpah, pada keadilan, dan pada langit yang mengawasi perbuatan manusia. Namun dengan pengabdian itu Lin Yuan malah mendapatkan pengkhianatan dari sekte dan akhirnya mati. Namun Lin Yuan tidak mati, dia kembali ke masa lalu. Dengan ingatan kehidupan sebelumnya, Lin Yuan menempuh jalan kultivasi yang kejam dan berdarah. Ia memanfaatkan manusia, memanipulasi sekte, dan mengorbankan siapa pun yang menghalangi jalannya. Baginya, surga hanyalah kebohongan, dan iblis adalah bentuk paling jujur dari kelangsungan hidup. Satu per satu, mereka yang pernah menghancurkannya akan merasakan ketakutan yang sama. Bukan demi keadilan. Bukan demi belas kasihan. Melainkan demi balas dendam.
Lihat lebih banyakSalju turun perlahan dari langit kelabu, menutupi seluruh puncak Gunung Awan Giok dengan lapisan putih yang tampak suci. Namun keheningan itu hanyalah topeng. Di dalam Aula Langit Giok—bangunan tertinggi dan termegah di sekte—suasana jauh lebih dingin daripada badai salju di luar.
Lin Yuan berlutut di tengah aula. Lantai batu giok putih terasa menusuk hingga ke tulang, namun ekspresinya tetap tenang. Kedua lengannya dibelenggu rantai besi hitam yang diukir dengan formasi penekan Qi. Setiap mata rantai menyerap energi spiritual dari tubuhnya, membuat dantiannya terasa berat dan mati rasa. Di sekeliling aula, ratusan murid berdiri berlapis-lapis. Murid luar di barisan belakang berbisik pelan, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan ketakutan. Murid dalam berdiri lebih dekat, wajah mereka kaku, seolah takut ikut terseret. Murid inti—mereka yang pernah bertarung berdampingan dengan Lin Yuan—berada di barisan depan. Tak satu pun dari mereka berani menatap matanya terlalu lama. Lin Yuan mengenali wajah-wajah itu dengan jelas. Seseorang yang pernah ia selamatkan dari kematian di Rawa Tulang Hitam. Seseorang yang pernah ia lindungi saat misi gagal dan monster buas menyerbu. Seseorang yang dulu menyebutnya “kakak senior paling bisa diandalkan”. Kini, semua berdiri diam. Diam seperti orang mati. Di ujung aula, tujuh kursi tinggi dari giok hitam berjajar rapi. Tujuh tetua Sekte Awan Giok duduk di sana, aura mereka berat dan menekan. Setiap tarikan napas mereka terasa seperti gunung yang runtuh perlahan. Di tengah mereka berdiri seorang pria tua berjubah abu-abu, rambut dan janggutnya memutih sempurna. Tongkat hitam di tangannya mengetuk lantai satu kali. Tok. Suara itu ringan, namun seketika seluruh aula membisu. “Lin Yuan,” suara pria tua itu datar, tanpa emosi. “Sebagai murid inti Sekte Awan Giok, kau dituduh menyembunyikan teknik kultivasi tingkat tinggi, menentang perintah sekte, dan berpotensi membahayakan fondasi kami.” Ia menatap ke bawah, seolah Lin Yuan hanyalah serangga. “Apa kau mengakui tuduhan ini?” Lin Yuan perlahan mengangkat kepala. Wajahnya pucat, rambut hitamnya berantakan, dan sudut bibirnya masih bernoda darah kering—sisa interogasi selama tiga hari tiga malam tanpa henti. Namun matanya tetap jernih. Terlalu jernih untuk seseorang yang akan dijatuhi hukuman. Ia mengingat momen ini dengan jelas. Saat ini Lin Yuan sangat tahu meskipun Ia memohon. Ia menjelaskan. Ia menyerahkan bukti kontribusi dan catatan misi. Ia percaya sekte akan melihat kebenaran. Namun akhirnya tetap sama ia mati dengan hina. “Tidak,” jawab Lin Yuan. Suaranya tenang. Tidak gemetar. Bisik-bisik langsung menyebar di aula. Beberapa murid menunjukkan ekspresi terkejut. Namun pria tua itu—Tetua Zhao—hanya tersenyum tipis. “Pengakuanmu tidak diperlukan,” katanya. “karena Buktinya sudah cukup.” Lin Yuan tertawa kecil. Tawa itu pelan, namun terdengar jelas di keheningan aula. Beberapa murid inti refleks menggenggam pedang mereka. “Kalau begitu,” ucap Lin Yuan, “kenapa kau harus repot-repot mengadakan pengadilan?” Aura menekan turun seperti langit runtuh. Beberapa murid luar langsung terdorong mundur, wajah mereka memucat. Tetua Zhao menyipitkan mata. “Karena sekte membutuhkan formalitas.” Ia mengangkat tangan kanannya. Qi berkumpul di telapak tangan itu—tenang, terkendali, mematikan. Lin Yuan tahu persis apa artinya. Telapak tangan itu menghantam udara. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada kilatan cahaya. Namun Lin Yuan merasakan sesuatu di dalam tubuhnya hancur. Retak. Dantiannya pecah. Rasa sakit itu bukan seperti terbakar atau disambar petir. Ia adalah kehampaan total. Qi yang ia kumpulkan selama dua puluh tahun—setiap meditasi, setiap pertarungan hidup dan mati—lenyap dalam sekejap. Lin Yuan memuntahkan darah. Tubuhnya terjatuh ke depan, dahinya menghantam lantai giok dengan suara tumpul. Namun ia tidak pingsan. Ia dipaksa tetap sadar. “Mulai hari ini,” suara Tetua Zhao menggema, “Lin Yuan dicabut dari status murid Sekte Awan Giok. Seluruh kontribusinya dihapus. Seluruh teknik yang pernah ia pelajari ditarik.” Tetua lain berbicara dingin, “Ia diasingkan. Hidup atau mati bukan lagi urusan sekte.” Tak ada yang membela. Tak ada yang protes. Lin Yuan tertawa serak. Ia mengangkat kepala dengan susah payah dan menatap sekeliling. “Ini yang kudapatkan setelah 20 tahun lebih mengabdi pada sekte?” gumamnya. Tak ada jawaban. Tiba-tiba Pedang penjaga menusuk punggungnya. "Uhk" Li Yuan meringis menahan sakit darah mengucur dari mulutnya. Dingin merambat ke dada. Pandangannya menggelap. Saat kesadarannya menghilang, satu ingatan terakhir muncul— Desa Batu Hitam terbakar. Jeritan ibunya terputus mendadak. Ayahnya berlutut, tulang lututnya dihancurkan satu per satu. Dan seseorang tertawa dengan puas. — Lin Yuan terbangun dengan napas terengah. Langit-langit kayu reyot. Bau obat murahan. Cahaya matahari pagi menyelinap dari jendela kecil. Ia bangkit dan menatap kedua tangannya. Tidak ada rantai. Tidak ada luka fatal. Ia menekan pusarnya. Dantian masih ada. Lemah—namun utuh. Jantungnya berdetak stabil. Ingatan kehidupan sebelumnya muncul satu per satu, jelas tanpa kabur. Pengkhianatan. Pengadilan palsu. Kematian keluarganya. Akhir yang hina. Sesuatu di dalam dirinya berubah. Bukan rasa takut. Melainkan belas kasihan yang mati. Lin Yuan berdiri di depan cermin retak. Wajah enam belas tahun menatap balik, namun matanya dingin dan tua. “Kali ini,” ucapnya pelan, “aku tidak akan percaya pada sekte.” Ia mengepalkan tangan. “Aku akan membalas semua yang mereka lakukan padaku.” Di luar, angin berdesir pelan. Langit tetap diam. Dan pada hari itu, tanpa tanda dari surga, seorang manusia memutuskan untuk berjalan di jalan iblis.Balai Pil Seratus Tulang tidak pernah benar-benar tidur.Bahkan saat malam turun dan lentera-lentera roh mulai menyala satu per satu, masih ada orang-orang yang bergerak di balik dinding putihnya. Tungku-tungku pil tetap hangat, formasi pelindung tetap aktif, dan qi samar mengalir tanpa henti di udara.Lin Yuan berjalan menyusuri lorong samping dengan langkah ringan.Di tangannya, papan identitas pekerja tingkat bawah tergantung tenang. Tidak ada yang mencurigakan dari caranya bergerak—kepalanya sedikit menunduk, bahunya agak membungkuk, seperti pekerja rendahan lain yang takut dimarahi jika terlihat malas.Namun indranya terbuka penuh.Ia sedang menjalani giliran malam.Secara resmi, tugasnya hanyalah membersihkan area tungku tua yang sudah jarang digunakan. Tempat itu berada agak jauh dari aula utama, dan biasanya hanya dipakai saat permintaan pil melonjak.Tempat yang sempurna untuk transaksi yang tidak ingin terlihat.Lin Yuan berhenti di sudut lorong dan berpura-pura mengikat kem
Kota Tulang Putih selalu terlihat paling jujur saat fajar. Kabut tipis menggantung di antara bangunan batu putih, sementara cahaya matahari menyusup perlahan dari balik tembok kota. Para kultivator mulai bermunculan, sebagian menuju balai latihan, sebagian lagi menuju Balai Pil untuk urusan yang tidak pernah bisa menunggu. Lin Yuan sudah berada di sana sebelum lonceng pagi dibunyikan. Ia berdiri di sudut halaman Balai Pil Seratus Tulang, membawa keranjang kayu berisi botol kosong. Wajahnya menunduk, langkahnya ringan, keberadaannya nyaris tidak diperhatikan. Topengnya bekerja dengan sempurna. Sejak hari pertama, tidak ada satu pun pengawas yang mengingat namanya. Mereka hanya mengenalnya sebagai “pekerja baru”, “yang itu”, atau sekadar “hei, kau”. Dan Lin Yuan menyukai itu. “Cepat sedikit!” bentak seorang pengawas. “Pengiriman pagi tidak boleh terlambat!” Lin Yuan mengangguk singkat dan melangkah masuk ke gudang. Gudang utama Balai Pil luas dan dingin. Rak-rak tinggi dipenuhi
Kota Tulang Putih berdiri seperti kerangka raksasa yang memutih di bawah matahari. Tembok-temboknya terbuat dari batu pucat yang dipoles hingga berkilau, seolah kota itu ingin menampilkan wajah bersih dan tertib kepada siapa pun yang datang. Jalan-jalannya lebar, tertata, dan dipenuhi para kultivator dengan jubah rapi—orang-orang yang percaya bahwa kekuatan selalu datang bersama martabat. Lin Yuan melangkah melewati gerbang kota dengan kepala sedikit tertunduk. Ia telah meninggalkan Kota Batu Hitam tiga hari lalu, menempuh perjalanan dengan kecepatan biasa. Tidak terlalu cepat agar tidak menarik perhatian, tidak terlalu lambat agar tidak terlihat mencurigakan. Di punggungnya hanya ada satu tas kain lusuh—cukup untuk menegaskan bahwa ia hanyalah seorang kultivator rendahan yang mencoba peruntungan. Begitu melewati gerbang, sebuah tekanan halus langsung menyelimuti tubuhnya. Formasi kota. Tidak mematikan, tapi cukup untuk memindai aura pendatang. Lin Yuan menahan aliran qi-
Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan di barat Desa Batu Hitam. Jalan setapak itu jarang dilewati—hanya pemburu atau kultivator tingkat rendah yang berani melintasinya. Di sisi kiri, tebing batu menjulang; di sisi kanan, jurang dangkal dipenuhi semak dan pepohonan liar. Lin Yuan berdiri di balik pohon tua, napasnya tertahan. Ia sudah berada di sini sejak sebelum fajar. Dua kultivator Sekte Awan Giok yang tertipu oleh informasi palsu kini berjalan santai di depan, tanpa kewaspadaan penuh. Aura mereka stabil—tahap awal Pengumpulan Qi. Jauh lebih kuat darinya secara langsung. Namun Lin Yuan tidak pernah berniat bertarung secara adil. “Manusia yang percaya diri,” gumamnya pelan, “selalu mati paling cepat.” Ia mengamati langkah mereka, menghitung jarak, memperkirakan waktu reaksi. Setiap detail tercetak jelas di pikirannya. Pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya tahu satu hal: kultivator rendah selalu meremehkan bahaya jika berada di luar wilayah sekte. Ia mengeluarkan t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.