LOGIN"Yuan, hentikan. Ada orang lain di rumah kita. Maksudku jangan di sini."Audrey mendorong jauh tubuh Yuan yang sudah menghimpitnya ke dinding. Siap menyerang sang istri. Keduanya menikah sebelum Adrian dan Ivone.Mereka sepakat tidak ingin mengadakan pesta. Sama seperti Adrian dan Ivone. Dan kini, keduanya sangat menikmati kehidupan pernikahan mereka.Terikat oleh janji dan rasa takut kehilangan. Sejauh ini pernikahan Yuan dan Audrey baik-baik saja.Audrey sang ratu party secara mengejutkan bisa menghentikan kebiasaan pergi ke klub. Sebagai gantinya, Yuan selalu stand by di rumah begitu selesai bekerja. Pria itu minta pada Adrian agar dia bisa pulang sebelum jam delapan. Kalaupun masih ada pekerjaan, Yuan akan mengerjakannya di rumah.Yuan sadar, Audrey punya keinginan berhubungan intim lumayan tinggi. Untuk mengantisipasi itu, dia harus siap sedia jika Audrey mendadak menyerangnya.Tapi makin ke sini, dua orang itu malah saling melengkapi. Jika Audrey sedang tidak ingin, justru Yuan
"Bagaimana?""Dia mengirim pesan. Tapi bahasanya aneh.""Aneh bagaimana?"Kian menerima ponsel Rosalie. Dia membaca pesan terbaru dari Xavier. Lalu membandingkannya dengan pesan sebelumnya.Benar, bahasa dan feel-nya berbeda. Seperti bukan Xavier yang mereka kenal. Yang mengirim pesan pada Rosalie seolah orang lain."Cek lokasi.""Lokasi ponsel bisa dipalsukan."Penjelasan Bryan membuat Kian menggaruk kepalanya. Meski setengah tak merestui hubungan Xavier dan Rosalie. Nyatanya Kian kelabakan juga saat Rosalie mengadu kalau Xavier tak jua memberinyaa kabar.Waktu itu Kian pikir Xavier punya perempuan lain. Jika demikian, Kian berniat menghajarnya sampai babak belur.Tapi ketika Rosalie mengungkapkan kecemasannya akan keselamatan Xavier. Lelaki itu mendadak berubah haluan.Ditambah keterangan Zen jika Xavier dan Torres mengetahui rupa Sebastian Kiehl. Bisa saja hal itu jadi ancaman untuk keduanya.Seorang psikopat, tidak akan biarkan mereka yang tahu rahasianya, lolos apalagi selamat. M
Bryan tahu, adalah sebuah kesalahan menyeret Vio dalam dunianya. Namun ketika sang putri menuruni kecerdasan dan bakatnya. Takdir Vio sudah jelas. Langkahnya akan mengikuti jejak Bryan."Aku coba cari tahu.""Vio bisa bantu. Kemampuannya hanya dua level di bawah kita."Bryan menoleh mendapati Vio menatap kagum pada ruang kerja ayahnya. Monitor terpajang di sejumlah titik. Menampilkan kesan futuristik sekaligus misteri. "Secerdas itu?""Kamu memonopoli genetiknya.""Siapa bilang. Dia kalau ngomel sepedas emaknya.""Fifty fifty kalau begitu. Ayo mulai.""Vi, tolong cari orang ini. Om Vante berhasil menempelkan pelacak di tubuhnya."Viona mengangguk penuh antusias. Dia menghadap dua monitor sekaligus. Jari kecilnya bergerak cepat di atas keyboard. Menerobos deretan dinding tak kasat mata di luar sana. Tujuannya satu, sebuah kode yang baru saja dikirim Vante."Dia terus berpindah," infonya."Rekam datanya.""Siap," sambut Vio antusias."Pa, aku mau es krim," lanjut sang bocah setelah tak
"Aku tidak apa-apa."Carry menjauhi Bryan yang baru saja mendudukkannya di sofa. Perempuan itu menolak diperiksa ke dokter. Alhasil dia diangkut pulang ke rumah Bryan yang sesaat buat Carry melongo.Mewah dan jelas mahal. Terletak di salah satu kawasan hunian eksklusif di ibukota. Bukan di pusat kota. Lingkungan tempat tinggal Bryan lebih ke back to nature.Pantas saja Vio sangat betah di sana. Beda dengan apartemen sang mama yang kelas menengah. Sempit dengan AC sering mati. Bisa dibayangkan seperti apa kehidupan Viona sehari-hari."Aku percaya. Lihat, kau bisa besarkan anakku tanpa bantuanku. Sekedar pukulan pasti easy untukmu. Vio, tehnya mama mana?" Bryan melirik sang putri yang rupanya sudah lebih dulu meluncur ke dapur estetik pria itu."Sebentar, Pa. Vio boleh minta es krimnya gak?""Satu cup aja. Kamu dari kemarin ngemilin es krim mulu."Carry terbelalak melihat interaksi Bryan dan Vio. "Kalian saling kenal?""Tentu saja. Dia cari aku. Dia tahu aku bapaknya."Bryan sungguh keh
"Sudah kubilang aku tidak mencuri!" Carry Katona, perempuan itu mengenakan kemeja longgar hitam dan celana jeans. Rambut pirangnya digulung asal. Menyisakan helaian di sisi kiri dan kanan wajahnya. Menciptakan efek dramatis di parasnya yang dipenuhi amarah.Cantik. Jantung Bryan seketika berdebar kencang di dalam sana. Tatapannya tak beralih dari sosok Carry yang tak gentar menghadapi keroyokan empat wanita di depannya."Jangan ngeles kamu. Hanya kamu yang ada ruang make up. Gelang itu ada di atas meja. Kamu pasti mencurinya."Sudut bibir Carry tertarik. "Aku saja tidak tahu ada gelang di atas meja. Kamu sengaja menaruhnya. Lalu mengambilnya, lantas menuduhku? Basi! Banyakin baca novel biar dapat ide buli orang yang lebih fresh."Astaga! Bryan nyaris tersedak mendengar balasan pedas Carry. Pria itu seketika melirik Vio dengan ekor matanya. "Pantas saja, mulut ini anak tajam sekali. Emaknya saja begitu," batin Bryan.Keempat wanita tadi terbelalak. Ekspresi mereka seolah mengkonfirmas
"Biarkan dia hanyut dalam spekulasinya sendiri. Biarkan dia menganggap kita tidak tahu apa-apa." Suara Zen terdengar penuh kemarahan. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuh."Semua anggota akan punya akses ke kamera pengawas kediaman keluarga Archlight. Kecuali, kalian tahu sendiri," info Vante selanjutnya.Semua yang hadir berdehem. Ya, kediaman Archlight sekarang terbuka untuk umum. Alias semua anggota inti Sixty Nine bisa memantau rumah itu. Kecuali kamar utama. Tentu saja, Zen tidak mau tubuh molek sang istri terpantau oleh rekan-rekannya. Apalagi kebiasaan Valin yang suka setengah telanjang di kamar sangat meresahkan. Terutama bagi Zen."Selain itu. Aku akan usahakan untuk menanamkan ini padanya." Vante menunjukkan benda kecil di tangannya. Alat pelacak."Kita akan tahu ke mana dia pergi. Apa yang dia lakukan. Dan dengan siapa dia berinteraksi," lanjut Vante."Soal orang yang mencelakai Edison. Fix, dia salah satu anak buah orang itu," lapor Sylus."Sekarang dia di mana?" Shane d
"Lucio Costra, hukumanmu akan segera dimulai."Vante berucap setelah mengirim sebuah file ke pihak kepolisian. Setelah itu dia kembali melakukan pencarian. Kakaknya masih hidup sama seperti dugaan Zen sejak awal.Juga dirinya yang kemudian menemukan kalau jasad itu bukan Valin. Vante tahu benar, tu
Langkah Zen lebar dan cepat. Dia seolah ingin kakinya membawa dirinya secepat mungkin ke tempat tujuan. Informasi yang baru saja dia terima dari Shane membuat waktu berhenti sesaat.Langit di atas kepalanya serasa runtuh menimpanya. Dunia Zen diselimuti kegelapan total. Pria itu sempat terhuyung. S
Semua orang menoleh ke arah tangga. Di mana Zen berdiri di sana dengan setelan serba hitam dari ujung ke ujung. Seperti orang mau ke pemakaman. Walau selama ini, outfit Zen memang didominasi warna gelap. Tapi setidaknya masih ada warna cerah di antaranya. Tapi kali ini lain, pakaian Zen benar-bena
"Zen, Valin kecelakaan!"Berkas yang tengah pria itu pegang meluncur jatuh ke lantai. Diikuti bunyi pintu yang tertutup kasar. Semua yang ada di ruangan itu menganga. Tidak percaya melihat Zen berlari, meninggalkan meeting karena satu nama."Valin, siapa dia?" Seorang direktur buka suara."Valin, A







