LOGINBerawal dari menyelamatkan seorang pria yang tidak dikenal. Hidup Valin berubah total. Demi kesembuhan sang adik, Valin akhirnya menerima tawaran Razen Archlight untuk jadi dokter pribadi. Namun segalanya tidak berhenti di sana. Zen menginginkan lebih, dia ingin Valin jadi penghangat ranjangnya juga. Ketika dominasi dan kekuasaan Zen bertindak, Valin tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Zen. Sejak saat itu Valin hidup dalam sangkar emas. Sampai rahasia Zen perlahan terbongkar. Valin balik menyerang. Tapi tidak semudah itu untuk menghancurkan Zen. Pria itu mengancam Valin menggunakan keselamatan adiknya. Zen ingin Valin tetap tunduk padanya. Tapi dendam yang terlanjur membara, membuat Valin sulit dihadapi. Apalagi ketika Valin ternyata dekat dengan Xavier Langton, rival Zen. Maka konflik tidak sekedar balas dendam, tapi juga soal cinta. Bagaimana Valin menghadapi semua itu? Dan siapa yang akhirnya akan dia pilih? Temukan dalam kisah mereka.
View More"Jangan cemas, Vante. Kakak akan dapatkan donor ginjal untukmu. Secepatnya."
Seorang gadis berwajah cantik berkata pada pemuda yang berbaring di brankar. Lengan kirinya terhubung dengan mesin hemodialisis. Proses cuci darah sedang berlangsung. Yang diajak bicara hanya tersenyum tipis. Wajahnya pucat, tubuhnya kuyu. Meski sisa ketampanan masih terlihat di parasnya. "Kakak jangan pikirkan aku. Seharusnya biarkan saja aku mati. Aku tidak tahan melihat Kakak harus bekerja banting tulang untuk kita berdua." "Kakak tidak banting tulang. Ini kewajiban kakak sebagai dokter. Dan kakak juga lakukan ini padamu." Vante mendengus kasar. Dia sudah putus asa, dua tahun dia berteman dengan mesin di sebelahnya. Tiap minggu sang kakak harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memperpanjang masa hidupnya. Padahal Vante sudah lama ingin menyerah. Tapi sang kakak selalu menangis histeris tiap kali dia mengatakan hal itu. "Kak Lin, Kakak harus mulai pikirkan hidup kakak sendiri. Jangan pedulikan aku." Yang dipanggil Lin tersenyum getir. Dia ingin seperti orang lain, tapi tidak bisa. "Kamu adalah hidup Kakak. Vante, berjanjilah pada Kakak kamu akan bertahan sampai Kakak berhasil dapatkan donor ginjal untukmu. Oke?" Gadis itu bernama Valin, dia menggenggam tangan Vante. Sekian kali coba membujuk sang adik agar sudi bertahan. Vante baru akan buka mulut ketika ponsel Valin berdering. "Valin, pasien serangan jantung. Operasi by pass sedang dipersiapkan. Dokter Keith baru masuk ruang operasi setengah jam lalu. Darurat." Panggilan diakhiri, baik Valin maupun Vante menghela napas. "Pergilah, aku bisa pulang sendiri." "Hubungi Maria jika kamu merasa tidak baik." Vante mengangguk sebelum sang kakak melesat pergi dari sana bak anak panah lepas dari busurnya. Harusnya Valin libur hari ini, tapi liburnya seorang dokter tetap harus stand by dua puluh empat jam. Enam jam kemudian operasi selesai. Valin melangkah gontai keluar ruang operasi, tubuhnya limbung, nyaris ambruk. Gadis itu lelah luar biasa. Dia hanya ingin pulang, lalu tidur. Besok dia harus kembali ke sini. Tempat di mana hidupnya bergantung, sama seperti banyak pasien di luar sana. "Dia akan berada di ICU dua kali dua puluh empat jam. Kontrol penuh, observasi tiap dua jam. Hubungi aku kapan saja jika ada masalah." Setelah memberi instruksi pada rekannya. Valin berjalan pulang ke rumah kecil yang berada di belakang komplek rumah sakit. Cukup dekat hingga Valin tidak perlu kendaraan. Walau dekat, jalan menuju rumah Valin sepi setelah dia meninggalkan gerbang rumah sakit. Awalnya biasa saja. Lagi pula ini bukan kali pertama Valin pulang lewat tengah malam. Rumah Valin sudah terlihat, tinggal beberapa blok sebelum langkahnya terhenti. Di depan sana, berjarak tak lebih dari setengah meter. Sesosok pria tampak mengacungkan senjata pada seorang lelaki lain. "Kau tahu aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Karena kau menghalangi rencanaku, akan lebih baik jika kau mati saja." Kilat cahaya terlihat ketika peluru ditembakkan. Sang korban ambruk di lantai paving blok, darah segar mengucur, menggenangi jasadnya. Matanya terbelalak dengan, dahi berlubang. Tempat peluru bersarang. Jantung Valin berpacu, keringat dingin serta merta membasahi dahi. Ingatan akan masa kecilnya mulai berputar di kepala Valin. "Ayah, Ibu." Tubuh Valin otomatis ingin menjauh. Satu respon spontan, menghindari pemandangan yang membuat ketakutannya naik ke permukaan. Namun sebelum niatnya terwujud, lelaki yang baru memuntahkan peluru dari senjatanya, melihatnya. Dia menyeringai menyadari ada orang selain dirinya di tempat itu. Pria itu mendekat dengan Valin auto ingin berlari. Namun ledakan peluru berperedam membuat tubuh Valin membeku di tanah ia berpijak. "Lihat pemandangan indah, cantik." Suara dalam dan berat menyapa rungu Valin. Tak berapa lama visual rupawan bak malaikat muncul di hadapan Valin. Kakak Vante menelan ludah. Mungkin inilah rupa sebenar malaikat pencabut nyawa yang pernah wujud dalam berbagai cerita. Tampan tapi kejam dan dingin. Valin bergidik ketika pria tadi mengitari dirinya seolah sedang memindai mangsa. Sosok itu melakukannya dengan senjata terarah ke jantung Valin. "To-tolong lepaskan saya. Saya janji tidak akan beritahu siapapun apalagi lapor polisi," Valin beranikan diri untuk bersuara. Sudut bibir pria tadi tertarik. Dia baru sadari kalau Valin cantik dengan tipe suara lembut tapi tegas. "Melepaskanmu?" Balasan datang bak badai yang menghantam Valin. Tajam, menusuk juga menyeramkan. "Tuan, saya mohon. Saya tidak akan bilang ke orang lain. Kasihanilah saya, saya punya adik yang sakit-sakitan." Seringai mengerikan muncul di wajah sang pria. "Tidak semudah itu, Nona. Kamu sudah melihat semua, jadi aku harus menutup mulutmu." Gawat! Dia akan membunuhku! Valin ketakutan, dia tidak boleh mati. Masih ada Vante yang menunggunya di rumah. Sang adik sangat memerlukan dirinya untuk bertahan hidup. Tidak! Dia tidak bisa mati sekarang. Valin mundur, siap mengambil langkah seribu, ketika sosok itu menangkap gelagatnya. "Lepas! Lepaskan saya!" Valin berontak saat pria tadi menyergapnya. Tubuh ramping Valin tenggelam dalam dekapan sang pria. Aroma maskulin nan mahal seketika memenuhi indera penciuman Valin. "Ssstt, jangan berteriak. Atau ini akan melubangi kepalamu." Tubuh Valin menegang ketika ujung senjata api menyentuh pelipisnya. Pria itu tampak puas melihat respon Valin. Meski setelahnya dia dibuat terkejut ketika Valin berniat menjegalnya. Namun usaha Valin gagal, pria tersebut tidak bergeming saat Valin coba menjatuhkannya. Senyum sang lelaki terbit. Sepertinya gadis dalam dekapannya bukan gadis sembarangan. "Lepas!" Kali ini Valin menggigit pergelangan tangan pria yang menahan lehernya. Lelaki tersebut hanya mendengus sebelum berbisik di telinga Valin. "Kamu benar-benar liar. Mau coba menunjukkannya di ranjangku." "Brengsek!" Maki Valin tanpa ragu. Kali ini dia marah. Valin tidak akan terima jika dia direndahkan harga dirinya. Pria di belakangnya tertawa lirih, hanya Valin yang bisa mendengarnya. Jenis tawa yang membuat bulu kuduk meremang. Pria ini jelas sangat berbahaya. "Kamu lumayan menarik, Nona. Ikutlah denganku." "Tidak! Tidak mau! Tolong! Tolong aku!" Valin berteriak sekencang mungkin. Sekali lagi dia coba berontak. Kali ini lebih kuat, tapi pria tadi sama sekali tidak terpengaruh. Sosoknya menjulang di belakang Valin. Menahan tubuh Valin yang sejak tadi tidak mau diam. "Diamlah, Nona," desis pria itu penuh peringatan. "Tidak mau! Lepaskan saya! Lepas!" "Berisik!" Suara pelatuk yang ditarik membuat Valin diam seketika. Pria itu kembali tersenyum tipis. Dia bisa merasakan debar jantung Valin juga napas sang gadis yang memburu. "Nah, begitu lebih baik. Jadi mari kita bernegosiasi." "Apa yang Tuan inginkan?" Ketakutan Valin kian besar. Bagaimana jika pria itu membunuhnya. Bagaimana jika dia tidak bisa pulang malam ini. Mata hazel Valin berkaca-kaca. Bayangan wajah Vante mendadak muncul. "Apa Tuan ingin membunuh saya?"Jack Harold menggebrak meja. "Apa kamu bilang, Kiev ditangkap?""Benar, menurut laporan diringkus di kota Ishifan."Jack mengepalkan tangan. Bagaimana bisa Kiev tertangkap. Dia sudah memperingatkan pria itu untuk menjaga diri. Jangan sampai keberadaannya diendus musuh atau aparat keamanan.Aparat keamanan mungkin dia masih bisa melobi. Tapi musuh, dia tidak akan mampu menolong."Hubungkan aku dengan Alan Rickman."Jack harus bertindak. Lucio mustahil bisa diselamatkan. Dia tidak bisa mengandalkan orang lain kecuali dirinya sendiri. Jika tidak apa yang dia dan Lucio usahakan selama ini, akan hilang begitu saja."Tuan, Tuan Rickman bilang tidak bisa membantu kali ini. Departemen pertahanan ikut campur soal penangkapan Kiev."Asisten Lucio memejamkan mata. Jika demikian artinya keluarga Inzaghi ikut andil di dalamnya. Melawan mereka, sangat tidak mungkin."Cari terus celah untuk mengeluarkan Kiev. Jika dia berhasil dipaksa bicara, kita semua akan celaka."Tangan kanan Jack mengangguk pah
Satu tembakan melesat membuat lelaki yang nyaris menindih Michele tumbang. Darah menyembur dari kepala yang dilubangi Mark. Michele histeris. Namun sebelum dia menelaah apa yang tengah terjadi. Lesatan peluru lain menyusul. Dalam hitungan detik, Michele sudah berada di tengah kubangan cairan berwarna merah.Amis, bau karat dengan teror khas seketika merebak. Di antara itu semua, Mark berdiri tegak dengan mata biru menyala penuh amarah."Ada yang mau bicara?" Mark berjalan menuju Michele yang meringkuk di pojok ruang tamu. Tangan gadis itu berada di telinga. Wajahnya juga pucat, ketakutan level akut.Pria itu perlahan merengkuh Michele dalam pelukannya. Dia pakaikan jasnya, guna menutupi tubuh Michele yang bagian bahunya terekspose."Katakan!"Bentakan Mark membuat tiga lelaki yang masih hidup tapi terluka itu berjengit kaget. Aura Mark membuat mereka menggigil. "Dia punya hutang.""Pacarnya yang sudah mati yang punya hutang!"Potong Mark dengan sorot mata tajam. Dia dekap Michele y
Pagi hari setelah sesi panas sepanjang malam, adalah waktu yang sangat krusial bagi Valin. Seluruh tubuhnya remuk. Terutama area pinggang, dada juga bagian pribadinya. Meski bagian lain juga nyeri.Zen benar-benar jadi monster jika saatnya tiba. Sentuhan Zen lembut pada awalnya. Namun semua berubah kasar seiring tempo permainan yang memanas. Juga gairah yang mampu membakar Valin hingga tak bersisa.Saat bangun tadi, Valin meringis. Nyaris tak bisa bergerak. Untung hari ini dia libur. Kecuali ada panggilan darurat, Valin bisa beristirahat dengan tenang.Lagi pula tiga hari belakangan, Valin hampir tiap hari pulang terlambat. Zen tidak ada di rumah, lebih baik dia gunakan waktunya untuk bekerja.Andreas juga sedang liburan dengan teman lamanya, Vin. Mereka pergi ke negara asal istri Vin. Dan Vante, akhir-akhir ini sibuk sekali. Mereka makin jarang bertemu, meski satu rumah.Pada akhirnya mereka mengalah. Zen, Valin dan Vante kini tinggal di kediaman Archlight. Meninggalkan The Dream dan
Kiev didorong masuk ke sebuah ruangan. Sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melarikan diri. Mereka tiba di fasilitas milik Sylus dan Zen setelah menempuh perjalanan selama enam jam.Selama itu Kiev dibuat setengah sadar. Tubuhnya lemah, tapi panca inderanya normal. Dengan begitu, pria tersebut tidak melawan apalagi kabur.Hingga di sinilah dia berada. Di sebuah kamar tertutup, siap untuk rencana selanjutnya."Dia itu sebenarnya tidak bersalah. Sayang sekali dia harus jadi tumbal rancangan kita."Sylus memandang datar pada Kiev yang masih linglung. "Mau bagaimana lagi. Kalau kita serahkan Chris Langton yang sudah gila, atau Lucio Costra yang setengah tidak waras. Mereka akan langsung dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Sia-sialah usaha kita berburu sampai ke sana.""Alah, berburu apanya. Meringkusnya sama seperti menginjak semut seekor. Jangan sok drama kamu!"Sylus mencibir ucapan dramatis Mark yang menyempatkan diri mampir untuk mematahkan tulang rusuk Lucio dua buah. Ini balasan u
"Vante, dengarkan Kakak dulu."Valin meraih tangan Vante, membawanya duduk di ranjang yang sama empuknya dengan miliknya di kamar sebelah. Hanya saja, kamar Vante terlihat lebih maskulin di banding kamarnya.Sepertinya tempat ini sengaja disiapkan sebelumnya. Apalagi ada seperangkat laptop di meja
"Ada apa?"Mark bertanya pada Kian yang mendadak blank."Kalian pikir apa Zen serius dengan Valin?" Kian balik bertanya."Memangnya kenapa?" Shane menimpali."Dia minta dicarikan cincin pernikahan."Uhuk! Suara tersedak berjamaah terdengar."Serius?" Nick, si playboy bertanya.Kian lantas menoleh k
Geraman terdengar ketika sentuhan lembut di bawah sana memancing hasratnya. Zen tetap memejamkan mata, seolah menikmatinya. Setidaknya begitu yang dia harapkan. Tapi semua tak berjalan seperti keinginannya.Dia memang ingin dipuaskan, tapi otaknya justru lari ke mana-mana. Tidak fokus pada remasan
Mark dan Shane diam-diam menggulung senyum. Menyaksikan bagaimana kelamnya ekspresi Zen. Di depan sana, di sebuah ruangan rawat inap kelas satu. Ada Kian yang sedang menjemput Valin. Bisa dibayangkan betapa hebohnya tempat itu. Kedatangan Kian menegaskan kebenaran akan rumor yang beredar. Dengan k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.