LOGINBerawal dari menyelamatkan seorang pria yang tidak dikenal. Hidup Valin berubah total. Demi kesembuhan sang adik, Valin akhirnya menerima tawaran Razen Archlight untuk jadi dokter pribadi. Namun segalanya tidak berhenti di sana. Zen menginginkan lebih, dia ingin Valin jadi penghangat ranjangnya juga. Ketika dominasi dan kekuasaan Zen bertindak, Valin tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Zen. Sejak saat itu Valin hidup dalam sangkar emas. Sampai rahasia Zen perlahan terbongkar. Valin balik menyerang. Tapi tidak semudah itu untuk menghancurkan Zen. Pria itu mengancam Valin menggunakan keselamatan adiknya. Zen ingin Valin tetap tunduk padanya. Tapi dendam yang terlanjur membara, membuat Valin sulit dihadapi. Apalagi ketika Valin ternyata dekat dengan Xavier Langton, rival Zen. Maka konflik tidak sekedar balas dendam, tapi juga soal cinta. Bagaimana Valin menghadapi semua itu? Dan siapa yang akhirnya akan dia pilih? Temukan dalam kisah mereka.
View More"Tunggu dulu, Lin. Kamu akhir-akhir ini aneh. Kamu menghindariku?"Zen menahan tangan Valin di tengah tangga. Valin yang terkejut, nyaris jatuh berguling menuruni tangga ketika ia terserimpet kakinya yang lain.Untungnya Zen sigap menahan pinggangnya hingga wanita itu selamat dari hal buruk. "Kamu tidak apa-apa?" Zen menatap netra hazel Valin yang sesaat panik."Lepas, aku baik-baik saja." Perempuan itu melepaskan diri dari jeratan Zen. Sang suami jelas kebingungan. Dia belakangan ini sangat sibuk. Beberapa kelompok terus membuat onar. Mengganggu pengiriman, mengacaukan distribusi organ vital yang harus di antar ke sejumlah rumah sakit tepat waktu.Selain itu beberapa teror juga menyerang Zen. Walau serangan datang dari berbagai sisi, pria itu tetap tegak berdiri tanpa goyah sedikitpun. Instruksinya mengalir jelas dan lancar, membasmi para perusuh yang sejatinya hanya mengecoh fokusnya.Zen sadar ada hal besar yang sedang direncanakan oleh kelompok tertentu. Insting Zen mengacu pada
Zen baru saja keluar dari sebuah sebuah ruangan meeting ketika satu pukulan menghantamnya. Mark langsung menahan sang pelaku yang tidak lain adalah Adrian.Zen sendiri hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sakit? Hanya pukulan Adrian tidak akan membuatnya tumbang."Kau pembunuh! Audrey meninggal karenamu. Kau penyebab dia meninggal!" Teriak Adrian, wajahnya memerah dengan amarah menggelegak naik sampai ke ubun-ubun.Zen hanya menyeringai. "Jangan konyol. Dia tidak akan mati semudah itu." Adrian kembali berteriak. Zen benar-benar tidak berhati. "Aku sendiri yang menguburkan mayatnya. Aku sendiri yang menerima laporan tes DNA-nya, dia Audrey, adikku! Zen kau harus bertanggungkawab!""Bagaimana caranya? Apa kau ingin membunuhku juga? Silakan kalau begitu."Zen merentangkan tangan, siap menerima apapun yang Adrian lakukan padanya. Bahkan jika Adrian ingin menghabisinya, Zen tidak masalah.Kenapa Zen berani menantang Adrian, sebab pria itu tidak akan bisa menembakkan sebutir peluru
"Cinta?"Kata itu spontan terucap dari bibir Zen. Keningnya berlipat dalam, sedang matanya menyipit. Seolah kata cinta adalah sebuah rumus rumit yang harus dia pecahkan. "Kamu mencintainya?"Zen mengedikkan bahu tanpa sadar. Dan Sylus seketika mendorong napasnya kasar."Kau tidak ingin kehilangannya?"Suami Valin mengangguk."Kenapa?"Zen terdiam. Pertanyaan itu dia tidak tahu jawabannya. Lebih tepatnya tak mengerti. Pasalnya selama ini Valin hanya dia anggap sebagai pelampiasan, pemuas nafsu berbalut janji pernikahan.Namun semakin ke sini, dia tidak mau kehilangan Valin. Dia ingin Valin selalu ada di sisinya. "Apa kamu hanya menganggapnya sebagai teman tidur saja? Tidak lebih.""Aku, aku tidak mau yang lain. Aku hanya mau dia. Lebih baik tidak, jika bukan dia." Zen menjawab lirih.Awalnya ragu, tapi kemudian memang itulah yang ada di otaknya."Kamu mulai jatuh cinta padanya."Zen sejenak terkejut. Apa dia seperti itu."Mungkin kamu tidak sadar. Tapi tindakanmu, sikapmu menunjukkan
"Cerai katamu?!"Valin meringis dengan mata memandang horor pada Zen. Paras lelaki itu berubah mengerikan, seperti iblis dari neraka. Sorot matanya merah penuh amarah. "Iya, aku mau cerai darimu!""Di dalam mimpimu!" Zen menggertakkan gigi.Berani sekali Valin berniat minta cerai darinya. Tertutup oleh emosi, Zen kehilangan akal sehatnya."Sylus, jaga dia. Pastikan dia baik-baik saja."Sylus mengangguk, dia biarkan saja saat Zen menarik Valin keluar dari kamar Vante. Setelah pintu ditutup, Sylus menghela napas. Lalu dia berujar, "Mau sampai kapan pura-pura tidur?"....Di tempat lain ada Valin yang menjerit histeris ketika Zen melemparnya ke ranjang di kamar pribadinya di sektor satu."Mau apa?" Valin ketakutan ketika Zen melucuti pakaiannya sendiri. Tak perlu waktu lama tubuh indah lelaki itu terpampang jelas di depan mata."Kamu ingin minta cerai dariku. Bermimpilah, karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Pernikahan kita akan berlangsung selamanya.""Aku tidak cinta pad
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.