FAZER LOGIN"Mereka pikir aku tidak tahu. Aku tahu." Valin menitikkan air mata. Di depannya ada Vio yang mengusap lelehan bening itu di pipi."Dia baik-baik saja. Katanya insecure jika mau bertemu Tante. Insecure itu apa?"Valin tersenyum tipis. "Tidak percaya diri. Jadi kapan Tante bisa lihat dia lagi?""Nanti aku kirimkan waktunya. Sulit sekali mengecoh Papa dan yang lainnya. Mereka ketat banget mengawasi."Valin mengusap sayang kepala Vio. Bocah manis inilah yang jadi perpanjangan matanya."Kalau Tante rindu, Tante bisa lihat dia rekaman kamera," bisik Vio.Valin mengangguk. Dia kemudian berjalan mendekati kasir setelah selesai memilih. Tentu saja setelah membenahi tampilannya."Jadi, kita ke mana lagi?" Bryan bertanya dengan lagaknya yang sok bossy. Maklum dia lelaki satu-satunya di sana."Makan," seru Valin dan Vio bersamaan.Dan di sinilah mereka berada. Sebuah restoran Asia yang menunya sebagian besar bercita rasa pedas."Itu apa gak terlalu pedas?" Ivone bergidik ngeri melihat Valin meny
"Ada apa, Lin? Tumben kemari?" Sembari bertanya Sylus melirik diam-diam ke lantai dua. Di mana Zen duduk di tepi kaca sambil memperhatikan Valin, istrinya.Hati Zen berdesir. Diakah istrinya. Perempuan yang kerap muncul di benaknya. Saat dia sama sekali tak ingat siapa dirinya.Perempuan yang kata mereka sangat dia cinta. Sampai rela korbankan nyawa asal wanita itu selamat.Di bawah sana. Sosok bergaun biru itu sedang menginterogasi Sylus."Dia hamil berapa bulan?" Tanyanya melihat perut buncit Valin."Delapan bulan. Saat jatuh ke sungai hari itu dia sedang hamil tiga bulan. Beruntung dia dan bayinya baik-baik saja.""Sudah pasti itu anakku?"Teddy melihat ke arah Zen. "Kamu ingin melakukan tes?""Aku hanya ingin memastikan.""Dia setia menurutku. Yang suka bejibun tapi dia pilih setia padamu. Kalau kamu minta tes DNA lakukan diam-diam. Jika dia tahu, itu akan menyakitinya.""Kamu peduli padanya?"Teddy memutar bola matanya malas. Hilang ingatan saja cemburuannya tidak juga ketinggal
Karena Marsha tidak punya siapa-siapa. Dan kebetulan bersama Caleb, jadilah pria itu yang mengurus semua administrasi Marsha.Marsha tidak sempat dibawa balik ke fasilitas atau ke cabang EH. Sebuah rumah sakit swasta dekat gedung apartemen Caleb jadi pilihan pria itu.Meski demikian Caleb sempat berkoordinasi dengan Sylus. Hingga pria itu bisa menghubungi koleganya di rumah sakit tersebut.Berhubung di sana tidak ada yang mengenal Caleb dan Marsha. Pihak rumah sakit menyebut keduanya sebagai pasangan suami istri. Caleb juga yang menandatangani persetujuan operasi sesar untuk Marsha. "Tapi, saya bukan."Sanggahan Caleb dia telan kembali ketika seorang dokter keluar dari ruang operasi. "Bagaimana, Dokter?""Bayinya sudah meninggal saat kami lahirkan. Tuan yang sabar ya. Kalian masih muda, bisa punya anak lagi di lain waktu."Caleb bengong sambil menggaruk kepala. "Punya anak lagi? Di lain waktu? Apa-apaan ini!" Gerutu Caleb dalam hati."Lalu dia bagaimana?""Istri Anda masih belum sad
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?"Kian menyerbu masuk ruangan Sylus begitu dia mendapat kabar kalau Zen sudah berhasil ditemukan dan dibawa pulang.Di tempat itu sudah ada Mark, Shane dan Nicky. Serta Arthur yang tiba sesaat sebelum Kian datang."Yang kena saraf semua," Sylus mengambil kesimpulan."Apa masih bisa sembuh? Berapa lama dia sampai pulih?" Shane yang bertanya kali ini."Aku harus konsultasi dengan banyak ahli untuk proses penyembuhan Zen," Sylus menjelaskan secara terperinci keadaan Zen.Benar saja, masalahnya tidak sesederhana yang terlihat. Ada banyak hal yang dilalui Zen untuk mencapai kata sembuh."Kenapa tidak coba pakai cusgevy. Salah satu formulanya kan bisa memperbaiki sel yang rusak. Mempercepat penbentukan tabung saraf," saran dari Arthur membuat Sylus tertegun.Dia terdiam sesaat, seolah sedang mempertimbangkan ide dari Arthur."Akan kudiskusikan dulu dengan penemunya. Untuk kondisi Zen apa bisa dilakukan terapi menggunakan cusgevy volume dua.""Bilang saja istr
Shane dan yang lainnya lemas begitu sampai di fasilitas. Begitu berat perjuangan mereka untuk bisa pulang. Zen hilang ingatan dan lumpuh. Tubuhnya juga kekurangan nutrisi parah.Mereka harus berjuang ekstra keras untuk bisa naik ke heli yang menjemput mereka. Medan yang sama sekali tidak bersahabat, membuat heli hanya bisa terbang rendah, tanpa bisa mendarat.Untungnya Zen tidak banyak ulah di perjalanan. Hingga meski sulit mereka bisa kembali dengan selamat. Setidaknya demikian."Caleb, hubungkan aku dengan Luis atau Om Max sekalian. Aku pikir perlu serum penyembuh mereka."Caleb yang baru terhubung dengan Arthur setelah meneguk satu cup kopi mengangguk. Tempat itu harus digeledah ulang. Gerombolan anak buah Kiehl harus dibasmi sampai ke akarnya. Tidak boleh ada yang tersisa.Di dalam sana suasana sangat tegang. Sylus bahkan sampai gemetar saat melihat keadaan Zen untuk pertama kali.Dia nyaris menitikkan air mata. Zen kurus, tidak terawat. Andai dia ditemukan lebih cepat. Mungkin ke
Mereka bergerak perlahan. Sunyi, tanpa suara, tanpa jejak yang kentara. Hanya kode yang bicara saat mereka berkomunikasi.Mark memimpin, dia bergerak ke depan rumah. Shane dan Caleb masing-masing menyebar ke sisi kiri dan kanan.Ketika Mark mengintip ke dalam melalui celah dinding. Dia dapati sekelompok orang sedang minum di dalam sana.Mereka bukan orang susah. Dengan daging, wine dan berbagai hidangan lezat. Cukup aneh untuk mereka yang hidup terpencil. Jauh dari keramaian apalagi pusat kota.Ketika Mark mengamati lagi, dia tidak mendapati Zen di sana. Tapi bisikan penuh antusiasme muncul dari Shane."Aku menemukannya. Dia di sini!"Mark dan yang lain segera mendobrak pintu. Menerjang masuk hingga mereka yang ada di dalam sana terkejut. Hanya untuk sesaat. Detik setelahnya hujan tembakan berlaku.Mark tersenyum lebar mendapati info dari Miro tidak meleset."Laporan tambahan untuk bosmu," kata Mark pada Caleb setelah menumbangkan separuh lawan mereka."Perintahnya jelas. Habisi merek
"Semoga beruntung di tempat baru dokter Brown!"Teriakan Ivone disambut denting gelas yang beradu. Semua orang tampak menikmati pesta perpisahan dokter Brown. Dokter spesialis anak yang pernah bergabung di divisi UGD beberapa waktu lalu.Wanita berambut coklat itu terpaksa resign. Setelah memutuska
"Benar-benar melelahkan," keluh Valin sambil meletakkan kepala di meja.Alvin hanya tersenyum sambil meletakkan sekotak susu di hadapan Valin."Kopi," tanya Valin."Kamu perempuan, jangan kebanyakan kopi!" Alvin tegas memperingatkan.Valin manyun, tapi tangannya tak menolak pemberian Alvin. Dia min
"Antar aku!"Kian terkejut. Dia baru saja mengirim pesan pada Zen. Saat itu Zen sedang membantu Madison dan Mike naik ke taksol."Tapi Zen," kilah Kian panik. Dia bingung ketika Valin sudah masuk ke mobil Kian yang baru saja diantar oleh petugas valet."Dia lagi sibuk sama keluarganya!" Sambar Vali
Dorongan napas kasar terdengar. Zen hampir membanting ponselnya, jika Valin tidak menggeliat dalam pelukan. Pria itu mendengus seraya menjepit hidung Valin. Gemas sekaligus heran. "Aku bingung denganmu. Sebenarnya yang menarik darimu itu apa? Cantik, biasa saja. Seksi, lumayan. Yang lebih bohay ba







