Obsesi Gila Suami Mafiaku

Obsesi Gila Suami Mafiaku

last updateÚltima actualización : 2026-01-18
Por:  AphroditeEn curso
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
38Capítulos
514vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Dominic Volkov, penguasa yang ditakuti di jalanan New York. Setengah malaikat dengan wajah tampan, setengah iblis dengan tangan berlumur darah. Bagi orang lain, dia monster. Bagi Isabella… dia adalah penjara sekaligus perlindungan. Dominic bisa membakar dunia demi menyelamatkannya, tapi dia juga bisa menghancurkan hatinya tanpa ampun. Di dunia di mana cinta adalah kelemahan dan pengkhianatan berharga lebih mahal daripada darah, Isabella harus menemukan jawabannya: Apakah Dom adalah musuh terbesarnya… atau satu-satunya pria yang akan berperang untuknya sampai akhir?

Ver más

Capítulo 1

TRAGEDI

Trigger Warning

Harap diperhatikan bahwa cerita ini mengandung konten yang mungkin membuat beberapa pembaca terganggu, seperti penyebutan tentang kematian keluarga dekat, serta deskripsi yang sangat grafis mengenai kekerasan, penyiksaan, dan adegan berdarah.

****

Lima belas tahun lalu

Langkah Dominic bergema pelan di halaman rumah mereka yang luas, setiap kerikil berderak di bawah sepatu kulitnya. Malam itu sunyi, hanya diselingi suara dedaunan pohon mahoni yang berbisik ditiup angin dinihari. Jam tangannya menunjukkan pukul dua lewat seperempat. Ia pulang larut. Lagi. Dominic menarik napas dalam, membayangkan wajah ibunya yang akan mengerut sebelum mengomel panjang lebar begitu tahu putra sulungnya pulang di jam segila ini.

“Suatu hari, kau akan membuat aku dan ayahmu terkena serangan jantung,” suara ibunya terngiang jelas di telinganya.

Tangannya menyentuh gagang pintu kayu jati yang dingin, menariknya dengan hati-hati sebelum menutupnya sepelan mungkin. Ia berbalik—berhenti mendadak saat melihat ayahnya, Ivan, duduk di kursi berlengan di ruang tamu, menatapnya tajam dengan mata setajam elang.

“Kau tahu bahaya apa yang bisa terjadi saat kau berkeliaran di luaran tanpa pengawal?” suara ayahnya dingin, menusuk kulit Dominic seperti pisau es.

Dominic menghela napas. “Ayah, aku bisa menjaga diri sen—“

“Kau tidak akan berkata seperti itu saat kepalamu sendiri yang dipenggal dan dijadikan pajangan oleh musuh kita.”

Dominic ingin menyahut bahwa kalau kepalanya dipenggal, ia bahkan tidak akan bisa mengatakan apa pun, tapi mengingat suasana hati ayahnya yang sedang buruk, Dominic menelan kembali kalimat itu.

“Ivan, sudahlah,” tegur ibunya, Maria. Ia berdiri di antara keduanya, mengenakan gaun tidur sutra berwarna lavender, wajahnya memancarkan keletihan dan kasih sayang yang sama besarnya.

“Dia sudah pulang dengan selamat. Itu yang penting.”

Dominic menatap ibunya kemudian berkedip kecil, berusaha mencairkan suasana tegang. Maria tertawa pelan, senyumnya menghangatkan hati Dominic.

“Suatu hari nanti kau akan membuatku dan ayahmu—“

“Serangan jantung,” sambung Dominic otomatis. “Iya, Bu, Domi tahu.”

Ivan yang duduk di sofa kulit mahal memutar mata melihat interaksi istrinya dengan putra sulung mereka.

“Kalau kau terus membelanya seperti itu, putra kita tidak akan pernah menurut, Zayka.”

“Domi!”

Ketiganya mendongak ke tangga. Lucia muncul di ujung pegangan, matanya mengantuk, tapi berbinar saat menatap kakaknya. Rambutnya yang panjang dan bergelombang acak-acakan, memeluk erat boneka beruang cokelat yang Dominic hadiahkan di ulang tahunnya yang ke tujuh.

Dominic tertawa pelan. “Hallo Little Princess. Kenapa belum tidur?”

“Aku menunggu Kakak. Ayah marah lagi ya?”

Ivan menggelengkan kepala, suaranya lebih lembut sekarang. “Tidak marah, Little Princess. Hanya bicara dengan kakakmu.”

Maria tersenyum, mengulurkan tangan ke arah Lucia. “Ayo, tidur lagi Sayang, nanti Kakakmu akan menyusul.”

Tapi, sebelum salah satu dari mereka sempat bergerak lebih jauh, dentuman kecil terdengar dari balik dinding, seperti suara benda jatuh. Kening Dominic berkerut. Instingnya berteriak ada sesuatu yang tidak beres. Sebelum ia sempat bertanya, ledakan keras memekakkan telinga menghantam ruang tamu dari arah dapur. Gelombang panas menyapu ruangan, melemparkan perabotan mahal ke segala arah seperti mainan. Dalam sekejap, kekacauan menghantam dalam gelombang yang membutakan.

Dominic terhempas ke belakang, punggungnya menghantam lantai marmer yang dingin dan keras. Asap pekat dan bau hangus memenuhi ruangan, menusuk paru-parunya hingga ia batuk tersengal. Matanya berair, penglihatannya mengabur. Ia bisa mendengar jeritan ibunya yang memilukan, ketakutan bercampur dengan teriakan Ivan yang berusaha melindungi istrinya.

“Maria! Lucia!”

Dominic merangkak bangun, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Api sudah menjilat dinding dan mulai menutupi jalan ke tangga, kobarannya merah menyala menghalangi pandangan. Ia melihat siluet ayahnya berusaha meraih Lucia yang masih di atas tangga—ketakutan dan kebingungan terpancar jelas di wajahnya. Lucia menjerit, saat kobaran api menjalar ke arahnya.

“Lu…cia!” Dominic berteriak, suaranya parau karena asap dan ketakutan. Ia mencoba maju, tapi panas menyengat kulitnya, membakar lengan dan wajahnya. Luka bakar mulai terbentuk di pipinya, daging melepuh dan nyeri menusuk hingga ke tulang.

Ledakan kedua mengguncang lantai, lebih dahsyat dari yang pertama. Tubuh Ivan terhempas ke dinding dengan bunyi gedebuk yang mengerikan, dan suara ibunya menjerit memanggil namanya sebelum kobaran api memutus semua suara. Ledakan terakhir meledakkan jendela besar di belakangnya. Gelombang tekanan menghantamnya, melempar tubuhnya keluar rumah seperti boneka kain. Ia jatuh di halaman, keras, dengan tubuh penuh luka dan wajah yang terbakar. Napasnya terengah dan putus-putus, setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang mengiris paru-parunya.

Dominic mencoba bangkit, tapi tubuhnya menolak. Air mata bercampur darah mengalir di pipinya, meninggalkan jejak merah di kulitnya yang hangus. Ia memandang dengan perasaan hancur saat menatap rumah keluarganya runtuh perlahan tanpa sisa, menjadi tumpukan bara dan abu. Menelan segala yang ada di dalamnya.

Ia meraung, meski suara yang terdengar tidak lebih dari bisikan yang menyayat jantung.

Gelap menelannya tak lama setelah itu, meninggalkan Dominic dalam kesunyian yang lebih mencekam daripada kegelapan, perasaannya hancur bersamaan dengan kebencian dan kemarahan yang mencakar dadanya.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
38 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status