INICIAR SESIÓNDominic Volkov, penguasa yang ditakuti di jalanan New York. Setengah malaikat dengan wajah tampan, setengah iblis dengan tangan berlumur darah. Bagi orang lain, dia monster. Bagi Isabella… dia adalah penjara sekaligus perlindungan. Dominic bisa membakar dunia demi menyelamatkannya, tapi dia juga bisa menghancurkan hatinya tanpa ampun. Di dunia di mana cinta adalah kelemahan dan pengkhianatan berharga lebih mahal daripada darah, Isabella harus menemukan jawabannya: Apakah Dom adalah musuh terbesarnya… atau satu-satunya pria yang akan berperang untuknya sampai akhir?
Ver másTrigger Warning
Harap diperhatikan bahwa cerita ini mengandung konten yang mungkin membuat beberapa pembaca terganggu, seperti penyebutan tentang kematian keluarga dekat, serta deskripsi yang sangat grafis mengenai kekerasan, penyiksaan, dan adegan berdarah. **** Lima belas tahun lalu Langkah Dominic bergema pelan di halaman rumah mereka yang luas, setiap kerikil berderak di bawah sepatu kulitnya. Malam itu sunyi, hanya diselingi suara dedaunan pohon mahoni yang berbisik ditiup angin dinihari. Jam tangannya menunjukkan pukul dua lewat seperempat. Ia pulang larut. Lagi. Dominic menarik napas dalam, membayangkan wajah ibunya yang akan mengerut sebelum mengomel panjang lebar begitu tahu putra sulungnya pulang di jam segila ini. “Suatu hari, kau akan membuat aku dan ayahmu terkena serangan jantung,” suara ibunya terngiang jelas di telinganya. Tangannya menyentuh gagang pintu kayu jati yang dingin, menariknya dengan hati-hati sebelum menutupnya sepelan mungkin. Ia berbalik—berhenti mendadak saat melihat ayahnya, Ivan, duduk di kursi berlengan di ruang tamu, menatapnya tajam dengan mata setajam elang. “Kau tahu bahaya apa yang bisa terjadi saat kau berkeliaran di luaran tanpa pengawal?” suara ayahnya dingin, menusuk kulit Dominic seperti pisau es. Dominic menghela napas. “Ayah, aku bisa menjaga diri sen—“ “Kau tidak akan berkata seperti itu saat kepalamu sendiri yang dipenggal dan dijadikan pajangan oleh musuh kita.” Dominic ingin menyahut bahwa kalau kepalanya dipenggal, ia bahkan tidak akan bisa mengatakan apa pun, tapi mengingat suasana hati ayahnya yang sedang buruk, Dominic menelan kembali kalimat itu. “Ivan, sudahlah,” tegur ibunya, Maria. Ia berdiri di antara keduanya, mengenakan gaun tidur sutra berwarna lavender, wajahnya memancarkan keletihan dan kasih sayang yang sama besarnya. “Dia sudah pulang dengan selamat. Itu yang penting.” Dominic menatap ibunya kemudian berkedip kecil, berusaha mencairkan suasana tegang. Maria tertawa pelan, senyumnya menghangatkan hati Dominic. “Suatu hari nanti kau akan membuatku dan ayahmu—“ “Serangan jantung,” sambung Dominic otomatis. “Iya, Bu, Domi tahu.” Ivan yang duduk di sofa kulit mahal memutar mata melihat interaksi istrinya dengan putra sulung mereka. “Kalau kau terus membelanya seperti itu, putra kita tidak akan pernah menurut, Zayka.” “Domi!” Ketiganya mendongak ke tangga. Lucia muncul di ujung pegangan, matanya mengantuk, tapi berbinar saat menatap kakaknya. Rambutnya yang panjang dan bergelombang acak-acakan, memeluk erat boneka beruang cokelat yang Dominic hadiahkan di ulang tahunnya yang ke tujuh. Dominic tertawa pelan. “Hallo Little Princess. Kenapa belum tidur?” “Aku menunggu Kakak. Ayah marah lagi ya?” Ivan menggelengkan kepala, suaranya lebih lembut sekarang. “Tidak marah, Little Princess. Hanya bicara dengan kakakmu.” Maria tersenyum, mengulurkan tangan ke arah Lucia. “Ayo, tidur lagi Sayang, nanti Kakakmu akan menyusul.” Tapi, sebelum salah satu dari mereka sempat bergerak lebih jauh, dentuman kecil terdengar dari balik dinding, seperti suara benda jatuh. Kening Dominic berkerut. Instingnya berteriak ada sesuatu yang tidak beres. Sebelum ia sempat bertanya, ledakan keras memekakkan telinga menghantam ruang tamu dari arah dapur. Gelombang panas menyapu ruangan, melemparkan perabotan mahal ke segala arah seperti mainan. Dalam sekejap, kekacauan menghantam dalam gelombang yang membutakan. Dominic terhempas ke belakang, punggungnya menghantam lantai marmer yang dingin dan keras. Asap pekat dan bau hangus memenuhi ruangan, menusuk paru-parunya hingga ia batuk tersengal. Matanya berair, penglihatannya mengabur. Ia bisa mendengar jeritan ibunya yang memilukan, ketakutan bercampur dengan teriakan Ivan yang berusaha melindungi istrinya. “Maria! Lucia!” Dominic merangkak bangun, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Api sudah menjilat dinding dan mulai menutupi jalan ke tangga, kobarannya merah menyala menghalangi pandangan. Ia melihat siluet ayahnya berusaha meraih Lucia yang masih di atas tangga—ketakutan dan kebingungan terpancar jelas di wajahnya. Lucia menjerit, saat kobaran api menjalar ke arahnya. “Lu…cia!” Dominic berteriak, suaranya parau karena asap dan ketakutan. Ia mencoba maju, tapi panas menyengat kulitnya, membakar lengan dan wajahnya. Luka bakar mulai terbentuk di pipinya, daging melepuh dan nyeri menusuk hingga ke tulang. Ledakan kedua mengguncang lantai, lebih dahsyat dari yang pertama. Tubuh Ivan terhempas ke dinding dengan bunyi gedebuk yang mengerikan, dan suara ibunya menjerit memanggil namanya sebelum kobaran api memutus semua suara. Ledakan terakhir meledakkan jendela besar di belakangnya. Gelombang tekanan menghantamnya, melempar tubuhnya keluar rumah seperti boneka kain. Ia jatuh di halaman, keras, dengan tubuh penuh luka dan wajah yang terbakar. Napasnya terengah dan putus-putus, setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang mengiris paru-parunya. Dominic mencoba bangkit, tapi tubuhnya menolak. Air mata bercampur darah mengalir di pipinya, meninggalkan jejak merah di kulitnya yang hangus. Ia memandang dengan perasaan hancur saat menatap rumah keluarganya runtuh perlahan tanpa sisa, menjadi tumpukan bara dan abu. Menelan segala yang ada di dalamnya. Ia meraung, meski suara yang terdengar tidak lebih dari bisikan yang menyayat jantung. Gelap menelannya tak lama setelah itu, meninggalkan Dominic dalam kesunyian yang lebih mencekam daripada kegelapan, perasaannya hancur bersamaan dengan kebencian dan kemarahan yang mencakar dadanya.“Pagi!” sapa Isabella ceria begitu melihat Grace masuk ke dapur.“Pagi,” balas Grace. Senyumnya lebar saat melihat apa yang dilakukan Isabella.“Untuk Dominic?”Isabella mengangguk, kembali sibuk menyiapkan makanan untuk Dominic.“Menurutmu dia akan menyukainya?”Grace tersenyum misterius. “Percayalah, dia akan memakan apa pun yang kau siapkan bahkan peluru sekali pun.”Isabella tertawa, berusaha mengabaikan perasaan hangat yang mengaliri tubuhnya. Ia menyiapkan semuanya di atas nampan, bersiap membawanya ke kamar mereka.Dominic masih tidur saat ia masuk ke kamar mereka. Ia meletakkan makanannya di atas meja samping tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Pandangannya jatuh pada wajah Dominic yang terlihat damai dalam tidurnya.Ia menatap bekas lukanya. Sekarang Dominic tidak merasa perlu menyembunyikan bekas luka itu darinya. Dan ia senang karena itu berarti Dominic tidak merasa perlu menyembunyikan diri darinya.Tangannya tanpa sadar menyentuh bekas luka di punggungnya.Pasti sakit.
“Tidak! Tidak! Tidak! Berhenti!” Isabella berlari bertelanjang kaki di atas rumput sambil mengawasi kelincinya yang berlari, seolah ingin menantang Isabella untuk menangkapnya. Isabella membungkuk, menumpu kedua tangan di atas lutut dengan napas ngos-ngosan. “Pika! Jika aku menangkapmu... ini tidak akan berakhir baik,” ancam Isabella. Ia mencoba meniru bariton rendah dan nada dingin milik Dominic. Namun, alih-alih terdengar mengancam, suaranya justru terdengar seperti rengekan yang lucu. Isabella meringis, merasa malu pada dirinya sendiri. Sial. Bagaimana Dominic bisa membuat orang gemetar hanya dengan satu kata? Jika saja ia punya satu persen karisma suaminya, mungkin kelinci itu sudah bersimpuh meminta ampun sekarang. Isabella terkikik geli. Yah, lagipula ia memang tidak berbakat menjadi orang jahat. “Ada masalah, Ma’am?” Isabella tersentak kecil dan mengumpat dalam hati. Ia lupa ada Sin—bayangan setinggi dua meter yang selalu mengikutinya. “Semua baik-baik saja, Sin,” sahut
Isabella harus menahan diri agar tidak mengumpat. Ia berusaha keras, sungguh. Tatapannya yang waspada berpindah antara Dominic dan pria bertubuh raksasa di depannya—tipe pria yang tampak sanggup merobohkan pohon ek hanya dengan tangan kosong.Puas setelah percintaan panas di dapur, Dominic membawanya ke ruang tamu hanya untuk disambut pemandangan itu. Isabella tidak punya petunjuk, kecuali satu dugaan masuk akal.“Dia pengawal baruku?” tebak Isabella.Dominic, yang kini sudah kembali rapi dengan setelan formal berkelasnya, mengangguk singkat. Isabella mengamati pria itu lebih lama. Postur tubuhnya kaku, tatapan matanya kosong tanpa emosi—aset sempurna untuk pekerjaannya—tapi hal itu justru membuat Isabella merinding. Pengawal barunya tidak tampak seperti manusia; dia seperti senjata berjalan.“Dia akan mengawalmu ke mana pun, melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan keamananmu. Kau tidak boleh menemui siapa pun sebelum Sin memastikan areanya steril,” ujar Dominic dingin.“S
Vittorio tidak bergerak, hanya duduk dan menatap. Layar di depannya menunjukkan video rekaman saat gudangnya dibakar. Dominic tersenyum padanya. Puas dan penuh kemenangan. Ia terus memutar rekaman itu, menit demi menit, melihat senapan-senapan mahalnya menjadi rongsokan tak berguna, melihat gudangnya menjadi lautan merah yang melahap segalanya.Vittorio diam. Sejenak, hanya suara detak jam dinding yang mengisi ruangan itu. Lalu sebuah suara keluar dari tenggorokannya, tawa kecil yang kering—tawa yang lebih menakutkan dari ledakan granat.Gelas kristal di tangannya bergetar hebat. Cairan ambar di dalamnya berguncang, mencerminkan rona merah dari kobaran api yang tertangkap kamera sebelum semuanya berubah menjadi abu-abu.“Dominic….” desis Vittorio. Suaranya mengandung kebencian dari neraka terdalam.Vittorio tidak berteriak. Baginya, amarah adalah emosi murahan milik amatir. Ia lebih suka menghancurkan. Menyingkirkan masalah. Vittorio kembali menyesap minumannya. Rasa pahit meninggalka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.