LOGIN"Ibu." Teriak Vio dengan wajah berbinar senang. Sejak kemarin dia tak melihat Carry. Kali ini mereka bisa bertemu lebih awal. Biasanya Vio hanya bertemu ibunya saat pagi hari sebelum berangkat sekolah.Carry sering pulang larut malam. Dia akan tiba di rumah setelah Vio tidur."Ngapain kamu di sini?" Carry buru-buru mendekati Vio. Sang putri sudah berganti pakaian. Gaun cantik dengan rambut dikuncir dua. "Nemenin Papa kerja." Telunjuk Vio mengarah pada Bryan yang duduk di balik meja berpelitur mewah. Gayanya sungguh seperti CEO betulan.Ah, tapi Bryan memang CEO MDE. Jadi dia tidak bohong."Sudah makan?""Sudah.""Jangan kentang goreng.""Enggak. Dia makan siang dengan menu komplit sama sayur dan buah. Kamu bisa cek kalau tidak percaya."Jawaban Bryan membuat Carry menoleh. "Apa maksudnya itu?""Aku hanya berbagi tugas denganmu. Kamu sibuk, aku bisa urus Vio.""Ibu mah sibuk terus," protes Vio.Carry mendelik. Sedang Bryan hanya mengangkat bahunya. Seolah ingin mengatakan, "See, aku
"Bagaimana bisa?"Perkataan Kian yang sedikit meninggi membuat Jody mengerjap. Dia perlahan membuka mata, guna mendapati ruangan bernuansa putih menyambut visualnya.Rumah sakit, Jody yakin itu. Ditambah aroma desinfektan yang lumayan mengganggu indera penciumannya.Dia menoleh, saat itulah dia melihat sosok Kian berdiri membelakanginya. Lelaki dengan punggung lebar terbalut kemeja hitam sedang bicara dengan Mark melalui ponsel."Kiehl dibawa Arthur artinya dia bakal tamat. Lucio sudah pasti mati. Lalu Zen?"Kiehl sudah ditangani. Itu maknanya dia sudah aman. Organisasi tak mungkin memburunya. Jody menghela napas. Rasanya sesak dan menyakitkan. Semua selesai, dan dia bisa pergi. Tepat ketika Jody berusaha bangun. Kala itulah Kian melihatnya. Pria itu lekas membantu, tapi Jody hanya memberinya tatapan tajam penuh peringatan."Maafkan aku," ucap Kian dengan dada sama sesaknya. "Tidak perlu minta maaf. Urusan kita selesai sampai di sini. Terima kasih sudah menolongku.""Apa maksudmu se
Berita ini sontak membuat semua orang berada dalam kebimbangan. Antara bahagia juga sedih. Bahagia sebab pada akhirnya Valin dan Zen akan memiliki anak.Sedih sebab ayah si calon bayi sampai detik ini belum ada kabarnya. "Bagaimana? Apa kita beritahu dia sekarang. Atau tunggu sampai dia stabil dulu." Tanya Luis ketika mereka sudah pindah ke luar kamar."Kita tunggu keluarganya saja." Pada akhirnya Serena yang mengambil keputusan."Benar sekali. Kita tidak berhak mengambil keputusan apapun soal nyonya itu. Zen tidak ada. Andreas masih belum pulih. Satu-satunya yang bisa ditanyai ya cuma adiknya."Alterio baru selesai bicara ketika langkah kaki mendekat terdengar.Vante datang diantar Beita yang kebetulan berkunjung ke The Palace."Selamat pagi, Tuan Inzaghi," sapa Vante. Cukup segan saat berhadapan dengan pemimpin Black Diamond yang tersohor."Selamat pagi juga. Panggil saja Om, sama seperti mereka. Kamu sepertinya seumuran dengan Regina."Vante tak enak hati jadinya. Pemuda itu disug
"Valin!"Teriakan Zen bergema, saat tubuh sang istri melesat cepat ke arah sungai yang berada di bawah villa. Tempat itu memang dibangun di atas tebing sebuah sungai."Zen, berhenti!"Arthur menggeleng ketika Zen turut melompat menyusul Valin. Saat itulah, tembakan beruntun terdengar. Lucio rubuh dengan tubuh bersimbah darah. Shane memastikan pria tersebut mati saat itu juga. Sementara Kiehl, lelaki tersebut menyeringai ketika Lexi melumpuhkan tangan dan kakinya.Dengan begitu, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa."Kau penyusup itu?""Iya, mau apa? Balas dendam?" Tantang Lexi dengan wajah berubah dingin dan menakutkan. Aura bawahannya berganti superior yang membuat Kiehl tertawa. Dia ditipu mentah-mentah. "Kami akan turun untuk mencari mereka. Dia kami serahkan pada kalian."Arthur mengangguk ketika Shane dan Mark menghilang dalam hitungan detik. Tentu saja Zen dan Valin harus segera diselamatkan. Sebab ada air terjun di ujung sungai.Air terjun yang mengarah ke hutan belantara y
"Kau siapa?" Kiehl tidak ingat nama sosok yang berdiri di depannya."Oh, saya disuruh Bro untuk melapor pada Anda. Maaf, jika saya mengganggu."Lexi menunduk, tidak berani mencuri pandang pada Kiehl yang menatap tajam padanya. Dia harus ekstra hati-hati. Sebab yang ada di hadapannya adalah seorang psikopat.Salah sedikit, giliran Lexi yang dikuliti sampai habis. Pria itu meremang. Dia belum mau mati. Dia masih ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya yang seksi dan cantik di rumah.Keberadaan Lexi sepertinya membuat Valin memperoleh kesadarannya kembali. Wanita itu menggeliat sebelum mendapat serangan syok. Waktu mendapati yang memeluknya bukanlah Zen."Pergi!" Usir Valin tanpa ragu. Dia jauhkan diri dari Lucio yang terus mengejarnya."Lin, ini aku. Apa kamu tak ingat padaku. Aku sangat merindukanmu.""Heh! Aku sudah menikah. Dan aku cuma cinta sama Zen, suamiku."Pandangan Valin berputar-putar sebelum akhirnya menangkap visual Kiehl. Lelaki yang menatap tajam padanya.Orang itu!
"Kamu tahu dia perempuan?""Tahulah," balas Kian kalem setelah menyerahkan baju ganti untuk Jody pada Ivone.Teddy dan Adrian saling pandang. Tentu saja mereka menaruh curiga pada Kian."Kenapa kalian memandangku seperti itu?" Heran Kian melihat kelakuan dua lelaki beda status di depannya."Apa kau pernah tidur dengannya."Giliran Adrian kena tabok oleh Kian. Pria itu meringis membuat Teddy menggulung senyum."Apa aku semurah itu. Main tubruk perempuan.""Kau menyindirku. Hei, aku kasih tahu ya. Ivone duluan yang menggodaku," balas Adrian tak mau kalah."Tapi akhirnya kau yang nguber duluan. Bucin duluan."Sindiran Kian telak menguliti kesombongan Adrian. Benar apa yang Kian katakan tadi. Adrian yang kalah. Dia jatuh cinta pada Ivone.Apalagi setelah dia mereguk madu istrinya untuk pertama kali. Di zaman gila seperti ini, masih ada perempuan yang sukses menjaga diri sampai ke jenjang pernikahan.Sampai detik ini Adrian kerap kesulitan tiap kali ingin menerobos masuk. Padahal Ivone sud
"Benar-benar melelahkan," keluh Valin sambil meletakkan kepala di meja.Alvin hanya tersenyum sambil meletakkan sekotak susu di hadapan Valin."Kopi," tanya Valin."Kamu perempuan, jangan kebanyakan kopi!" Alvin tegas memperingatkan.Valin manyun, tapi tangannya tak menolak pemberian Alvin. Dia min
"Antar aku!"Kian terkejut. Dia baru saja mengirim pesan pada Zen. Saat itu Zen sedang membantu Madison dan Mike naik ke taksol."Tapi Zen," kilah Kian panik. Dia bingung ketika Valin sudah masuk ke mobil Kian yang baru saja diantar oleh petugas valet."Dia lagi sibuk sama keluarganya!" Sambar Vali
Dorongan napas kasar terdengar. Zen hampir membanting ponselnya, jika Valin tidak menggeliat dalam pelukan. Pria itu mendengus seraya menjepit hidung Valin. Gemas sekaligus heran. "Aku bingung denganmu. Sebenarnya yang menarik darimu itu apa? Cantik, biasa saja. Seksi, lumayan. Yang lebih bohay ba
Di ruang meeting, ada Kian yang berdiri di samping Ronan. Tampak tenang, bahkan setelah Chris Langton datang membawa rombongannya. Lelaki itu tetap datar walau sadar kalau ancaman besar sedang dia hadapi.Di depan mereka, tampak Chris Langton duduk dengan dagu terangkat. Ekspresinya terlihat sangat