LOGIN"Valin!"Teriakan Zen bergema, saat tubuh sang istri melesat cepat ke arah sungai yang berada di bawah villa. Tempat itu memang dibangun di atas tebing sebuah sungai."Zen, berhenti!"Arthur menggeleng ketika Zen turut melompat menyusul Valin. Saat itulah, tembakan beruntun terdengar. Lucio rubuh dengan tubuh bersimbah darah. Shane memastikan pria tersebut mati saat itu juga. Sementara Kiehl, lelaki tersebut menyeringai ketika Lexi melumpuhkan tangan dan kakinya.Dengan begitu, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa."Kau penyusup itu?""Iya, mau apa? Balas dendam?" Tantang Lexi dengan wajah berubah dingin dan menakutkan. Aura bawahannya berganti superior yang membuat Kiehl tertawa. Dia ditipu mentah-mentah. "Kami akan turun untuk mencari mereka. Dia kami serahkan pada kalian."Arthur mengangguk ketika Shane dan Mark menghilang dalam hitungan detik. Tentu saja Zen dan Valin harus segera diselamatkan. Sebab ada air terjun di ujung sungai.Air terjun yang mengarah ke hutan belantara y
"Kau siapa?" Kiehl tidak ingat nama sosok yang berdiri di depannya."Oh, saya disuruh Bro untuk melapor pada Anda. Maaf, jika saya mengganggu."Lexi menunduk, tidak berani mencuri pandang pada Kiehl yang menatap tajam padanya. Dia harus ekstra hati-hati. Sebab yang ada di hadapannya adalah seorang psikopat.Salah sedikit, giliran Lexi yang dikuliti sampai habis. Pria itu meremang. Dia belum mau mati. Dia masih ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya yang seksi dan cantik di rumah.Keberadaan Lexi sepertinya membuat Valin memperoleh kesadarannya kembali. Wanita itu menggeliat sebelum mendapat serangan syok. Waktu mendapati yang memeluknya bukanlah Zen."Pergi!" Usir Valin tanpa ragu. Dia jauhkan diri dari Lucio yang terus mengejarnya."Lin, ini aku. Apa kamu tak ingat padaku. Aku sangat merindukanmu.""Heh! Aku sudah menikah. Dan aku cuma cinta sama Zen, suamiku."Pandangan Valin berputar-putar sebelum akhirnya menangkap visual Kiehl. Lelaki yang menatap tajam padanya.Orang itu!
"Kamu tahu dia perempuan?""Tahulah," balas Kian kalem setelah menyerahkan baju ganti untuk Jody pada Ivone.Teddy dan Adrian saling pandang. Tentu saja mereka menaruh curiga pada Kian."Kenapa kalian memandangku seperti itu?" Heran Kian melihat kelakuan dua lelaki beda status di depannya."Apa kau pernah tidur dengannya."Giliran Adrian kena tabok oleh Kian. Pria itu meringis membuat Teddy menggulung senyum."Apa aku semurah itu. Main tubruk perempuan.""Kau menyindirku. Hei, aku kasih tahu ya. Ivone duluan yang menggodaku," balas Adrian tak mau kalah."Tapi akhirnya kau yang nguber duluan. Bucin duluan."Sindiran Kian telak menguliti kesombongan Adrian. Benar apa yang Kian katakan tadi. Adrian yang kalah. Dia jatuh cinta pada Ivone.Apalagi setelah dia mereguk madu istrinya untuk pertama kali. Di zaman gila seperti ini, masih ada perempuan yang sukses menjaga diri sampai ke jenjang pernikahan.Sampai detik ini Adrian kerap kesulitan tiap kali ingin menerobos masuk. Padahal Ivone sud
"Sekarang semua jelas. Kenapa Sebastian Kiehl Moretti mengincar Elang Hitam sekaligus mengincar orang-orangmu."Suara Arthur terdengar di ponsel milik Zen yang disetel mode loudspeaker. Lelaki itu sedang mengendara mobil menuju kediaman Archlight. Hatinya tidak tenang sejak tadi."Dia ingin membalas dendam pada keluargamu. Merusak reputasi Elang Hitam demi memuaskan ayahnya," sahut Zen."Padahal papaku bilang Draco Moretti tidak terlalu dirugikan oleh Black Diamond. Klan Drago D'Oro pimpinan Draco Moretti justru terindikasi mencuri uang milik Black Diamond. Kenapa jadi anaknya mengusik klan kakekku. Kan aneh.""Namanya juga tidak waras. Mungkin saja dia dipengaruhi oleh orang lain," sahut Zen sambil menginjak rem ketika lampu merah menghadang jalannya.Dia coba hubungi nomor Valin menggunakan nomornya yang lain. Tidak diangkat."Bisa jadi. Apa karena kamu menghabisi Carson Moretti.""Orang mati mana bisa ngadu," sergah Zen asal."Mayatnya memang tidak mengadu. Tapi ikatan keluarga di
Tawa menggema di lorong sempit itu setelah Kian menyelesaikan kalimatnya."Kau dengar, dia saja menyebutmu pengkhianat."Jody yang menjadi obyek pembicaraan hanya panik sesaat. Dia kemudian melengkungkan senyum tipis. Hingga membuat mereka semua saling pandang."Aku memang pengkhianat tapi untuk organisasi bukan untuk orang lain."Jawabannya memicu amarah mantan rekan Jody. Mereka yang tadinya ingin mengadu domba antara Kian dan Jody justru berbuah sebaliknya."Kalau begitu lebih baik kalian mati bersama! Siapa suruh kau mengantarkan nyawamu sendiri ke sini!""Akan lebih bagus jika kalian bisa membunuhku. Jangan lupa siapa aku."Jawaban manis dari Jody membuat Kian mengerutkan dahi. Rasa ingin tahu akan siapa sosok Jody sebenarnya menyeruak. Dan dia mendapatkan penawar dari rasa penasarannya lima menit setelahnya.Di depan Kian, Jody tunjukkan kemampuannya bertarung. Untuk versi perempuan, Jody sangat luar biasa. Gerakannya cepat. Gadis itu juga lincah dan gesit. Dalam sekejap, bebera
"Yuan, hentikan. Ada orang lain di rumah kita. Maksudku jangan di sini."Audrey mendorong jauh tubuh Yuan yang sudah menghimpitnya ke dinding. Siap menyerang sang istri. Keduanya menikah sebelum Adrian dan Ivone.Mereka sepakat tidak ingin mengadakan pesta. Sama seperti Adrian dan Ivone. Dan kini, keduanya sangat menikmati kehidupan pernikahan mereka.Terikat oleh janji dan rasa takut kehilangan. Sejauh ini pernikahan Yuan dan Audrey baik-baik saja.Audrey sang ratu party secara mengejutkan bisa menghentikan kebiasaan pergi ke klub. Sebagai gantinya, Yuan selalu stand by di rumah begitu selesai bekerja. Pria itu minta pada Adrian agar dia bisa pulang sebelum jam delapan. Kalaupun masih ada pekerjaan, Yuan akan mengerjakannya di rumah.Yuan sadar, Audrey punya keinginan berhubungan intim lumayan tinggi. Untuk mengantisipasi itu, dia harus siap sedia jika Audrey mendadak menyerangnya.Tapi makin ke sini, dua orang itu malah saling melengkapi. Jika Audrey sedang tidak ingin, justru Yuan
"Kenapa kamu tidak bilang kalau dia sangat mengerikan!"Amy langsung protes, mencak-mencak pada seseorang di ujung sana."Kakak masih hidup kan. Dia tidak memakan atau menghabisi Kakak.""Brengsek!" Maki Amy tanpa ragu."Jika bukan karena kamu sering menolongku mendapatkan barang bukti, aku tidak m
"Lepaskan aku!" Vante kembali berontak ketika Mark menyeretnya masuk ke The Dream. Pria bertubuh tinggi besar itu benar-benar sulit ditangani. Vante hampir melayangkan tinju, tapi Mark dengan santai menahan kepalan tangannya."Jangan berisik! Masuk ke kamarmu sana. Molly, kembali ke ruanganmu."Se
"Aku akan tiba di sana dalam setengah jam. Jangan menangis. Jelek tahu!"Vante memaki sambil memakai jaketnya. Maria kembali mengacak-acak hari indahnya yang telah tersusun dengan rapi.Gadis itu menghubunginya sambil terisak. Katanya Rud mengajaknya balikan, tapi kemarin Maria melihatnya sedang me
Zen tanpa ragu menceburkan diri ke laut saat Valin mulai tenggelam. Entah apa yang sang istri pikirkan hingga nekat masuk ke air. Pria itu dengan sigap menyambar pinggang Valin. Membawanya naik ke permukaan."Gila ya!" Maki Zen tanpa ampun ketika Valin terbatuk dengan tangan memeluk lehernya."Kaki