LOGIN"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia. Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--" .. Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan. Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi. Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
View More"Aku cuma minum sedikit, tapi kenapa rasanya panas banget." Gumam Seana.
Karena merasa lemas untuk berdiri, Seana menjatuhkan tubuhnya disamping Zio yang sudah terbaring diatas tempat tidurnya. Seana menoleh, tangannya tanpa sadar meraba dada bidang Zio.
"Pak Zio ganteng banget." Katanya tanpa sadar.
Matanya terpejam ketika dia mulai mencium bibir Zio tanpa sadar, dan menarik dasi pria itu.
.....
Seana Xaviera Levannia telah bekerja sebagai asisten diperusahaan terkemuka dikota ini, perusahaan Kaivandra Internasional Group selama dua tahun penuh. Semua orang mengenalnya sebagai gadis yang rajin, cekatan, bersih, cantik dan jujur.
Namun kejadian malam itu, Seana tidak sengaja melakukan sesuatu diluar kebiasaannya.
Seana meringis ketika sedikit cahaya matahari mengenai matanya, dengan enggan gadis itu membuka matanya, menyadari bahwa dirinya bangun terlambat hari ini. Perlahan, Seana mengangkat selimut tebal yang menutupi tubuhnya, ia merasa ada sesuatu yang aneh, dan ternyata benar, Seana terkejut ketika mendapati bahwa dirinya tidur dalam keadaan tel4njang, tanpa sehelai busana yang menutupi tubuhnya.
Wajahnya langsung pucat, apalagi ketika ia baru tersadar bahwa saat ini ia tidur dihotel yang telah disewa untuk urusan bisnis bosnya dengan salah satu klien pentingnya.
Samar-samar, Seana teringat kejadian semalam, ia telah menarik dasi seorang pria dengan paksa dan mengajak pria itu agar masuk ke kamar ini bersamanya. Hanya memikirkan kejadian semalam saja membuatnya bergidik. Seana dengan kaku menoleh ke samping dan melihat bahwa pria yang diajaknya masih tertidur lelap.
"Apa? Pak Zio?!." Gadis itu menarik napas tajam, sebuah sentakan ketakutan yang murni. Dengan tangan gemetar, Seana menarik selimut tebal itu kembali untuk menutupi tubuh polosnya.
Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi, nyaris transparan di bawah lampu hotel yang redup. Ia tersadar sepenuhnya sekarang, ia baru saja terbangun di ranjang bosnya, di hotel yang disewa khusus untuk urusan bisnis triliunan dengan klien internasional.
Samar-samar, memori semalam mulai merayap kembali seperti kabut beracun.
Semuanya dimulai dengan tawa Arsen. "Sebagai tanda kesepakatan, mari kita bersulang," ujar pria itu sembari mengangkat gelas kristal berisi anggur merah yang pekat. Seana, yang duduk di samping Sanzio sebagai asisten pendukung, merasa tidak enak hati. Toleransi alkoholnya sangat rendah, tapi menolak di depan klien besar adalah bunuh diri karier.
"Nona Seana, jangan kaku begitu. Ini anggur mahal," goda seorang klien wanita sembari menuangkan cairan merah itu ke gelas Seana.
Seana melirik Sanzio. Pria itu hanya menatapnya sekilas dengan tatapan dingin yang biasa, seolah memberi izin—atau mungkin perintah—untuk patuh.
Seana mengangguk, memejamkan mata, dan meneguk habis isinya.
Namun, ada yang aneh. Rasa anggur itu tidak hanya pahit dan manis, tapi meninggalkan sensasi panas yang membakar tenggorokan, menjalar ke dada dengan kecepatan yang tidak wajar.
Hanya butuh sepuluh menit bagi dunia untuk mulai berputar. Sanzio pun tampak tidak stabil; pria yang biasanya memiliki kontrol diri baja itu tiba-tiba ambruk di atas meja. Keributan pecah.
"Cepat bawa dia ke kamarnya!" teriak seseorang.
Karena Mike—tangan kanan sekaligus pengawal pribadi Sanzio—tidak ikut dalam perjalanan ini, beban itu jatuh sepenuhnya pada Seana.
Di dalam kamar yang tertutup rapat, suhu tubuh mereka berdua melonjak drastis. Itu bukan sekadar mabuk; itu adalah efek sabotase kimiawi yang kejam. Kesucian yang dijaga Seana bertahun-tahun lenyap dalam kabut gairah yang tidak bisa ia kendalikan.
"Ternyata semalam bukan mimpi..." batin Seana pilu. Pria yang ia tarik adalah Kaivandra Sanzio Artamevia. Bosnya. Iblis berwajah malaikat yang memimpin Kaivandra International Group.
Dengan sisa tenaga yang ada, Seana turun dari tempat tidur. Kakinya gemetar hebat, sisa-sisa pergulatan semalam masih terasa di sekujur sendinya. Ia memungut pakaiannya yang berserakan, memakainya dengan terburu-buru, dan melarikan diri ke kamarnya sendiri sebelum Sanzio terbangun.
"Celaka! Apa yang udah aku lakuin?!." Batinnya lagi.
Semalam, Seana sangat terangsang karena pengaruh alkohol yang tidak pernah ia rasaakn. Ia bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan kesuciannya yang hilang. .
Seana bergegas keluar ruangan dan kembali ke kamarnya yang sebenarnya, sebelum Zio terbangun. Meskipun kakinya gemetaran, Seana mencoba bersikap seolah-olah tidak ada hal yang terjadi.
Dikamarnya, Seana tidak sendirian, dia mendapatkan kamar dengan dua kasur yang terpisah. Jadi Seana mengajak sahabatnya-- Velia Griselda yang merupakan anak dari salah satu klien Zio yang di undang di hotel ini.
Saat masuk ke kamar, Velia ternyata sudah bangun, sekaligus sudah mandi, dan sedang merias wajahnya. Gadis itu terkejut ketika Seana baru saja kembali.
"Darimana aja lo, semalemen ngga ada? Kenapa lo ngga balik lagi ke kamar setelah nganter Pak Zio yang mabuk ke kamarnya? Gue nyariin lo, tapi lo ngga ada dimana-mana." Katanya.
Jantung Seana seakan hampir berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan itu.
"Hm... Sebenarnya aku udah balik kok ke kamar. K-kamu udah tidur dan keliatannya capek banget, jadi aku pikir sebaiknya aku ngga bangunin kamu. Dan, pagi tadi aku ada urusan yang harus aku selesain buat Pak Zio. Jadi, aku barusan ketemuan sama dia." Jawab Seana dengan gugup.
Itu penjelasan yang sangat buruk, tetapi masih bisa diterima.
Sebagai asisten presiden, Seana memang dituntut harus siaga dan cekatan, bahkan ketika sedang dalam perjalanan bisnis. Dia harus selalu bersedia setiap saat.
Velia tidak terlalu memikirkannya, dia hanya mengangguk mengerti dan kembali memasang bulu mata palsunya.
Sementara, Seana menghela napas lega setelah melihat sahabatnya tidak akan menanyainya lagi. Dia kemudian bergegas ke kamar untuk membersihkan diri, sebelum akhirnya merias wajahnya.
Setelah selesai sarapan bersama, waktu sudah hampir menunjukkan pukul 8 pagi. Dan mereka yang diundang langsung bergegas ke aula hotel, dimana disana tempat acara akan diselenggarakan.
Seana mengenakan setelan berwarna hitam dan menunjukkan sikap tenangnya seperti biasanya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di saku jasnya. Seana mengeluarkan ponselnya untuk memeriksanya. Ketika melihat nama "Pak bos galak" tertera di layar, napas terhenti tanpa disadari.
(Pak Bos Galak; Temui saya di ruang meeting kemarin!).
Meskipun pria itu hanya mengirim pesan singkat, Seana dapat merasakan kemarahannya. Dan detak jantungnya langsung meningkat.
Namun, Seana kembali teringat bahwa bosnya sangat mabuk semalam.
"Ah, pak bos juga ngga mungkin inget apa pun tentang kejadian semalem, kan?." Monolog nya.
Seana merasa ragu dan takut. Ia tak kuasa menahan getaran ditubuhnya. Meski begitu, dia tetap melakukan apa yang diminta dan pergi untuk menemui Zio di ruangan rapat kemarin.
Sesampainya di ruangan yang dimaksud, Seana mendapati Zio yang duduk dengan penuh wibawa dengan kakinya yang disilangkan. Pria itu memasang ekspresi dingin diwajahnya. Aura mencekam yang dipancarkannya lebih kuat dari biasanya. Siapa pun yang melihatnya akan menggigil ketakutan.
Seana memberanikan diri dan mendekatinya. Sebelum itu, dia mengetuk pintu. "Selamat pagi, Pak. Bapak manggil saya?." Tanya Seana dengan hormat
Praakkk! Terdengar suara bantingan keras, dan sebuah liontin berbentuk hati dibanting keatas meja.
Begitu melihatnya, Seana langsung membeku. "Semuanya udah berakhir. Aku ngga percaya kenapa aku dengan cerobohnya ngga sadar kalo liontin itu jatuh di kamar Pak Zio?!." Batin Seana.
Dengan hati-hati, Seana mengamati ekspresi bosnya. Bibir tipis Zio terkatup rapat, dan ada kilatan tatapan dingin dimata tajamnya. Zio tampak sangat menakutkan.
Seana mengepalkan tangannya. Tepat ketika ia hendak berterus terang dan meminta maaf, Zio tiba-tiba buka suara.
"Kamu punya waktu 24 jam untuk mencari siapa pemilik liontin ini!." Perintah Zio dengan nada dingin.
Wajah pucat Seana membeku, dan tubuhnya keringat dingin. Ia mengalami berbagai macam emosi dalam waktu yang sangat singkat. Otaknya terasa berdenyut-denyut karena adrenalin yang begitu besar.
Seana menatap pria berwibawa yang duduk di kursi sofa. "Bapak mau saya cari orang yang punya liontin ini?." Tanyanya dengan canggung.
Itu berarti Zio belum tahu bahwa liontin itu milik Seana. Dalam hatinya, Seana menghela napas lega, tetapi segera setelah itu, jantungnya kembali berdegup kencang. Lagipula, dialah pemilik liontin itu. Bagaimana mungkin ia bisa menemukan seseorang untuk menanggung akibatnya, dalam waktu kurang dari 24 jam?
Saat menyadari keraguan asitennya, tatapan mata Zio menjadi gelap. "Kenapa? Apa kamu tidak bisa menjalankan tugas dari saya?." Nada bicaranya rendah dan terdengar seperti mengancam, membuat Seana tersadar dari lamunannya.
Gadis itu segera mengambil liontin dari atas meja. "Bukan begitu, Pak. Saya minta maaf. Saya akan segera mengurusnya." Setelah itu, Seaana berbalik untuk pergi.
Namun, setelah pergi beberapa langkah, sesuatu terlintas di benaknya dan dia menoleh kembali dengan gugup untuk bertanya. "Pak, saya harus ngapain ya setelah yang punya liontin ini ketemu? Apa saya harus bawa dia ke sini?."
Tatapan tajam Zio membuat debaran jantung Seana seakan bisa terdengar langsung. "Suruh Mike yang mengurusnya."
Saat melihat tatapan gelap pria itu, kaki Seana gemetaran. Ia hampir tak sanggup menopang berat tubuhnya.
Seana tahu apa artinya jika Mike yang sudah berurusan dengan seseorang. Jika itu pria, Mike pasti akan menghajarnya hingga babak belur dan membuat pria itu memimpikan neraka setiap hari. Jika itu adalah wanita, Mike akan membuat wanita itu kehilangan pekerjaannya dan tidak bisa melamar kerja dimana pun. Atau, mereka tidak akan pernah memiliki masa depan yang cerah dan dikeluarkan dari kota ini.
"Baik, Pak." Jawab Seana dengan suara bergetar. Gadis itu berbalik dan segera keluar dari ruangan, hatinya dipenuhi kecemasan.
Di luar ruangan.
Seana bersandar di dinding, mencoba menenangkan diri. "Gawat, ini gawat banget! Aku harus gimana ini?!" gumamnya.
Seana memegang liontin itu erat-erat. "Aku ngga mungkin ngaku." Katanya, menarik napasnya dalam-dalam dan mulai berpikir keras. Hari ini juga dia harus menemukan solusi dan cepat.
Jantung Sheilla hampir melompat keluar dari dadanya karena berdebar lebih keras dari sebelumnya.Dia tidak tahu apa yang telah merasukinya. Namun karena dia sudah duduk di pangkuan Sean, dia pikir sebaiknya dia terus melakukan apa yang ada di dalam pikirannya saja.Sembari menggoyangkan pinggangnya dengan sensual, dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur di atas paha Sean. Rona merah muda yang menggemaskan merayapi pipinya saat dia menatap dalam-dalam ke mata Sean.'Ya Tuhan! Aku tak percaya aku melakukan ini.' Batin Sheilla.Tak lama kemudian, Sheilla menyadari tatapan mata Sean mulai berubah sedikit lebih gelap, nafsu berputar di dalamnya tepat saat dia merasakan sesuatu menusuk tepat di inti dirinya.Matanya terbelalak saat merasakan V di bawah pusarnya berdenyut, membuatnya langsung melompat dari pangkuan Sean, merasa panas dan terganggu. "Aku hanya ingin mengambil uang sepuluh ribu dolar hari ini karena kamu tidak puas dengan anggurnya." Sheilla menjelaskan dengan tergesa-ges
Tatapan Mike sangat tajam dan membuat Seana merasa tidak nyaman. Seana tak mampu menenangkan diri saat membayangkan harus bekerja sama dengan Mike. Ia berusaha membuat dirinya terlihat sekecil mungkin dengan sedikit membungkuk."Sudah, kamu bolehkembali ke ruangan kamu," kata Mike."Iya, mas." Seana merasa lega saat mendengarnya. Wanita itu segera kembali ke ruangannya.Mike memperhatikan Seana sekali lagi, sebelum akhirnya masuk ke kantor Sanzio.Sementara itu, Seana berusaha fokus dengan pekerjaannya, tetapi dia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang telah dilihatnya di ruang istirahat Sanzio. Seana benar-benar harus lebih berhati-hati mulai sekarang, atau dia akan mendapat masalah.Mike berada di kantor Sanzio selama sekitar satu jam hanya untuk membicarakan sesuatu. Begitu Mike keluar, telepon kantor Seana berdering. Seana reflek melirik kearah kantor Sanzio, dan mendapati tatapan tajam Sanzio yang tertuju padanya.Sembari menundukkan kepalanya karena takut, Seana mengangkat tele
Suara berat Sanzio terdengar di seberang sana. "Kamu pergi ke gedung star dan tolong ambilkan beberapa dokumen untuk saya. Juga, bawakan dasi ungu yang ada dilemari itu.""Baik, Pak Zio." Jawab Seana dengan hormat sembari menekan tombol lift ke lantai bawah. Dia menutup telepon tepat saat pintu lift terbuka. "Vel, aku boleh pinjam mobil kamu ngga? Aku harus ke gedung Star," katanya pada Velia."Seharusnya Pak Zio kasih lo fasilitas mobil kalau dia memang mau nyuruh-nyuruh lo pergi ke gedung star segala!." Velia menggerutu, tetapi dia tetap mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tasnya dan memberikannya pada Seana.Seana menerima kunci itu. "Aku cuma disuruh ngambil beberapa dokumen buat dia. Nanti aku isi penuh bensin kamu, oke?,""Bukan gitu maksud gue, bos kita kaya raya tapi dia pelit Seana. Lo malah mau sedekah gitu aja?." gumam Velia. Dia memang tidak pernah merasa puas dengan cara penanganan fasilitas karyawan diperusahaan Sanzio.Seana tertawa kecil. "Kamu harus berani ngomong
Seana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku bingung," Dia selalu mengenakan liontin itu, dan mungkin banyak orang yang pernah melihat benda itu di lehernya. Seana takut Sanzio akan melakukan penyelidikan internal."Tapi seharusnya lo berusaha menjauh dari mereka, Seana." Kata Velia memperingatkan.Seana tak kuasa menahan diri untuk tidak mengingat ketika bagaimana Mike bersikap padanya saat meminta liontin itu darinya. Pria itu begitu bersikeras.Velia merasa seperti dirinya akan gila. Dia tahu bahwa Seana tidak mungkin memberikan liontin itu kepada Sanzio. Semua orang tahu betapa hebatnya Mike, setiap kali Sanzio membutuhkan sesuatu untuk di selidiki, maka dia akan memerintah Mike.Sedangkan Mike tidak pernah gagal menjalankan tugas dari Sanzio, jika Seana menolak memberikan liontin itu kepada Mike, maka itu pasti akan membuatnya curiga. Tetapi jika Seana melakukannya...."Kenapa sih hidup gue harus sesial ini?!." Umpat Velia sembari mengacak-acak rambutnya. "Kartu kredit d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.