LOGINDi tengah kegelapan kamar beraroma oud, Amira pasrah ditaklukkan oleh gairah memabukkan yang merenggut sisa kepolosannya. Ia mengira, setelah lima tahun pernikahan yang hambar, sang suami akhirnya menyentuhnya layaknya seorang wanita seutuhnya. Namun, saat sarapan keluarga di pagi hari, mimpi indah itu berubah menjadi mimpi buruk yang menyesakkan. Pria yang semalam merengkuhnya kini duduk di ujung meja. Bukan suaminya. Melainkan Malik Al-Fayed, sang kakak ipar yang merupakan penguasa gelap klan tersebut. Jantung Amira nyaris berhenti saat Malik menatapnya, dengan sengaja memamerkan jejak cakaran dan gigitan kemerahan di lehernya. Seringai mematikan di bibir pria itu menyuarakan satu ancaman tanpa suara. "Kamu tak bisa kembali pada suamimu, karena kamu milikku sekarang."
View MoreTanda kemerahan berbentuk gigitan yang tercetak jelas di atas tulang selangka pria itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Amira dalam satu tarikan napas.
Pria itu sengaja membiarkan dua kancing teratas kemeja sutra hitamnya terbuka. Di sanalah tanda itu berada. Sebuah memar kemerahan, bersanding dengan tiga garis luka goresan kuku yang mulai mengering namun masih terlihat perih. Di bawah meja, lutut Amira bergetar hebat hingga beradu satu sama lain. Rasa mual bercampur horor menghantam ulu hatinya. Semalam, di tengah lorong sayap timur yang gelap gulita dan pengaruh anggur, seorang pria menariknya ke dalam kamar dan pria itu menyentuhnya dengan kebrutalan memuja, memberikannya puncak gairah yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun pernikahan, dan memaksanya mendesahkan permohonan-permohonan tak tahu malu. Ia mengira pria itu adalah Zayn yang akhirnya terbangun dari sikap dinginnya. Namun, ternyata tebakannya salah besar. "Kamu mengaduk tehmu terlalu lama, Amira," tegur sebuah suara yang bergetar dari kursi di sebelahnya. Amira menoleh perlahan. Zayn duduk di sana dengan wajah pucat pasi. Lingkaran hitam tebal menghiasi bawah mata suaminya, dan jemari pria itu terus meremas serbet dengan gelisah. Suaminya sama sekali tidak terlihat seperti pria dominan yang menghabiskan malam penuh gairah semalam. Zayn justru terlihat seperti mangsa yang sedang menunggu lehernya diterkam dengan pasrah. Aroma di udara mengalahkan wangi kopi Arab dan mentega, hidung Amira menangkap campuran oud kualitas tinggi, kulit mahal, dan jejak asap cerutu. Aroma maskulin memabukkan yang merengkuhnya dalam kegelapan semalam, dan wangi itu menguar kuat dari arah Malik Al-Fayed. Sang kakak ipar yang duduk di ujung meja. "Zayn," panggil Malik memecah keheningan. Suaranya rendah, serak, dan bergetar dengan otoritas mutlak. Suara itu sama persis dengan suara pria yang berbisik memerintahkannya untuk membuka kaki lebih lebar semalam. Mengingat hal itu, bulu kuduk Amira meremang. Zayn berjengit ngeri di kursinya. "Y-ya, Kak Malik?" "Kamu belum memperkenalkan istrimu dengan benar kepadaku," ucap Malik santai. Zayn menelan ludah dengan susah payah. "Maafkan aku. Kamu sudah sangat lama tidak kembali dari Dubai, Kak." Ia lalu melihat ke areh Amira. "Amira, ini Kak Malik. Dia baru saja tiba tengah malam tadi." Tengah malam tadi. Waktu yang tepat saat Amira salah memasuki kamar. Malik menurunkan cangkir espresso-nya perlahan. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah pias Amira. Pria itu memindai balutan gaun wol tebal berlengan panjang yang dikenakan Amira pagi ini, seolah ia bisa menembus kain itu dan melihat semua memar kebiruan yang ia tinggalkan di kulit pualam sang adik ipar. "Selamat pagi, Adik Ipar," sapa Malik pelan. Sudut bibirnya perlahan tertarik membentuk seringai tipis yang kejam. "Kamu terlihat sangat bersinar pagi ini. Apakah tidurmu nyenyak semalam?" Kalimat itu mungkin terdengar seperti basa-basi keluarga bagi telinga Zayn. Namun bagi Amira, itu adalah teror psikologis yang nyata. Pria itu sengaja menjebaknya. Malik pasti menyadari sepenuhnya siapa wanita yang merayap ke ranjangnya tapi dia justru sengaja membiarkan dosa itu terjadi. Tangan Amira yang bersembunyi di balik lipatan gaun bergetar tak terkendali. Ia meraih piring kecil cangkir tehnya untuk mencari pelampiasan kepanikan, namun jari-jarinya terlalu lemas. Trak! Piring porselen itu tergelincir dari cengkeramannya. Teh kamomil panas tumpah ruah, memercik mengenai ujung gaun wol Amira dan menodai taplak meja putih bersih. "Astaga, Amira!" Zayn mendesis marah dengan suara rendah. Suaminya menarik lengan Amira dengan kasar, wajahnya memerah menahan malu. "Apa yang kamu lakukan? Kamu memalukanku di depan Kak Malik. Perhatikan tanganmu!" Amira menunduk, bibirnya bergetar hebat menahan tangis kehinaan. "Maafkan aku, tanganku licin." Sebelum Zayn bisa memarahi Amira lebih jauh, suara dentuman keras membungkam seluruh ruangan. Malik meletakkan cangkirnya dengan tekanan yang mematikan. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Zayn dengan sorot mata yang bisa membunuh seorang pria dewasa di tempat. "Singkirkan tangan kotormu dari lengan istrimu, Zayn," desis Malik tanpa ampun. Zayn tersentak mundur seolah tangannya baru saja tersengat bara api. Ia melepaskan Amira seketika, lalu menunduk ketakutan. "A-aku hanya mengkhawatirkan gaunnya, Kak Malik." "Lalu kamu membentaknya di depan seluruh keluarga?" Malik berdiri perlahan. Tinggi badannya yang menjulang menutupi cahaya dari jendela raksasa di belakangnya. "Kamu tidak tahu cara memperlakukan barang berharga." Jantung Amira berdentum menyakitkan saat Malik melangkah memutari meja. Pria itu berhenti tepat di sebelahnya. Dengan gerakan yang terlalu intim untuk dilakukan di depan umum, Malik menarik sehelai sapu tangan sutra hitam dari saku jasnya, menunduk, dan mengusapkan kain itu ke jemari Amira yang terkena percikan teh. Kulit kasar pria itu bersentuhan dengan jari Amira. Sengatan gairah dan ketakutan langsung merambat lurus ke tulang belakangnya. "Apakah kamu terluka?" bisik Malik, suaranya mengalun seperti beludru beracun yang hanya ditujukan untuk didengar oleh Amira. Ibu jari sang mafia dengan sengaja membelai nadi di pergelangan tangan Amira yang berdenyut liar. "T-tidak. Lepaskan," bisik Amira nyaris tak terdengar, berusaha menarik tangannya. Namun genggaman Malik sekeras baja. Malik melepaskan tangan Amira dengan perlahan, lalu menatap adiknya dengan tatapan merendahkan. "Istrimu butuh istirahat, Zayn. Dan kamu, ikut aku ke ruang kerja sekarang. Kita harus membahas kerugian di pelabuhan akibat kebodohanmu." Amira tidak menunggu lebih lama. Kesempatan itu ia gunakan saat perhatian beralih darinya. "Permisi, aku harus membersihkan gaunku," gumamnya cepat. Amira berdiri dan setengah berlari meninggalkan ruang makan tanpa menoleh ke belakang. Sepatu botnya berderap memecah kesunyian lorong sayap barat chateau yang kosong. Pikirannya kacau balau. Ia harus pergi sejauh mungkin dari pria itu. Ia mendorong pintu kayu ganda perpustakaan keluarga yang remang-remang, ia masuk ke dalamnya dengan napas memburu, dan menyandarkan punggungnya ke daun pintu yang tebal. Amira meraup oksigen rakus-rakus, menutup matanya erat-erat untuk mengusir bayangan seringai mematikan Malik dari kepalanya. Ia aman di sini. Ia hanya perlu bersembunyi di ruangan ini sampai badai salju reda dan ia bisa melarikan diri kembali ke Beirut. Namun, belum sempat detak jantungnya kembali normal, sebuah suara logam yang bergesekan menghancurkan harapannya. Klik. Suara gerendel pintu perpustakaan dikunci dari dalam. Amira membuka matanya dengan horor. Ia tidak sendirian di dalam ruangan itu. Dari sudut rak buku kuno yang tak tersentuh cahaya, aroma oud dan asap cerutu itu kembali menguar pekat, dan sepasang mata sekelam badai menatapnya dari balik bayangan.Tangis Amira pecah di atas karpet Persia. Bukan tangis ketakutan atau rasa malu, melainkan tangis kehancuran yang mutlak. Pria yang telah mengikat janji suci untuk melindunginya di hadapan Tuhan, baru saja menjualnya demi setumpuk harta warisan dan nyawa yang pengecut. Zayn membuangnya begitu saja ke dalam cengkeraman iblis tanpa perlawanan sedikit pun.Di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, Amira merasakan udara di sekitarnya menghangat. Aroma oud dan asap cerutu yang memabukkan itu merapat.Malik berjongkok di hadapannya. Tangan besar pria itu, yang biasa digunakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya tanpa ampun, kini merengkuh bahu Amira yang bergetar. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Amira adalah porselen paling rapuh di dunia."Menangislah," bisik Malik dengan suara baritonnya yang berat, mengusap helaian rambut yang menempel di pipi basah Amira. "Menangis untuk terakhir kalinya bagi pria bodoh itu. Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata untuk s
Gedoran di pintu itu terdengar bagai ledakan meriam yang meluluhlantakkan dunia Amira.Tubuh Amira seketika menegang kaku. Matanya terbelalak ngeri menatap pintu kayu ek tebal yang kini bergetar akibat pukulan dari luar. Dorongan gairah yang baru saja menguasai akal sehatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh kepanikan yang membekukan darah."Amira! Buka pintunya! Aku melihat semua penjaga lorong ditarik mundur! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak Zayn. Suara suaminya terdengar serak, perpaduan antara kemarahan yang memuncak dan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.Napas Amira memburu. Ia berusaha mendorong dada bidang Malik untuk melepaskan diri. "Malik, lepaskan aku. Dia tahu! Zayn tahu kamu ada di sini!" bisiknya panik, air mata ketakutan menggenang di pelupuk matanya.Namun, alih-alih panik atau melepaskan pelukannya, Malik justru mendecak pelan. Seringai kemenangan di wajah aristokrat pria itu luntur, digantikan oleh raut kekesalan yang sangat dingin. Pria itu menatap pintu d
Malik berdiri di ambang pintu. Jas abu-abu arangnya telah dilepas entah di mana, menyisakan kemeja putih bersih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku, serta rompi yang memeluk dada bidangnya dengan sempurna. Cahaya perapian yang temaram menari-nari di wajah aristokratnya yang keras, memperlihatkan seringai tipis yang sangat mematikan."Kamu tidak menguncinya," suara serak Malik memecah keheningan, mengalun rendah dan penuh kepuasan absolut.Amira menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Tangannya mencengkeram erat gaun merah marunnya. "Aku, aku lupa."Malik terkekeh pelan. Tawa yang bergetar di dada bidangnya itu menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai kebohongan murahan Amira. Pria itu mulai melangkah maju. Setiap langkahnya yang tanpa suara di atas karpet seolah menyedot sisa oksigen di dalam ruangan. Aroma oud dan cerutu perlahan menenggelamkan wangi lavender di kamar tersebut."Lupa?" Malik mengulang kata itu dengan nada
Amira menatap kalung berlian hitam di pangkuannya seolah benda mati itu adalah ular berbisa yang siap mematuk nadi di lehernya. Tangan suaminya yang melemparkan kotak itu tadi sama sekali tak menyadari bahwa dia baru saja mengalungkan rantai tak kasat mata kepada istrinya."Cepat ganti bajumu," perintah Zayn, sambil sibuk memasukkan map-map tebal ke dalam tas kulitnya tanpa menoleh sedikit pun. "Pakai gaun merah marun yang kubelikan bulan lalu. Cocokkan dengan kalung dari Kak Malik itu. Dia sangat memperhatikan detail, jangan sampai kamu membuatnya merasa tidak dihargai setelah kesalahanmu pagi ini."Amira ingin menjerit. Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kakakmu lakukan? Namun, pita suaranya seolah putus. Ia hanya bisa berdiri dengan kaku, melangkah menuju ruang ganti layaknya boneka kayu yang ditarik benangnya. Di depan cermin meja rias, Amira membalut tubuhnya dengan gaun merah marun berlengan panjang. Sutra dingin itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya.Dengan jemari yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.