LOGINSelama ini Kaelen hanya mengenal Api sebagai elemen yang berwujud nyala merah menyala. Panas yang membakar, dan Kekuatan yang menghancurkan apa saja yang disentuhnya.Namun di sini, di bawah terik matahari yang tak berbelas kasih dan di tengah hamparan pasir yang memantulkan hawa panas murni. Pandangannya tentang elemen itu perlahan berubah total. Para Tetua mengajarkan bahwa nyala api hanyalah wujud kasar. Hanyalah efek samping dari energi yang sesungguhnya. Inti dari segalanya adalah Kalor, atau yang mereka sebut sebagai Elemen Panas, energi getaran molekuler yang mampu mengubah wujud segala benda di alam semesta."Lihatlah pasir ini, Nak!" ucap Tetua Tertua sambil menunjuk hamparan butiran emas di sekitar mereka saat mereka duduk bersila di tengah cekungan Jantung Matahari. "Di sini tidak ada kobaran api yang terlihat, namun suhunya cukup untuk melelehkan besi. Pasir ini panas bukan karena ada yang membakarnya, tapi karena dia menyerap energi murni dari matahari. Energi itulah yang
"Baiklah, anak muda!" raung Gurhan sambil melepaskan jubahnya, memperlihatkan tubuhnya yang berotot dan penuh guratan luka pertempuran. Di sekeliling tubuhnya, kabut tipis berwarna merah muda mulai tampak bergelombang membuat udara di sekitar mereka semakin panas dan berat. "Aku Gurhan, Penjaga Pasir. Jika kau bisa bertahan satu menit saja di bawah seranganku, aku akan membawamu menghadap para Tetua. Tapi jika kau jatuh. Kau akan diusir keluar dan dilarang selamanya menginjakkan kaki di sini. Setuju?""Setuju," jawab Kaelen singkat.Kaelen berdiri diam di tempatnya. Tidak mengambil posisi bertahan. Tidak mengeluarkan senjata. Hanya berdiri tegak dengan kedua tangan di samping tubuh.Kepercayaan diri yang berlebihan ini membuat Gurhan semakin geram. Tanpa peringatan lagi, dia melesat maju dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang besar. Di udara, tinjunya mengepal, dan kabut merah muda di sekelilingnya memadat menjadi gumpalan energi padat yang panas."Hancurlah! Tin
Perjalanan ke arah selatan telah membawa Kaelen menempuh jarak ribuan kilometer. Melintasi dataran hijau, menyeberangi sungai besar, dan melewati perbatasan hutan belantara yang lebat. Semakin jauh dia melangkah, semakin berubah pula pemandangan alam di sekelilingnya. Pepohonan yang rimbun mulai jarang ditemukan. Digantikan oleh semak-semak berduri yang tahan kering, udara semakin panas dan kering.Sementara tanah yang tadinya subur perlahan berubah menjadi hamparan debu dan kerikil berwarna cokelat kemerahan. Hingga akhirnya di sebuah bukit berbatu yang menjadi titik tertinggi terakhir di jalurnya, Kaelen berhenti dan menatap pemandangan yang terbentang luas di hadapannya.Di bawah sana, sejauh mata memandang. Hanya ada satu hamparan tak berujung yaitu Gurun Pasir Abadi, jantung dari Benua Selatan.Bukit-bukit pasir raksasa berwarna emas dan merah bata berjejer seolah ombak laut yang membeku. Menjulang tinggi dan menjatuh curam, menciptakan pemandangan yang indah namun mengerikan. Di
"Dengar baik-baik. Aku tidak akan pergi selamanya. Tujuanku adalah menjelajahi Empat Benua Utama di dunia ini yaitu Benua Gunung Es di utara, Benua Api dan Debu di selatan, Benua Hutan Purba di timur, dan Benua Lautan Tak Bertepi di barat. Di setiap tempat itu, ada sumber elemen murni yang legendaris. Aku akan pergi ke sana. Menyerap esensi mereka. Memahami hakikatnya, dan Mengembalikannya ke dalam kekuasaanku.""Setelah semuanya selesai." Kaelen mengulurkan tangannya, dan Dimas serta Lira segera memegangnya erat. "...aku akan datang ke Ibu Kota Kerajaan. Di sanalah letak Akademi Pusat. Di sanalah pusat pemerintahan, dan di sanalah jaringan utama musuh kita bergerak. Kita berjanji tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Tidak peduli seberapa jauh jaraknya. Kita akan bertemu kembali di sana. Dan saat pertemuan itu terjadi, aku akan menjadi jauh lebih kuat dari sekarang, dan aku akan bisa melindungi kalian berdua dengan sepenuhnya.""Aku akan menjadi pelindung kerajaan seperti y
Matahari pagi bersinar terang, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti seluruh kompleks Akademi Sihir Kerajaan, seolah merayakan momen bersejarah yang akan segera terjadi.Di halaman utama terlihat ribuan siswa, guru, dan tetua akademi berkumpul dalam barisan yang rapi. Suasana penuh kebanggaan namun juga dihiasi rasa haru yang mendalam.Hari ini adalah hari kelulusan. Hari di mana para siswa terbaik yang telah menempuh pendidikan bertahun-tahun akan meninggalkan tempat ini untuk terbang ke dunia luar membawa ilmu dan kekuatan yang telah mereka asah.Namun di antara semua nama yang disebut dan semua penghargaan yang diberikan. Hanya ada satu nama yang bergaung paling keras. Satu sosok yang menjadi pusat perhatian dan kebanggaan seluruh hadirin yaitu Kaelen Voss.Kaelen berdiri di panggung kehormatan. Dia mengenakan jubah kelulusan berwarna putih bersulam benang emas lambang predikat lulusan terbaik sepanjang masa. Di tangannya, dia memegang Ijazah dan medali emas yang berkilauan.
Semuanya kini mulai menyambung menjadi satu benang merah yang jelas."Kemampuan Penyerapan Mutlak. Itu bukan sekadar teknik yang aku temukan sendiri," pikir Kaelen dengan hati berdebar kencang. "Itu adalah kekuatan asliku. Itu adalah potensi tersembunyi yang dimiliki darah dan tulangku. Organisasi Bayangan tahu hal ini. Mereka menginginkanku bukan hanya karena aku berbakat, tapi karena mereka tahu siapa aku sebenarnya, dan apa yang tersimpan di dalam tubuhku."Semakin Kaelen memahami dirinya sendiri. Semakin dia sadar betapa berbahayanya posisinya. Organisasi Bayangan telah ada selama ratusan tahun. Mereka telah meneliti, mengumpulkan data, dan merencanakan segalanya dengan sangat rapi. Keberadaannya bukanlah kebetulan belaka. Dia adalah bagian dari rencana besar yang telah dirancang jauh sebelum dia lahir ke dunia.Sebab itulah kenapa Organisasi Bayangan mau bekerjasama dengan para pengkhianat itu membunuh Sang Penguasa Elemen dan menghancurkan keluarganya karena Organisasi Bayangan







