MasukAku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata lewat semua bukti yang sudah dikumpulkan.Meski begitu aku masih belum bisa menghilangkan ganjalan di hati atas keberadaan Mas Angga juga putriku Dita. Aku sangat berharap jika pria yang masih menjadi suamiku itu bisa memperlakukan putri kami dengan baik."Benny pasti akan mendapat hukuman yang setimpal," ucap Fajar sebelum dia menyalakan mesin mobilnya.Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh keyakinan kepadaku.Bibirku melengkungkan senyuman samar.Sungguh aku sangat menghargai segala usahanya demi bisa menuntaskan semua persoalanku.Berkali-kali aku telah membebani Fajar dengan permasalahanku. Entah sampai kapan aku akan menjadi bebannya. Kuharap tidak akan terlalu lama karena aku ingin Fajar b
Maya POV“POLISI! JANGAN BERGERAK!”Suara bentakan itu mengguncang seluruh isi kamar.Aku langsung jatuh terduduk di lantai sambil menangis terisak. Tubuhku gemetar hebat. Napasku tersengal tak karuan.Sebisa mungkin aku berusaha meraih apapun yang ada di dekatku demi bisa menutup tubuhku, karena pakaianku terkoyak karena kebrutalan Benny tadi.Sementara Benny yang sempat memegang rambutku spontan melepaskan cengkeramannya.Dia kemudian bergegas bangkit dari ranjang.“Apa-apaan ini?!” bentaknya panik. Dia masih saja mempertahankan kepindahannya.Dua polisi segera menerjang tubuh Benny dan membekuk kedua tangannya ke belakang.“Lepas! Kalian salah orang!” Benny meronta brutal.“Diam!” bentak salah satu polisi sambil menekan tubuhnya ke lantai.Aku memeluk diriku sendiri. Kepalaku terasa berputar. Air mata terus jatuh tanpa bisa kuhentikan.Dan di tengah kekacauan itu, Aku melihat seseorang berdiri di ambang pintu.Dadaku langsung terasa sesak.“F-Fajar…”Pria itu menatapku dengan waja
Maya POV"Sebentar lagi Benny akan datang, aku sudah menelponnya."Aku menggeleng panik.Bayangan menyeramkan malam itu kian memberiku siksaan."Mas, aku benar-benar tidak akan memaafkan kamu. Sejak awal memang tak seharusnya aku menyetujui perjodohan kita dulu, harusnya saat itu aku kabur, agar aku tak perlu menikah dengan pria kejam seperti kamu."Mas Angga langsung mencengkeram daguku hingga membuat wajahku mendongak ke atas."Apa kamu berniat kabur bersama Fajar yang miskin itu?"Aku menentang sorot matanya dengan segala keberanian."Nyatanya kamu yang miskin Mas, kamu miskin moral dan miskin rasa peduli, bahkan saat bersamamu kamulah yang sudah membuatku jatuh miskin."Ekspresi Mas Angga segera berubah garang. Dia seperti sudah kehilangan kendali.Melihat kedua matanya yang seakan menyala oleh amarah, aku berpikir dia akan menamparku lagi.Tapi sebelum dia sempat mendekat, dari arah depan telinga kami segera mendengar suara mobil yang berhenti. Detik selanjutnya disusul suara ser
Maya POVBrak!Tubuhku terhempas ke lantai begitu Mas Angga menyeretku masuk ke rumah tua itu. Napasku memburu. Pergelangan tanganku terasa nyeri karena sejak dari rumah sakit tadi dia mencengkeramku tanpa belas kasihan.“Aku bilang jangan teriak!” bentaknya sambil membanting pintu.Aku memegangi sisi meja untuk berdiri. Rumah ini gelap, lembab, dan terasa asing. Cat dindingnya kusam. Bau rokok dan alkohol bercampur jadi satu."Papa, jangan sakiti Mama!" teriak Dita ketakutan.Jelas Dita takut karena selama ini dia tak pernah melihat kemarahan papanya segarang ini.Segera aku memeluk anakku untuk menenangkannya.Tapi semua itu justru membuat suamiku kian kalap. Pria yang selama hampir satu minggu ini aku hindari sepertinya sudah kehilangan kesabarannya. Selama ini aku yang nyaris tak pernah membantahnya nyatanya sempat melarikan diri darinya.Aku masih berusaha tenang dan berharap Mas Angga juga dapat menenangkan dirinya.Tapi beberapa saat kemudian mendadak ponselku berdering dari d
Angga POVSetelah pertemuan kami kemarin malam di restoran, keesokan harinya mama memintaku untuk mendatanginya di sebuah hotel mewah.Aku datang dengan hati bergelimang bahagia.“Aku nggak nyangka kamu masih hidup susah kayak gini, Angga.”Mama menatapku dengan mata berkaca-kaca. Perempuan itu duduk di hadapanku di sebuah lounge hotel mewah. Aroma parfum mahalnya menusuk samar di hidungku.Aku tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuh ke sofa."Tapi aku mampu bertahan Ma, walau aku sempat menganggap jika aku tak akan bisa bertemu dengan mama lagi, karena aku sempat berpikir jika mama malah sudah bunuh diri."Mama segera terkekeh keras saat mendengar ucapanku."Aku nggak sebodoh itu, Ngga."Perempuan yang sudah melahirkan aku itu kemudian melerai tawanya sebelum ekspresi wajahnya berubah lebih serius."Mungkin awalnya aku sangat terpukul karena papamu meninggal dunia dan meninggalkan banyak hutang sampai-sampai semua aset kita disita dan aku harus memohon pada mertuamu yang sombong it
Angga POV"Tapi kamu mau kan bantu aku di restoran?"Vena memasang wajah melas.Tapi sungguh aku muak melihat sandiwaranya. Seenaknya saja dia memintaku untuk membantunya di restoran.Padahal restoran itu sesungguhnya milikku sendiri. Aku yang membuat konsepnya, aku yang merancang semua menu, bahkan aku yang memilih lokasinya. Vena hanya koki di restoranku, tapi dia memiliki kemampuan merayu yang luar biasa hingga aku dibuat terperdaya olehnya.Sekarang dia mengemis bantuanku setelah apa yang sudah dia lakukan, merampas apa yang seharusnya menjadi milikku.Jika saja aku tidak sedang terjepit dan menjadi DPO polisi, aku tak akan sudi berbaik-baik dengan dia."Kamu tahu sendiri kan, kondisi sekarang kayak gimana? Aku nggak bisa bebas, sewaktu-waktu polisi bisa menemukan aku di sini."Aku mengedikkan kedua bahu, memberikan sebuah alasan logis untuknya."Terus gimana caranya aku bantu kamu di restoran?"Vena mengernyit gusar.Ekspresinya terlihat tak tenang.Tapi detik berikutnya raut mu







