LOGINAku tak pernah menyangka suamiku sendiri akan menjualku demi dendam yang bahkan bukan milikku. Diseret ke dalam kehidupan seorang pria kaya yang membenciku karena masa lalu keluargaku, aku dipaksa membayar harga atas kesalahan orang lain. Saat harga diriku dihancurkan sedikit demi sedikit, satu-satunya alasan aku bertahan hanyalah anakku. Hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan cinta pertamaku membuka luka lama dan kemungkinan baru. Tapi di antara dendam, pengkhianatan, dan pilihan yang tak pernah mudah… apakah aku masih punya kesempatan untuk menyelamatkan diriku sendiri?
View MoreAngga POV"Tapi kamu mau kan bantu aku di restoran?"Vena memasang wajah melas.Tapi sungguh aku muak melihat sandiwaranya. Seenaknya saja dia memintaku untuk membantunya di restoran.Padahal restoran itu sesungguhnya milikku sendiri. Aku yang membuat konsepnya, aku yang merancang semua menu, bahkan aku yang memilih lokasinya. Vena hanya koki di restoranku, tapi dia memiliki kemampuan merayu yang luar biasa hingga aku dibuat terperdaya olehnya.Sekarang dia mengemis bantuanku setelah apa yang sudah dia lakukan, merampas apa yang seharusnya menjadi milikku.Jika saja aku tidak sedang terjepit dan menjadi DPO polisi, aku tak akan sudi berbaik-baik dengan dia."Kamu tahu sendiri kan, kondisi sekarang kayak gimana? Aku nggak bisa bebas, sewaktu-waktu polisi bisa menemukan aku di sini."Aku mengedikkan kedua bahu, memberikan sebuah alasan logis untuknya."Terus gimana caranya aku bantu kamu di restoran?"Vena mengernyit gusar.Ekspresinya terlihat tak tenang.Tapi detik berikutnya raut mu
Angga POVAir sungai yang bau dan keruh masih menempel di tubuhku ketika aku akhirnya berhasil naik ke tepi jalan kecil di belakang pasar. Napasku ngos-ngosan. Kaosku basah kuyup. Lututku lecet karena sempat terseret arus.Tapi aku tak peduli.Yang penting aku lolos.Aku segera meminjam ponsel seorang tukang parkir dengan alasan ingin menghubungi keluarga. Tanganku gemetar saat mengetik nomor yang sudah sangat kuhafal di luar kepala.Vena.Beberapa detik kemudian panggilan tersambung.["Halo?"]Suara perempuan itu terdengar pelan dan hati-hati.["Ven, ini aku."]Hening seketika.["Mas Angga?!"]Aku langsung menoleh ke kanan kiri memastikan tak ada orang yang memperhatikanku.["Kamu bisa jemput aku?"]Nada napasku terdengar berat.Vena langsung panik.["Mas sekarang di mana? Kenapa suaramu kayak gitu?"]["Aku ada masalah. Polisi nyari aku."]Aku sengaja membuat suaraku terdengar lemah dan tertekan.Dan seperti biasa...Vena langsung luluh.["Ya Allah... polisi? Memangnya apa yang terja
Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tanganku gemetar saat kembali menghubungi Benny.["Apa Maya bersamamu?"] tanyaku mencecarnya.["Bukannya dia di hotel? Tidak, aku tidak mengajak Maya."][“Tadi bukannya masih sama kamu?”] tanyaku gusar.Di seberang sana Benny malah terdengar santai.[“Iya, tapi sesuai perjanjian sebelum jam 9 kencan harus sudah selesai, jadi aku pergi tapi dia masih di kamar. Emangnya dia ke mana?"]Jantungku makin tak karuan.["Kalau aku tahu ngapain aku tanya kamu,"] sergahku mulai kebingungan.Jelas aku bingung. Karena kalau sampai Maya pergi aku bisa kehilangan ladang penghasilan. Belum lagi sudah ada beberapa pria yang sudah menghubungiku dan menyatakan minatnya untuk menghabiskan malam dengan Maya.Mereka
Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak maling?”Andien masih saja cengengesan.Sementara aku langsung mengembuskan napas lega saat mendapati sahabatku sudah berada di dekatku yang membuatku tak terlalu mengkhawatirkan kedatangan Mas Angga.“Ndien, jangan ngagetin begitu.”"Sejak kapan kamu disitu?" tanyaku setelah aku bisa menetralkan detak jantungku."Barusan," jawab Andien seraya mulai mengikuti langkahku."Aku harap Mas Angga nggak ada di dalam," gumamku berharap."Kalau gitu aku akan memeriksa dulu, kamu tunggu di sini dulu," pinta Andien sigap.Aku mengangguk pelan dan menghentikan langkahku sejenak, menunggu aba-aba dari Andien sebelum aku bisa memasuki ruang perawatan putriku.Tak lama Andien muncul dari ambang pintu memberi i


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.