Mag-log inFajar POV"Calon suami Maya?"Aku terlalu kaget mendengar kalimat terakhir ibu."Tidak, tidak itu tidak mungkin."Aku menyanggah dengan gelisah."Tapi pria itu mengatakannya dengan sangat jelas.""Kamu bisa menanyakannya pada Pak Galih."Aku menggeleng gamang."Maya juga tidak mengingkari, dia tidak mengatakan apapun pada ibu. Dia terlihat sangat mudah mengabulkan permintaan ibu agar dia menjauhi kamu.""Kalau begitu aku akan menanyakannya pada Maya langsung."Aku sedikit mengunggah ketegasanku."Tapi Jar ...."Nada suara ibu terdengar menahanku.Aku segera membalas tatapan ibu. Lurus."Malam ini kamu jangan ke mana-mana."Aku mengernyit gundah."Keluarga Pak Husein akan datang bersama Anisa juga.""Untuk apa?""Mereka akan membicarakan tentang rencana lamaran kamu ke sana," ucap Ibu terdengar tanpa keraguan sedikitpun, seakan semua itu sudah beliau bicarakan kepadaku.Aku membeliak kecewa disertai dengan hembusan nafas panjang."Karena itu ibu tadi meminta bantuan pada Bulek Wati unt
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap ke rumah sakit.Setengah hati aku melangkah menuju meja makan. Pembicaraan dengan ibu semalam masih menyisakan gundah yang belum bisa aku netralkan.Sementara bayangan kehilangan untuk kedua kalinya dari sosok yang telah bertahun-tahun bertahta di hati menghantui dengan siksaan yang terasa kian perih.Belum lagi dengan rasa penasaranku yang tak tuntas. Dari mana sebetulnya ibu mengetahui tentang kisah kelam Maya, yang sebelumnya selalu aku rahasiakan.Aku mulai berandai-andai, jika saja aku sendiri yang menyampaikan fakta buruk Maya barangkali saja aku bisa membangkitkan perasaan maklum ibu.Tapi kini beliau justru mengetahui segalanya dari orang lain yang segera memantik sebuah sikap penghakiman yang sangat menyudutkan."Kamu sarapan dulu," ucap ibu yang kini sudah sibuk menyajikan tumis kangkung di atas meja.Aku yang sudah duduk di depan meja makan menatap semua masakan yang tersaji tanpa selera.Ibu bisa dengan segera menangkap sorot gelisahku."
Fajar POV"Akhirnya kamu pulang, Jar."Suara ibu mengagetkan aku yang baru saja memasuki rumah.Suasana rumah yang sudah gelap jelas tak menyangka jika ibu sedang duduk di sofa ruang tamu, sedang menungguku.Aku melangkah gontai menuju saklar lampu, setelah menyalakannya aku mulai duduk di sisi ibu yang kini terlihat jelas tampak memandangku dengan ekspresi datar."Ibu, sudah menunggu dari tadi.""Kebetulan Ibu belum tidur, Fajar juga pengen ngomong sama Ibu."Bibir ini menjadi begitu mudah mengulas senyum. Gelenyar bahagia masih berbekas di hati setelah pertemuanku dengan Maya tadi. Sebuah pertemuan dimana kami bisa saling menguntai mimpi indah bersama.Keceriaanku berbanding terbalik dengan ekspresi yang kulihat saat ini dari wajah ibu.Tatapan beliau bahkan cenderung dingin.Senyumku pada akhirnya memudar.Tanpa sadar raut mukaku mulai memampang keseriusan."Apa Ibu ada hal penting yang ingin disampaikan?"Aku menjadi lebih berhati-hati. Sejak dulu aku selalu berusaha untuk menjaga
Maya POV"Apa kamu mencintai Hans?"Pertanyaan Carie membuat seluruh tubuhku menegang.Aku terpaku. Bibirku sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun berhasil keluar. Rasanya semua jawaban yang kusimpan di dalam hati mendadak menghilang.Aku bahkan belum sempat menarik napas."Maya."Suara Hans terdengar tenang memotong keheningan."Kami harus pergi."Aku menoleh cepat ke arahnya."Aku masih ada pekerjaan setelah ini."Carie tampak kecewa."Oh... padahal aku masih ingin mengobrol lebih lama."Hans hanya tersenyum tipis."Lain kali."Carie menghela napas pelan sebelum akhirnya berdiri dan memelukku dengan hangat."Senang bertemu denganmu, Maya."Aku membalas pelukannya sekadarnya."Terima kasih."Saat kami berbalik meninggalkan restoran, entah kenapa aku menoleh sekali lagi.Carie masih berdiri di tempatnya.Tatapannya mengikuti langkah kami dengan penuh tanda tanya.Ada sesuatu dalam sorot matanya...Seolah-olah ia sedang mencoba memastikan sesuatu yang bahkan belum berhasil ia pahami
Maya POV"Apa Hans tak menceritakan padamu tentang Farah dan Peter?" Pertanyaan Carie mencetuskan tentang keheranannya.Sontak aku menyergap Hans dengan sorot mata tegas.Jelas aku menuntut sebuah penjelasan. Walau kemudian setelah itu aku membisu. Aku merasa tak seharusnya mengetahui apapun tentang pria bermata coklat itu karena sebelumnya aku sudah menegaskan untuk tak menerima lamarannya."Farah dan Peter adalah anak-anakku dengan Hans."Aku spontan mengangkat kepala."Anak-anak kalian?"Senyum Carie berubah begitu hangat saat memandangku."Sekarang mereka sudah hampir remaja.""Mereka tinggal di London bersama Papa dan Mamaku."Aku kembali melirik Hans.Selama kami bersama ....Ia tidak pernah sekalipun bercerita bahwa dirinya memiliki anak.Carie terus berbicara penuh semangat."Farah suka melukis.""Peter suka sepak bola.""Kalau nanti kamu ada kesempatan ke London...""...aku ingin sekali mengenalkan kalian."Aku semakin kehilangan kata-kata.Carie seolah tidak menyadari kebin
Maya POVAku masih mengernyit bingung."Siapa?" tanyaku sekali lagi.Hans tidak langsung menjawab. Pria itu justru menoleh ke arah pintu restoran hotel seolah sedang menunggu seseorang.Beberapa detik kemudian, seorang wanita tinggi melangkah masuk.Aku spontan terdiam.Rambut pirangnya bergelombang hingga melewati bahu. Kulitnya putih pucat bak porselen. Mata birunya begitu jernih, seolah menyimpan langit musim panas di dalamnya. Senyum lebarnya langsung menyita perhatian siapa pun yang melihat.Cantik.Sangat cantik.Bahkan mungkin inilah wanita tercantik yang pernah kulihat secara langsung.Wanita itu melambaikan tangan dengan antusias."Sudah lama menunggu?"Wanita itu langsung menatap Hans kala sudah duduk di hadapan meja kami.Hans mengernyit tipis lalu melirikku."Dia yang ingin bertemu dengan kamu, dan menjadi alasan bagiku untuk memilih sarapan di hotel ini."Aku mengernyit tak mengerti."Kamu masih belum tahu siapa aku?" tanya wanita cantik bergaun santai selutut itu, dengan
“Apa yang harus aku lakukan?” ulangku pelan, masih mencoba menebak arah pikirannya.Bahkan aku tak bisa menepis tebakan kotorku bila mengingat keintiman yang selalu dia tuntut dariku, sebelumnya.Hans tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu menarikku berjalan lebih cepat menuju mob
"Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania
Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny
["Siapa ini?"] tanyaku lugas saat kudengar suara wanita asing ketika aku menghubungi ponsel suamiku.Tapi sebelum aku mendengar penjelasan apapun dari perempuan itu segera kudengar suara Mas Angga dari seberang sana.["Kamu kenapa nelpon aku? Apa Om Hans nggak sama kamu?"]Saat mendengar nada bicar







