Se connectersuasana kamar yang kecil dan mungil itu terasa sunyi. terdengar suara derit pelan dari kipas angin tua di sudut langit-langit. sedangkan di luar sana, suara jangkrik bersahut-sahutan. seolah-olah tahu kalau malam ini adalah malam pertama bagi dia orang yang baru saja resmi menjadi suami istri. Aurell duduk di pinggir ranjang, menunduk. sementara Aksa sudah berbaring menyandarkan diri ke dinding, sesekali ia melirik sang istri dengan senyuman yang di tahan tahan. "tempat tidur ini sempit yah. mas" ucap Aurell pelan. tanpa menoleh ke arah Aksa "pasti mas Aksa nggak merasa nyaman tidur di sini"Aksa menoleh pelan. nada suara nya ia buat senyaman mungkin. "justru itu bagus, kalau sempit begini kan nggak ada jarak di antara kita lagi, dan kita malah bisa berpelukan loh. "Aurell spontan merenggut, wajahnya memerah karna malu. "tadi mas Aksa katakan kita ini baru pacaran. mana bisa ada orang pacaran langsung tidur bersama.? "Aksa tertawa pelan mendengar ucapan sang istri yang terlihat
Aurell menelan ludah dengan kasar. 'bagaimana bisa mas Aksa begitu cepat berubah karakter nya dalam waktu sekejap? 'gumam Aurell di dalam hati. melihat sang istri yang terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah dingin. Aksa mengulurkan tangannya, dan mengusap kepala Aurell dengan kasih sayang. mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. "total semuanya. 4.980.000rupia kak. "jawab sang kaisar dengan ramah. " saya bayar pakai kartu ini. "Lagi-lagi Aurell di buat tertegun, namun sedikit kemudian ia langsung panik. " Astaga mas! kita kurangin aja barangnya... ini mungkin tabungan mas kan? pasti sudah di kumpulin selama bertahun-tahun kan. aku tidak ingin mas menghabiskan tabungan mas hanya untukku dan keluarga ku. " Aksa hanya tersenyum dan menyodorkan kartu debit miliknya ke kasir. "tenang saja. tabungan ku masih aman kok. ini belum seberapa di banding kan apa yang pernah aku kasih ke orang yang salah selama ini. " Aurell tak bisa membalas ucapan Aksa. ia hanya t
"astaga.kok hari ini aku bisa jadi pelupa ya, sudah seperti nenek-nenek aja yang cepat pikun, masa iya kita keluar malam nggak bawa jaket" "nggak apa-apa kok. malahan lebih enakan begini, kita bisa peluk-peluk tanpa takut akan dosa " "iiih... mas Aksa ini " . . . Aurell tidak menyangka, ternyata Aksa membelokkan motornya ke sebuah toko swalayan yang cukup besar di kabupaten yang masih buka malam itu, Aurell sempat merasa bingung. "mas, ini kita mau ke mana" tanyanya curiga "kita jalan-jalan aja kan? apa kamu mau bertemu dengan seseorang? eeh atau.... kamu kerja di sini? maaf, aku jadi mengganggu pekerjaan mu" Aksa hanya tersenyum santai, lalu dengan tenang menuntun Aurell masuk kedalam swalayan itu. "masa lagi pengantin baru mau kerja sih? temani mas yah untuk belanja. kamu kan tahu, aku nggak bawa baju ganti! tadi aku lihat, sendalmu itu juga udah hampir putus" "mas, nggak apa-apa kalau mas mau beli untuk keperluan pribadi mas, tapi untuk aku nggak usah yah
Azalea pun menyipitkan matanya, tak Terima dengan ucapan Aurell. "tentu saja mas Zaki akan memilih ku!, kamu itu hanya bekas, bekas dari mainan banyak lelaki. mas Zaki pun tau semua rahasia tentang mu. kamu itu barang bergilir kan Aurell" Aurell yang mendengar ucapan itu pun akhirnya terperangah. matanya pun membesar tanda tak percaya. "astaghfirullah... mbak lea, bagaimana bisa kamu menuduh ku seperti itu... apakah kamu memiliki bukti atas tuduhan mu itu" Zaki akhirnya buka suara, nadanya terdengar dingin dan sinis, "udalah Aurell, aku itu udah tau semuanya. kamu itu hanya pura-pura suci kan. dulu aja kamu selalu nggak mau waktu ku ajak begitu kan, pasti karena kamu takut rahasiamu ketahuan, kan?. kamu pasti takut kalau aku tahu bahwa kamu itu udah nggak perawan lagi. udalah Aurell, berhenti sok jadi wanita polos. lea... makasih yah kalau tidak ada kamu mungkin aku akan terus tertipu, makasih udah menyadarkan aku" Aurell yang mendengar penuturan zaki hanya menggelengkan
Aurell menunduk, lalu berkata dengan lirih. "maaf yah.. tadi aku nangis karena... aku tersentuh saat mendengar bacaan sholat dari mas Aksa.. begitu merdu banget,dan begitu terasa tenang. aku malu karena aku pikir aku yang selama ini berpendidikan malah belum tentu bisa sebaik itu mas" Aksa menatap wajah sang istri tanpa banyak basa-basi ia bertanya "boleh aku minta peluk kamu" Aurell yang mendengar iu pun terkejut. ia pun menahan napas, melihat tatapan yang di berikan oleh Aksa begitu tulus, tak mengandung nafsu, hanya sebuah ketulusan. pelan tapi pasti, Aurell pun mengangguk. Aksa mulai mendekat, dan meraih bahu sang istri lalu memeluknya dengan tenang. dalam diam, mereka berdua mulai merasakan ketenangan yang belum perna di rasakan sebelumnya. seolah dua jiwa yang tersesat selama ini, akhirnya menemukan jalan pulang. beberapa saat kemudian, Tiba-tiba Aurell menyadari ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, ia pun memandang sang suami. "mas Aksa... kamu nggak b
"Aurell, jangan perna ngomong seperti begitu yah, aku tidak ingin kamu berbicara seperti itu" Ia menatap Aurell dengan tatapan tajam, bukan karena ia marah, tapi karena ia kecewa"pernikahan bukan sebuah permainan, aku tahu pernikahan ini mendadak. bahkan nyaris absurd, tapi itu bukan sebuah alasan bahwa aku tidak serius"Aurell yang mendengar itu merasa tercekat. dia tidak menyangka Aksa akan bereaksi sekeras itu. "kita coba jalani semampu kita yah, aku nggak bisa menjamin ini akan mudah. tapi aku akan berusaha menerima semua ini mungkin ini sudah jalan yang di takdirkan untuk kita" Aksa menghembuskan napas pelan. "tentang orang tua ku nanti.... aku mohon kasih aku waktu. aku belum bisa langsung membawa mu ke pada mereka. tapi aku berjanji akan mengurus semuanya, jangan di pikirin sendiri . kamu sudah tidak lagi sendiri sekarang ada aku di sini".air mata Aurell menggenang, tapi air mata kali ini bukan air mata karena sedih, melainkan air mata terharu karena senang. ia pung mengan







