Se connecterAurell menunduk, lalu berkata dengan lirih. "maaf yah.. tadi aku nangis karena... aku tersentuh saat mendengar bacaan sholat dari mas Aksa.. begitu merdu banget,dan begitu terasa tenang. aku malu karena aku pikir aku yang selama ini berpendidikan malah belum tentu bisa sebaik itu mas" Aksa menatap wajah sang istri tanpa banyak basa-basi ia bertanya "boleh aku minta peluk kamu" Aurell yang mendengar iu pun terkejut. ia pun menahan napas, melihat tatapan yang di berikan oleh Aksa begitu tulus, tak mengandung nafsu, hanya sebuah ketulusan. pelan tapi pasti, Aurell pun mengangguk. Aksa mulai mendekat, dan meraih bahu sang istri lalu memeluknya dengan tenang. dalam diam, mereka berdua mulai merasakan ketenangan yang belum perna di rasakan sebelumnya. seolah dua jiwa yang tersesat selama ini, akhirnya menemukan jalan pulang. beberapa saat kemudian, Tiba-tiba Aurell menyadari ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, ia pun memandang sang suami. "mas Aksa... kamu nggak b
"Aurell, jangan perna ngomong seperti begitu yah, aku tidak ingin kamu berbicara seperti itu" Ia menatap Aurell dengan tatapan tajam, bukan karena ia marah, tapi karena ia kecewa"pernikahan bukan sebuah permainan, aku tahu pernikahan ini mendadak. bahkan nyaris absurd, tapi itu bukan sebuah alasan bahwa aku tidak serius"Aurell yang mendengar itu merasa tercekat. dia tidak menyangka Aksa akan bereaksi sekeras itu. "kita coba jalani semampu kita yah, aku nggak bisa menjamin ini akan mudah. tapi aku akan berusaha menerima semua ini mungkin ini sudah jalan yang di takdirkan untuk kita" Aksa menghembuskan napas pelan. "tentang orang tua ku nanti.... aku mohon kasih aku waktu. aku belum bisa langsung membawa mu ke pada mereka. tapi aku berjanji akan mengurus semuanya, jangan di pikirin sendiri . kamu sudah tidak lagi sendiri sekarang ada aku di sini".air mata Aurell menggenang, tapi air mata kali ini bukan air mata karena sedih, melainkan air mata terharu karena senang. ia pung mengan
Rumah kecil itu berada di dalam rumah panjang itu, dengan ruangan yang sempit. tapi penuh dengan banyak kenangan, tumpukan pengorbanan, air mata, dan perjuangan mereka yang tidak perna di lihat oleh siapa pun. Aksa mengekor di belakang mereka, membawa sebuah tas kecil yang entah apa isinya. ia tahu, bahwa malam ini mungkin bukan malam pertama yang akan romantis. namun, setidaknya malam ini mereka bisa memulai hidup dengan harapan. meski dari ruangan paling sempit di dalam rumah besar yang penuh penolakan itu. "Aurell ajak suamimu untuk istirahat terlebih dahulu. bapak dan ibu akan pergi menemui nenek kalian dulu" "baik bu" Aurell terdiam sesaat, memandang punggung orang tuanya yang mulai menghilang di balik pintu cadangan. Aksa meraih tangan sang istri dan menggenggam nya erat-erat. "aku tidak tahu ada masalah apa di dalam keluarga mu ini. tapi satu hal yang ku tahu... kamu wanita yang sangat kuat" Aurell menoleh, dan tersenyum gentir. "aku ini bisa apa mas? se
"tidak,lea. yang kamu lakukan itu hal yang benar" bu Alisa mulai membela anaknya sendiri. tak berpikir apa yang anaknya lakukan itu adalah sebuah aib. "ibu juga peduli kok dengan nak Zaki. sebenarnya tuh sejak dulu kami ini kasihan kalau nak Zaki dapatnya Aurell" "Terima kasih atas perhatian nya bu" Zaki merasa percaya diri karena di bela oleh orang banyak dan tidak ada seorangpun yang menyalahkan perbuatan zinah mereka. pak Galang _ayahnya Zaki, akhirnya angkat bicara. "kami sepakat. biar bisa sah secepatnya, lebih cepat itu lebih baik agar tidak banyak yang bergosip. lebih bagus lagi langsung akad di KUA saja. nggak usah pakai resepsi dulu. yang terpenting itu sah secara agama dan negara" "loh apa ini, kok tidak langsung resepsi saja" celetuk bu Citra merasa curiga "masa iya anak dari bu Alisa hanya dapat akad di KUA saja? sedangkan si Aurell aja bisa sewah gedung". bu Arun tersenyum kaki mendengar Pertayaan itu " untuk saat ini memang kami belum memiliki uang un
Bu kamala menangis, menunduk sembari menggenggam tangan nya sendiri di atas pangkuannya. yah Allah berikanlah kebahagiaan untuk putri ku, siapa pun pria ini, tapi aku selalu memohon, jadikanlah dia imam dan sandaran yang baik untuk putri ku. yah Allah jadi kanlah laki-laki yang saat ini telah menjadi suami putri ku menjadi laki-laki yang bisa menghapus luka yang ada dalam hatinya. doa yang selalu di berikan bu kamala kepada sang putri. "bagaimana para saksi? Sah" *sah"saksi berkata tegas "alhamdulillah.. " beberapa tamu mulai berbisik bisik kecil penuh keharuan. ada yang tak percaya, ada yang ikut terharu. ada pula yang mulai mengakui bahwa Aurell bukan wanita lemah seperti perkiraan dan penglihatan mereka selama ini. pak Gustian menatap Aksa dengan pandangan penuh pertanyaan dan juga harapan . . . suasana masih terlihat ramai di luar ruangan gedung tempat terjadinya pernikahan Aurell dan Aksa. namun dari sisi lain ruangan, keluarga besar bu kamala mulai berkemas
"ternyata Tuhan itu baik. dia kasih lihat aku siapa kalian sebenarnya, sebelum aku hancur begitu dalam. tapi Terima kasih atas tawarannya.. aku akan tetap menikah, jadi tidak ada yang mubazir". semua terdiam seketika. " kamu... emangnya mau nikah sama siapa"tanya bu alisa mencibir "emangnya ada yang mau sama kamu" salah satu saudara nya ibu Aurell bertanya dengan nada mengejek. "paling cuma orang miskin yang berani nekat... atau orang tidak waras" sambung bu asmita. mereka semua tertawa terbahak-bahak meremehkan nasib Aurell. namun,tawa mereka itu langsung terhenti saat Aurell menarik tangan seorang pria yang sejak tadi berdiri di belakangnya. ia menyaksikan drama yang mereka berikan dengan wajah santai. Aurell menarik Aksa agar berdiri di samping nya. "pak penghulu " suaranya lantang "nikah kan aku dengan pria ini. namanya Aksa" ucapnya penuh keyakinan. "tolong restui kami pak, bu" sambung nya menatap sang ayah dan ibu. "a_apa" pak Gustian terkejut mendengar penutur







