แชร์

33. Makan Di Mobil

ผู้เขียน: Lystania
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-01 17:02:05
Selalu macet. Jalan yang sekarang mereka lalui, selalu macet saat hujan turun. Drainase yang jelek membuat jalan menjadi tergenang. Alhasil semua kendaraan bermotor harus berhati-hati saat melintas.

“Kita cari makan dulu sebelum pulang,” ucap Dante memecah keheningan.

“Saya gak lapar, Pak. Langsung pulang aja, kasian Evan kelamaan saya tinggal,” sahut Niken tanpa menoleh ke arah Dante. Matanya masih sembab akibat menangis tadi.

Dante tak bersuara. Meski Niken mengatakan tidak lapar, ia tahu k
Lystania

Sabar ya Niken, dua tahun lagi kok. itu sebentar lagi aja kok. Biar Pak Dok tahu rasa kannnn

| 5
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
sebelum 2 tahun udah ganti status keknya Ken. hehehehe dari ibu susu jadi ibu tiri Evan... hihihi
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    101. Malam Minggu

    “Mbak, saya tinggal ke pasar dulu ya,” pamit Mbok Narti yang sudah siap dengan catatan belanja di tangannya.“Iya, Mbok,” sahut Niken yang baru saja sampai di dapur, hendak mencuci peralatan makan milik Evan. Ia meninggalkan Evan bersama Riana di ruang tengah.Pagi ini cuaca cukup dingin karena hujan sudah turun sejak subuh. Meski begitu Evan tetap bangun pagi dan sarapan di jamnya. Selesai mencuci piring, ia meraih tisu untuk mengeringkan tangannya saat Dante membuatnya terkejut. Suaminya itu memeluk— bergelayut manja padanya.“Kamu kenapa sudah bangun sih? Padahal di luar hujan,” ucap Dante masih memeluk istrinya.“Evan sudah bangun, Mas. Dia jam segini pasti lapar … mau makan. Kasian nanti dia,” sahut Niken berjalan pelan dengan Dante yang menempel di belakangnya.“Kamu gak kasian sama saya? Saya juga lapar … mau makan … Kamu,” bisik Dante membuat Niken geli seraya mendaratkan ciuman di leher istrinya.Niken bergidik berusaha menghindari ciuman dari suaminya. Ia benar-benar geli hi

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    100. Bertemu Agatha Lagi

    Mobil hitam yang Azka kemudikan berjalan melambat saat memasuki halaman klinik. Siang ini Riana mengajak kakak ipar dan keponakannya itu jalan– sekedar makan siang di luar. “Saya jalan dulu ya, Bu Bos,” kata Azka pamit sembari membuka kaca jendela mobil. “Iya, Mas,” sahut Niken berjalan masuk ke dalam klinik. Perawat yang sedang berjaga di meja admin, menyapa dan mempersilahkan Niken untuk menunggu di ruang tamu. Ia memberitahu kalau Riana sedang ada satu pasien yang sedang cek kandungan. [Dante Calling] Benda pipih dalam tasnya berbunyi, membuat Niken reflek merogoh– mencari sumber suara. “Iya, Mas,” sahut Niken menempelkan ponsel di telinga kirinya. “Kamu dimana?” “Di kliniknya, Mbak Riana. Tadi perasaan saya sudah kirim pesan dan Mas juga sudah baca pesan itu,” kata Niken dengan netra yang fokus memperhatikan Evan bermain di playground kecil di sudut ruangan. “Maksud saya kamu sudah dimana? Sudah sampai atau belum?” Pria di seberang telepon itu tak kehabisan kata untuk ber

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    99. Manja

    “Aduh,” gumam Niken dalam hati terbangun duluan– masih berada di hangat pelukan Dante. Netranya reflek tertutup saat suaminya sedikit bergerak bersamaan dengan suara ocehan Evan yang berada dalam box. Begitu hati-hati Dante menarik tangannya kemudian menyelimuti Niken. Pria itu beralih mengecek anaknya di dalam box. “Selamat pagi anak Papa,” sapa Dante menggendong Evan lantas menciuminya. “Mima … Mima….” Evan bergumam menatap Niken yang masih terlelap di atas tempat tidur. Dante kemudian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sembari memanyunkannya sedikit hingga menimbulkan bunyi. “Biarin Mima tidur dulu ya,” ucap Dante pada Evan. Meraih ponselnya di atas meja, Dante lantas menghubungi admin rumah sakit yang mengatur jadwal kunjungan pasien. Ia ingin memastikan keadaan pasien kemarin. “Pasien kemarin stabil, Dok. Sejauh ini tidak ada keluhan,” sahut orang di seberang sana. “Oke. Saya agak siang ke rumah sakit. Tapi kalau adanya yang urgent, saya stand by,” terang Dante berus

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    98. Malam Yang Panjang

    “Beneran kan?” tanya Dante lagi memastikan. Pria itu semakin mendekat, membuat Niken jadi malu. Wajahnya memerah– menunduk tak berani menatap suaminya. “Apa sih, Mas?” Niken merengut sembari membelakangi Dante. Pelan tapi pasti, tangan Dante terulur lalu melingkari pinggang istrinya. Hal biasa yang dilakukan pasangan suami istri, tapi bagi Niken hal itu membuatnya gugup bukan main. “Tidur aja, Mas. Besok pagi kamu kan harus ke rumah sakit,” kata Niken berusaha melepaskan tangan Dante. Namun apa yang dilakukannya itu tak berhasil, suaminya malah semakin erat memeluk. Pria itu membaui rambut hitam Niken yang membuat istrinya merinding. “Boleh kan?” bisiknya di telinga Niken. Bisikan yang disertai dengan hembusan nafas Dante. Refleks Niken mendorong Dante kemudian berbalik menatap suaminya itu. Apa yang diminta oleh Dante memang adalah haknya sebagai suami, tapi– Netra Niken semakin dalam menatap– mencari jawaban dari apa yang selama ini hatinya tanyakan. Tatapan pria itu terlihat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    97. Sedikit Lagi

    Baru saja selesai visit pasien di jam delapan malam, tiba-tiba saja ponselnya berdering– panggilan dari ruang IGD. Kalau sudah begini pasti pasien gawat darurat. Betul saja saat ia menerima panggilan itu, terdengar suara gaduh dari seberang telepon. “Saya kesana sekarang!” sahut Dante menyimpan ponselnya di atas meja lalu bergegas meninggalkan ruangan pribadi menunjukkan IGD di lantai satu. Setibanya di sana ada, Dante langsung bergabung dengan tenaga medis lainnya. Rupanya lima menit tadi baru saja terjadi kecelakaan di depan rumah sakit. Ada beberapa korban luka dan satu korban yang harus ditindaklanjuti. “Dok, detak jantung korban tidak stabil,” ucap salah satu perawat memberitahu. Dante mendekat ke arah korban kemudian mengecek keadaannya. Perawat yang berdiri di samping Dante, secara cepat menjelaskan keadaan korban setelah dilakukan observasi tadi. “Siapkan ruang operasi!” perintah Dante cepat pada perawat. Dokter itu tahu kalau korban pasti mengalami pendarahan otak akibat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    96. Sampai Di Rumah

    Meski belum paham arti ulang tahun, Evan terlihat bahagia saat meniup lilin yang menyala di atas kue coklat yang cukup besar itu. Mereka bertiga saling bersorak dan bertepuk tangan menatap Evan. Niken yang berada di tengah dengan posisi memangku Evan, menggerakan tangannya lalu memotong kue coklat menggunakan pisau plastik. Dengan sigap, Riana mengambil piring kecil membantu Niken meletakkan kue coklat itu di dalamnya. “Evan suap Papa dulu ya,” kata Riana menyerahkan piring serta sendok ke tangan Niken. Menyendok ujung kue yang telah dipotong, Niken memegangi tangan Evan yang membawa sendok tadi ke arah Dante. “Semua yang terbaik buat Evan ya, Sayang,” kata Dante mengelus kepala anaknya itu. Dante melirik ke arah Niken dan minta disuapin lagi. Melihat itu Riana sigap menambahkan sepotong kue lagi ke dalam piring yang masih dipegang Niken. “Nih, Mbak … biar Mas Dante kenyang,” goda Riana mengambil alih Evan. Mereka berdua berpindah duduk– melantai, agar lebih santai menikmati kue.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    2. Sudah Tak Haus Lagi

    Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status