MasukNiken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.
“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas. “Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakaian. “Mas Dante ngapain sih?” Riana menghampiri Dante yang mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit. “Aku mau ke kamar mandi. Itu siapa yang di dalam? Kenapa dia bisa ada di sini?” tanya Dante menginterogasi adiknya. “Dia yang bisa menyusui Evan, Mas. Mas Dante sendiri kan yang tadi minta dicarikan orang yang bisa menyusui Evan?” “Iya tapi kamu dapat dari mana orang kaya gitu, Riana? Buka-buka baju di kamar mandi, gak dikunci lagi,” cecar Dante tak henti. “Mas Dante yang aneh. Datang-datang malah langsung ke kamar mandi,” kata Riana heran. Niken yang masih berada di dalam, bisa mendengar jelas percakapan Dante dan Riana. Ia bingung serta malu kalau harus keluar dan bertemu dengan pria itu. Namun ia tak mungkin terus-terusan berada di dalam. “Keluar aja. Gapapa,” ucap Riana sembari mengetuk pintu kamar mandi. Niken memandangi dirinya di cermin dan memastikan kalau pakaiannya telah terpasang dengan tepat. Dengan wajah yang menunduk ia keluar dari kamar mandi dan langsung berdiri di samping Riana. “Ayo kita duduk dulu,” ajak Riana menggandeng tangan Niken sementara Dante masuk ke kamar mandi. Begitu keluar ruang operasi dan diberitahu kalau Riana datang, pria itu langsung menuju kamar Agatha. Riana meminta maaf atas kejadian barusan dan menjelaskan siapa Dante pada Niken. “Iya gapapa. Kalau begitu saya boleh pergi kan, Bu Bidan?” tanya Niken kembali menundukkan kepala saat mendengar langkah kaki Dante mendekat. “Gak bisa dong. Kamu kan bilang kalau kamu mau menyusui Evan,” ucap Riana. Niken reflek menatap Riana. Bingung harus bagaimana. Saat ia setuju untuk menyusui Evan, Niken lupa memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. “Tapi,” ucap Niken terpotong karena perutnya tiba-tiba berbunyi. Rasanya begitu lapar setelah Evan menyusu tadi. Dante menghela nafas kasar sembari menatap Niken dari atas hingga bawah. Pria itu mengamati setiap jengkal tubuh Niken yang berbalut pakaian milik Agatha. “Riana, kamu pastikan hari ini Evan bisa pulang ke rumah,” ucap Dante mengalihkan pandangannya dari Niken, “dan kamu bisa bawa pulang dia, tapi pastikan dia sudah bersih. Aku masih ada pasien.” Dante mengecup kening Evan lantas pergi meninggalkan tempat itu. Riana menggelengkan kepala melihat tingkah Dante. “Mas Dante memang begitu orangnya,” ucap Riana menyodorkan buah-buahan dan roti yang ada di meja. “Makasih ya, Bu,” ucap Niken tanpa sungkan menikmati buah dan roti itu. Riana kemudian memastikan ulang kalau Niken setuju untuk menyusui Evan dan akan ikut pulang bersamanya ke rumah. “Tapi apa gapapa? Saya takut sama… .” “Gapapa. Mas Dante biar jadi urusan aku.” Riana meyakinkan Niken. ** Setelah mengecek ulang kesehatan Evan, tepat jam lima sore bayi mungil itu akhirnya bisa dibawa pulang oleh Riana. “Saya boleh ambil barang-barang saya dulu gak?” tanya Niken sesaat mereka meninggalkan rumah sakit. “Boleh. Kamu tunjukin aja alamatnya dimana,” sahut Riana mengemudikan mobilnya. Tempat tinggalnya yang berada di gang sempit membuat mobil Riana tidak bisa masuk. Mau tak mau ia harus menepikan mobilnya dan menunggu Niken di depan gang. “Aku tunggu kamu di sini aja, gapapa kan?” tanya Riana sebelum Niken turun. Niken tersenyum sambil mengangguk. “Tapi kamu pasti kembali lagi kan? Gak bakal kabur kan?” tanya Riana lagi sedikit takut kalau nanti wanita itu malah ingkar dari kesepakatan ini. “Saya pasti kembali, Bu Bidan.” Niken meyakinkan Riana. Setibanya di rumah yang cukup sempit itu, Niken bergegas masuk dan mengemasi beberapa barangnya. Memandangi sekeliling rumah kontrakannya itu, tidak ada kenangan indah yang bisa ia ingat. Dalam hatinya berjanji setelah ini kehidupannya harus lebih bahagia lagi. Ia menyelipkan kunci rumahnya di atas pintu. Niken sama sekali tidak berniat untuk kembali ke tempat itu. Kembali duduk di kursi depan, Riana memberikan Evan pada Niken agar ia bisa fokus mengemudi. Berkendara hampir tiga puluh menit, mobil yang Riana kemudikan tiba di rumah berlantai dua dengan halaman yang begitu luas. “Ayo masuk,” ajak Riana membukakan pintu mobil agar Niken bisa keluar Sambil menggendong Evan yang tertidur, Niken berjalan mengikuti Riana masuk. Dua orang asisten rumah tangga menyambut kedatangan mereka. “Mbok, tolong bawa Evan ke kamar Mas Dante ya,” pinta Riana. Pasalnya segala perlengkapan Evan sudah siap di kamar utama. “Kamu ikut aku dulu ke kamar,” kata Riana mengajak Niken naik ke lantai dua. Masuk ke dalam kamar, Riana meminta Niken untuk membersihkan diri sementara ia mencari pakaian yang bisa diberikan pada Niken untuk dikenakan. “Saya gak enak, Bu Bidan. Saya bawa baju sendiri kok,” ucap Niken menolak pakaian yang Riana berikan. “Aku tahu tapi sebaiknya kamu pakai ini dulu,” ucap Riana mengingat pesan Dante kalau Niken harus bersih. Mau tak mau Niken menerima pakaian yang Riana berikan dan langsung menggunakannya. Mereka berdua lantas turun ke bawah dan menuju kamar Dante untuk mengecek keadaan Evan. Bayi mungil itu masih tertidur pulas sejak pulang dari rumah sakit. “Mbak, makan malamnya sudah siap,” kata Mbok Narti dari depan pintu kamar Dante. “Iya, Mbok,” sahut Riana. Di ruang makan, Riana kemudian memperkenalkan Niken yang akan menjadi ibu susu untuk Evan pada Mbok Narti dan Mbok Tini. Dua asisten rumah tangga yang sudah ikut dengan keluarga Dante sejak lama. “Iya, Mbak,” sahut Mbok Narti dan Mbok Tini bersamaan. “Aku minta tolong juga ya, Mbok. Tolong dimasakin makanan yang bergizi buat Niken supaya asi buat Evan berkualitas,” ucap Riana membuat Niken bengong sementara itu Mbok Narti dan Mbok Tini manggut-manggut saja. “Sama satu lagi, Mbok. Kalau saya lagi gak di rumah, tolong ditemenin juga ya, Mbok. Takut nanti Niken merasa asing disini,” lanjut Riana. Sepeninggal dua asisten rumah tangga itu, Niken berpindah tempat duduk mendekati Riana. “Tapi Bu Bidan pulang setiap hari ke rumah kan? Saya takut kalau ada Bapaknya Evan,” ucap Niken menelan saliva. Entah kenapa kejadian waktu di rumah sakit itu terus terbayang di benaknya. Ekspresi wajah Dante saat melihatnya begitu sulit dijelaskan. “Aku pasti pulang setiap hari, tapi tergantung jadwal di klinik. Bisa pulang pagi atau pulang malam,” sahut Riana. Wajah Niken berubah sedikit murung. “Kamu gak usah mikirin Mas Dante, yang harus kamu pikirin itu Evan. Sekarang makan, sebentar lagi Evan pasti bangun,” kata Riana mendekatkan piring lauk dan sayur pada Niken. Benar saja begitu mereka selesai makan, terdengar suara tangisan Evan dari kamar. Buru-buru mereka berdua mengecek Evan ke kamar Dante. “Kamu pasti haus ya, Sayang,” ucap Niken mengambil Evan dari dalam box dan langsung menempelkan bayi itu pada dadanya. Dari sofa yang berada dekat dengan ranjang, Riana mengamati Niken yang naluri keibuannya sudah keluar meski wanita itu masih muda. Umurnya pun sudah pasti berada beberapa tahun di bawahnya. Niken yang fokus menyusui serta Riana yang sibuk dengan ponselnya, reflek menengok ke arah pintu yang terbuka dan mendengar suara Dante. “Keluar dulu, Mas,” spontan Riana berdiri dan mendorong Dante keluar dari kamar. Sementara Niken langsung berbalik membelakangi mereka. Jantungnya berdetak kencang karena dua kali pria itu melihat tubuh bagian atasnya.Duduk di sofa panjang ruang tengah, kejadian yang Agatha lihat kemarin saat di restoran kembali terulang di dalam pikirannya. Adegan demi adegan yang Dante lakukan pada Niken, entah kenapa membuatnya panas– tak terima. Anita yang baru pulang dan melihat ekspresi tegang anaknya, segera mendekat. “Kenapa kamu?” tanya Anita meletakkan tas kulitnya di atas meja. “Gak terima aja,” kata Agatha marah. Kening Anita berkerut mendengar jawaban itu. Belum sempat bertanya lebih jauh, Agatha langsung menceritakan apa yang ia lihat kemarin di restoran. Begitu menggebu-gebu hingga Anita bisa tahu kalau anaknya menyimpan rasa kesal. Namun ia tahu semua ini terjadi juga karena kesalahan Agatha. “Terus kamu mau apa? Kamu sama Dante sudah resmi cerai. Hak asuh juga sama Dante, terus kamu mau apa?” Agatha mendengus kesal. Berkali-kali ia mengatakan tidak terima dengan perlakuan Dante ke perempuan lain. “Tapi dia itu siapa sih, Ma? Kok pengasuh anak kayak gitu pakaiannya. Duduk berdua di depan. Pakai
Masih berada di atas tempat tidur, Niken menoleh ke arah jaket yang tersampir di sofa. Teringat saat kejadian di mobil kemarin. Bisa-bisanya tidak ada tisu, hingga ia harus menggunakan jaket Dante untuk menutup bajunya yang basah. Reflek tangannya meraba bagian yang kemarin sempat Dante pijat– dengan lancang. “Apa maunya sih?” gumam Niken pusing. Semakin hari sikap Dante semakin tak jelas dan membuatnya pusing. Mengira hanya akan merawat dan mengurusi Evan, nyatanya ia juga harus meladeni sikap ayah anak yang sedang ia rawat. Ia sengaja membiarkan Evan tidur lebih lama pagi ini, agar bisa tetap berada di dalam kamar. Mengira Dante sudah pergi, dengan langkah santai Riana keluar dari dalam kamar. Siap pergi ke klinik. “Duduk,” kata Dante membuat Riana kaget. Ia menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Dante telah duduk di sofa atas sejak tadi. Riana tak bisa berkutik. Sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, ia duduk di ujung sofa. Tanpa basa basi Dante langsung bertanya apa hub
Mobil yang Dante kendarai mulai melambat saat masuk di salah satu komplek perumahan. Terlihat beberapa mobil berbaris rapi di pinggir jalan. Malam ini Akbar mengadakan acara syukuran menempati rumah barunya. Karena mereka datang sedikit terlambat, alhasil mereka parkir cukup jauh dari rumah Akbar. Turun dari kendaraan beroda empat itu, Dante menekan tombol– mengunci mobilnya. “Saya gak apa-apa ikut ke acara Pak Dante?” tanya Niken takut-takut. Melihat banyaknya mobil yang berjejer, sudah pasti tamu yang datang bukan orang sembarangan. Dokter dan sejenisnya. Ia merasa rendah diri dan takut membuat Dante malu. Dante tak menjawab malah menarik tangan wanita itu agar berjalan lebih cepat. Sebelum masuk ke dalam rumah, ia meminta Niken untuk tidak memanggilnya dengan sebutan bapak saat berada di sana nanti. Niken hanya diam, tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Dalam hatinya berkata sebisa mungkin ia tidak akan bicara apapun dan akan selalu berada dekat dengan Dante. “Ayo masuk,” s
Menuruni tangga lalu ke ruang makan, Riana segera duduk di samping Dante yang telah lebih dulu berada disana.“Mas … kemarin aku lihat Mbak Agatha,” kata Riana menggebu-gebu. Dante menoleh malas. “Oh. Di mana?”Dengan semangat ia menceritakan dimana dan kapan ia melihat Agatha, hingga tak sadar menyebutkan nama seseorang yang membuat Dante mengerutkan kening.Riana cepat menutup mulutnya.“Bima? Siapa?” ulang Dante membuat Riana semakin erat menutup mulutnya. Ia merutuki dirinya kenapa bisa sampai menyebutkan nama Bima saat bicara dengan Dante. Walau sebenarnya tidak masalah, tapi malas saja kalau nanti Dante malah bertanya yang macam-macam.Dante masih menatapnya, menunggu penjelasan.“Dokter Bima … yang di rumah sakit Mas Dante. Kemarin gak sengaja ketemu,” terang Riana hati-hati.“Iya, Mas. Gak sengaja ketemu,” ujar Riana meyakinkan lantas mengalihkan pembicaraan agar Dante berhenti bertanya soal Bima.Percakapan mereka terhenti saat Niken dan Evan tiba di ruang makan.“Evan gak m
“Sudah semua?” tanya Dante sebelum perawat keluar dari ruangan prakteknya.Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat itu.“Sudah, Dok,” sahut perawat itu.Menguap lebar sambil memijat leher belakangnya, pria itu mematikan laptop lalu merapikan mejanya.Keluar dari dalam ruangan, ia berpapasan dengan Wira. Sebenarnya Dante tidak ingin terlibat percakapan dengannya, tapi Wira menyapa duluan dan mengiringi langkahnya.“Baru selesai?”Dante tersenyum tipis.“Oh iya. Aku beberapa kali ketemu sama Riana, dia jalan sama Evan dan siapa … pengasuh Evan ya, Niken,” kata Wira membuat telinga Dante tiba-tiba meninggi.“Memangnya kenapa?” Dante menghentikan langkahnya menatap Wira– rahangnya mengeras.“Aku mau kenalan sama dia … sama Niken,” kata Wira membuat wajah Dante tegang.“Dia sudah ada yang punya. Dan dia gak ada waktu buat kenalan sama orang lain, karena fokus sama hal yang lebih penting,” ucap Dante kemudian pergi meninggalkan Wira. Entah apa yang dikatakannya barusan, ia se
“Bagus ya kamu …” Anita yang duduk di ruang tamu langsung berdiri berkacak pinggang saat melihat Agatha masuk menarik kopernya. “Apa sih, Ma? Aku baru pulang, capek.” Agatha duduk di sofa tak jauh dari Anita. Penuh emosi ia menatap anaknya yang terlihat santai, seperti tidak melakukan kesalahan apapun. Anita lalu mengambil map putih yang sedari tadi ia pegang, lalu melemparkan ke arah Agatha. Agatha duduk bersandar– membuka dan membaca isi map putih itu. Senyum sinis tersungging di bibirnya. “Akta cerai,” gumam Agatha tak tertarik pada kertas itu. Ia menyimpannya kembali di dalam map dan meletakkannya di atas meja. “Kamu masih bisa sesantai itu? Mama heran sama kamu! Kamu melepaskan Dante sama anak kamu, demi pria yang gak jelas itu. Sekarang mana dia? Kenapa kamu pulang? Sudah habis uang dia!?” seru Anita emosi. Agatha tak merespon ucapan Anita, ia malah sibuk dengan ponselnya. Merasa diacuhkan oleh anaknya itu, Anita mendekat dan merampas ponsel yang sedang Agatha pegang. “Kam
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal
Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban
“Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama







