แชร์

3. Harus Bersih

ผู้เขียน: Lystania
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-16 11:44:07

Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.

“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.

“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakaian.

“Mas Dante ngapain sih?” Riana menghampiri Dante yang mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit.

“Aku mau ke kamar mandi. Itu siapa yang di dalam? Kenapa dia bisa ada di sini?” tanya Dante menginterogasi adiknya.

“Dia yang bisa menyusui Evan, Mas. Mas Dante sendiri kan yang tadi minta dicarikan orang yang bisa menyusui Evan?”

“Iya tapi kamu dapat dari mana orang kaya gitu, Riana? Buka-buka baju di kamar mandi, gak dikunci lagi,” cecar Dante tak henti.

“Mas Dante yang aneh. Datang-datang malah langsung ke kamar mandi,” kata Riana heran.

Niken yang masih berada di dalam, bisa mendengar jelas percakapan Dante dan Riana. Ia bingung serta malu kalau harus keluar dan bertemu dengan pria itu. Namun ia tak mungkin terus-terusan berada di dalam.

“Keluar aja. Gapapa,” ucap Riana sembari mengetuk pintu kamar mandi.

Niken memandangi dirinya di cermin dan memastikan kalau pakaiannya telah terpasang dengan tepat. Dengan wajah yang menunduk ia keluar dari kamar mandi dan langsung berdiri di samping Riana.

“Ayo kita duduk dulu,” ajak Riana menggandeng tangan Niken sementara Dante masuk ke kamar mandi. Begitu keluar ruang operasi dan diberitahu kalau Riana datang, pria itu langsung menuju kamar Agatha.

Riana meminta maaf atas kejadian barusan dan menjelaskan siapa Dante pada Niken.

“Iya gapapa. Kalau begitu saya boleh pergi kan, Bu Bidan?” tanya Niken kembali menundukkan kepala saat mendengar langkah kaki Dante mendekat.

“Gak bisa dong. Kamu kan bilang kalau kamu mau menyusui Evan,” ucap Riana.

Niken reflek menatap Riana. Bingung harus bagaimana. Saat ia setuju untuk menyusui Evan, Niken lupa memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.

“Tapi,” ucap Niken terpotong karena perutnya tiba-tiba berbunyi. Rasanya begitu lapar setelah Evan menyusu tadi.

Dante menghela nafas kasar sembari menatap Niken dari atas hingga bawah. Pria itu mengamati setiap jengkal tubuh Niken yang berbalut pakaian milik Agatha.

“Riana, kamu pastikan hari ini Evan bisa pulang ke rumah,” ucap Dante mengalihkan pandangannya dari Niken, “dan kamu bisa bawa pulang dia, tapi pastikan dia sudah bersih. Aku masih ada pasien.” Dante mengecup kening Evan lantas pergi meninggalkan tempat itu.

Riana menggelengkan kepala melihat tingkah Dante.

“Mas Dante memang begitu orangnya,” ucap Riana menyodorkan buah-buahan dan roti yang ada di meja.

“Makasih ya, Bu,” ucap Niken tanpa sungkan menikmati buah dan roti itu.

Riana kemudian memastikan ulang kalau Niken setuju untuk menyusui Evan dan akan ikut pulang bersamanya ke rumah.

“Tapi apa gapapa? Saya takut sama… .”

“Gapapa. Mas Dante biar jadi urusan aku.” Riana meyakinkan Niken.

**

Setelah mengecek ulang kesehatan Evan, tepat jam lima sore bayi mungil itu akhirnya bisa dibawa pulang oleh Riana.

“Saya boleh ambil barang-barang saya dulu gak?” tanya Niken sesaat mereka meninggalkan rumah sakit.

“Boleh. Kamu tunjukin aja alamatnya dimana,” sahut Riana mengemudikan mobilnya.

Tempat tinggalnya yang berada di gang sempit membuat mobil Riana tidak bisa masuk. Mau tak mau ia harus menepikan mobilnya dan menunggu Niken di depan gang.

“Aku tunggu kamu di sini aja, gapapa kan?” tanya Riana sebelum Niken turun.

Niken tersenyum sambil mengangguk.

“Tapi kamu pasti kembali lagi kan? Gak bakal kabur kan?” tanya Riana lagi sedikit takut kalau nanti wanita itu malah ingkar dari kesepakatan ini.

“Saya pasti kembali, Bu Bidan.” Niken meyakinkan Riana.

Setibanya di rumah yang cukup sempit itu, Niken bergegas masuk dan mengemasi beberapa barangnya. Memandangi sekeliling rumah kontrakannya itu, tidak ada kenangan indah yang bisa ia ingat. Dalam hatinya berjanji setelah ini kehidupannya harus lebih bahagia lagi. Ia menyelipkan kunci rumahnya di atas pintu. Niken sama sekali tidak berniat untuk kembali ke tempat itu.

Kembali duduk di kursi depan, Riana memberikan Evan pada Niken agar ia bisa fokus mengemudi. Berkendara hampir tiga puluh menit, mobil yang Riana kemudikan tiba di rumah berlantai dua dengan halaman yang begitu luas.

“Ayo masuk,” ajak Riana membukakan pintu mobil agar Niken bisa keluar

Sambil menggendong Evan yang tertidur, Niken berjalan mengikuti Riana masuk. Dua orang asisten rumah tangga menyambut kedatangan mereka.

“Mbok, tolong bawa Evan ke kamar Mas Dante ya,” pinta Riana. Pasalnya segala perlengkapan Evan sudah siap di kamar utama.

“Kamu ikut aku dulu ke kamar,” kata Riana mengajak Niken naik ke lantai dua.

Masuk ke dalam kamar, Riana meminta Niken untuk membersihkan diri sementara ia mencari pakaian yang bisa diberikan pada Niken untuk dikenakan.

“Saya gak enak, Bu Bidan. Saya bawa baju sendiri kok,” ucap Niken menolak pakaian yang Riana berikan.

“Aku tahu tapi sebaiknya kamu pakai ini dulu,” ucap Riana mengingat pesan Dante kalau Niken harus bersih.

Mau tak mau Niken menerima pakaian yang Riana berikan dan langsung menggunakannya. Mereka berdua lantas turun ke bawah dan menuju kamar Dante untuk mengecek keadaan Evan. Bayi mungil itu masih tertidur pulas sejak pulang dari rumah sakit.

“Mbak, makan malamnya sudah siap,” kata Mbok Narti dari depan pintu kamar Dante.

“Iya, Mbok,” sahut Riana.

Di ruang makan, Riana kemudian memperkenalkan Niken yang akan menjadi ibu susu untuk Evan pada Mbok Narti dan Mbok Tini. Dua asisten rumah tangga yang sudah ikut dengan keluarga Dante sejak lama.

“Iya, Mbak,” sahut Mbok Narti dan Mbok Tini bersamaan.

“Aku minta tolong juga ya, Mbok. Tolong dimasakin makanan yang bergizi buat Niken supaya asi buat Evan berkualitas,” ucap Riana membuat Niken bengong sementara itu Mbok Narti dan Mbok Tini manggut-manggut saja.

“Sama satu lagi, Mbok. Kalau saya lagi gak di rumah, tolong ditemenin juga ya, Mbok. Takut nanti Niken merasa asing disini,” lanjut Riana.

Sepeninggal dua asisten rumah tangga itu, Niken berpindah tempat duduk mendekati Riana.

“Tapi Bu Bidan pulang setiap hari ke rumah kan? Saya takut kalau ada Bapaknya Evan,” ucap Niken menelan saliva. Entah kenapa kejadian waktu di rumah sakit itu terus terbayang di benaknya. Ekspresi wajah Dante saat melihatnya begitu sulit dijelaskan.

“Aku pasti pulang setiap hari, tapi tergantung jadwal di klinik. Bisa pulang pagi atau pulang malam,” sahut Riana.

Wajah Niken berubah sedikit murung.

“Kamu gak usah mikirin Mas Dante, yang harus kamu pikirin itu Evan. Sekarang makan, sebentar lagi Evan pasti bangun,” kata Riana mendekatkan piring lauk dan sayur pada Niken.

Benar saja begitu mereka selesai makan, terdengar suara tangisan Evan dari kamar. Buru-buru mereka berdua mengecek Evan ke kamar Dante.

“Kamu pasti haus ya, Sayang,” ucap Niken mengambil Evan dari dalam box dan langsung menempelkan bayi itu pada dadanya.

Dari sofa yang berada dekat dengan ranjang, Riana mengamati Niken yang naluri keibuannya sudah keluar meski wanita itu masih muda. Umurnya pun sudah pasti berada beberapa tahun di bawahnya. Niken yang fokus menyusui serta Riana yang sibuk dengan ponselnya, reflek menengok ke arah pintu yang terbuka dan mendengar suara Dante.

“Keluar dulu, Mas,” spontan Riana berdiri dan mendorong Dante keluar dari kamar.

Sementara Niken langsung berbalik membelakangi mereka. Jantungnya berdetak kencang karena dua kali pria itu melihat tubuh bagian atasnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    97. Sedikit Lagi

    Baru saja selesai visit pasien di jam delapan malam, tiba-tiba saja ponselnya berdering– panggilan dari ruang IGD. Kalau sudah begini pasti pasien gawat darurat. Betul saja saat ia menerima panggilan itu, terdengar suara gaduh dari seberang telepon. “Saya kesana sekarang!” sahut Dante menyimpan ponselnya di atas meja lalu bergegas meninggalkan ruangan pribadi menunjukkan IGD di lantai satu. Setibanya di sana ada, Dante langsung bergabung dengan tenaga medis lainnya. Rupanya lima menit tadi baru saja terjadi kecelakaan di depan rumah sakit. Ada beberapa korban luka dan satu korban yang harus ditindaklanjuti. “Dok, detak jantung korban tidak stabil,” ucap salah satu perawat memberitahu. Dante mendekat ke arah korban kemudian mengecek keadaannya. Perawat yang berdiri di samping Dante, secara cepat menjelaskan keadaan korban setelah dilakukan observasi tadi. “Siapkan ruang operasi!” perintah Dante cepat pada perawat. Dokter itu tahu kalau korban pasti mengalami pendarahan otak akibat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    96. Sampai Di Rumah

    Meski belum paham arti ulang tahun, Evan terlihat bahagia saat meniup lilin yang menyala di atas kue coklat yang cukup besar itu. Mereka bertiga saling bersorak dan bertepuk tangan menatap Evan. Niken yang berada di tengah dengan posisi memangku Evan, menggerakan tangannya lalu memotong kue coklat menggunakan pisau plastik. Dengan sigap, Riana mengambil piring kecil membantu Niken meletakkan kue coklat itu di dalamnya. “Evan suap Papa dulu ya,” kata Riana menyerahkan piring serta sendok ke tangan Niken. Menyendok ujung kue yang telah dipotong, Niken memegangi tangan Evan yang membawa sendok tadi ke arah Dante. “Semua yang terbaik buat Evan ya, Sayang,” kata Dante mengelus kepala anaknya itu. Dante melirik ke arah Niken dan minta disuapin lagi. Melihat itu Riana sigap menambahkan sepotong kue lagi ke dalam piring yang masih dipegang Niken. “Nih, Mbak … biar Mas Dante kenyang,” goda Riana mengambil alih Evan. Mereka berdua berpindah duduk– melantai, agar lebih santai menikmati kue.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    95. Mendadak Kedatangan Tamu

    “Saya? Kenapa?” Niken menarik tangannya seraya mengambil jarak dari suaminya. Namun semakin ia menjauh, pria itu juga semakin mendekatinya. “Memangnya saya bau jadi kamu jauh-jauh dari saya?” Dante membaui badannya lalu melemparkan pandangan pada ibunya Evan itu. Menggelengkan kepala, hendak beranjak dari sofa tapi Dante meraih tangan Niken– menyentakkannya hingga wanita itu sukses mendarat di dalam pangkuan Dante. “Saya mau istirahat, Mas.” Niken berusaha melepaskan diri. Netranya menatap Dante dengan mata ngantuk. “Ya sudah ayo kita tidur,” ajak Dante tapi tak bergerak dari posisinya. Ia menatap Niken penuh arti. “Memangnya Mas Dante mau tidur sama kami bertiga? Tidur sendiri lah!” seru Niken memukul pelan tangan Dante berharap suaminya itu melepaskannya. Dante berdecak sembari menggelengkan kepala. Tangannya menyusup ke bawah paha Niken lantas mengangkatnya– masuk ke dalam kamar. “Saya mau sama Evan, Mas,” kata Niken saat Dante menurunkannya dengan lembut di atas kasur

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    94. Diam-diaman

    Setelah mengatur ulang jadwalnya di rumah sakit, pagi ini mereka pergi menuju puncak untuk merayakan ulang tahun Evan. Sebelumnya Riana sudah memesan satu villa untuk mereka menginap di sama sampai hari minggu. Memasukkan tas ke dalam bagasi, mereka pamit lantas pergi. Dante sengaja memilih pergi di hari jumat pagi untuk menghindari macet. Sebelum masuk tol, mobil yang Dante kemudikan melipir di salah satu minimarket untuk membeli makanan ringan untuk menemani perjalanan mereka. “Biar aku yang jaga Evan di mobil,” kata Riana yang duduk di kursi belakang, bersama Evan di carseat. Mau tak mau Niken turun menemani Dante masuk ke dalam minimarket. Membawa keranjang di tangannya, Niken mengikuti kemana kaki Dante melangkah. “Kamu gak mau apa-apa?” Dante berbalik menatap Niken yang sedari tadi tidak mengambil apa-apa. Terus-terusan dilihat oleh Dante, ia lalu mengambil beberapa snack dan minuman secara acak. Kembali berjalan menyusuri etalase, saat melihat minyak telon ia teringat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    93. Wira Tahu

    Tangannya bergerak– meraba kedua sisinya. Tak ada siapa-siapa. Niken terbangun hanya sendirian di atas kasur. Netranya yang masih berat, ia paksa untuk terbuka. “Kemana?” Ia menyusuri setiap sudut kamar, tapi tidak menemukan Dante. Turun dari tempat tidur, Niken berjalan ke arah jendela kaca dan membuka sedikit gordennya. Terlihat pohon dan dedaunan diluar basah, sepertinya tadi malam hujan. Ia menghela nafas berkali-kali. Kegusuran tadi malam masih saja menghantuinya. Ada sedikit rasa bersalah tapi– “M-mas.” Wanita itu tercekat saat Dante tahu-tahu sudah memeluknya dari belakang. Dengan perasaan takut ia menoleh– mendongak menatap suaminya. Pria itu tersenyum. Untuk beberapa detik mereka saling menatap, hingga Niken lebih dulu mengalihkan pandangannya. “Saya siapin pakaian buat Mas Dante ya,” kata Niken mendorong pelan dada suaminya yang masih basah. Dari depan pintu terdengar Riana. “Aku tutup lagi, tenang aja!” seru Riana menutup pintu tak ingin mengganggu. Niatnya ingin men

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    92. Berdua Saja

    Memastikan dirinya sudah terlihat rapi di depan kaca, Niken memutar kunci pintu lantas keluar. Baru satu langkah keluar dari kamar mandi, detak jantung berpacu cepat saat netranya menangkap bayangan seorang pria yang tidak mengenakan baju. Keningnya berkerut menatap pria itu dari belakang. “Mas, kenapa gak pakai baju?” tanya Niken polos saat Dante berbalik. Ia baru saja mencolok kabel untuk mengisi daya ponselnya. Niken jadi bingung sendiri harus ngapain. Baru kali ini mereka hanya berdua di kamar, tanpa kehadiran Evan. “Panas,” sahut Dante naik ke salah satu sisi kasur. “Tapi kan ac nya nyala, Mas. Saya juga sudah siapin baju,” kata Niken mengambil baju yang masih teronggok di atas kasur kemudian menyimpannya di dalam lemari. Berjalan ke sisi tempat tidur yang lain, Niken ragu untuk naik. “Saya ambil Evan aja ya, Mas. Kasihan Evan kalau nanti kebangun karena haus,” ucap Niken coba-coba berharap Dante luluh. “Riana juga pasti sudah siapin susu buat Evan. Kan asi perah kamu masih

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status