Se connecterJangan bosan bosan ya kaka sama dokter Dante dan Niken☺
Alhasil jam sepuluh ini mereka sudah berada di salah satu outlet perlengkapan bayi. Suasana masih sepi saat mereka datang, karena memang baru buka.“Sini Evan sama aku aja,” kata Dante membuka tangannya– siap menggendong anaknya itu.Niken mendekat dan menyerahkan Evan pada Dante. Berjalan beriringan, Niken mendorong troli sambil melihat-lihat pakaian yang terpajang di sana. Langkahnya kemudian terhenti di salah satu pajangan baju.“Ini kayaknya lucu. Ini boleh, Pak?” tanya Niken mengambil baju dari gantungan baju dan menunjukkannya pada Dante.Pria itu mengangguk setuju. Niken lalu semangat mencari baju yang pas dengan ukuran badan Evan.Troli yang ia dorong hampir penuh dengan berbagai jenis pakaian Evan. Tidak hanya Niken, tapi Dante juga ikut memilih dan memasukkan pakaian untuk anaknya itu. Kalau bukan Niken yang mengecek kembali apa yang diambil Dante, mungkin troli yang ia bawa tidak cukup menampung belanjaan mereka hari ini. “Masih ada yang mau dibeli?” tanya Dante begitu mer
Riana baru saja selesai praktek pukul sembilan malam. Entah kenapa hari ini pasiennya cukup banyak. Dari yang cuma ngecek kehamilan sampai yang lahiran. Baru saja akan meninggalkan ruangannya, pintu ruangan tiba-tiba dibuka oleh salah satu perawat yang jaga. Dengan tergesa, ia memberi tahu kalau di ruang tindakan ada pasien yang mengeluh sakit pada perutnya. Mau tak mau, Riana mengurungkan niatnya untuk pulang. Meletakkan tasnya diatas meja, ia keluar dan menuju ruang tindakan. “Dokter Bima,” gumamnya dalam hati melihat Bima ada di ruang tindakan bersama seorang wanita hamil. Sambil berjalan mendekat, ia terus menerka-nerka dalam hati. Siapa kira-kira wanita itu. Istri? Tapi seingatnya Akbar bilang kalau Bima dokter baru. Masa iya sudah menikah. “Selamat malam,” sapa Riana membuat Bima menoleh. Wajahnya kaget melihat Riana berdiri di depannya. “Dokter Bima, istrinya kenapa?” tanya Riana menatap Bima dan wanita yang terbaring diatas tempat tidur bergantian. “Bukan … bukan istri ak
Membongkar tas yang dibawa Riana, Niken langsung merapikan Evan. Memandikan dan mengganti bajunya. Tak berapa lama, Azka masuk dan membawa bungkusan sarapan untuk mereka. Riana mengambil alih Evan dan meminta Niken untuk membersihkan diri.“Selamat pagi,” sapa Akbar yang datang bersama dokter jaga.“Pagi, Dokter.” Riana membalas sapaan dua dokter yang masuk dan berdiri di sisi ranjang.Dante tersenyum sembari menyandarkan punggungnya.Menurut hasil pemeriksaan Dante hanya kelelahan. Pagi ini ia sudah diperbolehkan pulang dan istirahat di rumah.“Dua hari sudah cukup,” kata dokter jaga sembari pamit, kecuali Akbar yang tetap tinggal di kamar itu.Netranya tak sengaja melihat map putih yang ada di meja. Tanpa basa basi ia langsung mengambil dan membaca isinya.“Cepat cari gantinya deh. Niken mungkin … sebelum di ambil Wira,” bisik Akbar yang langsung mendapat sikutan di perutnya.Jerit Akbar membuat Riana, Azka, dan Niken yang baru keluar dari kamar mandi menoleh ke arah mereka.“Dante m
Niat awalnya hanya ingin menidurkan Evan saja, tapi Niken malah ikut tertidur juga bersama bayi itu. Aneh, ia merasa seperti di rumah sehingga bisa begitu nyenyak tertidur. Sebaliknya, Dante yang tidak bisa tidur. Gelisah. “Huhh …” Pria itu menghela nafas. Ia menekan tombol di atas tempat tidurnya saat melihat botol infusnya hampir habis.Tak berapa lama, seorang perawat datang dan mengganti botol infusnya. Ia menekan tombol hingga layar ponselnya menyala. Waktu telah menunjukkan pukul setengah satu malam.Turun dari tempat tidur, Dante membawa tiang inpus dan berjalan ke arah Niken yang tertidur bersama anaknya. Salah satu tangannya mendekap Evan yang begitu nyenyak tertidur. Tak sengaja ia melihat baju Niken yang terbuka. Cepat ia memaling wajah. Matanya membulat lebar saat tangannya menyentuh benda kenyal itu, padahal niatnya hanya ingin menutup dada Niken yang terbuka. Pria itu mengelus puncak kepala Dante. Netranya beralih ke arah Niken. Teringat saat tadi ia menekan tangan ibu s
Kepala Dante yang masih terasa pusing, semakin bertambah pusing saat melihat siapa yang masuk. Lebih tepatnya, saat melihat siapa yang mengantar mereka masuk. “Tadi aku ketemu mereka di bawah … jadi aku antar aja sekalian ke sini,” ucap Wira mengikuti Niken berjalan mendekati Dante yang terbaring dengan infus di tangannya. Niken menatap Dante dengan senyum tertahan. Melihat ekspresi tak biasa Dante, Azka tak berani bertanya macam-macam. Namun netranya tetap mengawasi mereka semua. “Gimana sekarang?” Wira berdiri di samping Niken, bertanya keadi Dante. “Sudah mendingan,” sahut Dante singkat tanpa ekspresi. Reflek mereka semua menoleh ke arah pintu– seseorang mengetuknya kemudian masuk. “Rame banget?” Akbar masuk ke dalam kamar lalu berdiri di antara Niken dan Wira. Otomatis Niken bergeser, semakin dekat dengan Dante. Wira melirik jam di tangannya, lantas mengatakan kalau ia harus bersiap karena ada janji dengan pasien. Pria itu berjalan mundur lantas mengatur posisinya lebih dek
[Missed call] [Dok, operasi pukul dua siang ini.] Layar ponsel Dante kembali menyala. Sejak pulang dari Bali kemarin entah kenapa badannya terasa sakit semua. Ia baru bangun saat alarm yang dipasangnya di pukul sebelas siang, berbunyi nyaring. Menyandarkan punggungnya di dipan, Dante memijat kepalanya. Beberapa saat ia terdiam– mengumpulkan kesadarannya, lalu meraih ponselnya. Wajahnya tak bersemangat membaca pesan-pesan yang masuk. Cepat ia membalas pesan dari salah satu perawat rumah sakit dan bersiap-siap. “Pak, koper kemarin masih sama Bapak kan?” tanya Niken saat melihat Dante keluar dari kamar. Pria itu hanya mengangguk lantas berlalu. Namun belum ada satu menit, ia kembali lagi dan menghampiri Niken dan Evan di ruang tengah. Pandangan Evan beralih ke arah Dante yang berdiri di ujung playmate. Bayi itu merangkak ke arah Dante dengan mulut bergumam dua huruf– p a. Senyum mengambang di bibir Dante menatap anaknya itu. Ia berjongkok kemudian menggendong Evan– mencium dan memb
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal







