Mag-log in“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.
“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot. “Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal mengurus Evan,” ucap Riana. Dante menghela nafas panjang sambil membuka beberapa kancing kemeja. Pria itu kemudian berjalan menuju sofa diikuti oleh Riana di belakangnya. “Mas Dante, gak nyari Mbak Agatha?” “Jangan sebut nama dia lagi. Terserah dia mau apa. Aku sudah minta pengacara buat urus perceraian. Aku capek di rumah sakit ngurus pasien, jadwal operasi yang padat, dia malah nambah beban pikiran,” sahut Dante emosi. Rahangnya mengeras dengan wajah penuh amarah. Riana diam sejenak. Ia tidak berani berkomentar melihat kemarahan saudara laki-lakinya itu. “Jadi kapan aku bisa masuk kamar? Aku mau istirahat.” Pria itu menyandarkan punggungnya. “Sebentar aku lihat ke dalam dulu.” Riana beranjak dari sofa menuju kamar Dante. Setelah mengetuk ia membuka pintu kamar sedikit demi sedikit. “Saya kirain,” ucap Niken menarik nafas lega seraya meletakkan Evan di dalam boxnya. Ia takut kalau yang masuk adalah Dante. “Kamu istirahat aja, kamar kamu tepat di sebelah kamar ini ya,” ucap Riana sambil menunjuk kamar tidur Niken. Melihat Niken keluar dari kamarnya, pria itu beranjak masuk. Ia mendekat ke arah box bayi dan memandangnya sejenak kemudian bersiap membersihkan diri. Baru saja memejamkan mata, tiba-tiba Evan menangis sangat kencang. Mau tak mau Dante harus bangun dan membawa Evan pada Niken. “Evan nangis,” ucapnya menyodorkan Evan begitu Niken membuka pintu. “Iya, Tuan,” sahut Niken tak berani memandang Dante. Wanita itu ingin langsung menutup pintu saat Dante berbalik. “Tunggu dulu. Antar kembali Evan ke kamar kalau dia sudah tidur,” kata Dante dengan wajah mengantuk. “Iya, Tuan.” “Satu lagi, jangan panggil saya tuan karena saya bukan majikan.” Dante menatap Niken sejenak, kemudian kembali ke kamarnya. Sepeninggal pria itu, Niken membawa Evan masuk ke kamarnya. Dengan telaten ia menyusui Evan. Bayi laki-laki itu sangat haus hingga terus menyusu tanpa henti. Sesekali Niken meringis kecil saat isapan Evan begitu kuat. “Anak manis ini,” ucap Niken mengulas senyum di bibirnya. Hampir satu jam menyusu Evan akhirnya tertidur dalam gendongannya. Dengan sangat hati-hati ia membawa Evan keluar kamar menuju kamar Dante. “Tidur yang nyenyak ya, Sayang.” Niken meletakkan Evan di dalam bosnya. Sebelum keluar dari kamar, Niken menoleh ke arah Dante yang tertidur pulas. *** Sudah memaksakan diri untuk tidur, nyatanya mata Niken tak mau terpejam. Sambil memegang perutnya ia berguling di atas tempat tidur. Perutnya terasa sangat lapar. “Baru jam setengah satu lagi, ck.” Niken berdecak melihat ke arah jam yang ada di dinding. Setelah mempertimbangkan banyak hal, ia akhirnya memberanikan diri keluar. Di tengah suasana ruang tengah yang gelap, ia akhirnya berhasil mencapai dapur. Setelah menyalakan lampu, ia lalu membuka kulkas dan melihat apa yang bisa ia makan di tengah malam ini. Mengambil beberapa buah apel dan pear, ia lalu duduk di salah satu kursi yang ada di dapur dan menikmati buah itu. “Huft…” Niken menarik nafas panjang dan menumpu kepalanya di atas meja. Tidak berselang lama ia merasakan bajunya kembali basah. Jemari tangannya meraih beberapa lembar tisu dan melap bajunya untuk mengurangi basah di bajunya. “Astaga!” serunya kaget saat Dante tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. “Kamu ngapain jam segini di dapur?” tanyanya curiga menatap Niken. “Saya cuma makan buah, Tuan,” sahut Niken takut-takut merapikan bekas makannya. “Sudah saya bilang jangan panggil saya tuan,” cecar Dante dengan mata tajam menatap Niken. Serba salah Niken dibuatnya. Dengan dua tangan menutup bagian atas tubuhnya, wanita itu berlalu meninggalkan Dante di dapur. Namun sesampainya di depan pintu kamar, suara tangisan Evan kembali terdengar. “Kamu cek Evan ke kamar,” kata Dante yang tahu-tahu sudah ada di sampingnya, seraya masuk lebih dulu ke dalam kamar. Dengan perasaan was-was Niken masuk dan melirik Dante yang duduk di sofa. “Popoknya penuh.” Niken menoleh sejenak ke arah Dante. “Ya kamu ganti,” ketus Dante menghela nafas. “Popoknya ada dimana?” tanya Niken polos. Pria itu kembali menatap Niken tajam. Ia beranjak dari sofa kemudian menunjukkan dimana letak perlengkapan Evan. Mulai dari popok, pakaian ganti hingga tisu basah. “Kalau Evan sudah kembali tidur, kamu bisa keluar,” ujar Dante naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya. Perlahan Niken mengatur nafasnya. Melihat tingkah Dante yang acuh pada anaknya, ada rasa kesal di hati Niken. Seharusnya Dante mencurah kasih sayang pada anaknya. Namun ini tidak. Meletakkan alas di atas tempat tidur, ia kemudian merebahkan Evan dan mengganti popoknya yang penuh. Posisi Niken yang setengah menunduk, membuat Dante yang belum terpejam dapat melihat jelas bagian tubuh atas Niken. “Oke. Sudah selesai, Sayang. Kamu mau minum kan?” Niken menggendong bayi mungil itu lantas menyusuinya. Sebelum ia membuka kancing bajunya, ia melirik ke arah Dante yang sudah berbalik membelakanginya.[Transfer Masuk] [Rp 1xx.xxx.xxx] Notifikasi yang masuk di layar ponsel Niken. Sempat bingung, tapi ia yakin itu adalah kiriman uang dari suaminya. Bergegas ia menghubungi Dante dan mengucapkan terima kasih. "Iya, Sayang," sahut Dante merespon panggilan dari istrinya. Beberapa detik kemudian panggilan itu berubah menjadi panggilan video. Tampak Dante tersenyum lebar menatap Niken, kemudian mencari Evan. "Sini, Evan sayang. Ada Papa," ucap Niken menunjukkan layar ponselnya. Dengan langkah yang belum terlalu seimbang, Evan berlari ke arah Niken yang berada di ujung sofa. Evan mengambil ponsel dari tangan ibunya dan bicara dengan bahasa bayi pada Dante. Sesekali Niken menciumi anaknya yang begitu menggemaskan. Hingga mau tak mau Dante mengakhiri panggilan video itu karena jadwal visit pasien yang sudah mendekati jamnya. "Saya mungkin pulang agak malam, Sayang," ucap Dante memberitahu Niken sebelum mematikan panggilannya. "Gapapa, Mas. Dah," sahut Niken mengumbar senyum. Setelah se
Berada di dalam selimut putih yang tebal itu, netra Niken terusik karena cahaya matahari yang masuk dari tirai gorden yang Dante buka. Kelopak matanya masih terasa berat untuk terbuka, hingga ia memilih untuk berbalik membelakangi jendela. Dante yang merasakan ada pergerakan dari atas kasur, reflek berbalik. Niatnya yang ingin ke kamar mandi, ia tunda. Pria itu lebih memilih untuk menyapa istrinya terlebih dahulu. “Selamat pagi, Sayang,” sapa Dante ikut masuk ke dalam selimut lantas menarik istrinya lebih dekat. Niken mengulas senyum sembari berbalik– menghadap suaminya dan membalas sapaan Dante barusan. “Apa sih, Mas? Lihatnya kok kaya gitu?” tanya Niken dengan nada menyelidik. Pasalnya tatapan Ayahnya Evan membuat bulu kuduknya merinding. Dante menyeringai, menambah rasa takut Niken. “Cukup ya, Mas,” kata Niken penuh penekanan. Raut wajahnya serius dengan tangan yang menyilang di depan dada. Bagaimana tidak, Niken baru benar-benar tertidur nyenyak menjelang pukul tiga pagi. Seka
Menempelkan kartu itu di dekat gagang pintu, perlahan Dante memutar dan mendorong pintu itu hingga terbuka. Niken dibuat takjub saat melihat isi kamar tempat mereka akan menginap. Kamar yang luas dengan tempat peraduan berukuran sangat besar. Tanpa sadar kaki Niken melangkah maju lebih dulu– masuk ke dalam memperhatikan setiap furniture yang ada di dalam. Langkahnya semakin dalam hingga ia sampai di depan gorden besar berwarna gold. “Keren banget sih,” gumam Niken saat menyingkap gorden di depannya dan melihat langsung pemandangan ibukota dari ketinggian. Dari arah belakang, Dante perlahan berjalan mendekat dan melingkari pinggang istrinya. “M–mas,” ucap Niken terbata-bata. Dante hanya berdehem sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Rasa bahagia menyelimuti hati pria itu saat ini. Kebahagiaan yang sempat hilang karena pengkhianatan Agatha. Meski begitu ia masih beruntung bisa dengan cepat menemukan kebahagiaan lain bersama Niken. "Makasih ya, Sayang," gumam Dante me
Mobil yang Dante kemudikan memasuki halaman parkir salah satu hotel berbintang yang ada di ibukota. Dari tempatnya duduk, Netra Niken melirik ke kiri kanan– memperhatikan sekitar. Banyak mobil mewah yang terparkir rapi di sana. Ia jadi takut sendiri dengan omongan Dante tadi. “Kalau gak pulang, lalu mau ngapain disini,” pikirannya berkecamuk. Setelah memarkirkan mobilnya, Dante mengajak Niken keluar dari parkiran. Mereka berjalan kaki ke salah satu mall yang berada sangat dekat dengan hotel tempat mereka parkir tadi. “Kenapa gak parkir di mallnya langsung sih, Mas?” tanya Niken menggandeng lengan Dante karena jalanan saat itu cukup padat. Pria itu hanya tertawa kecil– tak menjawab. Setibanya di mall, mereka berjalan menyusuri sederetan gerai dengan brand ternama. Naik ke lantai dua, langkah Dante berbelok ke salah satu gerai pakaian. Otomatis Niken mengikuti kemana suaminya melangkah. “Pilih …” kata Dante dengan dagu yang menunjukkan ke arah pakaian yang terdisplay. “Baj
“Mbak, saya tinggal ke pasar dulu ya,” pamit Mbok Narti yang sudah siap dengan catatan belanja di tangannya. “Iya, Mbok,” sahut Niken yang baru saja sampai di dapur, hendak mencuci peralatan makan milik Evan. Ia meninggalkan Evan bersama Riana di ruang tengah. Pagi ini cuaca cukup dingin karena hujan sudah turun sejak subuh. Meski begitu Evan tetap bangun pagi dan sarapan di jamnya. Selesai mencuci piring, ia meraih tisu untuk mengeringkan tangannya saat Dante membuatnya terkejut. Suaminya itu memeluk— bergelayut manja padanya. “Kamu kenapa sudah bangun sih? Padahal di luar hujan,” ucap Dante masih memeluk istrinya. “Evan sudah bangun, Mas. Dia jam segini pasti lapar … mau makan. Kasian nanti dia,” sahut Niken berjalan pelan dengan Dante yang menempel di belakangnya. “Kamu gak kasian sama saya? Saya juga lapar … mau makan … Kamu,” bisik Dante membuat Niken geli seraya mendaratkan ciuman di leher istrinya. Niken bergidik berusaha menghindari ciuman dari suaminya. Ia benar-benar ge
Mobil hitam yang Azka kemudikan berjalan melambat saat memasuki halaman klinik. Siang ini Riana mengajak kakak ipar dan keponakannya itu jalan– sekedar makan siang di luar. “Saya jalan dulu ya, Bu Bos,” kata Azka pamit sembari membuka kaca jendela mobil. “Iya, Mas,” sahut Niken berjalan masuk ke dalam klinik. Perawat yang sedang berjaga di meja admin, menyapa dan mempersilahkan Niken untuk menunggu di ruang tamu. Ia memberitahu kalau Riana sedang ada satu pasien yang sedang cek kandungan. [Dante Calling] Benda pipih dalam tasnya berbunyi, membuat Niken reflek merogoh– mencari sumber suara. “Iya, Mas,” sahut Niken menempelkan ponsel di telinga kirinya. “Kamu dimana?” “Di kliniknya, Mbak Riana. Tadi perasaan saya sudah kirim pesan dan Mas juga sudah baca pesan itu,” kata Niken dengan netra yang fokus memperhatikan Evan bermain di playground kecil di sudut ruangan. “Maksud saya kamu sudah dimana? Sudah sampai atau belum?” Pria di seberang telepon itu tak kehabisan kata untuk ber
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan







