Share

4. Melihat Isi Baju

Penulis: Lystania
last update Tanggal publikasi: 2026-04-16 22:14:42

“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.

“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.

“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan.

“Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal mengurus Evan,” ucap Riana.

Dante menghela nafas panjang sambil membuka beberapa kancing kemeja. Pria itu kemudian berjalan menuju sofa diikuti oleh Riana di belakangnya.

“Mas Dante, gak nyari Mbak Agatha?”

“Jangan sebut nama dia lagi. Terserah dia mau apa. Aku sudah minta pengacara buat urus perceraian. Aku capek di rumah sakit ngurus pasien, jadwal operasi yang padat, dia malah nambah beban pikiran,” sahut Dante emosi. Rahangnya mengeras dengan wajah penuh amarah.

Riana diam sejenak. Ia tidak berani berkomentar melihat kemarahan saudara laki-lakinya itu.

“Jadi kapan aku bisa masuk kamar? Aku mau istirahat.” Pria itu menyandarkan punggungnya.

“Sebentar aku lihat ke dalam dulu.” Riana beranjak dari sofa menuju kamar Dante. Setelah mengetuk ia membuka pintu kamar sedikit demi sedikit.

“Saya kirain,” ucap Niken menarik nafas lega seraya meletakkan Evan di dalam boxnya. Ia takut kalau yang masuk adalah Dante.

“Kamu istirahat aja, kamar kamu tepat di sebelah kamar ini ya,” ucap Riana sambil menunjuk kamar tidur Niken.

Melihat Niken keluar dari kamarnya, pria itu beranjak masuk. Ia mendekat ke arah box bayi dan memandangnya sejenak kemudian bersiap membersihkan diri.

Baru saja memejamkan mata, tiba-tiba Evan menangis sangat kencang. Mau tak mau Dante harus bangun dan membawa Evan pada Niken.

“Evan nangis,” ucapnya menyodorkan Evan begitu Niken membuka pintu.

“Iya, Tuan,” sahut Niken tak berani memandang Dante.

Wanita itu ingin langsung menutup pintu saat Dante berbalik.

“Tunggu dulu. Antar kembali Evan ke kamar kalau dia sudah tidur,” kata Dante dengan wajah mengantuk.

“Iya, Tuan.”

“Satu lagi, jangan panggil saya tuan karena saya bukan majikan.” Dante menatap Niken sejenak, kemudian kembali ke kamarnya.

Sepeninggal pria itu, Niken membawa Evan masuk ke kamarnya. Dengan telaten ia menyusui Evan. Bayi laki-laki itu sangat haus hingga terus menyusu tanpa henti. Sesekali Niken meringis kecil saat isapan Evan begitu kuat.

“Anak manis ini,” ucap Niken mengulas senyum di bibirnya.

Hampir satu jam menyusu Evan akhirnya tertidur dalam gendongannya. Dengan sangat hati-hati ia membawa Evan keluar kamar menuju kamar Dante.

“Tidur yang nyenyak ya, Sayang.” Niken meletakkan Evan di dalam bosnya. Sebelum keluar dari kamar, Niken menoleh ke arah Dante yang tertidur pulas.

***

Sudah memaksakan diri untuk tidur, nyatanya mata Niken tak mau terpejam. Sambil memegang perutnya ia berguling di atas tempat tidur. Perutnya terasa sangat lapar.

“Baru jam setengah satu lagi, ck.” Niken berdecak melihat ke arah jam yang ada di dinding.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, ia akhirnya memberanikan diri keluar. Di tengah suasana ruang tengah yang gelap, ia akhirnya berhasil mencapai dapur. Setelah menyalakan lampu, ia lalu membuka kulkas dan melihat apa yang bisa ia makan di tengah malam ini. Mengambil beberapa buah apel dan pear, ia lalu duduk di salah satu kursi yang ada di dapur dan menikmati buah itu.

“Huft…” Niken menarik nafas panjang dan menumpu kepalanya di atas meja.

Tidak berselang lama ia merasakan bajunya kembali basah. Jemari tangannya meraih beberapa lembar tisu dan melap bajunya untuk mengurangi basah di bajunya.

“Astaga!” serunya kaget saat Dante tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.

“Kamu ngapain jam segini di dapur?” tanyanya curiga menatap Niken.

“Saya cuma makan buah, Tuan,” sahut Niken takut-takut merapikan bekas makannya.

“Sudah saya bilang jangan panggil saya tuan,” cecar Dante dengan mata tajam menatap Niken.

Serba salah Niken dibuatnya. Dengan dua tangan menutup bagian atas tubuhnya, wanita itu berlalu meninggalkan Dante di dapur.

Namun sesampainya di depan pintu kamar, suara tangisan Evan kembali terdengar.

“Kamu cek Evan ke kamar,” kata Dante yang tahu-tahu sudah ada di sampingnya, seraya masuk lebih dulu ke dalam kamar.

Dengan perasaan was-was Niken masuk dan melirik Dante yang duduk di sofa.

“Popoknya penuh.” Niken menoleh sejenak ke arah Dante.

“Ya kamu ganti,” ketus Dante menghela nafas.

“Popoknya ada dimana?” tanya Niken polos.

Pria itu kembali menatap Niken tajam. Ia beranjak dari sofa kemudian menunjukkan dimana letak perlengkapan Evan. Mulai dari popok, pakaian ganti hingga tisu basah.

“Kalau Evan sudah kembali tidur, kamu bisa keluar,” ujar Dante naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya.

Perlahan Niken mengatur nafasnya. Melihat tingkah Dante yang acuh pada anaknya, ada rasa kesal di hati Niken. Seharusnya Dante mencurah kasih sayang pada anaknya. Namun ini tidak.

Meletakkan alas di atas tempat tidur, ia kemudian merebahkan Evan dan mengganti popoknya yang penuh. Posisi Niken yang setengah menunduk, membuat Dante yang belum terpejam dapat melihat jelas bagian tubuh atas Niken.

“Oke. Sudah selesai, Sayang. Kamu mau minum kan?” Niken menggendong bayi mungil itu lantas menyusuinya.

Sebelum ia membuka kancing bajunya, ia melirik ke arah Dante yang sudah berbalik membelakanginya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    100. Bertemu Agatha Lagi

    Mobil hitam yang Azka kemudikan berjalan melambat saat memasuki halaman klinik. Siang ini Riana mengajak kakak ipar dan keponakannya itu jalan– sekedar makan siang di luar. “Saya jalan dulu ya, Bu Bos,” kata Azka pamit sembari membuka kaca jendela mobil. “Iya, Mas,” sahut Niken berjalan masuk ke dalam klinik. Perawat yang sedang berjaga di meja admin, menyapa dan mempersilahkan Niken untuk menunggu di ruang tamu. Ia memberitahu kalau Riana sedang ada satu pasien yang sedang cek kandungan. [Dante Calling] Benda pipih dalam tasnya berbunyi, membuat Niken reflek merogoh– mencari sumber suara. “Iya, Mas,” sahut Niken menempelkan ponsel di telinga kirinya. “Kamu dimana?” “Di kliniknya, Mbak Riana. Tadi perasaan saya sudah kirim pesan dan Mas juga sudah baca pesan itu,” kata Niken dengan netra yang fokus memperhatikan Evan bermain di playground kecil di sudut ruangan. “Maksud saya kamu sudah dimana? Sudah sampai atau belum?” Pria di seberang telepon itu tak kehabisan kata untuk ber

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    99. Manja

    “Aduh,” gumam Niken dalam hati terbangun duluan– masih berada di hangat pelukan Dante. Netranya reflek tertutup saat suaminya sedikit bergerak bersamaan dengan suara ocehan Evan yang berada dalam box. Begitu hati-hati Dante menarik tangannya kemudian menyelimuti Niken. Pria itu beralih mengecek anaknya di dalam box. “Selamat pagi anak Papa,” sapa Dante menggendong Evan lantas menciuminya. “Mima … Mima….” Evan bergumam menatap Niken yang masih terlelap di atas tempat tidur. Dante kemudian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sembari memanyunkannya sedikit hingga menimbulkan bunyi. “Biarin Mima tidur dulu ya,” ucap Dante pada Evan. Meraih ponselnya di atas meja, Dante lantas menghubungi admin rumah sakit yang mengatur jadwal kunjungan pasien. Ia ingin memastikan keadaan pasien kemarin. “Pasien kemarin stabil, Dok. Sejauh ini tidak ada keluhan,” sahut orang di seberang sana. “Oke. Saya agak siang ke rumah sakit. Tapi kalau adanya yang urgent, saya stand by,” terang Dante berus

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    98. Malam Yang Panjang

    “Beneran kan?” tanya Dante lagi memastikan. Pria itu semakin mendekat, membuat Niken jadi malu. Wajahnya memerah– menunduk tak berani menatap suaminya. “Apa sih, Mas?” Niken merengut sembari membelakangi Dante. Pelan tapi pasti, tangan Dante terulur lalu melingkari pinggang istrinya. Hal biasa yang dilakukan pasangan suami istri, tapi bagi Niken hal itu membuatnya gugup bukan main. “Tidur aja, Mas. Besok pagi kamu kan harus ke rumah sakit,” kata Niken berusaha melepaskan tangan Dante. Namun apa yang dilakukannya itu tak berhasil, suaminya malah semakin erat memeluk. Pria itu membaui rambut hitam Niken yang membuat istrinya merinding. “Boleh kan?” bisiknya di telinga Niken. Bisikan yang disertai dengan hembusan nafas Dante. Refleks Niken mendorong Dante kemudian berbalik menatap suaminya itu. Apa yang diminta oleh Dante memang adalah haknya sebagai suami, tapi– Netra Niken semakin dalam menatap– mencari jawaban dari apa yang selama ini hatinya tanyakan. Tatapan pria itu terlihat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    97. Sedikit Lagi

    Baru saja selesai visit pasien di jam delapan malam, tiba-tiba saja ponselnya berdering– panggilan dari ruang IGD. Kalau sudah begini pasti pasien gawat darurat. Betul saja saat ia menerima panggilan itu, terdengar suara gaduh dari seberang telepon. “Saya kesana sekarang!” sahut Dante menyimpan ponselnya di atas meja lalu bergegas meninggalkan ruangan pribadi menunjukkan IGD di lantai satu. Setibanya di sana ada, Dante langsung bergabung dengan tenaga medis lainnya. Rupanya lima menit tadi baru saja terjadi kecelakaan di depan rumah sakit. Ada beberapa korban luka dan satu korban yang harus ditindaklanjuti. “Dok, detak jantung korban tidak stabil,” ucap salah satu perawat memberitahu. Dante mendekat ke arah korban kemudian mengecek keadaannya. Perawat yang berdiri di samping Dante, secara cepat menjelaskan keadaan korban setelah dilakukan observasi tadi. “Siapkan ruang operasi!” perintah Dante cepat pada perawat. Dokter itu tahu kalau korban pasti mengalami pendarahan otak akibat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    96. Sampai Di Rumah

    Meski belum paham arti ulang tahun, Evan terlihat bahagia saat meniup lilin yang menyala di atas kue coklat yang cukup besar itu. Mereka bertiga saling bersorak dan bertepuk tangan menatap Evan. Niken yang berada di tengah dengan posisi memangku Evan, menggerakan tangannya lalu memotong kue coklat menggunakan pisau plastik. Dengan sigap, Riana mengambil piring kecil membantu Niken meletakkan kue coklat itu di dalamnya. “Evan suap Papa dulu ya,” kata Riana menyerahkan piring serta sendok ke tangan Niken. Menyendok ujung kue yang telah dipotong, Niken memegangi tangan Evan yang membawa sendok tadi ke arah Dante. “Semua yang terbaik buat Evan ya, Sayang,” kata Dante mengelus kepala anaknya itu. Dante melirik ke arah Niken dan minta disuapin lagi. Melihat itu Riana sigap menambahkan sepotong kue lagi ke dalam piring yang masih dipegang Niken. “Nih, Mbak … biar Mas Dante kenyang,” goda Riana mengambil alih Evan. Mereka berdua berpindah duduk– melantai, agar lebih santai menikmati kue.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    95. Mendadak Kedatangan Tamu

    “Saya? Kenapa?” Niken menarik tangannya seraya mengambil jarak dari suaminya. Namun semakin ia menjauh, pria itu juga semakin mendekatinya. “Memangnya saya bau jadi kamu jauh-jauh dari saya?” Dante membaui badannya lalu melemparkan pandangan pada ibunya Evan itu. Menggelengkan kepala, hendak beranjak dari sofa tapi Dante meraih tangan Niken– menyentakkannya hingga wanita itu sukses mendarat di dalam pangkuan Dante. “Saya mau istirahat, Mas.” Niken berusaha melepaskan diri. Netranya menatap Dante dengan mata ngantuk. “Ya sudah ayo kita tidur,” ajak Dante tapi tak bergerak dari posisinya. Ia menatap Niken penuh arti. “Memangnya Mas Dante mau tidur sama kami bertiga? Tidur sendiri lah!” seru Niken memukul pelan tangan Dante berharap suaminya itu melepaskannya. Dante berdecak sembari menggelengkan kepala. Tangannya menyusup ke bawah paha Niken lantas mengangkatnya– masuk ke dalam kamar. “Saya mau sama Evan, Mas,” kata Niken saat Dante menurunkannya dengan lembut di atas kasur

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status