LOGINJangan bilang ini cuma mimpi yaaa
“Mbak, saya tinggal ke pasar dulu ya,” pamit Mbok Narti yang sudah siap dengan catatan belanja di tangannya.“Iya, Mbok,” sahut Niken yang baru saja sampai di dapur, hendak mencuci peralatan makan milik Evan. Ia meninggalkan Evan bersama Riana di ruang tengah.Pagi ini cuaca cukup dingin karena hujan sudah turun sejak subuh. Meski begitu Evan tetap bangun pagi dan sarapan di jamnya. Selesai mencuci piring, ia meraih tisu untuk mengeringkan tangannya saat Dante membuatnya terkejut. Suaminya itu memeluk— bergelayut manja padanya.“Kamu kenapa sudah bangun sih? Padahal di luar hujan,” ucap Dante masih memeluk istrinya.“Evan sudah bangun, Mas. Dia jam segini pasti lapar … mau makan. Kasian nanti dia,” sahut Niken berjalan pelan dengan Dante yang menempel di belakangnya.“Kamu gak kasian sama saya? Saya juga lapar … mau makan … Kamu,” bisik Dante membuat Niken geli seraya mendaratkan ciuman di leher istrinya.Niken bergidik berusaha menghindari ciuman dari suaminya. Ia benar-benar geli hi
Mobil hitam yang Azka kemudikan berjalan melambat saat memasuki halaman klinik. Siang ini Riana mengajak kakak ipar dan keponakannya itu jalan– sekedar makan siang di luar. “Saya jalan dulu ya, Bu Bos,” kata Azka pamit sembari membuka kaca jendela mobil. “Iya, Mas,” sahut Niken berjalan masuk ke dalam klinik. Perawat yang sedang berjaga di meja admin, menyapa dan mempersilahkan Niken untuk menunggu di ruang tamu. Ia memberitahu kalau Riana sedang ada satu pasien yang sedang cek kandungan. [Dante Calling] Benda pipih dalam tasnya berbunyi, membuat Niken reflek merogoh– mencari sumber suara. “Iya, Mas,” sahut Niken menempelkan ponsel di telinga kirinya. “Kamu dimana?” “Di kliniknya, Mbak Riana. Tadi perasaan saya sudah kirim pesan dan Mas juga sudah baca pesan itu,” kata Niken dengan netra yang fokus memperhatikan Evan bermain di playground kecil di sudut ruangan. “Maksud saya kamu sudah dimana? Sudah sampai atau belum?” Pria di seberang telepon itu tak kehabisan kata untuk ber
“Aduh,” gumam Niken dalam hati terbangun duluan– masih berada di hangat pelukan Dante. Netranya reflek tertutup saat suaminya sedikit bergerak bersamaan dengan suara ocehan Evan yang berada dalam box. Begitu hati-hati Dante menarik tangannya kemudian menyelimuti Niken. Pria itu beralih mengecek anaknya di dalam box. “Selamat pagi anak Papa,” sapa Dante menggendong Evan lantas menciuminya. “Mima … Mima….” Evan bergumam menatap Niken yang masih terlelap di atas tempat tidur. Dante kemudian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sembari memanyunkannya sedikit hingga menimbulkan bunyi. “Biarin Mima tidur dulu ya,” ucap Dante pada Evan. Meraih ponselnya di atas meja, Dante lantas menghubungi admin rumah sakit yang mengatur jadwal kunjungan pasien. Ia ingin memastikan keadaan pasien kemarin. “Pasien kemarin stabil, Dok. Sejauh ini tidak ada keluhan,” sahut orang di seberang sana. “Oke. Saya agak siang ke rumah sakit. Tapi kalau adanya yang urgent, saya stand by,” terang Dante berus
“Beneran kan?” tanya Dante lagi memastikan. Pria itu semakin mendekat, membuat Niken jadi malu. Wajahnya memerah– menunduk tak berani menatap suaminya. “Apa sih, Mas?” Niken merengut sembari membelakangi Dante. Pelan tapi pasti, tangan Dante terulur lalu melingkari pinggang istrinya. Hal biasa yang dilakukan pasangan suami istri, tapi bagi Niken hal itu membuatnya gugup bukan main. “Tidur aja, Mas. Besok pagi kamu kan harus ke rumah sakit,” kata Niken berusaha melepaskan tangan Dante. Namun apa yang dilakukannya itu tak berhasil, suaminya malah semakin erat memeluk. Pria itu membaui rambut hitam Niken yang membuat istrinya merinding. “Boleh kan?” bisiknya di telinga Niken. Bisikan yang disertai dengan hembusan nafas Dante. Refleks Niken mendorong Dante kemudian berbalik menatap suaminya itu. Apa yang diminta oleh Dante memang adalah haknya sebagai suami, tapi– Netra Niken semakin dalam menatap– mencari jawaban dari apa yang selama ini hatinya tanyakan. Tatapan pria itu terlihat
Baru saja selesai visit pasien di jam delapan malam, tiba-tiba saja ponselnya berdering– panggilan dari ruang IGD. Kalau sudah begini pasti pasien gawat darurat. Betul saja saat ia menerima panggilan itu, terdengar suara gaduh dari seberang telepon. “Saya kesana sekarang!” sahut Dante menyimpan ponselnya di atas meja lalu bergegas meninggalkan ruangan pribadi menunjukkan IGD di lantai satu. Setibanya di sana ada, Dante langsung bergabung dengan tenaga medis lainnya. Rupanya lima menit tadi baru saja terjadi kecelakaan di depan rumah sakit. Ada beberapa korban luka dan satu korban yang harus ditindaklanjuti. “Dok, detak jantung korban tidak stabil,” ucap salah satu perawat memberitahu. Dante mendekat ke arah korban kemudian mengecek keadaannya. Perawat yang berdiri di samping Dante, secara cepat menjelaskan keadaan korban setelah dilakukan observasi tadi. “Siapkan ruang operasi!” perintah Dante cepat pada perawat. Dokter itu tahu kalau korban pasti mengalami pendarahan otak akibat
Meski belum paham arti ulang tahun, Evan terlihat bahagia saat meniup lilin yang menyala di atas kue coklat yang cukup besar itu. Mereka bertiga saling bersorak dan bertepuk tangan menatap Evan. Niken yang berada di tengah dengan posisi memangku Evan, menggerakan tangannya lalu memotong kue coklat menggunakan pisau plastik. Dengan sigap, Riana mengambil piring kecil membantu Niken meletakkan kue coklat itu di dalamnya. “Evan suap Papa dulu ya,” kata Riana menyerahkan piring serta sendok ke tangan Niken. Menyendok ujung kue yang telah dipotong, Niken memegangi tangan Evan yang membawa sendok tadi ke arah Dante. “Semua yang terbaik buat Evan ya, Sayang,” kata Dante mengelus kepala anaknya itu. Dante melirik ke arah Niken dan minta disuapin lagi. Melihat itu Riana sigap menambahkan sepotong kue lagi ke dalam piring yang masih dipegang Niken. “Nih, Mbak … biar Mas Dante kenyang,” goda Riana mengambil alih Evan. Mereka berdua berpindah duduk– melantai, agar lebih santai menikmati kue.
“Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma







