"Belum apa?" ucap Winda menoleh ke arah Bakar."Belum valid, Nyah," jawabnya sambil duduk rebahan di sofa panjang. Dia terlihat lelah.Winda masih menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tatapannya kosong, hatinya tercekat mendengar nama Danisha dari putranya sendiri.“Jadi benar … semua ini ulah dia?” suaranya pecah.Wafa menghela napas panjang. “Aku belum bisa pastikan, Ma. Tapi semua tanda mengarah ke sana.”“Kenapa harus Danisha?” Winda menggeleng, kecewa. “Dia bukan orang asing di mata kita.”“Karena Elan,” jawab Wafa datar. “Mereka dulu dekat, bukan? Danisha kenal baik dengannya. Sekretarisku, Anggita—teman akrab Danisha. Semua saling berkaitan.”Bakar yang duduk di tepi sofa menyela. “Jangan lupa ekspresi Pak Hasan, Bos. Kata-katanya, pesan beliau semalam. Dia jelas tahu sesuatu soal Nadia. Tapi milih bungkam.”Winda menoleh tajam. “Hasan? Maksudmu ayahnya Qale?”Bakar mengangguk. “Betul, Nyah. Kalau diperhatiin, matanya nggak bisa bohong. Saya rasa dia tahu lebih dari yang kita
Niscala Corp siang itu masih ramai. Lampu-lampu putih memantulkan cahaya dingin di dinding kaca. Kursi roda Wafa melaju masuk tanpa basa-basi, Bakar mengikuti di belakang. Beberapa staf buru-buru menunduk, menyadari aura dingin yang dibawa bos mereka.“Anggita, ke ruanganku,” suara Wafa berat, tak memberi ruang tawar.Sekretaris itu tergopoh menutup laptopnya dan mengikutinya ke ruang dirut. Begitu pintu tertutup, Wafa bersandar ke meja, menatap tajam ke arah wanita itu.“Ceritakan padaku. Dari mana sebenarnya kau dapat CV Nadia?”Anggita menelan ludah. “B-bukankah sudah saya jelaskan, Pak? Ada teman—”“Teman siapa?” potong Wafa cepat, suaranya meninggi.Anggita gelagapan. “Saya … saya lupa namanya. Tapi dia bilang Nadia butuh kerjaan. Saya cuma menolong, Pak. Sungguh.”Bakar mendengus. “Lupa namanya, tapi berani taruh di meja saya? Jangan main-main, Git.”Wafa mendekat, menunduk, menatap mata sekretarisnya yang mulai berair. “Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu gelisah bukan karena ‘lupa
"Damkar?" Wafa memanggil Bakar lagi. Lelaki itu kembali masuk ke ruang perawatan. Dia berdiri di depan pintu. "Ya, Bos?" bisiknya. Wafa menoleh. "Ingat nggak dimana ketemu Nadia?" Bakar menggeleng. "Kecuali saat wawancara," katanya. "Darimana kamu dapatkan CV nya?" "Anggita," jawab Bakar singkat. Wafa diam, mengangguk pelan lalu memintanya menanyakan pada si sekretarisnya, Anggita. Apakah mengenal Nadia secara pribadi atau direkomendasikan oleh seseorang. Dia juga berpesan pada Bakar agar menelusuri semua orang yang memiliki hubungan kerja atau bersinggungan secara intens dengan Qalesya. Bakar mengerti maksud Wafa. Dia pun pamit keluar dengan wajah serius. Langkahnya tegap, meninggalkan Ria di lorong rumah sakit. Suasana kamar rawat malam itu masih temaram. Mesin infus menetes perlahan, sementara Qale tidur dengan wajah pucat, bibirnya kering. Wafa duduk di sisi ranjang, tangannya tak pernah lepas menggenggam jemari istrinya. Ia menatap wajah Qale lama sekali. “Ke
Suasana toko Anak Lipat masih riuh ketika Hasan akhirnya memberanikan diri menghampiri meja kasir. Tatapannya sempat jatuh ke arah Nadia yang duduk manis di pojok ruangan. Senyum tipis gadis itu seolah bukan sekadar ramah, tapi penuh arti—seakan memperingatkan, “Jangan macam-macam, Om. Aku tahu apa yang kulakukan.”"H-hai." Hasan membalas Nadia.Ria semringah dari meja kasir. "Halo, Om. Duduk dulu, aku panggilkan Kak Qale," katanya masih tersenyum lebar.Hasan mengangguk. "Ok, makasih," balasnya, duduk di kursi sudut kasir.Qalesya muncul, langsung menghampiri ayahnya. Disusul Wafa yang menyalami sang mertua. "Ayah sakit?" ucap Qale kuatir meliat wajah pucat Hasan.Hasan menggeleng pelan. “Lesa…” suaranya terdengar serak. Ia menatap putrinya dengan mata berkaca. “Kamu baik-baik saja?”Qale sempat bingung. “Baik. Kenapa?” jawabnya, mencoba tersenyum meski ada keraguan.Hasan mendekat, suaranya makin pelan. “Hati-hati, Nak. Pandailah jaga diri. Kadang … orang terdekat justru bisa jadi
Pagi itu, langit Jakarta cerah, tapi hiruk-pikuk di ruang konferensi UMKM terasa lebih panas daripada teriknya matahari. Qalesya melangkah masuk, tas kecil di pundak, wajahnya tersenyum ringan namun tegang di baliknya.Di sampingnya, kursi roda Wafa berjalan tenang, pakaian rapi dan sikap elegan membuat semua mata tak bisa lepas dari sosoknya. Saat mereka memasuki ruangan, beberapa wartawan mulai mengangkat kamera, memotret setiap langkah Qale, tapi sorot mata tetap tertuju pada Wafa.“Selamat pagi, Pak Wafa, Mbak Qalesya,” sapa seorang panitia. “Kami senang Anda ikut hadir.”Wafa membalas dengan senyum tipis. “Pagi. Titip istriku selama press conference, ya”Seketika, beberapa wartawan berbisik, lalu mengangkat kamera lebih tinggi. Telepon genggam mulai merekam. Beberapa reporter menuliskan catatan : “Siapa Qalesya? Ada hubungan apa dengan pewaris keluarga Ambrasta?”Di sisi lain, seorang wanita elegan muncul, menatap Wafa dengan heran. “Fa?” panggilnya. Wajahnya datar tapi mata meng
"Damkar," sebut Wafa setelah gadis itu menjauh."Ya?" Wafa menunjuk ke arah pintu keluar. "Tadi, aku ketemu dimana, ya?" katanya bingung.Bakar melihat wajah gadis itu di CV, dia meneliti tapi memorinya tidak mengingat apapun. "Entah. Emang mukanya agak pasaran, sih, bos. Mungkin kumpulan Rohingya," jawabnya.Wafa mendelik, sementara Bakar merapikan file gadis tadi. "Rohingya?""Rombongan healing banyak gaya," balas Bakar sambil tertawa. Wafa yang biasanya tak terpancing, ikut tertawa kecil dan menepuk Bakar menggunakan map di hadapannya.Sebelum pergi, Wafa menanyakan soal renovasi toko sang istri. Dia berencana mampir ke sana.Renovasi kecil di toko Anak Lipat rampung. Bagian depan yang dulunya sederhana kini tampak segar. Dua meja kayu berukuran mungil berjejer di sisi kanan, dilengkapi kursi rotan bercat putih. Pot tanaman hijau ditata di sudut-sudut, memberi kesan teduh. Dinding yang sebelumnya kusam kini dilapisi cat pastel, dengan etalase kaca baru yang memajang produk UMKM Q