로그인Toko kecil itu bernama Anak Lipat—tempat croissant hangat, isian nyeleneh, dan rahasia yang belum selesai dipanggang. Qale, gadis bermata sipit sebelah dan bergigi gingsul, menyimpan luka masa lalu : dituduh jadi penyebab kematian ibu, dicap pembawa sial, dan kini… dipaksa menikah dengan pria buta dan lumpuh demi utang budi keluarga. Tapi lelaki asing itu datang membawa lebih dari sekadar cincin. Ia tahu banyak hal rahasia di masa lalu yang membuat Qale penasaran. Syaratnya satu, menikah, tapi jangan jatuh cinta. Tapi, siapa yang bisa menolak pesona si anak lipat, si pembuat croissant manis beraroma dendam.
더 보기Chapter 1.
Elsie. The gates swing shut behind us. The air instantly smells like freshly cut hedges. Someone has planted flowers along the stone driveway, though I can’t tell what kind. Whatever they are, they probably cost more than my monthly rent. I look down the driveway. Cars in black, silver and deep blue are lined on both sides of it. I start counting them as I always do when I’m nervous. I’m somewhere around fifteen when my mother nudges my elbow. “Chin up,” she murmurs in a way that’s supposed to be encouraging, but it isn’t. The driveway alone is longer than the street I grew up on. Lights run along the edges, glowing softly in the dark. At the end of it sits the house—no, mansion. It has three floors and tall windows that are blazing with light. A few guests are still arriving and Valets move quickly between cars. My mother smooths the front of my dress without asking. “Stand straight.” “I am standing straight,” I answer, almost snapping at her. Rather than responding, she just fixes one of my straps and gives my shoulder a small push forward. The house belongs to someone named Hargrove. I only know that because my parents have mentioned his name three times today, always in the same careful tone. Inside, the noise hits first. There are voices, laughter and music floating around my ears. A waiter passes with a tray of champagne and I take one automatically, sipping it while looking around the room in awe. The ballroom is bigger than I expected. Crystal chandeliers hang from the ceiling, scattering light everywhere. People cluster in small groups, talking quietly. No one raises their voice, and everyone looks comfortable. The women wear dresses that probably cost more than my car. Their jewelry is simple but still definitely expensive. I glance down at my own dress. It’s Ivory silk with thin straps. My mother picked it out. At th store it looked elegant but here it just looks… obvious, like I tried too hard. “Elsie.” My mother appears beside me again. I didn’t even hear her walk over. She taps the stem of my glass lightly. “Drink.” “I just got it.” “You look stiff,” she says, tilting her head and staring at me oddly. “I’m fine,” I respond, forcing a smile. “You look uncomfortable.” “I am uncomfortable,” I respond, holding back the eyeroll. She smiles at someone across the room while she says through her teeth. “Fix your face.” Without another word, she’s gone back to meet the other ladies. I take a sip of champagne. It’s good, really good, which makes me more aware that I don’t belong here because my parents can’t afford this sort of food stuff. I drift toward the edge of the room. There’s a fireplace along the far wall, tall enough that someone could probably stand inside it. A man stands beside it, speaking with another guest. He has silver hair and dressed in a dark suit. He glances in my direction, looks away, and then glances back. I look away quickly and pretend to be interested in the painting above the mantel. A few minutes later I check again, and he’s still looking. My father finds me not long after. He looks me over briefly, then he glances around the room. “You look lovely,” he says at last. “Thank you,”I answer, giving him a small nod. “Enjoying yourself?” “Yes.” His eyes move past me just for a second. When I follow his gaze, it lands on the silver-haired man near the fireplace. My father looks back at me and smiles. “Good,” he says. His hand rests briefly on my arm as he adds, “Don’t disappear tonight.” Then he’s gone. I stare after him. A waiter walks by and my mother replaces the champagne in my hand with a fresh one. I don’t even remember finishing the first. The man by the fireplace moves closer sometime during the evening. It’s not directly though, just gradually, taking a step closer at intervals as he stops and talk to other guests. At some point I hear someone say his name. “Aldric.” I raise my head and see that he’s only two groups away. When our eyes meet, he lifts his glass slightly as a polite gesture. His smile is small but it doesn’t reach his eyes. I turn away. “He’s been watching you.” My mother is here again, smoothening my hair away from my face. I shrug her hands off. “I noticed,” I answer, taking another sip from my glass. “He’s very well connected,” she chips in sweetly. Something in my stomach tightens. “Mother—” “Drink your champagne, Elsie, stop fretting.” Her voice stays pleasant but her eyes don’t. I nod and drink. Around half past ten the front doors open again and a man walks in. He is tall, dressed in a dark suit and has dark hair. He doesn’t pause or look around the room, but people notice anyway. Conversations dip and someone nearby steps aside without realizing it. The man keeps walking. A woman in a red dress intercepts him halfway across the room. She’s very beautiful in a sharp and classy way. She touches his arm and he looks down at her. She says something near his ear and then she hands him a glass. There is a familiarity between the both of them and I wonder if she is his wife, or sister. I look away, setting my attention on someone else. By eleven, the chandelier lights blurs slightly and I blink. For a moment it looks like there are two chandeliers, and then three. I grab the edge of a console table. How much did I drink? Two glasses? Three? But three glasses usually does not get me drunk. “You should lie down.” My mother’s hand appears at my elbow again, her voice cutting off my train of thoughts. “There’s a bedroom upstairs,” she says. “Second door on the left.” “I’m fi—“ I start to protest but she says sharply. “Elsie.” Her hand presses against my back firmly, nudging me towards the stairs. “Second door on the left. Go.” I nod my head, looking back at her and shooting her a tight smile before heading to the staircase.Langit sore sudah bergeser ketika mereka akhirnya tiba di rumah.Qalesya tidak langsung masuk kamar. Ia duduk sebentar di sofa ruang tengah, melepaskan sepatu pelan, seperti orang yang baru selesai menempuh perjalanan jauh—padahal jaraknya tidak seberapa.Wafa memperhatikannya dari belakang, tidak bertanya, tidak mendesak. Ia hanya melepaskan dasi dan meletakkan di meja, lalu mendekat.“Kamu mau langsung rebahan?” tanyanya pelan.Qale mengangguk kecil. “Iya.”Wafa memapah ke kamar, Qale berbaring setengah duduk seperti biasa. Bantal bertumpuk di punggungnya, kaki sedikit ditekuk, satu tangan bertengger di perut. Wafa menarik selimut tipis, menyelimutinya sampai sebatas pinggang.Ia duduk di sisi ranjang. Baru bertanya setelah istrinya nyaman.“Seharian tadi… ada yang ganggu pikiranmu?”Nada suaranya datar, hati-hati. Tidak seperti menginterogasi.Qale menoleh pelan. Tatapannya ragu, seolah sedang menimbang—perlu cerita atau tidak.“Enggak,” jawabnya cepat.Wafa tidak menanggapi. Ia ha
Langit siang itu tidak mendung, tidak juga cerah—hanya berawan biasa.Qalesya melangkah perlahan di antara nisan-nisan yang berjajar rapi. Bau tanah basah masih tersisa, meski hujan terakhir turun dua hari lalu. Ia berhenti di satu titik yang sudah ia hafal letaknya, bahkan tanpa melihat nama.Rahayu.Ia duduk pelan di tepi makam. Mengatur napas. Tangan kanannya refleks mengusap perut, seolah mencari keseimbangan.Dewi tidak ikut mendekat. Ia memilih duduk beberapa meter di belakang, di bawah pohon kamboja kecil. Cukup dekat untuk berjaga, tidak ikut masuk ke ruang sunyi yang sedang Qale nikmati sendiri.“Bu…” suara Qalesya lirih. Hampir seperti berbisik pada tanah.Ia tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip kebiasaan daripada bahagia.“Aku kok gampang capek ... Apalagi hari ini.”Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak puitis. Tidak sok kuat. Tapi jujur.Matanya menatap nisan tanpa berkedip. Angin menyapu ujung rambutnya pelan.“Aku ketemu dosen pembimbing,” lanjutnya. “Revisinya bany
Di lapas lain, Elan berdiri canggung di depan papan pengumuman.“Unit dokumentasi… dapur… administrasi.”Pak Surya berdiri di sampingnya. “Milih itu bukan soal gengsi. Tapi soal kamu mau bertahan di mana.”Elan mengangguk. “Saya coba dokumentasi, Pak.”Hari pertama, ia salah menyimpan arsip. Hari kedua, ia ditegur karena foto blur. Hari ketiga, seorang napi mengejek, “Sok jadi seniman.”Elan menelan ludah. Dadanya panas. Tapi ia ingat wajah Mama Danisha.[Supaya kemarahanmu tidak tumbuh jadi kebencian.]Malam itu, ia duduk di ranjang besi, memandang dinding."Mungkin hidupku belum bermakna," pikirnya."Tapi aku masih di sini. Dan itu berarti masih ada kesempatan."Malam itu, setelah lampu sel dipadamkan, suara napas penghuni lain menyatu dengan dengung kipas tua.Elan tidak langsung berbaring.Ia duduk di tepi ranjang besi, telapak kakinya menapak lantai dingin.Ia teringat ejekan siang tadi.“Sok jadi seniman.”Dulu, kalimat seperti itu akan ia balas. Dengan sindiran. Dengan pembelaa
Tidak semua perubahan datang dengan perasaan ingin diakui.Sebagian hanya berupa keputusan kecil yang diulang—lagi dan lagi—sampai ia berubah menjadi kebiasaan.Pagi itu, Qalesya terbangun dengan napas pendek. Tangannya refleks memegang perutnya yang semakin besar. Bayi di dalamnya bergerak, bukan tendangan kuat, lebih seperti menggeser posisi—namun cukup membuatnya meringis.“Mas…” panggilnya lirih.Wafa yang setengah tidur langsung bangun. “Kenapa?”“Pinggang aku kayak mau patah... sesak.”Wafa duduk, meraih minyak kayu putih. Tanpa banyak bicara, ia mengusap punggung Qale pelan. Gerakannya hati-hati, seperti takut menyakiti.“Sakit banget, ya?" bisiknya. “Kita napas bareng.”Qale mengangguk. Setelah beberapa saat, ia bersandar, napasnya lebih teratur. Tapi matanya berkaca-kaca.“Mas,” ucapnya tiba-tiba. “Kalau nanti aku panik pas lahiran gimana?”Wafa terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Ya kita panik bareng.”Qale tertawa kecil, meski air matanya jatuh. “Kok jawabanmu gitu sih.
Ruang kunjungan itu dingin, meski tanpa AC berlebih.Mama Danisha duduk lebih dulu. Tangannya terlipat rapi di atas meja. Punggungnya tegak, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang menyimpan kemarahan.Pintu kecil di seberang terbuka.Elan masuk dengan langkah yang sudah tidak la
Pagi di Anak Lipat berjalan seperti biasa—sampai Bakar datang dengan wajah yang tidak biasa.Ia berdiri di depan meja kasir, menaruh tabletnya pelan, lalu menarik kursi tanpa diminta. Ria yang sedang mencatat pesanan menoleh.“Kenapa, Bang?” tanyanya. Ria mengubah panggilan daei Pak menjadi Abang u
Tidak semua perubahan datang dengan gemuruh.Sebagian hanya berupa kebiasaan kecil yang bergeser—cara seseorang menyapa, cara menunggu, cara mendengar tanpa menyela.Hasan merasakan itu pertama kali di peternakan.Pagi itu, sinar jingga menyapa dedaunan lebih lembut dari biasanya. Udara masih basah
Lorong lapas itu tidak pernah benar-benar hangat. Meski matahari kerap menerpa ruangan dari celah-celah kecil.Dindingnya pucat, langkah-langkah selalu bergema, dan waktu seperti berjalan dengan iramanya sendiri.Tapi siang itu, Hasan melangkah dengan dada yang entah kenapa terasa lebih ringan.Ia
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰