Home / Romansa / PESONA SUPIR PRIBADIKU / Bab 8 Aku ingin bercerai

Share

Bab 8 Aku ingin bercerai

Author: Ria_rkive
last update publish date: 2026-08-07 10:46:05

"Aku ingin bercerai."

Kalimat itu menggantung di udara seperti vonis. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Reyhan kehilangan kata-kata. Ia hanya berdiri mematung di tengah kamar sambil menatap istrinya. Menatap wanita yang selama tiga tahun selalu diam menerima segala sikap dinginnya dan kini wanita itu menatapnya dengan luka yang begitu dalam.

"Nara," ucap Reyhan dengan nada pelan.

"Aku lelah." Suara Nara terdengar parau.

Air matanya masih mengalir dan dia terus menyekanya.

"Aku benar-ben
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 16 Rekaman

    Ruangan itu mendadak sunyi. Reyhan masih menatap layar laptop yang telah berubah gelap. Rekaman yang baru saja mereka lihat hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cukup untuk mengguncang keyakinannya terhadap keluarganya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya."Tuan..."Reyhan tidak menjawab, tangannya masih bertumpu di atas meja. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa ayahnya adalah sosok yang keras, tetapi tetap menjunjung kehormatan keluarga. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa semua keputusan yang diambil ayahnya bertujuan melindungi perusahaan. Namun, rekaman itu memperlihatkan sisi yang berbeda. Ada sesuatu yang disembunyikan dan mungkin jauh lebih besar daripada dugaan mereka."Putar lagi."Arga menekan tombol dan rekaman vidio itu kembali berjalan. Wajah ayah Reyhan muncul di layar bersama beberapa orang. Suaranya terdengar samar, tetapi kalimat terakhir masih sangat jelas."Kalau Damar mulai bicara, pastikan dia tidak pernah kembali ke perusahaan."Rekaman berhenti, Re

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 15 Gudang di pelabuhan

    Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arga masih memandangi alamat yang tertera di layar ponselnya. Pesan misterius itu belum juga keluar dari pikirannya. Kalau ingin tahu siapa dalang semuanya, datanglah sendirian.Ia tahu itu bisa saja jebakan. Namun, jika benar ada seseorang yang mengetahui penyebab semua teror yang menimpa keluarga Wiratama, kesempatan itu terlalu berharga untuk diabaikan. Setelah berpikir beberapa menit, Arga akhirnya mengambil keputusan.Ia tidak akan datang tanpa persiapan. Diam-diam ia mengirimkan lokasi gudang itu kepada sahabat lamanya, Bimo, seorang polisi yang pernah tumbuh bersamanya di kampung. Pesan yang dikirimnya singkat."Kalau dalam satu jam aku tidak menghubungimu, tolong datangi lokasi ini."Beberapa detik kemudian, balasan masuk."Hati-hati. Jangan gegabah."Arga menghela napas lega, setidaknya kini ada seseorang yang mengetahui ke mana ia pergi. Gudang tua di kawasan pelabuhan tampak gelap dan sepi. Lampu-lampu di sekitar pelabuhan hanya

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 14 Luka yang disembunyikan

    Pagi itu, suasana di rumah keluarga Wiratama jauh dari kata tenang. Sejak insiden pengejaran semalam, jumlah petugas keamanan ditambah. Beberapa mobil patroli tampak berjaga di sekitar gerbang utama, sementara setiap orang yang keluar masuk rumah diperiksa dengan ketat.Namun, semua pengamanan itu tidak mampu menghilangkan kegelisahan di hati Reyhan. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman rumah yang mulai diterpa cahaya matahari. Di atas meja tergeletak foto Damar, mantan kepala keamanan ayahnya. Nama yang selama belasan tahun menghilang tanpa jejak, kini kembali muncul bersamaan dengan rentetan ancaman terhadap keluarganya. Ketukan pelan terdengar. "Masuk." Arga memasuki ruangan. "Tuan, hasil penyelidikan sementara sudah keluar." Reyhan berbalik. "Ceritakan." "Tim keamanan berhasil menemukan tempat mobil yang mengejar kami semalam." "Lalu?" "Mobil itu ternyata kendaraan curian." Reyhan tidak terkejut, ia memang sudah menduga lawannya bekerja dengan s

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 13 Kejaran di tengah hujan

    Suara mesin mobil terdengar semakin keras, Arga menggenggam kemudi erat. Matanya terus bergantian memperhatikan jalan di depan dan kaca spion di atas kepalanya. Mobil hitam itu masih membuntuti, jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak pernah tertinggal."Nyonya, tetap tenang," ucap Arga.Nara mengangguk pelan, meski jantungnya berdetak sangat cepat."Menurutmu mereka siapa?" tanya Nara dalam kecemasannya."Saya juga belum tahu, Nyonya. Siapa mereka," jawab Arga."Berhati-hatilah," pinta Nara."Baik, Nyonya," jawab Arga. Arga tetqp fokus pada laju mobilnya, dan ia juga tidak ingin berspekulasi siapa yang sedang membuntuti mereka. Saat ini yang terpenting adalah memastikan Nara tetap selamat.Hujan turun semakin deras, jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang melambat karena jarak pandang berkurang. Arga memanfaatkan keadaan itu, ia membelok ke jalan alternatif yang lebih sempit. Mobil hitam di belakang ikut berbelok."Mereka masih mengikuti kita." Suara Nara terdengar pelan.Arga

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 12 Musuh dibalik bayangan

    Hujan turun sejak dini hari. Tetesannya menghantam kaca ruang kerja Reyhan, menciptakan irama yang terdengar menyesakkan. Semalaman ia tidak memejamkan mata. Berkas-berkas yang menumpuk di atas meja tidak satu pun berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya hanya dipenuhi dua hal, Nara dan ancaman yang kini mengintai keluarga Wiratama. Ponselnya berdering. "Halo," ucap Reyhan. "Tuan, kami sudah melacak pengirim amplop ke media." "Bagaimana hasilnya?" "Pelaku menggunakan kurir lepas. Semua jejak pembayaran dilakukan melalui rekening palsu." Reyhan memejamkan mata sejenak. "Lanjutkan penyelidikan, cari siapa pun yang pernah memiliki akses ke dokumen kontrak." "Baik, Tuan." Panggilan berakhir, belum sempat ia menarik napas, pintu ruang kerja diketuk. Arga masuk dengan wajah serius. "Tuan." "Ada perkembangan?" tanya Reyhan Arga menganggukkan kepalanya. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar kantor pengacara." "Lalu?" "Motor yang melempar amplop ternyata menggunakan p

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 11 Permainan dimulai

    Angin pagi berembus pelan ketika Nara masih memandangi foto yang ada di tangannya. Jemarinya bergetar hebat, sementara tulisan merah di balik foto itu seolah berubah menjadi ancaman yang terus menghantui pikirannya."Rahasia kalian tidak akan tersimpan lama."Arga berdiri di sampingnya dengan wajah tegang. Pandangannya menyapu jalanan di sekitar kantor pengacara, berharap dapat menemukan pengendara motor yang tadi melemparkan amplop itu. Namun, jalan sudah kembali ramai. Pelaku menghilang tanpa jejak."Nyonya, sebaiknya kita masuk dulu," ucap Arga pelan.Nara mengangguk lemah. Tanpa berkata apa-apa, ia menyerahkan foto itu kepada Arga."Jangan sampai hilang. Ini mungkin bisa menjadi bukti," ucap Nara.Arga menerima foto tersebut dengan hati-hati. Ia menyimpannya di dalam map dokumen, lalu berjalan mengikuti Nara memasuki gedung kantor pengacara.Di ruang kerja pengacara, suasana berlangsung serius. Pria paruh baya bernama Dimas itu membaca berkas gugatan cerai sambil sesekali memperha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status