بيت / Romansa / PESONA SUPIR PRIBADIKU / Bab 7 Rahasia di dalam laci

مشاركة

Bab 7 Rahasia di dalam laci

مؤلف: Ria_rkive
last update تاريخ النشر: 2026-08-07 10:16:46

Pagi itu rumah keluarga Wiratama terasa lebih sepi dari biasanya, Reyhan masih berada di luar kota untuk urusan bisnis yang diperkirakan berlangsung hingga malam hari, sesangkan Nara menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian di kamar. Sejak percakapannya dengan Maya kemarin, pikirannya semakin kacau. Sahabatnya itu benar, ia sudah terlalu lama bertahan dalam hubungan yang perlahan mengikis dirinya.

Namun, setiap kali berpikir untuk pergi, ada sesuatu yang menahannya. Mungkin kenangan, mungkin harapan yang belum benar-benar mati atau mungkin karena ia masih belum siap menerima kenyataan bahwa pernikahannya memang gagal.

Nara menghela napas panjang, matanya tertuju pada meja kerja kecil milik Reyhan yang berada di sudut kamar. Biasanya area itu selalu rapi, tidak pernah ada dokumen yang tertinggal sembarangan. Namun, pagi itu sebuah map hitam terlihat sedikit keluar dari laci yang belum tertutup sempurna.

Awalnya Nara tidak terlalu memperhatikan, tetapi saat hendak merapikannya, secarik kertas terjatuh ke lantai. Nara membungkuk mengambilnya dan seketika tubuhnya membeku. Di sudut kanan atas tertera nama yang sangat dikenalnya, Arga Pratama. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat, kenapa ada dokumen atas nama Arga di ruang kerja Reyhan?

Rasa penasaran membuatnya membuka lembar pertama, awalnya ia tidak mengerti. Namun, semakin banyak membaca, wajahnya perlahan berubah pucat. Tangannya mulai gemetar, napasnya memburu, karena beberapa kalimat yang tertulis di sana terdengar begitu aneh. Perjanjian Kerahasiaan, kompensasi sebesar lima ratus juta rupiah. Identitas ayah biologis harus dirahasiakan.

Nara mengernyit. Ayah biologis? Apa maksudnya?

Dadanya terasa sesak, ia membalik halaman berikutnya. Lalu berikutnya lagi dan pada lembar terakhir, dunia seakan berhenti berputar. Tubuhnya langsung kehilangan tenaga, kertas itu jatuh dari tangannya. Air mata menggenang di pelupuk matanya.

"Tidak, ini tidak mungkin," ucapnya lirih.

Namun, semua bukti ada di depan matanya. Nama Reyhan, nama Arga. Tanda tangan keduanya dan isi perjanjian yang cukup jelas untuk dipahami.

"Ya Tuhan," bisiknya lirih.

Tubuhnya gemetar hebat, ia merasa mual, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dirinya bukan manusia. Melainkan barang yang bisa dijadikan bagian dari transaksi.

***

Siang harinya, Arga baru kembali dari rumah sakit setelah memastikan operasi ibunya berjalan lancar. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia merasa sedikit lega. Operasi berjalan sukses, dokter mengatakan kondisi ibunya mulai membaik. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat memasuki rumah utama, ia langsung merasakan sesuatu yang aneh. Suasana rumah terasa tegang, beberapa pelayan terlihat saling berpandangan. Seolah sesuatu telah terjadi.

"Bu Rina."

Arga menghentikan langkah seorang pelayan.

"Ada apa?"

Wanita itu tampak ragu.

"Nyonya..."

"Kenapa dengan Nyonya?" tanya Arga terlihat penasaran.

"Beliau mengurung diri di kamar sejak pagi," jawab kepala art tersebut.

Jantung Arga langsung mencelos.

"Apakah nyonya sedang sakit?" tanya Arga lagi.

Bu Rina menggeleng.

"Saya tidak tahu, tapi beliau menangis."

Tubuh Arga menegang, entah kenapa perasaannya langsung tidak tenang ketika mendengar tentang Nara. Akan tetapi dia juga tidak berani untuk menemui majikannya itu. meskipun dia merasa khawatir, karena dia takut kalau dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan perasaannya.

Sore menjelang, Nara masih berada di dalam kamar. Matanya sembab, dokumen itu tergeletak di atas tempat tidur. Sudah puluhan kali ia membacanya, tetapi rasa sakitnya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin nyata, selama ini ia selalu bertanya-tanya kenapa Reyhan begitu dingin? Kenapa Reyhan tidak pernah benar-benar menjadi suami untuknya? Kenapa setiap pembicaraan tentang anak selalu dihindari.

Kini semuanya mulai masuk akal, tetapi jawaban itu jauh lebih menyakitkan dari pada ketidaktahuan. Air mata kembali jatuh, bukan karena Reyhan tidak bisa memiliki anak, tetapi yang menghancurkan hatinya adalah kenyataan bahwa suaminya memilih membuat perjanjian seperti itu dari pada berbicara jujur kepadanya. Perasaannya hancur dan terluka, tiga tahun menikah dan Reyhan bahkan tidak cukup percaya kepadanya untuk mengatakan kebenaran itu.

Malam hari, Reyhan akhirnya pulang. Begitu memasuki rumah, ia langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Para pelayan terlihat gugup, bahkan Bu Rina menghindari tatapannya.

"Ada apa?" tanya Reyhan terdengar dingin.

Wanita patuh baya itu menunduk, lalu menjawab pertanyaan majikannya itu. "Nyonya tidak keluar kamar seharian."

Reyhan langsung mengernyit.

"Apa dia sakit?" tanya Reyhan.

"Saya tidak tahu, Tuan. Hanya saja, Nyonya tidak mau keluar kamar," jawab si kepala art.

Tanpa menunggu lebih lama, Reyhan segera menuju kamar utama. Pintu kamar terbuka dan ia langsung melihat Nara duduk di tepi ranjang, diam dan tatapannya kosong.

"Nara," ucapnya.

Wanita itu perlahan mengangkat kepalanya dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, Reyhan melihat kebencian di mata istrinya. Jantungnya langsung mencelos.

"Ada apa? Kenapa kamu mengurung diri di kamar hingga membuat seiisi rumah khawatir," ucap Reyhan.

Nara tertawa kecil, tawa yang terdengar menyakitkan.

"Masih mau berpura-pura?" ucapnya dengan tatapan tajam.

Reyhan mengernyit.

"Aku tidak mengerti, apa maksdumu?"

Nara mengambil map hitam di sampingnya, lalu melemparkannya ke arah Reyhan. Map itu jatuh di lantai, lalu terbuka hingga semua isinya terlihat. melihat hal itu, seluruh warna di wajah Reyhan langsung menghilang, karena ia tahu, Nara sudah membaca semuanya. Seketika ruangan menjadi sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar.

"Jadi ini alasannya?"

Suara Nara bergetar.

"Ini alasan kenapa selama tiga tahun kamu menjauhiku?" tatapannya penuh dengan kesedihan dan amarah.

Reyhan tidak menjawab.

"Nara..."

"Jangan." Air mata kembali mengalir di pipi wanita itu. "Jangan panggil namaku."

"Nara, dengarkan aku," ucap Reyhan.

"Apa yang harus aku dengarkan?"

Suaranya meninggi dan untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka.

"Kamu membuat kontrak untuk tubuhku!"

Reyhan memejamkan mata.

"Niatku bukan—"

"Bukan apa?"

Nara berdiri, tubuhnya gemetar hebat.

"Aku ini istrimu, Reyhan!"

Kalimat itu menggema di dalam ruangan.

"Aku manusia, bukan proyek bisnis, bukan mesin pencetak pewaris!" Nadanya begitu tegas, tatapannya tajam, tetapi tak bisa menutupi rasa sedih dan salit hatinya.

Setiap kata yang keluar dari bibir Nara terasa seperti pisau yang menghantam dada Reyhan, karena semua yang dikatakan Nara benar dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak punya pembelaan.

***

Di luar kamar, Arga berdiri membeku. Ia baru saja hendak mengantar dokumen ketika mendengar suara pertengkaran itu dan saat mendengar isi pembicaraan mereka, darahnya langsung terasa dingin.

Nara tahu semuanya rahasia itu. Jantungnya berdetak semakin cepat, karena ia tahu satu hal. Mulai malam ini, tidak ada lagi yang akan sama Tidak untuk dirinya, tidak untuk Nara dan tidak untuk Reyhan.

Sementara di dalam kamar, Nara menatap suaminya dengan air mata yang terus mengalir, lalu perlahan mengucapkan kalimat yang membuat Reyhan membeku di tempat.

"Aku ingin bercerai."

*****

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 16 Rekaman

    Ruangan itu mendadak sunyi. Reyhan masih menatap layar laptop yang telah berubah gelap. Rekaman yang baru saja mereka lihat hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cukup untuk mengguncang keyakinannya terhadap keluarganya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya."Tuan..."Reyhan tidak menjawab, tangannya masih bertumpu di atas meja. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa ayahnya adalah sosok yang keras, tetapi tetap menjunjung kehormatan keluarga. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa semua keputusan yang diambil ayahnya bertujuan melindungi perusahaan. Namun, rekaman itu memperlihatkan sisi yang berbeda. Ada sesuatu yang disembunyikan dan mungkin jauh lebih besar daripada dugaan mereka."Putar lagi."Arga menekan tombol dan rekaman vidio itu kembali berjalan. Wajah ayah Reyhan muncul di layar bersama beberapa orang. Suaranya terdengar samar, tetapi kalimat terakhir masih sangat jelas."Kalau Damar mulai bicara, pastikan dia tidak pernah kembali ke perusahaan."Rekaman berhenti, Re

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 15 Gudang di pelabuhan

    Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arga masih memandangi alamat yang tertera di layar ponselnya. Pesan misterius itu belum juga keluar dari pikirannya. Kalau ingin tahu siapa dalang semuanya, datanglah sendirian.Ia tahu itu bisa saja jebakan. Namun, jika benar ada seseorang yang mengetahui penyebab semua teror yang menimpa keluarga Wiratama, kesempatan itu terlalu berharga untuk diabaikan. Setelah berpikir beberapa menit, Arga akhirnya mengambil keputusan.Ia tidak akan datang tanpa persiapan. Diam-diam ia mengirimkan lokasi gudang itu kepada sahabat lamanya, Bimo, seorang polisi yang pernah tumbuh bersamanya di kampung. Pesan yang dikirimnya singkat."Kalau dalam satu jam aku tidak menghubungimu, tolong datangi lokasi ini."Beberapa detik kemudian, balasan masuk."Hati-hati. Jangan gegabah."Arga menghela napas lega, setidaknya kini ada seseorang yang mengetahui ke mana ia pergi. Gudang tua di kawasan pelabuhan tampak gelap dan sepi. Lampu-lampu di sekitar pelabuhan hanya

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 14 Luka yang disembunyikan

    Pagi itu, suasana di rumah keluarga Wiratama jauh dari kata tenang. Sejak insiden pengejaran semalam, jumlah petugas keamanan ditambah. Beberapa mobil patroli tampak berjaga di sekitar gerbang utama, sementara setiap orang yang keluar masuk rumah diperiksa dengan ketat.Namun, semua pengamanan itu tidak mampu menghilangkan kegelisahan di hati Reyhan. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman rumah yang mulai diterpa cahaya matahari. Di atas meja tergeletak foto Damar, mantan kepala keamanan ayahnya. Nama yang selama belasan tahun menghilang tanpa jejak, kini kembali muncul bersamaan dengan rentetan ancaman terhadap keluarganya. Ketukan pelan terdengar. "Masuk." Arga memasuki ruangan. "Tuan, hasil penyelidikan sementara sudah keluar." Reyhan berbalik. "Ceritakan." "Tim keamanan berhasil menemukan tempat mobil yang mengejar kami semalam." "Lalu?" "Mobil itu ternyata kendaraan curian." Reyhan tidak terkejut, ia memang sudah menduga lawannya bekerja dengan s

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 13 Kejaran di tengah hujan

    Suara mesin mobil terdengar semakin keras, Arga menggenggam kemudi erat. Matanya terus bergantian memperhatikan jalan di depan dan kaca spion di atas kepalanya. Mobil hitam itu masih membuntuti, jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak pernah tertinggal."Nyonya, tetap tenang," ucap Arga.Nara mengangguk pelan, meski jantungnya berdetak sangat cepat."Menurutmu mereka siapa?" tanya Nara dalam kecemasannya."Saya juga belum tahu, Nyonya. Siapa mereka," jawab Arga."Berhati-hatilah," pinta Nara."Baik, Nyonya," jawab Arga. Arga tetqp fokus pada laju mobilnya, dan ia juga tidak ingin berspekulasi siapa yang sedang membuntuti mereka. Saat ini yang terpenting adalah memastikan Nara tetap selamat.Hujan turun semakin deras, jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang melambat karena jarak pandang berkurang. Arga memanfaatkan keadaan itu, ia membelok ke jalan alternatif yang lebih sempit. Mobil hitam di belakang ikut berbelok."Mereka masih mengikuti kita." Suara Nara terdengar pelan.Arga

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 12 Musuh dibalik bayangan

    Hujan turun sejak dini hari. Tetesannya menghantam kaca ruang kerja Reyhan, menciptakan irama yang terdengar menyesakkan. Semalaman ia tidak memejamkan mata. Berkas-berkas yang menumpuk di atas meja tidak satu pun berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya hanya dipenuhi dua hal, Nara dan ancaman yang kini mengintai keluarga Wiratama. Ponselnya berdering. "Halo," ucap Reyhan. "Tuan, kami sudah melacak pengirim amplop ke media." "Bagaimana hasilnya?" "Pelaku menggunakan kurir lepas. Semua jejak pembayaran dilakukan melalui rekening palsu." Reyhan memejamkan mata sejenak. "Lanjutkan penyelidikan, cari siapa pun yang pernah memiliki akses ke dokumen kontrak." "Baik, Tuan." Panggilan berakhir, belum sempat ia menarik napas, pintu ruang kerja diketuk. Arga masuk dengan wajah serius. "Tuan." "Ada perkembangan?" tanya Reyhan Arga menganggukkan kepalanya. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar kantor pengacara." "Lalu?" "Motor yang melempar amplop ternyata menggunakan p

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 11 Permainan dimulai

    Angin pagi berembus pelan ketika Nara masih memandangi foto yang ada di tangannya. Jemarinya bergetar hebat, sementara tulisan merah di balik foto itu seolah berubah menjadi ancaman yang terus menghantui pikirannya."Rahasia kalian tidak akan tersimpan lama."Arga berdiri di sampingnya dengan wajah tegang. Pandangannya menyapu jalanan di sekitar kantor pengacara, berharap dapat menemukan pengendara motor yang tadi melemparkan amplop itu. Namun, jalan sudah kembali ramai. Pelaku menghilang tanpa jejak."Nyonya, sebaiknya kita masuk dulu," ucap Arga pelan.Nara mengangguk lemah. Tanpa berkata apa-apa, ia menyerahkan foto itu kepada Arga."Jangan sampai hilang. Ini mungkin bisa menjadi bukti," ucap Nara.Arga menerima foto tersebut dengan hati-hati. Ia menyimpannya di dalam map dokumen, lalu berjalan mengikuti Nara memasuki gedung kantor pengacara.Di ruang kerja pengacara, suasana berlangsung serius. Pria paruh baya bernama Dimas itu membaca berkas gugatan cerai sambil sesekali memperha

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status