Share

3. hati terluka

TOLONG DUKUNG CERITA INI YA BUNDA.

Menjelang adzan maghrib berkumandang aku dan putriku tiba di rumah, rangkaian peristiwa yang terjadi di depan toko kurma membuat segalanya tiba-tiba berubah. Duniaku terbalik, seakan kiamat, pun tentang perasaan cinta dan kepercayaanku kepada Mas Hisyam seolah menguap begitu saja. Hatiku hancur berkeping keping, perasaanku terbakar menjadi abu tanpa sisa.

Dari jauh suara tarhim yang mendayu dari masjid membuat perasaan remuk redam di hatiku semakin menjadi. Kuperhatikan betapa aku telah merapikan rumah dan menyiapkan makanan di atas meja untuk dirinya. Aku tak mampu menahan lelehan bening yang jatuh dari mataku saat mengingat betapa aku tulus padanya. Aku tak kuasa lagi menahan tangis, aku berlari menuju ke kamar, menutup pintunya lalu menangis sepuas puasnya. Kutumpahkan segala kekecewaan dan betapa aku tak menyangka bahwa dalam beberapa detik saja, sebuah fakta terungkap lalu keluarga kami terancam hancur begitu saja.

Ya, sebuah rahasia besar yang tersimpan entah berapa purnama. Begitu hebatnya Mas Hisyam menyembunyikan rahasia dan bersikap bahwa semuanya seolah baik-baik saja.

Aku tak mengerti sekarang, ribuan pertanyaan berputar-putar di kepalaku dan menghimpit perasaan ini. Apakah dia benar-benar mencintaiku atau dia pura-pura melakukan itu. Meski yakin dia tidak pernah mencintaiku tapi, sikap dan gelagatnya benar-benar sempurna.

Beberapa saat yang lalu aku masih berpikir bahwa akulah ratu di hatinya, ratu yang menguasai segala perasaan dan hidupnya, tapi sekarang, semua anggapan itu terbanting jadi kekecewaan dan mendadak segalanya jadi bias.

"Aku apa untuknya, apakah aku berharga, ataukah aku hanya opsi terakhir untuk status dan tempat pulang saja?"

Aku yang masih menangis sambil membekap mulutku terpaksa harus menghentikan dan menghapus air mataku saat pintu kamarku diketuk oleh Elina.

"Bunda, bunda nangis ya?"

"Enggak kok sayang._"

"Ayo keluar, bunda, sudah mau buka puasa."

"Duluanlah, Nak."

Meski ingin berdiri, aku tidak berdaya untuk bangkit dari posisiku, bahkan saat adzan maghrib berkumandang dan rasa haus semakin seperti duri yang menancap di tenggorokan, aku tidak mampu bergerak sedikitpun untuk mengambil segelas air dan meminumnya.

Rasanya, rasa lapar dan haus itu menghilang begitu saja digantikan oleh kesengsaraan di dalam hatiku karena suamiku telah menikah lagi, dia sudah bahagia dengan istri barunya, lalu kini mereka akan menyambut bayi yang akan lahir. Sungguh, kehidupan Mas Hisyam sangat sempurna.

Aku mencoba mengalihkan pikiranku, aku ingin berhenti menangis tapi hatiku sangat menderita, aku terluka dan pisau pengkhianatan itu seperti menancap di dada. Aku terluka batin dengan keadaan yang cukup parah.

"Tuhan, apa ini adalah ujian untuk menguatkan perasaanku ataukah ini adalah jalan untuk mengakhiri pernikahan kami?" Aku tercekat membayangkan aku dan dia duduk di persidangan lalu hakim mengetuk palu untuk memisahkan kami.

Aku tak bisa membayangkan betapa mas Hisyam akan mengambil koper lalu menyeretnya pergi meninggalkanku dan putriku serta rumah kesayangan kami ini.

"Mengapa keluargaku yang sudah bahagia tanpa cela tiba-tiba hancur begitu saja ya, Tuhan? Kenapa Engkau tega sekali kepadaku?!"

Aku ingin sekali marah dan memprotes tuhan tapi itu sama sekali tidak masuk akal. Tidak ada yang bisa kulakukan selain pasrah dan mencoba berpikir dengan jernih kira-kira Apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Entah berapa lama aku meringkuk dan memeluk diriku sendiri, entah sudah berapa banyak air mata yang menetes hingga membuat mataku menjadi bengkak dan perih.

Sekonyong-konyong pintu kamar terbuka dan siluet suamiku berdiri di sana, aku tidak mengerti apa itu halusinasi karena aku kelaparan ataukah dia memang sudah pulang, aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong tanpa ekspresi. Ingin berteriak marah dan mencabiknya, tapi aku tidak berdaya, aku lemas, tak mampu lagi berucap seakan-akan tenggorokanku gersang dan lidah ini menjadi kelu.

"Hei."

Perlahan lelaki itu masuk, dia tahu dia bersalah, jadi ekspresi wajahnya nampak sangat murung. Dia datang ke pinggir tempat tidur di mana aku sedang meringkuk di lantainya.

"Apa kau sudah buka puasa?"

Aku hanya mendongak sekilas menatapnya, tatapan kami bertemu, dia dengan wajahnya yang penuh dengan rasa bersalah begitu memuakkan di mataku, air mataku tumpah begitu saja. Aku ingin berteriak, bertanya sejak kapan dia berselingkuh dan menikahi wanita lain tanpa sepengetahuanku, tapi seluruh anggota tubuhku lemah seakan aku baru saja menjadi korban pengeroyokan.

"Akan kuambilkan air dan kurma."

Dia segera menuju ke dapur, di ambang pintu dia berjumpa dengan ferlina putri kami.

"Ayah sudah pulang?"

"Iya, Nak."

"Wanita tadi istrimu ayah?"

Elina terlihat begitu penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi.

"Kita bicarakan semuanya nanti ya...."Mas Hisyam hendak membelai kepala anaknya Tapi putriku mengelak dan langsung meninggalkannya begitu saja.

Tak lama kemudian Mas Hisyam kembali dengan segelas air dingin dan sepiring kecil kurma. Dia meletakkan benda itu di hadapanku dan memintaku untuk segera berbuka puasa.

"Ayo minum dulu." Dia berjongkok di hadapanku dan mengangsurkan nampan berisi benda itu.

"Kau masih berharap aku bisa makan dan minum?"

Dia hanya menelan ludah dengan ekspresi cemas, mau bagaimanapun dia tetap saja telah melakukan sebuah kesahalan besar.

"Apa yang kau harapkan setelah ini?" ucapku parau.

"Aku minta maaf, seharusnya aku menjelaskannya padamu sejak lama," jawab lelaki itu sambil menggigit bibirnya.

"Jika menurutmu kau harus menyembunyikan maka tidak mengapa, aku tidak berhak untuk marah. Aku hanya melihat satu solusi sekarang."

Dia mendongak ke arahku seakan ia menunggu aku melanjutkan kata-kataku.

"Uruslah perceraian di antara kita berdua, agar istrimu tidak marah. Kupikir dia lebih membutuhkanmu karena sebentar lagi dia akan melahirkan. wanita hamil tidak boleh terluka dan tertekan, jadi, kembalilah padanya dan tinggalkanlah kami."

Aku mengatakan itu dengan segala air mata yang terus menetas di pipiku, hatiku hancur, aku ingin murka dan menghujatnya tapi itu sudah tidak ada artinya sekarang.

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Agus Roma
akan lebih baik dengan keputusan pisah untuk lebih baik jemput tantangan selanjutnya
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
bagus. cerai aja
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status