Share

70 Rintangan Zaman

last update publish date: 2026-10-24 22:15:59

Arkan menatap cermin tua itu dalam keheningan yang tenang. Ujung jemarinya terulur, mengusap pelan bingkai kayu jati yang retak tanpa menyentuh kaca secara langsung. Sentuhan singkat itu sudah cukup untuk merasakan denyut kesadaran purba yang terisolasi di dalam bingkainya—sebuah alam ghaib berskala kecil yang terombang-ambing dalam ruang dan waktu.

"Berapa harga yang kau minta untuk cermin ini, Paman?" tanya Arkan jernih.

Pria tua pedagang itu tersenyum tipis, menatap Arkan dengan pandangan ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    95 Ketenangan

    Pendar hangat dari permata keemasan Trisula perlahan meresap ke dalam diri sang peri berambut perak, membuat napasnya yang tadinya tersengat kepanikan mulai berangsur tenang. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Arkan dan rekan-rekannya dengan binar kelegaan yang terpancar jelas di matanya."Terima kasih... kehangatan senjatamu berhasil meredam getaran sumbang di dalam dadaku," ucap sang peri dengan suara lembut bagaikan denting harpa. "Namaku Lyrin, salah satu penjaga terakhir dari Kuil Senandung Abadi di dimensi Symphonia ini."Balthazar mendengus pelan, menurunkan palu sucinya sedikit ke tanah sambil melipat tangan di dada. "Katakan, Lyrin, apa sebenarnya yang disebut Discordia itu? Apakah itu makhluk ciptaan Vaelor yang tertinggal, atau sesuatu yang lain?"Lyrin menggeleng pelan, wajahnya menyiratkan kecemasan mendalam. "Bukan ciptaan langsung makhluk bernama Vaelor, tetapi sisa-sisa benang void yang ia tinggalkan di celah probabilitas dimensi kami telah merasuki Orchestral Core—inti k

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    94 Melodi Yang Hilang

    Pusaran cahaya keperakan membuka kembali jalan bagi Arkan menuju titik pusat galaksi. Begitu ia melangkah keluar dari portal dimensi Chronos, terpaan angin kosmik yang hangat dan aroma debu bintang yang menenangkan langsung menyambut kedatangannya di anjungan utama Nexus Prime.Di kejauhan, kota megah itu tampak semakin hidup. Jembatan-jembatan cahaya transparan menghubungkan berbagai menara kristal tempat para utusan dari dimensi es, gurun magma, hingga dataran langit saling bertukar pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Bukti nyata bahwa kedamaian lintas dimensi bukan lagi sekadar angan-angan.Kilin di bahu Arkan melompat turun, berlari kecil di atas lantai batu putih sambil mendengking riang, merayakan kembalian mereka dari pertempuran yang melelahkan. "Nyuu-nya!""Selamat datang kembali, Harmonizer!"Sebuah suara akrab menyapa dari balik pilar megah. Balthazar melangkah mendekat dengan senyum lebar terkembang di wajahnya, membawa gulungan perkamen tebal berisi rancangan arsitektu

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    93 Labirin

    Lorong di dalam menara Chronos tidak mematuhi hukum ruang dan waktu yang normal. Begitu Arkan melangkah melewati ambang pintu utama, dinding-dinding batu obsidian bercorak keperakan bergeser pelan, membelah diri menjadi puluhan koridor identik yang berputar perlahan dalam dimensi probabilitas yang berbeda.Kilin di bahu Arkan mendesis waspada, ekor kecilnya mengibas ke kiri untuk memberi isyarat adanya anomali spasial di koridor sebelah. "Nyuu...!""Waspadalah, Arkan," suara proyeksi Kaelen berbisik lembut, melayang mengikuti langkah mereka di udara. "Vaelor telah mengunci jalur utama. Lorong-lorong ini adalah perangkap probabilitas. Jika kau memilih jalur yang salah, kesadaranmu bisa terperangkap dalam perulangan waktu selamanya."Arkan berhenti sejenak. Ia menutup matanya perlahan, menarik napas dalam-dalam dan menyelaraskan detak jantungnya dengan resonansi kosmik Trisula. Di dalam benaknya, ia tidak melihat lorong-lorong yang membingungkan itu sebagai labirin yang rumit, melainkan

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    92 Menara Yang Hialang

    Pendar cahaya keemasan dari Trisula perlahan meredup, meninggalkan proyeksi gelombang energi samar yang berdenyut lembut di udara atas anjungan Nexus Prime. Sinyal itu tipis, namun memiliki frekuensi distorsi yang sangat khas—bukan sisa-sisa kehampaan Malakor yang kasar, melainkan sesuatu yang jauh lebih halus, hampir menyerupai bisikan.Kilin di bahu Arkan menegakkan tubuhnya, telinganya bergerak tajam menangkap getaran frekuensi tersebut, lalu mengeluarkan dengkingan rendah yang memperingatkan. "Nyuu... chruu..."Lyra melangkah mendekat, matanya menyipit menatap sisa-sisa proyeksi cahaya yang mulai memudar. "Frekuensi itu... tidak berasal dari dimensi-dimensi yang telah kita kenal. Letaknya jauh di luar gugusan terluar galaksi Nexus."Balthazar mendengus pelan sambil melipat tangan di dadanya yang bidang. "Bisa jadi itu hanya anomali kosmik biasa. Setelah ledakan besar benteng Malakor, turbulensi ruang dan waktu pasti masih menyisakan riak di beberapa sektor terpencil.""Tidak, Balt

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    91 Tempat Baru

    CLANGGG!Dentuman keras mengguncang seluruh balairung utama saat bilah pedang void Malakor berbenturan langsung dengan perisai cahaya tiga warna yang dipancarkan oleh tongkat Trisula. Percikan energi kehitaman dan pendar emas berhamburan di udara, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan lantai obsidian di sekitar kaki Arkan.Arkan menggeram tertahan, mengerahkan seluruh tenaga dan esensi keselarasan untuk menahan beban tebasan yang luar biasa berat dari sang Pengikis Realitas."Kekuatanmu hanya sebatas ini, Harmonizer?" ejek Malakor, seringai dingin terpancar jelas di balik kabut kehampaan wajahnya. Ia semakin menekan pedangnya, mencoba meremukkan pertahanan Arkan.Namun, Arkan tidak membiarkan itu terjadi. Matanya menatap tajam penuh keyakinan. "Keselarasan tidak pernah tunduk pada kehampaan!"Seketika, permata ketiga pada ujung Trisula yang merepresentasikan elemen petir murni menyala sangat terang, berderak hebat mengeluarkan kilatan listrik biru keemasan.Zzzzt... BOOOOOM!Ark

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    90 Runtuh

    Udara di dalam kuil magma kini terasa hangat dan menenangkan, jauh berbeda dari badai dan kekacauan yang sempat melanda sesaat sebelum Arkan menginjakkan kaki di dimensi ini. Retakan-retakan obsidian di dinding kuil telah menyatu kembali, memantulkan cahaya kemerahan yang lembut dari inti purba yang kini berdenyut stabil.Ignis melangkah mendekati Arkan, menepuk bahu sang Harmonizer dengan gestur penuh rasa hormat. Zirah perunggu sang ksatria penjaga masih menyisakan sedikit bekas jelaga, tetapi senyuman di wajahnya menyiratkan kelegaan yang luar biasa."Kau benar-benar membawa keajaiban ke tempat yang hampir mati ini, Arkan," ucap Ignis tulus. "Tanpa dirimu dan Kilin, inti magma itu pasti sudah runtuh dan membawa seluruh gurun ini ke dalam ketiadaan."Kilin di bahu Arkan mendengking pelan, mengibaskan ekornya ke arah Ignis seolah menerima pujian tersebut dengan bangga.Arkan tersenyum tipis, merapikan jubahnya dan menggenggam erat gagang Trisula-nya. "Aku hanya menjalankan apa yang h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status