LOGINBilah energi putih menyilaukan yang tadinya teracung tajam di tangan entitas penjaga itu bergetar hebat. Pendar merah di matanya perlahan berkedip, bertransisi menjadi warna biru safir yang tenang seiring dengan gelombang harmoni yang dipancarkan oleh tongkat Trisula milik Arkan.Ruangan besar itu diselimuti kesunyian tegang. Lyra menahan napasnya, jari-jarinya tetap siaga pada tali busur perak, sementara Kilin merapatkan tubuhnya di bahu Arkan, mengawasi setiap gerak-gerik sang raksasa kristal.Beberapa detik berlalu bagaikan jam. Akhirnya, sang penjaga menurunkan bilah energinya. Suara mekanis yang bergemerincing di kesadaran mereka kembali bergema, kali ini terdengar jauh lebih lembut dan stabil.“Verifikasi selesai... Esensi Harmonizer terdeteksi. Selamat datang kembali, pewaris titisan keseimbangan... Arsip Genesis kini terbuka untukmu.”Begitu suara itu memudar, sang penjaga kristal melangkah mundur perlahan, melebur kembali ke dalam lantai obsidian tanpa menyisakan suara. Cinci
Perayaan agung di Nexus Prime berangsur mereda seiring dengan bergesernya konstelasi bintang di langit kosmik. Cahaya keemasan dari menara utama kini memancarkan pendar yang lebih tenang, memberikan kehangatan bagi seluruh makhluk yang beristirahat di dalam kota antardimensi tersebut.Namun, di ruang observasi tertinggi menara pusat, Arkan tidak memejamkan matanya.Ia berdiri di hadapan layar proyeksi kristal besar yang menampilkan peta galaksi secara menyeluruh. Di sampingnya, Kilin duduk anteng di atas meja, ekor kecilnya melingkar rapi sementara matanya yang tajam mengawasi titik-titik cahaya yang berkedip di layar.Tiba-tiba, sebuah titik kecil di ujung peta—jauh di luar sektor selatan Symphonia, tersembunyi di balik gugusan gas kosmik yang dikenal sebagai Nebula Hitam—berkedip dengan warna merah pekat yang tidak wajar. Sinyal itu sangat lemah, terputus-putus, seolah berjuang menembus dinding tebal radiasi ruang hampa.Arkan menyipitkan matanya. Ia mendekatkan tangan kanannya ke p
Pendar hangat dari permata keemasan Trisula perlahan meresap ke dalam diri sang peri berambut perak, membuat napasnya yang tadinya tersengat kepanikan mulai berangsur tenang. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Arkan dan rekan-rekannya dengan binar kelegaan yang terpancar jelas di matanya."Terima kasih... kehangatan senjatamu berhasil meredam getaran sumbang di dalam dadaku," ucap sang peri dengan suara lembut bagaikan denting harpa. "Namaku Lyrin, salah satu penjaga terakhir dari Kuil Senandung Abadi di dimensi Symphonia ini."Balthazar mendengus pelan, menurunkan palu sucinya sedikit ke tanah sambil melipat tangan di dada. "Katakan, Lyrin, apa sebenarnya yang disebut Discordia itu? Apakah itu makhluk ciptaan Vaelor yang tertinggal, atau sesuatu yang lain?"Lyrin menggeleng pelan, wajahnya menyiratkan kecemasan mendalam. "Bukan ciptaan langsung makhluk bernama Vaelor, tetapi sisa-sisa benang void yang ia tinggalkan di celah probabilitas dimensi kami telah merasuki Orchestral Core—inti k
Pusaran cahaya keperakan membuka kembali jalan bagi Arkan menuju titik pusat galaksi. Begitu ia melangkah keluar dari portal dimensi Chronos, terpaan angin kosmik yang hangat dan aroma debu bintang yang menenangkan langsung menyambut kedatangannya di anjungan utama Nexus Prime.Di kejauhan, kota megah itu tampak semakin hidup. Jembatan-jembatan cahaya transparan menghubungkan berbagai menara kristal tempat para utusan dari dimensi es, gurun magma, hingga dataran langit saling bertukar pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Bukti nyata bahwa kedamaian lintas dimensi bukan lagi sekadar angan-angan.Kilin di bahu Arkan melompat turun, berlari kecil di atas lantai batu putih sambil mendengking riang, merayakan kembalian mereka dari pertempuran yang melelahkan. "Nyuu-nya!""Selamat datang kembali, Harmonizer!"Sebuah suara akrab menyapa dari balik pilar megah. Balthazar melangkah mendekat dengan senyum lebar terkembang di wajahnya, membawa gulungan perkamen tebal berisi rancangan arsitektu
Lorong di dalam menara Chronos tidak mematuhi hukum ruang dan waktu yang normal. Begitu Arkan melangkah melewati ambang pintu utama, dinding-dinding batu obsidian bercorak keperakan bergeser pelan, membelah diri menjadi puluhan koridor identik yang berputar perlahan dalam dimensi probabilitas yang berbeda.Kilin di bahu Arkan mendesis waspada, ekor kecilnya mengibas ke kiri untuk memberi isyarat adanya anomali spasial di koridor sebelah. "Nyuu...!""Waspadalah, Arkan," suara proyeksi Kaelen berbisik lembut, melayang mengikuti langkah mereka di udara. "Vaelor telah mengunci jalur utama. Lorong-lorong ini adalah perangkap probabilitas. Jika kau memilih jalur yang salah, kesadaranmu bisa terperangkap dalam perulangan waktu selamanya."Arkan berhenti sejenak. Ia menutup matanya perlahan, menarik napas dalam-dalam dan menyelaraskan detak jantungnya dengan resonansi kosmik Trisula. Di dalam benaknya, ia tidak melihat lorong-lorong yang membingungkan itu sebagai labirin yang rumit, melainkan
Pendar cahaya keemasan dari Trisula perlahan meredup, meninggalkan proyeksi gelombang energi samar yang berdenyut lembut di udara atas anjungan Nexus Prime. Sinyal itu tipis, namun memiliki frekuensi distorsi yang sangat khas—bukan sisa-sisa kehampaan Malakor yang kasar, melainkan sesuatu yang jauh lebih halus, hampir menyerupai bisikan.Kilin di bahu Arkan menegakkan tubuhnya, telinganya bergerak tajam menangkap getaran frekuensi tersebut, lalu mengeluarkan dengkingan rendah yang memperingatkan. "Nyuu... chruu..."Lyra melangkah mendekat, matanya menyipit menatap sisa-sisa proyeksi cahaya yang mulai memudar. "Frekuensi itu... tidak berasal dari dimensi-dimensi yang telah kita kenal. Letaknya jauh di luar gugusan terluar galaksi Nexus."Balthazar mendengus pelan sambil melipat tangan di dadanya yang bidang. "Bisa jadi itu hanya anomali kosmik biasa. Setelah ledakan besar benteng Malakor, turbulensi ruang dan waktu pasti masih menyisakan riak di beberapa sektor terpencil.""Tidak, Balt







