Share

BAB 4

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-06-13 23:31:55

#Perhatian yang Berbahaya

" parfum apa yang Anda pakai hari ini..."

Jantung Arga langsung berdegup lebih cepat.

"...itu parfum apa?"

Untuk beberapa saat, Arga hanya bisa berdiri mematung di depan pintu ruangan Nadia. Otaknya bekerja keras mencari jawaban yang terdengar masuk akal.

"Parfum murah, Bu," jawabnya akhirnya.

Nadia menatapnya cukup lama.

Tatapan itu membuat Arga semakin tidak nyaman.

"Murah?" ulang Nadia pelan.

"Iya, Bu."

Nadia mengangguk kecil, meskipun wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.

"Aromanya unik."

Arga hanya tersenyum canggung.

"Kalau tidak ada lagi, saya kembali bekerja dulu, Bu."

"Silakan."

Arga segera keluar dari ruangan itu sebelum pertanyaan lain muncul.

Hari itu menjadi hari paling aneh selama dua tahun Arga bekerja di Hotel Grand Meridian.

Biasanya keberadaannya nyaris tidak terlihat.

Beberapa staf sering lupa namanya.

Namun sekarang semuanya terasa berbeda.

Saat melewati area resepsionis, salah satu pegawai wanita langsung tersenyum.

"Arga, sudah makan siang?"

Arga sampai menoleh ke belakang untuk memastikan pertanyaan itu memang ditujukan kepadanya.

"Sudah."

"Syukurlah."

Wanita itu tersenyum lagi sebelum kembali bekerja.

Arga mengerutkan dahi.

Namun keanehan itu terus berlanjut hingga sore.

Semakin banyak orang yang memperhatikannya.

Semakin banyak orang yang mengingat keberadaannya.

Bahkan beberapa staf wanita yang biasanya tidak pernah berbicara dengannya kini beberapa kali mencari alasan untuk mengobrol.

Sebaliknya, para staf pria mulai menunjukkan ekspresi tidak senang.

Terutama ketika mereka melihat Nadia beberapa kali kembali memanggil Arga ke ruangannya.

Malam harinya, setelah pulang ke kontrakan, Arga tidak langsung tidur.

Pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan.

Apakah semua ini karena parfum?

Ia membuka kotak tua itu sekali lagi.

Botol hitam tersebut masih berada di tempatnya.

Namun setelah kejadian kemarin, Arga tidak lagi menganggap benda itu sebagai parfum biasa.

Dengan ragu-ragu, ia mengambil botol tersebut.

"Aku cuma ingin memastikan."

Tangannya sedikit gemetar.

Kalau memang parfum ini penyebab semuanya, berarti apa yang tertulis di buku harian itu benar.

Arga menarik napas panjang.

Lalu menyemprotkan satu semprotan kecil ke bagian lehernya.

Pssst...

Kabut tipis kembali menyentuh kulitnya.

Aroma madu terbakar dan vanila hangat langsung menyebar.

Sensasi nyaman itu muncul lagi.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Membuat seluruh tubuhnya terasa ringan.

Namun kali ini Arga tidak tertidur.

Ia hanya duduk selama beberapa menit sambil menunggu sesuatu terjadi.

Sayangnya tidak terjadi apa-apa.

Keesokan paginya.

Arga baru saja mulai bekerja ketika suara bentakan yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

"Arga!"

Ia langsung tahu siapa pemilik suara tersebut.

Frans.

Manajer yang hampir selalu menemukan alasan untuk memarahinya.

Arga menghentikan pekerjaannya.

"Ada apa, Pak?"

Frans mendekat dengan wajah tidak senang.

"Akhir-akhir ini kamu rajin sekali mondar-mandir ke lantai manajemen."

"Saya dipanggil, Pak."

"Oh ya?"

"Jangan berpikir saya tidak tahu apa yang kamu lakukan."

Arga semakin bingung.

"Maksud Bapak?"

"Kamu cari muka."

Beberapa staf yang berada di sekitar langsung memperhatikan.

Frans tampak semakin bersemangat.

"Jangan mentang-mentang Bu Nadia memanggilmu beberapa kali lalu merasa jadi orang penting."

Wajah Arga memanas.

Ia ingin membalas.

Namun pengalaman mengajarinya bahwa membantah Frans hanya akan memperburuk keadaan.

"Saya tidak "

"Sudah!"

Frans memotong.

"Kerjakan saja tugasmu. Jangan sibuk menarik perhatian atasan."

Suasana menjadi canggung.

Beberapa staf saling bertukar pandang.

Tidak ada yang berani ikut campur.

Sampai sebuah suara dingin terdengar dari belakang mereka.

"Pak Frans."

Seketika seluruh koridor menjadi sunyi.

Nadia berdiri beberapa meter di belakang mereka.

Tatapan matanya tajam.

"Apa yang sedang terjadi?" tanyanya.

"Tidak ada apa-apa, Bu."

"Oh ya?"

Nadia melangkah mendekat.

"Karena dari yang saya dengar, Anda sedang menuduh salah satu staf tanpa alasan yang jelas."

Wajah Frans langsung berubah.

"Bukan begitu maksud saya, Bu."

"Saya memanggil Arga karena kebutuhan pekerjaan."

Nada suara Nadia tetap tenang.

Namun justru itulah yang membuat suasana semakin menegangkan.

"Jika Anda memiliki keberatan terhadap keputusan saya, silakan sampaikan langsung kepada saya."

Seluruh staf hanya bisa menatap dengan mata membesar.

Wanita yang biasanya tidak pernah membela siapa pun.

Kini sedang membela seorang petugas kebersihan di depan semua orang.

Dan orang itu adalah Arga.

"Maaf, Bu," ucap Frans akhirnya.

Nadia tidak menjawab.

Ia hanya menatap Frans beberapa detik sebelum berbalik dan pergi.

Koridor masih sunyi beberapa saat setelah kepergiannya.

Sore hari.

Arga mendapat tugas memeriksa stok perlengkapan kebersihan di gudang belakang.

Gudang itu cukup besar dan jarang digunakan staf lain kecuali saat mengambil perlengkapan.

Hanya suara kipas tua yang berputar pelan di langit-langit.

Arga sedang menghitung kardus cairan pembersih ketika suara pintu terbuka terdengar.

Ia menoleh.

Dan langsung membeku.

Nadia berdiri di ambang pintu.

"Bu Nadia?"

Wanita itu masuk tanpa menjawab.

Lalu menutup pintu.

Suara kunci yang diputar membuat jantung Arga langsung berdetak lebih cepat.

Nadia mengunci pintu gudang.

"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"

Nadia tidak langsung menjawab.

Ia justru melangkah mendekat.

Arga refleks mundur.

Namun di belakangnya hanya ada rak-rak penyimpanan.

Kini jarak mereka tinggal beberapa langkah saja.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arga melihat ekspresi Nadia yang berbeda.

Tidak dingin, Tidak tegas, Tidak berjarak.

Melainkan bingung, Sangat bingung.

Seolah wanita itu sedang berjuang melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri.

"Aku tidak mengerti," ucap Nadia pelan.

"Bu?"

Nadia menatap lurus ke matanya.

"Aku bahkan hampir tidak mengenalmu."

Arga tidak tahu harus menjawab apa.

"Tapi sejak kemarin..." lanjut Nadia.

Wanita itu menggenggam tangannya sendiri seolah berusaha menenangkan diri.

"Aku terus memikirkanmu."

Jantung Arga serasa berhenti berdetak.

Nadia menurunkan pandangannya sesaat sebelum kembali menatapnya.

"Aku mencoba fokus bekerja."

"Aku mencoba mengabaikannya."

"Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini tidak masuk akal."

Napas Arga terasa semakin berat.

Karena dari cara Nadia berbicara, wanita itu benar-benar serius.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, Arga."

Langkah Nadia kembali maju.

Kini jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter.

"Dan itu membuatku takut."

Arga merasakan aroma parfum di lehernya tiba-tiba menjadi lebih hangat.

Seolah sedang bereaksi terhadap sesuatu.

Nadia tampaknya merasakan hal yang sama.

Tatapan matanya berubah.

Menjadi jauh lebih dalam.

Lalu perlahan, wanita itu mengangkat tangannya dan menyentuh kerah baju Arga.

"Parfum itu..."

bisiknya pelan.

"Kenapa aku merasa pernah menciumnya sebelumnya?"

Tubuh Arga langsung membeku.

Karena pada saat yang sama, suara yang pernah ia dengar di Kamar 1313 kembali berbisik di dalam kepalanya.

"Dia mengenal aroma itu."

Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan kotak misterius tersebut, Arga benar-benar merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 43

    Hutan kota itu kembali sunyi setelah semuanya berakhir. Tidak ada lagi suara perdebatan, tidak ada lagi langkah kaki yang terburu-buru, hanya suara angin yang melewati dedaunan dan gemericik air dari parit kecil di sepanjang jalan setapak.Arga berdiri beberapa meter dari tempat Frans terbaring. Napasnya masih terdengar berat, sementara jemarinya menggenggam botol parfum hitam yang kini terasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya.Ia menatap cairan di dalam botol dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Jumlahnya bertambah.Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat Arga memahami sesuatu yang mengerikan.Parfum itu menyukainya.Atau mungkin, lebih tepatnya, parfum tersebut menyukai apa yang baru saja ia lakukan.Arga perlahan menunduk dan memandang Frans untuk terakhir kalinya. Pria yang beberapa jam lalu masih berjalan memasuki hutan dengan keyakinan bahwa dirinya sedang menghadiri pertemuan perusahaan kini telah menjadi k

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 42

    DOSA PERTAMASisa-sisa rasa kemanusiaan yang pernah hidup di dalam diri Arga kini hampir tidak lagi memiliki tempat untuk bertahan. Hari demi hari, perubahan itu semakin nyata, bukan hanya dalam cara ia memandang orang lain, tetapi juga dalam cara ia mengambil keputusan. Dahulu, Arga masih bisa merasa kasihan ketika melihat seseorang kesusahan, masih mampu merasa bersalah setelah melakukan kesalahan, dan masih memiliki keinginan untuk memperbaiki keadaan ketika tindakannya merugikan orang lain. Sekarang semua perasaan tersebut seolah telah dikikis sedikit demi sedikit oleh sesuatu yang tidak pernah terlihat, tetapi terus tumbuh di dalam dirinya.Orang-orang di sekitarnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang berbeda dalam pandangannya. Ada yang ia anggap berguna, ada yang dapat menjadi sumber energi, sementara sisanya hanya dianggap sebagai penghalang yang tidak perlu dipertahankan keberadaannya. Bahkan ketika ia menyadari bahwa pikirannya telah sampai pada titik tersebut, Arga tidak

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 41

    Gejala Pertama yang Tak TerlihatKeputusan itu datang begitu saja, tetapi setelah muncul di dalam kepalanya, Arga tidak lagi mampu mengusirnya. Sosok Frans yang berdiri di ujung lorong terasa seperti sebuah noda yang mengganggu pemandangan sempurna yang sedang ia bangun, terutama karena pria itu mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini berusaha Arga sembunyikan dari semua orang.Arga masih berdiri di balik kaca ruangannya ketika Frans akhirnya berbalik dan berjalan menuju lift bersama dua karyawan lainnya. Wajah Arga tidak menunjukkan kemarahan, bahkan ia sempat tersenyum tipis seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi tangan yang berada di dalam saku celananya masih menggenggam botol parfum dengan erat.Botol itu terasa hangat.Bukan sekadar hangat seperti terkena suhu tubuh, melainkan seperti memiliki denyut kecil yang bergerak dari dasar botol menuju tutupnya. Arga bisa merasakan getaran halus itu melalui telapak tangannya, seolah parf

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 40

    Gejala Pertama yang Tak TerlihatDi dalam ruangan berpendingin udara yang megah di lantai paling atas gedung Wijaya Group, Arga menikmati setiap detik dari puncak kejayaannya yang dahulu bahkan tidak pernah berani ia bayangkan. Duduk di balik meja kerja dari kayu jati yang kokoh dengan dinding kaca yang memperlihatkan gemerlap ibu kota dari ketinggian, ia tidak lagi perlu bersusah payah membujuk siapa pun ataupun mencari muka kepada orang-orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya. Setiap perintah yang keluar dari mulutnya segera dilaksanakan, sementara para staf yang menerima instruksi darinya lebih sering menundukkan kepala daripada mempertanyakan keputusan yang dibuatnya.Perubahan itu terasa begitu sempurna hingga Arga sendiri mulai lupa bagaimana rasanya menjadi seorang petugas kebersihan yang dahulu harus berhati-hati ketika berbicara kepada para manajer. Kini, orang-orang yang dulu bahkan tidak mau menoleh kepadanya justru berdiri menunggu persetujuannya, seolah-olah masa

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 39

    GAIRAH TERLARANGAda sesuatu yang salah di dalam tubuh Arga, sebuah dorongan liar yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hawa nafsu itu merayap dari pangkal tulang belakang, membakar setiap jengkal pembuluh darahnya dengan sensasi panas yang nyaris membuatnya gila. Ia tidak lagi sekadar menginginkan perhatian atau pesona magis dari parfum terkutuk itu, melainkan sebuah gairah lapar yang menuntut untuk dibuaskan secara brutal.Setiap kali matanya menangkap sosok wanita yang melintas di depannya, dadanya bergemuruh hebat dan pikirannya dipenuhi fantasi liar untuk bercumbu dengan mereka saat itu juga. Hasrat tersebut begitu mendesak hingga pandangannya sering kali menggelap, menyisakan bayangan gairah yang sulit dikekang. Terlebih lagi saat ia berhadapan dengan Rosela.Aroma tubuh Rosela, cara wanita itu menatapnya dengan kepatuhan kosong, hingga lekuk lehernya yang terbuka seolah menjadi umpan paling mematikan bagi Arga. Setiap kali Rosela berada di dekatnya, Arga harus mengepalkan tang

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 38

    Kebangkitan"Karena tubuhmu sudah mengenalku jauh sebelum kau mengenal dirimu sendiri."Kalimat itu masih menggantung di udara ketika Arga menatap cermin dengan napas yang tidak beraturan. Sosok pria tua di dalam pantulan tersebut masih berdiri dengan senyum tipis yang membuat bulu kuduknya meremang, tetapi kali ini Arga tidak lagi merasa hanya sedang berhadapan dengan bayangan yang berusaha menakut-nakutinya. Ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sekadar penampakan, sebab untuk pertama kalinya ia mulai memahami bahwa sosok tersebut mungkin memiliki hubungan dengan dirinya yang tidak pernah ia ketahui.Arga menundukkan kepala dan kembali melihat album foto yang berserakan di lantai. Beberapa lembar foto masa kecilnya masih terbuka, tetapi wajahnya yang seharusnya menjadi bagian paling akrab dari kenangan tersebut perlahan berubah menjadi wajah asing yang tidak pernah ingin ia kenal. Ia meraih salah satu foto dengan tangan gemetar, mengusap permukaann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status