LOGIN#Perhatian yang Berbahaya
" parfum apa yang Anda pakai hari ini..." Jantung Arga langsung berdegup lebih cepat. "...itu parfum apa?" Untuk beberapa saat, Arga hanya bisa berdiri mematung di depan pintu ruangan Nadia. Otaknya bekerja keras mencari jawaban yang terdengar masuk akal. "Parfum murah, Bu," jawabnya akhirnya. Nadia menatapnya cukup lama. Tatapan itu membuat Arga semakin tidak nyaman. "Murah?" ulang Nadia pelan. "Iya, Bu." Nadia mengangguk kecil, meskipun wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya. "Aromanya unik." Arga hanya tersenyum canggung. "Kalau tidak ada lagi, saya kembali bekerja dulu, Bu." "Silakan." Arga segera keluar dari ruangan itu sebelum pertanyaan lain muncul. Hari itu menjadi hari paling aneh selama dua tahun Arga bekerja di Hotel Grand Meridian. Biasanya keberadaannya nyaris tidak terlihat. Beberapa staf sering lupa namanya. Namun sekarang semuanya terasa berbeda. Saat melewati area resepsionis, salah satu pegawai wanita langsung tersenyum. "Arga, sudah makan siang?" Arga sampai menoleh ke belakang untuk memastikan pertanyaan itu memang ditujukan kepadanya. "Sudah." "Syukurlah." Wanita itu tersenyum lagi sebelum kembali bekerja. Arga mengerutkan dahi. Namun keanehan itu terus berlanjut hingga sore. Semakin banyak orang yang memperhatikannya. Semakin banyak orang yang mengingat keberadaannya. Bahkan beberapa staf wanita yang biasanya tidak pernah berbicara dengannya kini beberapa kali mencari alasan untuk mengobrol. Sebaliknya, para staf pria mulai menunjukkan ekspresi tidak senang. Terutama ketika mereka melihat Nadia beberapa kali kembali memanggil Arga ke ruangannya. Malam harinya, setelah pulang ke kontrakan, Arga tidak langsung tidur. Pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan. Apakah semua ini karena parfum? Ia membuka kotak tua itu sekali lagi. Botol hitam tersebut masih berada di tempatnya. Namun setelah kejadian kemarin, Arga tidak lagi menganggap benda itu sebagai parfum biasa. Dengan ragu-ragu, ia mengambil botol tersebut. "Aku cuma ingin memastikan." Tangannya sedikit gemetar. Kalau memang parfum ini penyebab semuanya, berarti apa yang tertulis di buku harian itu benar. Arga menarik napas panjang. Lalu menyemprotkan satu semprotan kecil ke bagian lehernya. Pssst... Kabut tipis kembali menyentuh kulitnya. Aroma madu terbakar dan vanila hangat langsung menyebar. Sensasi nyaman itu muncul lagi. Lebih kuat dari sebelumnya. Membuat seluruh tubuhnya terasa ringan. Namun kali ini Arga tidak tertidur. Ia hanya duduk selama beberapa menit sambil menunggu sesuatu terjadi. Sayangnya tidak terjadi apa-apa. Keesokan paginya. Arga baru saja mulai bekerja ketika suara bentakan yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang. "Arga!" Ia langsung tahu siapa pemilik suara tersebut. Frans. Manajer yang hampir selalu menemukan alasan untuk memarahinya. Arga menghentikan pekerjaannya. "Ada apa, Pak?" Frans mendekat dengan wajah tidak senang. "Akhir-akhir ini kamu rajin sekali mondar-mandir ke lantai manajemen." "Saya dipanggil, Pak." "Oh ya?" "Jangan berpikir saya tidak tahu apa yang kamu lakukan." Arga semakin bingung. "Maksud Bapak?" "Kamu cari muka." Beberapa staf yang berada di sekitar langsung memperhatikan. Frans tampak semakin bersemangat. "Jangan mentang-mentang Bu Nadia memanggilmu beberapa kali lalu merasa jadi orang penting." Wajah Arga memanas. Ia ingin membalas. Namun pengalaman mengajarinya bahwa membantah Frans hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak " "Sudah!" Frans memotong. "Kerjakan saja tugasmu. Jangan sibuk menarik perhatian atasan." Suasana menjadi canggung. Beberapa staf saling bertukar pandang. Tidak ada yang berani ikut campur. Sampai sebuah suara dingin terdengar dari belakang mereka. "Pak Frans." Seketika seluruh koridor menjadi sunyi. Nadia berdiri beberapa meter di belakang mereka. Tatapan matanya tajam. "Apa yang sedang terjadi?" tanyanya. "Tidak ada apa-apa, Bu." "Oh ya?" Nadia melangkah mendekat. "Karena dari yang saya dengar, Anda sedang menuduh salah satu staf tanpa alasan yang jelas." Wajah Frans langsung berubah. "Bukan begitu maksud saya, Bu." "Saya memanggil Arga karena kebutuhan pekerjaan." Nada suara Nadia tetap tenang. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin menegangkan. "Jika Anda memiliki keberatan terhadap keputusan saya, silakan sampaikan langsung kepada saya." Seluruh staf hanya bisa menatap dengan mata membesar. Wanita yang biasanya tidak pernah membela siapa pun. Kini sedang membela seorang petugas kebersihan di depan semua orang. Dan orang itu adalah Arga. "Maaf, Bu," ucap Frans akhirnya. Nadia tidak menjawab. Ia hanya menatap Frans beberapa detik sebelum berbalik dan pergi. Koridor masih sunyi beberapa saat setelah kepergiannya. Sore hari. Arga mendapat tugas memeriksa stok perlengkapan kebersihan di gudang belakang. Gudang itu cukup besar dan jarang digunakan staf lain kecuali saat mengambil perlengkapan. Hanya suara kipas tua yang berputar pelan di langit-langit. Arga sedang menghitung kardus cairan pembersih ketika suara pintu terbuka terdengar. Ia menoleh. Dan langsung membeku. Nadia berdiri di ambang pintu. "Bu Nadia?" Wanita itu masuk tanpa menjawab. Lalu menutup pintu. Suara kunci yang diputar membuat jantung Arga langsung berdetak lebih cepat. Nadia mengunci pintu gudang. "Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Nadia tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Arga refleks mundur. Namun di belakangnya hanya ada rak-rak penyimpanan. Kini jarak mereka tinggal beberapa langkah saja. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arga melihat ekspresi Nadia yang berbeda. Tidak dingin, Tidak tegas, Tidak berjarak. Melainkan bingung, Sangat bingung. Seolah wanita itu sedang berjuang melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri. "Aku tidak mengerti," ucap Nadia pelan. "Bu?" Nadia menatap lurus ke matanya. "Aku bahkan hampir tidak mengenalmu." Arga tidak tahu harus menjawab apa. "Tapi sejak kemarin..." lanjut Nadia. Wanita itu menggenggam tangannya sendiri seolah berusaha menenangkan diri. "Aku terus memikirkanmu." Jantung Arga serasa berhenti berdetak. Nadia menurunkan pandangannya sesaat sebelum kembali menatapnya. "Aku mencoba fokus bekerja." "Aku mencoba mengabaikannya." "Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini tidak masuk akal." Napas Arga terasa semakin berat. Karena dari cara Nadia berbicara, wanita itu benar-benar serius. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, Arga." Langkah Nadia kembali maju. Kini jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter. "Dan itu membuatku takut." Arga merasakan aroma parfum di lehernya tiba-tiba menjadi lebih hangat. Seolah sedang bereaksi terhadap sesuatu. Nadia tampaknya merasakan hal yang sama. Tatapan matanya berubah. Menjadi jauh lebih dalam. Lalu perlahan, wanita itu mengangkat tangannya dan menyentuh kerah baju Arga. "Parfum itu..." bisiknya pelan. "Kenapa aku merasa pernah menciumnya sebelumnya?" Tubuh Arga langsung membeku. Karena pada saat yang sama, suara yang pernah ia dengar di Kamar 1313 kembali berbisik di dalam kepalanya. "Dia mengenal aroma itu." Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan kotak misterius tersebut, Arga benar-benar merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.OBSESI ENERGI WANITA Tangan Arga mencengkeram pergelangan tangan Rosela dengan kekuatan yang cukup kuat untuk membuatnya nyeri sekaligus tak berdaya melawan, lalu menariknya berjalan masuk menuju kamar utama mereka ruangan yang dulu rosela pikir adalah kamar pribadinya, namun kini terasa begitu asing, dingin, dan mengerikan di bawah bayang-bayang sosok yang berdiri di sampingnya. Langkah Rosela terasa berat seakan kakinya tertanam di lantai, setiap langkah yang dipaksakan mengikuti arah tarikan tangan itu terasa seperti berjalan menuju tempat hukuman yang tak terelakkan, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti, menyadari bahwa tidak ada suara yang akan didengar, tidak ada bantuan yang akan datang, dan tidak ada jalan keluar yang tersisa baginya malam ini. Pintu tertutup rapat di belakang mereka, bunyi kunci yang diputar terdengar nyaring di keheningan ruangan itu, seakan menandakan bahwa pintu itu tidak hanya menutup
TUJUAN SEBENARNYA Rosela berdiri mematung di tempatnya, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat seakan diguncang dingin yang tak tertahankan, meskipun udara di sekitarnya justru terasa panas dan menyesakkan. Ia sama sekali tidak mampu memalingkan wajah maupun menggerakkan seujung jari pun, bahkan ketika setiap tarikan napas terasa begitu berat dan menyakitkan, seakan ada sesuatu yang menindas dadanya tanpa ampun. Pemandangan yang baru saja ia lihat sekilas dari balik tubuh Arga kini terpatri begitu jelas di dalam pikirannya, seakan terbakar permanen di sana: Nadia, yang dulu selalu berdiri tegak dan penuh percaya diri, kini terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, tubuhnya dibiarkan tanpa perlindungan apa pun, terikat dalam kesunyian yang memilukan tanpa ada tanda-tanda ia akan segera dibebaskan. Rasa bersalah yang luar biasa segera menyergap hati Rosela saat menyadari bahwa keputusan Nadia untuk berpihak kepadanyalah yang
Di Balik Pintu TertutupSuara teriakan yang memecah keheningan malam itu terdengar begitu tajam, menusuk hingga ke tulang sumsum, seakan setiap jengkal rasa sakit dan ketakutan dikumandangkan sepenuhnya dari balik pintu kayu tebal yang kini tertutup rapat di hadapan Rosela. Ia hanya berdiri agak jauh di sana, membiarkan kakinya menancap di lantai dingin tanpa mampu melangkah maju maupun mundur. Sementara itu, air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti, membawa rasa bersalah yang begitu berat, bercampur dengan ketakutan yang tak terlukiskan.Di dalam sana, Nadia perempuan yang dulu pernah berdiri di sisi Arga, yang pernah bersamanya, bahkan sempat menjadi lawan sekaligus saingannya sedang menanggung akibat dari keberaniannya untuk memilih berpihak kepada Rosela.Setelah sekian lama terjebak dalam keraguan, setelah menyadari segala kebenaran tentang parfum itu, tentang pengaruh yang menguasai Arga, dan tentang rencana mengerikan yang sedang berjalan, akhirnya Nadia memutuskan
PINTU YANG TERTUTUPArga tidak memberikan kesempatan kepada Nadia untuk mengatakan apa pun. Dalam sekejap, tangannya meraih rambut perempuan itu dengan gerakan kasar, membuat Nadia terkejut dan refleks berusaha melepaskan genggamannya. Namun, tenaga Arga jauh lebih kuat. Ia menarik Nadia menjauh dari Rosela dan menyeretnya menuju ruangan sebelah, sementara langkah Nadia beberapa kali tersandung karena ia berusaha mempertahankan keseimbangannya.“Arga, lepaskan aku!” teriak Nadia dengan suara bergetar.Rosela yang melihat kejadian itu langsung bergerak maju, tetapi kakinya terasa begitu lemah hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Ia ingin menghentikan Arga, ingin menarik Nadia kembali, tetapi ketakutan yang begitu besar membuat tubuhnya seolah tidak mau mendengarkan perintahnya.“Arga, jangan!”Arga hanya menoleh sekilas kepadanya. Tatapan sapphire itu membuat Rosela langsung berhenti.Tidak ada lagi Arga yang
HUKUMAN ARGALaki-laki yang berdiri di hadapan mereka memang masih tampak seperti Arga yang selama ini mereka kenal, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan melihat perubahan pada wajah atau sikapnya. Tatapannya terlihat jauh lebih dingin, ekspresinya terasa asing, dan yang paling membuat Rosela merasa tidak nyaman adalah senyum yang perlahan muncul di bibirnya. Senyum itu sama sekali bukan senyum Arga yang dulu. Ada sesuatu yang mengerikan di baliknya, sesuatu yang membuat tubuh Rosela seketika menegang dan tanpa sadar membuatnya menahan napas.Arga menatap mereka berdua secara bergantian tanpa mengatakan apa pun selama beberapa saat, seolah sedang menikmati keterkejutan yang terlihat jelas di wajah mereka. Kemudian, senyum di bibirnya perlahan melebar, berubah menjadi senyum yang begitu aneh dan terasa seperti senyum seseorang yang sudah tidak lagi memiliki keraguan ataupun rasa bersalah dalam d
ArgaElena menatapnya dengan ragu.“Bagaimana caranya kau akan mencegah hal itu terjadi jika kau bahkan tidak bisa menghapus darahmu sendiri?”“Aku akan menghancurkan parfumnya dulu,” jawab Erevan mantap.“Kalau hanya parfumnya yang dihancurkan, belum tentu cukup karena kekuatannya sudah terbagi ke dalam banyak hal,” koreksi Elena dengan lembut, namun jujur.“Kalau begitu, aku akan menghancurkan sumber kekuatannya, apa pun yang terjadi,” ucapnya dengan api yang kembali menyala di matanya.“Elena tahu itu tidak akan mudah dan harganya mungkin sangat mahal,” peringatnya dengan cemas.“Tidak ada yang mudah sejak aku dilahirkan ke dalam keluarga ini,” balas Erevan tegas sambil berjalan menuju meja di sudut ruangan dan mengambil buku tua yang sebelumnya menjadi pusat perhatian mereka berdua.Ia membukanya perlahan dengan hati-hati, menelusuri halaman-halaman tua yang dipenuhi tulisan tangan kuno yang sebagian besar







