LOGIN#Aroma Pertama
Sesuatu yang dingin menyentuh bahu Arga dari belakang. Tubuhnya langsung menegang. Dengan jantung berdegup kencang, ia membalikkan badan secepat mungkin. Namun tidak ada siapa-siapa. Ruangan kontrakan itu tetap kosong seperti sebelumnya. Hanya ada meja kayu tua, ranjang sempit, dan kotak misterius yang masih terbuka di hadapannya. Arga berdiri beberapa saat sambil mengatur napas. Mungkin aku terlalu takut. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Lampu kamar yang tadi padam perlahan menyala kembali. Dua titik merah yang sempat muncul di sudut ruangan juga telah menghilang begitu saja. Namun kejadian malam ini sudah cukup membuat kepalanya terasa penuh. Ia kembali duduk di depan meja dan menatap isi kotak tersebut. Botol parfum hitam. Buku harian tua. Dan kunci perak kebiruan. Ketiga benda itu terlihat biasa. Tetapi semua yang terjadi sejak ia menemukannya sama sekali tidak biasa. Setelah membaca buku harian itu beberapa kali, Arga akhirnya mengembuskan napas panjang. Semakin lama ia membaca, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Pewaris. Rahasia Kehidupan. Dan peringatan aneh yang terus terngiang dalam pikirannya. GUNAKAN SEPERLUNYA. JANGAN SERAKAH. Arga menutup buku harian itu perlahan. Pandangannya kemudian beralih pada botol parfum hitam yang masih berada di dalam kotak. Botol itu tampak biasa, Tidak ada ukiran emas, Tidak ada batu permata. Tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa benda tersebut memiliki kekuatan misterius. Dengan rasa penasaran yang semakin besar, Arga mengambil botol itu dan mengamatinya lebih dekat. Permukaan kacanya terasa dingin. Seolah-olah botol itu baru saja dikeluarkan dari dalam lemari pendingin. Arga memutar botol tersebut ke berbagai arah sambil mencoba melihat isi di dalamnya. Namun kaca hitam legam itu sama sekali tidak memperlihatkan apa pun. Saat itulah sesuatu yang tidak terduga terjadi. Pssst... Suara semprotan pelan terdengar dari ujung botol. Arga bahkan tidak sempat bereaksi. Kabut tipis parfum langsung menyembur sendiri dan mengenai bagian leher serta kerah bajunya. "Astaga!" Arga buru-buru menjauh. Namun semuanya sudah terlambat. Aroma parfum itu sudah menempel di tubuhnya. Sensasi hangat segera menyebar dari leher hingga ke bahunya. Bukan rasa panas yang menyakitkan. Sebaliknya, sensasi itu terasa sangat nyaman. Sangat menenangkan. Seolah tubuhnya sedang direndam dalam air hangat setelah seharian bekerja keras. Arga mengangkat tangan lalu mengusap bagian lehernya beberapa kali. Aroma parfum tersebut kini tercium jelas. Perpaduan unik antara madu yang sedikit terbakar dengan vanila hangat. Dan entah kenapa terasa begitu memikat. Untuk beberapa detik, Arga bahkan merasa enggan menghilangkan aromanya. Namun rasa lelah yang luar biasa tiba-tiba menyerangnya. Kelopak matanya terasa berat, Sangat berat. Tubuhnya seperti kehilangan seluruh tenaga. "Apa lagi sekarang..." gumamnya pelan. Arga mencoba berdiri. Namun langkahnya limbung. Beberapa saat kemudian ia menyerah dan menjatuhkan tubuh ke atas ranjang. Dalam hitungan detik, kesadarannya tenggelam ke dalam tidur yang sangat lelap. Keesokan paginya. Arga terbangun lebih segar dari biasanya. Anehnya, rasa lelah yang semalam menyerangnya telah hilang sepenuhnya. Bahkan tubuhnya terasa lebih ringan. Ia segera bersiap lalu berangkat ke hotel. Seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Setidaknya itulah yang ia pikirkan. Namun begitu memasuki area staf, beberapa pegawai wanita yang sedang mengobrol mendadak menghentikan percakapan mereka. Pandangan mereka beralih ke arah Arga. "Eh..." "Itu Arga, kan?" "Iya." "Sumpah, hari ini dia kelihatan beda." Arga mengernyit. Dulu keberadaannya hampir tidak pernah diperhatikan. Bahkan banyak pegawai yang sering lupa namanya. Namun pagi ini beberapa orang justru memperhatikannya. Arga memilih mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaan. Sayangnya keanehan itu terus berlanjut. Saat ia membersihkan area restoran, seorang pelayan wanita tiba-tiba menghampirinya. "Arga, kamu sudah sarapan?" Arga tertegun. "Hah?" "Aku cuma nanya." "Oh... sudah." Pelayan itu tersenyum sebelum kembali bekerja. Arga berdiri mematung beberapa saat. Seumur hidupnya belum pernah ada pegawai wanita yang tiba-tiba mengajaknya mengobrol seperti itu. Semakin siang, kejadian serupa terus terjadi. Ada yang menyapa lebih dulu. Ada yang tersenyum saat berpapasan. Bahkan beberapa pegawai wanita yang biasanya tidak pernah memperhatikannya kini terlihat beberapa kali mencuri pandang. Sebaliknya, para pegawai pria mulai menunjukkan ekspresi berbeda. "Aneh banget." "Iya." "Kenapa cewek-cewek jadi perhatian sama Arga?" "Padahal kemarin biasa aja." Arga mendengar sebagian bisikan tersebut. Namun dirinya sendiri juga tidak mengerti. Di lantai manajemen. Seorang wanita cantik sedang memeriksa laporan operasional hotel. Namanya Nadia. Manajer operasional yang terkenal dingin dan sulit didekati. Di mata sebagian besar staf, Nadia adalah wanita yang nyaris sempurna. Dan hampir tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada siapa pun. Namun pagi itu fokusnya terus terganggu. Entah kenapa, pikirannya beberapa kali kembali mengingat satu nama. Arga. Nama yang muncul dalam laporan saksi kasus Kamar 1313. Ia sendiri tidak mengerti alasannya. Pria itu hanyalah seorang petugas kebersihan biasa. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda. Perasaan yang sulit dijelaskan. Akhirnya Nadia menekan tombol interkom. "Tolong panggil Arga ke ruangan saya." Saat menerima panggilan tersebut, Arga langsung gugup. Ia belum pernah dipanggil manajer operasional sepanjang bekerja di hotel ini. Berbagai kemungkinan buruk langsung muncul di kepalanya. Apakah polisi menemukan sesuatu? Apakah Frans melaporkannya? Atau ada masalah lain? Dengan perasaan tidak tenang, Arga berjalan menuju lantai manajemen. Ia mengetuk pintu ruangan Nadia. "Masuk." Suara wanita itu terdengar tenang dari dalam. Arga membuka pintu perlahan. Nadia sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar. Tatapan wanita itu langsung terarah kepadanya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Arga merasa suasana menjadi aneh. Seolah Nadia sedang memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya. "Silakan duduk." Arga duduk perlahan. Nadia menutup map yang sedang dibacanya. "Saya hanya ingin memastikan kembali keterangan Anda mengenai kejadian di Kamar 1313." "Oh... baik, Bu." Percakapan berlangsung hampir dua puluh menit. Sebagian besar hanya pertanyaan biasa. Tentang korban. Tentang kondisi kamar. Dan tentang apa yang dilihat Arga saat pertama kali masuk. Namun sepanjang percakapan itu, Arga beberapa kali merasa Nadia sedang memperhatikannya dengan cara yang berbeda. Bukan seperti atasan yang sedang memeriksa bawahan. Melainkan seperti seseorang yang sedang berusaha memahami sesuatu. Ketika akhirnya wawancara selesai, Nadia mengangguk pelan. "Baik. Terima kasih sudah datang." Arga segera berdiri. "Kalau begitu saya kembali bekerja, Bu." "Silakan." Arga mengangguk lalu berjalan menuju pintu. Namun tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Nadia kembali terdengar dari belakang. "Arga." Arga menoleh. "Ya, Bu?" Nadia terdiam beberapa saat. Tatapannya tampak lebih serius dibanding sebelumnya.OBSESI ENERGI WANITA Tangan Arga mencengkeram pergelangan tangan Rosela dengan kekuatan yang cukup kuat untuk membuatnya nyeri sekaligus tak berdaya melawan, lalu menariknya berjalan masuk menuju kamar utama mereka ruangan yang dulu rosela pikir adalah kamar pribadinya, namun kini terasa begitu asing, dingin, dan mengerikan di bawah bayang-bayang sosok yang berdiri di sampingnya. Langkah Rosela terasa berat seakan kakinya tertanam di lantai, setiap langkah yang dipaksakan mengikuti arah tarikan tangan itu terasa seperti berjalan menuju tempat hukuman yang tak terelakkan, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti, menyadari bahwa tidak ada suara yang akan didengar, tidak ada bantuan yang akan datang, dan tidak ada jalan keluar yang tersisa baginya malam ini. Pintu tertutup rapat di belakang mereka, bunyi kunci yang diputar terdengar nyaring di keheningan ruangan itu, seakan menandakan bahwa pintu itu tidak hanya menutup
TUJUAN SEBENARNYA Rosela berdiri mematung di tempatnya, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat seakan diguncang dingin yang tak tertahankan, meskipun udara di sekitarnya justru terasa panas dan menyesakkan. Ia sama sekali tidak mampu memalingkan wajah maupun menggerakkan seujung jari pun, bahkan ketika setiap tarikan napas terasa begitu berat dan menyakitkan, seakan ada sesuatu yang menindas dadanya tanpa ampun. Pemandangan yang baru saja ia lihat sekilas dari balik tubuh Arga kini terpatri begitu jelas di dalam pikirannya, seakan terbakar permanen di sana: Nadia, yang dulu selalu berdiri tegak dan penuh percaya diri, kini terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, tubuhnya dibiarkan tanpa perlindungan apa pun, terikat dalam kesunyian yang memilukan tanpa ada tanda-tanda ia akan segera dibebaskan. Rasa bersalah yang luar biasa segera menyergap hati Rosela saat menyadari bahwa keputusan Nadia untuk berpihak kepadanyalah yang
Di Balik Pintu TertutupSuara teriakan yang memecah keheningan malam itu terdengar begitu tajam, menusuk hingga ke tulang sumsum, seakan setiap jengkal rasa sakit dan ketakutan dikumandangkan sepenuhnya dari balik pintu kayu tebal yang kini tertutup rapat di hadapan Rosela. Ia hanya berdiri agak jauh di sana, membiarkan kakinya menancap di lantai dingin tanpa mampu melangkah maju maupun mundur. Sementara itu, air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa henti, membawa rasa bersalah yang begitu berat, bercampur dengan ketakutan yang tak terlukiskan.Di dalam sana, Nadia perempuan yang dulu pernah berdiri di sisi Arga, yang pernah bersamanya, bahkan sempat menjadi lawan sekaligus saingannya sedang menanggung akibat dari keberaniannya untuk memilih berpihak kepada Rosela.Setelah sekian lama terjebak dalam keraguan, setelah menyadari segala kebenaran tentang parfum itu, tentang pengaruh yang menguasai Arga, dan tentang rencana mengerikan yang sedang berjalan, akhirnya Nadia memutuskan
PINTU YANG TERTUTUPArga tidak memberikan kesempatan kepada Nadia untuk mengatakan apa pun. Dalam sekejap, tangannya meraih rambut perempuan itu dengan gerakan kasar, membuat Nadia terkejut dan refleks berusaha melepaskan genggamannya. Namun, tenaga Arga jauh lebih kuat. Ia menarik Nadia menjauh dari Rosela dan menyeretnya menuju ruangan sebelah, sementara langkah Nadia beberapa kali tersandung karena ia berusaha mempertahankan keseimbangannya.“Arga, lepaskan aku!” teriak Nadia dengan suara bergetar.Rosela yang melihat kejadian itu langsung bergerak maju, tetapi kakinya terasa begitu lemah hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Ia ingin menghentikan Arga, ingin menarik Nadia kembali, tetapi ketakutan yang begitu besar membuat tubuhnya seolah tidak mau mendengarkan perintahnya.“Arga, jangan!”Arga hanya menoleh sekilas kepadanya. Tatapan sapphire itu membuat Rosela langsung berhenti.Tidak ada lagi Arga yang
HUKUMAN ARGALaki-laki yang berdiri di hadapan mereka memang masih tampak seperti Arga yang selama ini mereka kenal, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan melihat perubahan pada wajah atau sikapnya. Tatapannya terlihat jauh lebih dingin, ekspresinya terasa asing, dan yang paling membuat Rosela merasa tidak nyaman adalah senyum yang perlahan muncul di bibirnya. Senyum itu sama sekali bukan senyum Arga yang dulu. Ada sesuatu yang mengerikan di baliknya, sesuatu yang membuat tubuh Rosela seketika menegang dan tanpa sadar membuatnya menahan napas.Arga menatap mereka berdua secara bergantian tanpa mengatakan apa pun selama beberapa saat, seolah sedang menikmati keterkejutan yang terlihat jelas di wajah mereka. Kemudian, senyum di bibirnya perlahan melebar, berubah menjadi senyum yang begitu aneh dan terasa seperti senyum seseorang yang sudah tidak lagi memiliki keraguan ataupun rasa bersalah dalam d
ArgaElena menatapnya dengan ragu.“Bagaimana caranya kau akan mencegah hal itu terjadi jika kau bahkan tidak bisa menghapus darahmu sendiri?”“Aku akan menghancurkan parfumnya dulu,” jawab Erevan mantap.“Kalau hanya parfumnya yang dihancurkan, belum tentu cukup karena kekuatannya sudah terbagi ke dalam banyak hal,” koreksi Elena dengan lembut, namun jujur.“Kalau begitu, aku akan menghancurkan sumber kekuatannya, apa pun yang terjadi,” ucapnya dengan api yang kembali menyala di matanya.“Elena tahu itu tidak akan mudah dan harganya mungkin sangat mahal,” peringatnya dengan cemas.“Tidak ada yang mudah sejak aku dilahirkan ke dalam keluarga ini,” balas Erevan tegas sambil berjalan menuju meja di sudut ruangan dan mengambil buku tua yang sebelumnya menjadi pusat perhatian mereka berdua.Ia membukanya perlahan dengan hati-hati, menelusuri halaman-halaman tua yang dipenuhi tulisan tangan kuno yang sebagian besar







