แชร์

Bab 006

ผู้เขียน: Nandar Hidayat
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-04 17:58:30

Wu Teng keluar perlahan, tubuhnya masih lemah namun kini lebih terkendali. Bau ramuan masih melekat pada pakaiannya.

Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri tegak. Ia menatap Ling’er lama.

Gadis itu memunggunginya, kembali menyusun kantong ramuan seolah tak terjadi apa-apa.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Wu Teng pelan.

Ling’er tidak menjawab.

“Tabib desa tidak berbicara seperti itu pada perwira Aliansi,” lanjutnya. “Dan tabib desa tidak memiliki teknik menyembunyikan napas setingkat itu.”

Ling’er berhenti sejenak.

“Aku tidak pernah mengaku sebagai tabib desa,” balasnya tenang.

Hening jatuh seperti embun.

Perasaan bersalah menyelinap di dada Wu Teng. Gadis ini menyelamatkan hidupnya dua kali —dari luka dan dari pengejaran.

Namun dunia persilatan telah mengajarinya satu hal: percaya tanpa verifikasi adalah cara tercepat menuju kematian.

Perlahan, lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekat.

Tangannya bergerak cepat.

Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan belati kecil—senjata cadangan yang biasa disembunyikan dalam lipatan lengan.

Ujung belati itu kini menyentuh leher Ling’er.

Gerakannya sunyi, hampir tanpa suara.

Ling’er tidak melawan.

Tidak ada ketakutan di matanya.

“Jawab,” ucap Wu Teng pelan, suaranya rendah. “Siapa kau?”

Detik berlalu.

Angin dari hutan bambu berdesir, membuat daun-daun bergesekan seperti bisikan konspirasi.

Ling’er tidak mencoba mundur. Ia justru mengangkat tangannya perlahan —bukan untuk menyerang, tetapi untuk menyibakkan lengan bajunya.

Pergelangan tangannya terlihat jelas.

Di sana, tepat di atas nadi, terdapat pola hitam yang sama seperti milik Wu Teng.

Akar-akar gelap yang merambat di bawah kulit.

Wu Teng membeku.

Belatinya tetap di tempat, tetapi tangannya tidak lagi mantap.

“Itu…” napasnya tertahan.

Ling’er memandangnya lurus. “Kau bukan satu-satunya yang tersentuh oleh energi itu.”

“Bagaimana bisa?”

“Karena aku juga berada di sana malam itu,” jawabnya pelan.

Wu Teng merasa darah di tubuhnya membeku.

“Malam kehancuran Sekte Cahaya Abadi,” lanjut Ling’er. “Aku tiba terlambat. Yang kutemukan hanya sisa qi yang berbau sama seperti yang ada di dalam tubuhmu sekarang.”

Belati di tangan Wu Teng perlahan turun.

“Jika kau melihatnya, kenapa kau tidak menyerahkanku pada Aliansi?”

Ling’er menatapnya dengan sorot mata yang jauh lebih dalam daripada usia wajahnya.

“Karena Aliansi memburu akibat, bukan sebab.”

Wu Teng terdiam.

Hutan bambu di luar bergoyang diterpa angin. Cahaya matahari siang menyusup di antara batang-batang hijau, menciptakan bayangan panjang di tanah.

“Kau pikir aku mempercayaimu begitu saja?” tanya Wu Teng lagi, kali ini lebih pelan.

Ling’er menggeleng. “Aku tidak butuh kepercayaanmu sekarang. Aku butuh kau tetap hidup.”

“Kenapa?”

Ling’er menurunkan lengan bajunya, menutupi pola hitam itu.

“Karena apa pun yang menghancurkan sektemu juga sedang mencari fragmen itu,” ujarnya sambil melirik ke arah saku Wu Teng. “Dan jika ia berhasil mengumpulkannya, bukan hanya Jianghu yang akan terbakar.”

Nada suaranya kini tak lagi ringan.

“Aku melihat secuilnya,” lanjutnya. “Celah di langit. Bayangan yang bukan milik dunia ini.”

Wu Teng teringat kembali penglihatannya —gunung runtuh, langit merah, versi dirinya yang lebih gelap.

Belati itu akhirnya jatuh dari tangannya.

“Kenapa kau tahu tentang Fragmen Pemutus Takdir?” tanyanya.

Ling’er tidak langsung menjawab.

Ia melangkah menuju pintu, membuka sedikit daun pintunya, memandang hutan bambu yang bergoyang.

Suara jauh terdengar —gong samar dan teriakan komando. Aliansi mulai menyisir hutan secara sistematis.

Mereka memecah tim, membentuk lingkaran, mempersempit ruang gerak.

“Kita tidak punya waktu,” kata Ling’er akhirnya.

Ia berbalik, menatap Wu Teng dengan mata jernih namun tegas.

“Kita memiliki musuh yang sama, Wu Teng,” ujarnya.

Nama itu keluar dari bibirnya tanpa ragu, tanpa ketakutan.

“Jika kau ingin hidup,” lanjut gadis itu, “ikutlah denganku ke Lembah Salju Abadi.”

Nama tempat itu menggantung di udara seperti janji sekaligus ancaman.

Lembah Salju Abadi —wilayah terpencil di utara Dinasti Langya, diselimuti badai es sepanjang tahun, tempat konon para pendekar yang ingin menghilang dari Jianghu pergi untuk mengubur masa lalu mereka.

Wu Teng memandang hutan, lalu kembali pada Ling’er.

Api kehancuran sektenya masih menyala dalam ingatan. Gong pengejaran masih bergema di kejauhan.

Dan kini, di tengah hutan bambu yang tampak tenang ini, sandiwara baru saja dimulai.

Pilihan ada di tangannya.

Tetapi untuk pertama kalinya sejak jatuh dari jurang, Wu Teng menyadari bahwa jalan yang harus ia tempuh mungkin tidak bisa lagi dilalui sendirian.

***

Hutan bambu memudar di belakang mereka seperti tirai panggung yang ditarik sunyi.

Wu Teng dan Ling’er bergerak ke arah utara, menembus jalan setapak sempit yang hanya dikenal oleh para pemburu dan —rupanya— orang-orang yang tidak ingin ditemukan.

Matahari merambat turun, menyisakan cahaya keemasan di antara batang bambu yang tinggi menjulang.

Wu Teng berjalan beberapa langkah di belakang Ling’er. Lelaki bertubuh kekar itu masih lemah, namun Jarum Langit telah menstabilkan sebagian meridiannya.

Setiap langkahnya terasa seperti memikul beban tak terlihat, bukan hanya dari luka, tetapi dari kata-kata yang belum sepenuhnya ia cerna.

Lembah Salju Abadi. Nama itu bergema dalam pikirannya.

“Berhenti di sini,” ujar Ling’er tiba-tiba.

Mereka tiba di celah batu besar yang membentuk ceruk alami. Air menetes dari langit-langit batu, menciptakan genangan kecil yang jernih.

Tempat itu tersembunyi oleh tanaman liar dan lumut tebal —cukup aman untuk berbicara tanpa telinga-telinga Aliansi.

Ling’er duduk bersila di atas batu datar. “Sebelum kita melangkah lebih jauh, kau harus tahu apa yang kau bawa.”

Wu Teng mengeluarkan fragmen giok hitam dari lipatan pakaiannya.

Permukaannya gelap, namun ada kilau samar di kedalamannya, seperti bintang yang terkurung dalam malam.

“Apa sebenarnya benda ini?” tanya Wu Teng pelan.

Ling’er memandangnya serius. “Fragmen Pemutus Takdir.”

“Nama yang dramatis.”

“Karena ia memang dramatis,” balasnya datar. “Dalam catatan kuno keluarga kami, dunia ini ditopang oleh Tujuh Pilar —formasi energi purba yang menjaga batas antara dunia manusia dan… sesuatu yang berada di luar.”

“Dimensi lain?” Wu Teng mengingat istilah yang Ling’er gunakan sebelumnya.

Ling’er mengangguk. “Pilar Kehancuran adalah salah satunya. Ia bukan sekadar penopang. Ia adalah segel. Segel yang mencegah kekuatan kegelapan itu menembus dunia.”

Wu Teng menyipitkan mata. “Dan fragmen ini?”

“Adalah kunci untuk membuka segel pertama.”

Suasana di ceruk batu itu menjadi berat.

Wu Teng tertawa pendek, hambar. “Jadi aku bukan hanya buronan Jianghu. Aku pembawa kiamat.”

“Belum,” ujar Ling’er tenang. “Fragmen itu tidak bisa diaktifkan oleh sembarang orang. Ia membutuhkan resonansi qi tertentu.”

Tatapan gadis itu tertuju pada pergelangan tangan Wu Teng, tempat pola hitam merambat seperti urat-urat pohon mati.

“Kau.”

Angin sore menyusup masuk, dingin dan tipis.

Wu Teng menatap giok di tangannya, lalu kembali pada Ling’er. “Bagaimana kau tahu semua ini?”

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 008

    Sayatan di bahu Wu Teng masih berdenyut pelan, seperti denyut nadi yang mengingatkan bahwa daging manusia bukan baja.Fragmen giok di balik dadanya —Fragmen Pemutus Takdir— bergetar samar, seolah merespons badai yang mengamuk. Atau mungkin merespons sesuatu yang lebih dekat.Ling’er berdiri tiga langkah di belakangnya, rambutnya yang panjang basah menempel di pipi. Tatapannya tajam, meski wajahnya pucat.Ia tidak berkata apa-apa. Kata-kata tidak dibutuhkan ketika hujan berbicara dengan suara ribuan jarum.Sebuah hembusan angin mendadak berubah arah.Daun-daun terangkat, seperti tersedot ke dalam pusaran tak kasatmata.Lalu ia datang.Ia tidak muncul seperti pendekar lain. Tidak ada langkah berat. Tidak ada suara ranting patah. Hanya satu kedipan.Dan bayangan itu sudah berdiri di atas cabang cemara yang tinggi, tubuhnya condong ke depan seperti burung pemangsa.Jubah hitamnya tipis dan rapat, menyatu dengan malam. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya bersih dari emosi, seperti kolam t

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 007

    “Keluargaku bukan sekadar tabib,” jawab Ling'er pelan. “Kami adalah penjaga catatan tentang Pilar. Selama berabad-abad, kami mempelajari tanda-tanda kebangkitannya.”Wu Teng memejamkan mata sejenak. Dunia terasa semakin absurd. Sekte hancur, dirinya diburu, dan kini ia disebut sebagai bagian dari mekanisme kiamat.“Jika segel itu terbuka?” tanyanya.Ling’er tidak menjawab langsung. “Langit akan retak,” ujarnya akhirnya. “Dan Jianghu hanya akan menjadi halaman pertama dalam kitab kehancuran.”Wu Teng menarik napas panjang. “Baik. Jika aku memang ‘kunci’, maka aku harus tahu bagaimana menguncinya kembali.”Ling’er menatapnya dalam diam, lalu berkata, “Kau harus menyatu dengan fragmen itu. Bukan hanya menyentuhnya. Rasakan memori yang ia simpan.”Wu Teng terdiam.“Meditasi,” lanjut Ling’er. “Namun kau harus siap. Fragmen ini menyimpan gema peristiwa-peristiwa besar. Termasuk malam kehancuran sektemu.”Jantung Wu Teng berdetak lebih cepat.Ia duduk bersila berhadapan dengan Ling’er. Fragm

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 006

    Wu Teng keluar perlahan, tubuhnya masih lemah namun kini lebih terkendali. Bau ramuan masih melekat pada pakaiannya.Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri tegak. Ia menatap Ling’er lama.Gadis itu memunggunginya, kembali menyusun kantong ramuan seolah tak terjadi apa-apa.“Siapa kau sebenarnya?” tanya Wu Teng pelan.Ling’er tidak menjawab.“Tabib desa tidak berbicara seperti itu pada perwira Aliansi,” lanjutnya. “Dan tabib desa tidak memiliki teknik menyembunyikan napas setingkat itu.”Ling’er berhenti sejenak.“Aku tidak pernah mengaku sebagai tabib desa,” balasnya tenang.Hening jatuh seperti embun.Perasaan bersalah menyelinap di dada Wu Teng. Gadis ini menyelamatkan hidupnya dua kali —dari luka dan dari pengejaran.Namun dunia persilatan telah mengajarinya satu hal: percaya tanpa verifikasi adalah cara tercepat menuju kematian.Perlahan, lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekat.Tangannya bergerak cepat.Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan belati kecil—senjata cadangan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 005

    “Simbol pada pedangmu," ujar Ling'er. "Ukiran di bilah bagian dalam, dekat pangkalnya. Itu lambang Klan Bayangan dari zaman Kekacauan Besar. Mereka diyakini telah punah bersama runtuhnya Gerbang Langit.”Wu Teng mengerutkan kening. “Guru tidak pernah menyebut klan apa pun.”“Karena mungkin ia sendiri tidak tahu seluruh kebenarannya,” balas Ling’er tenang.Ia mencabut satu jarum, lalu yang lain. Setiap jarum yang keluar meninggalkan rasa lega bercampur lelah.“Energi dalam tubuhmu bereaksi dengan fragmen ini. Seolah-olah… mereka saling mengenali.”Wu Teng memandang giok di tangannya. Di bawah cahaya pagi, benda itu tampak lebih dalam, seperti sumur tanpa dasar.“Jika apa yang kau katakan benar,” ujarnya perlahan, “maka kehancuran sekteku mungkin bukan sekadar perebutan kekuasaan.”Ling’er mengangguk tipis. “Bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak. Dan kau berada tepat di jalurnya.”Ucapan itu tidak menghibur.Wu Teng menutup mata sejenak. Dunia terasa semakin luas dan s

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 004

    Wu Teng terbangun dengan insting seorang buruan.Mata lelaki itu terbuka sebelum pikirannya sepenuhnya sadar. Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada akal.Tangan kanannya terangkat, mencari gagang pedang, qi mencoba mengumpul di dantian meski seperti sungai yang nyaris kering.Yang ia cium pertama kali bukan darah.Aroma herbal.Daun pahit yang direbus perlahan. Akar ginseng liar. Sedikit wangi bunga kamelia yang lembut dan bersih. Bau itu menenangkan, namun dalam dunia persilatan, ketenangan sering kali adalah jebakan paling rapi.Pandangan Wu Teng akhirnya fokus.Ia tidak lagi berada di tepi sungai. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu terbaring di atas ranjang kayu sederhana, ditutup selimut kapas tipis.Atap di atasnya bukan langit hutan, melainkan anyaman bambu dengan beberapa celah kecil tempat cahaya pagi menyelinap masuk.Sebuah gubuk kecil.Suara lesung kecil terdengar dari sudut ruangan. Seseorang sedang menumbuk sesuatu dengan ritme tenang dan sabar.Wu Teng mencoba bangkit.

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 003

    Wu Teng menghela napas panjang, lalu memejamkan mata. Bayangan Gurunya, Liu Qingshan, muncul dalam pikirannya seperti pantulan di permukaan air.“Jangan pernah gunakan teknik itu sepenuhnya,” suara sang guru terngiang. “Bayangan Sunyi bukan sekadar pedang. Ia adalah cermin bagian tergelap dari hati manusia.”Beberapa tahun silam.Di halaman belakang Sekte Cahaya Abadi, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Wu Teng berdiri dengan pedang di tangan. Saat itu ia masih lebih muda, tatapannya penuh gairah.Di hadapannya, Ketua Sekte Liu Qingshan berdiri tegap, tangan di belakang punggung.“Ulangi lagi,” ujar lelaki sepuh itu.Wu Teng menyerang.Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Tubuhnya berkelebat, meninggalkan bayangan samar. Pedangnya mengiris udara tanpa suara.Jurus itu tampak anggun, namun ada sesuatu yang dingin dan ganjil di dalamnya.Ketika ia berhenti, gurunya menghela napas pelan.“Cukup.”Wu Teng menunduk. “Guru, teknik ini luar biasa. Dengan ini, aku bisa melindungi sek

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status