LOGINWu Teng keluar perlahan, tubuhnya masih lemah namun kini lebih terkendali. Bau ramuan masih melekat pada pakaiannya.
Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri tegak. Ia menatap Ling’er lama. Gadis itu memunggunginya, kembali menyusun kantong ramuan seolah tak terjadi apa-apa. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Wu Teng pelan. Ling’er tidak menjawab. “Tabib desa tidak berbicara seperti itu pada perwira Aliansi,” lanjutnya. “Dan tabib desa tidak memiliki teknik menyembunyikan napas setingkat itu.” Ling’er berhenti sejenak. “Aku tidak pernah mengaku sebagai tabib desa,” balasnya tenang. Hening jatuh seperti embun. Perasaan bersalah menyelinap di dada Wu Teng. Gadis ini menyelamatkan hidupnya dua kali —dari luka dan dari pengejaran. Namun dunia persilatan telah mengajarinya satu hal: percaya tanpa verifikasi adalah cara tercepat menuju kematian. Perlahan, lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekat. Tangannya bergerak cepat. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan belati kecil—senjata cadangan yang biasa disembunyikan dalam lipatan lengan. Ujung belati itu kini menyentuh leher Ling’er. Gerakannya sunyi, hampir tanpa suara. Ling’er tidak melawan. Tidak ada ketakutan di matanya. “Jawab,” ucap Wu Teng pelan, suaranya rendah. “Siapa kau?” Detik berlalu. Angin dari hutan bambu berdesir, membuat daun-daun bergesekan seperti bisikan konspirasi. Ling’er tidak mencoba mundur. Ia justru mengangkat tangannya perlahan —bukan untuk menyerang, tetapi untuk menyibakkan lengan bajunya. Pergelangan tangannya terlihat jelas. Di sana, tepat di atas nadi, terdapat pola hitam yang sama seperti milik Wu Teng. Akar-akar gelap yang merambat di bawah kulit. Wu Teng membeku. Belatinya tetap di tempat, tetapi tangannya tidak lagi mantap. “Itu…” napasnya tertahan. Ling’er memandangnya lurus. “Kau bukan satu-satunya yang tersentuh oleh energi itu.” “Bagaimana bisa?” “Karena aku juga berada di sana malam itu,” jawabnya pelan. Wu Teng merasa darah di tubuhnya membeku. “Malam kehancuran Sekte Cahaya Abadi,” lanjut Ling’er. “Aku tiba terlambat. Yang kutemukan hanya sisa qi yang berbau sama seperti yang ada di dalam tubuhmu sekarang.” Belati di tangan Wu Teng perlahan turun. “Jika kau melihatnya, kenapa kau tidak menyerahkanku pada Aliansi?” Ling’er menatapnya dengan sorot mata yang jauh lebih dalam daripada usia wajahnya. “Karena Aliansi memburu akibat, bukan sebab.” Wu Teng terdiam. Hutan bambu di luar bergoyang diterpa angin. Cahaya matahari siang menyusup di antara batang-batang hijau, menciptakan bayangan panjang di tanah. “Kau pikir aku mempercayaimu begitu saja?” tanya Wu Teng lagi, kali ini lebih pelan. Ling’er menggeleng. “Aku tidak butuh kepercayaanmu sekarang. Aku butuh kau tetap hidup.” “Kenapa?” Ling’er menurunkan lengan bajunya, menutupi pola hitam itu. “Karena apa pun yang menghancurkan sektemu juga sedang mencari fragmen itu,” ujarnya sambil melirik ke arah saku Wu Teng. “Dan jika ia berhasil mengumpulkannya, bukan hanya Jianghu yang akan terbakar.” Nada suaranya kini tak lagi ringan. “Aku melihat secuilnya,” lanjutnya. “Celah di langit. Bayangan yang bukan milik dunia ini.” Wu Teng teringat kembali penglihatannya —gunung runtuh, langit merah, versi dirinya yang lebih gelap. Belati itu akhirnya jatuh dari tangannya. “Kenapa kau tahu tentang Fragmen Pemutus Takdir?” tanyanya. Ling’er tidak langsung menjawab. Ia melangkah menuju pintu, membuka sedikit daun pintunya, memandang hutan bambu yang bergoyang. Suara jauh terdengar —gong samar dan teriakan komando. Aliansi mulai menyisir hutan secara sistematis. Mereka memecah tim, membentuk lingkaran, mempersempit ruang gerak. “Kita tidak punya waktu,” kata Ling’er akhirnya. Ia berbalik, menatap Wu Teng dengan mata jernih namun tegas. “Kita memiliki musuh yang sama, Wu Teng,” ujarnya. Nama itu keluar dari bibirnya tanpa ragu, tanpa ketakutan. “Jika kau ingin hidup,” lanjut gadis itu, “ikutlah denganku ke Lembah Salju Abadi.” Nama tempat itu menggantung di udara seperti janji sekaligus ancaman. Lembah Salju Abadi —wilayah terpencil di utara Dinasti Langya, diselimuti badai es sepanjang tahun, tempat konon para pendekar yang ingin menghilang dari Jianghu pergi untuk mengubur masa lalu mereka. Wu Teng memandang hutan, lalu kembali pada Ling’er. Api kehancuran sektenya masih menyala dalam ingatan. Gong pengejaran masih bergema di kejauhan. Dan kini, di tengah hutan bambu yang tampak tenang ini, sandiwara baru saja dimulai. Pilihan ada di tangannya. Tetapi untuk pertama kalinya sejak jatuh dari jurang, Wu Teng menyadari bahwa jalan yang harus ia tempuh mungkin tidak bisa lagi dilalui sendirian. *** Hutan bambu memudar di belakang mereka seperti tirai panggung yang ditarik sunyi. Wu Teng dan Ling’er bergerak ke arah utara, menembus jalan setapak sempit yang hanya dikenal oleh para pemburu dan —rupanya— orang-orang yang tidak ingin ditemukan. Matahari merambat turun, menyisakan cahaya keemasan di antara batang bambu yang tinggi menjulang. Wu Teng berjalan beberapa langkah di belakang Ling’er. Lelaki bertubuh kekar itu masih lemah, namun Jarum Langit telah menstabilkan sebagian meridiannya. Setiap langkahnya terasa seperti memikul beban tak terlihat, bukan hanya dari luka, tetapi dari kata-kata yang belum sepenuhnya ia cerna. Lembah Salju Abadi. Nama itu bergema dalam pikirannya. “Berhenti di sini,” ujar Ling’er tiba-tiba. Mereka tiba di celah batu besar yang membentuk ceruk alami. Air menetes dari langit-langit batu, menciptakan genangan kecil yang jernih. Tempat itu tersembunyi oleh tanaman liar dan lumut tebal —cukup aman untuk berbicara tanpa telinga-telinga Aliansi. Ling’er duduk bersila di atas batu datar. “Sebelum kita melangkah lebih jauh, kau harus tahu apa yang kau bawa.” Wu Teng mengeluarkan fragmen giok hitam dari lipatan pakaiannya. Permukaannya gelap, namun ada kilau samar di kedalamannya, seperti bintang yang terkurung dalam malam. “Apa sebenarnya benda ini?” tanya Wu Teng pelan. Ling’er memandangnya serius. “Fragmen Pemutus Takdir.” “Nama yang dramatis.” “Karena ia memang dramatis,” balasnya datar. “Dalam catatan kuno keluarga kami, dunia ini ditopang oleh Tujuh Pilar —formasi energi purba yang menjaga batas antara dunia manusia dan… sesuatu yang berada di luar.” “Dimensi lain?” Wu Teng mengingat istilah yang Ling’er gunakan sebelumnya. Ling’er mengangguk. “Pilar Kehancuran adalah salah satunya. Ia bukan sekadar penopang. Ia adalah segel. Segel yang mencegah kekuatan kegelapan itu menembus dunia.” Wu Teng menyipitkan mata. “Dan fragmen ini?” “Adalah kunci untuk membuka segel pertama.” Suasana di ceruk batu itu menjadi berat. Wu Teng tertawa pendek, hambar. “Jadi aku bukan hanya buronan Jianghu. Aku pembawa kiamat.” “Belum,” ujar Ling’er tenang. “Fragmen itu tidak bisa diaktifkan oleh sembarang orang. Ia membutuhkan resonansi qi tertentu.” Tatapan gadis itu tertuju pada pergelangan tangan Wu Teng, tempat pola hitam merambat seperti urat-urat pohon mati. “Kau.” Angin sore menyusup masuk, dingin dan tipis. Wu Teng menatap giok di tangannya, lalu kembali pada Ling’er. “Bagaimana kau tahu semua ini?” ***"Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d
Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c
Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb
Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan
Ling'er, yang kini sepenuhnya menjadi penghubung, memfokuskan semua energi gabungan itu."Ini... adalah... untuk dunia!" raung Ling'er, suaranya kini bercampur dengan gema kekuatan primordial.Ia menyalurkan energi yang tak terukur itu, yang merupakan perpaduan Pilar Ketujuh Wu Teng dan esensi Penyeimbangnya, langsung ke inti Tuan Kegelapan Abadi.Tuan Kegelapan Abadi terkesiap, wujudnya yang tak beraturan bergetar hebat.Seringai kejamnya lenyap, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang nyaris seperti teror."Mustahil! Kau... kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"Energi yang mengalir melalui Ling'er terlalu murni, terlalu kuat, terlalu terhubung langsung dengan akar dunia itu sendiri.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, yang secara inheren mengganggu esensi Tuan Kegelapan Abadi.Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan kegelapan hitam yang pekat meledak di tengah aula, menerangi seluruh a
Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K
Wu Teng menggunakan pangkal pedangnya untuk memukul pergelangan tangan pria itu, membuat goloknya terlepas.Kemudian, dengan satu gerakan cepat, ia mengunci lengan Pendekar Bayaran itu di belakang punggung, menyerahkannya kepada Ling'er.Ling'er tidak membuang waktu. Dengan jaru
Wu Teng menyerap informasi itu dengan ketenangan yang baru.Dulu ia mungkin ingin menerjang lurus —membakar jalan dengan kekuatannya. Kini ia memahami nilai kesabaran.Ling’er berdiri di sampingnya, jarinya sesekali menandai jalur alternatif jika yang utama tertutup.Li
Energi pilar dalam dirinya mengalir, bukan menyerap kemarahan monolit, tetapi membentuk dinding.Dinding yang menolak.Agen Aliran Hitam mencoba menarik diri, namun Wu Teng menarik lebih keras.Keduanya saling bertatapan. Di mata agen itu, hanya ada kebencian tanpa bent
Lin Wei tertidur lebih dulu, kelelahan merenggut ketegangannya.Wu Teng duduk bersandar pada batu dingin. Ling’er duduk di sampingnya.Wanita cantik itu memandang bintang-bintang yang samar tertutup kabut.“Kau terus menekan energimu,” katanya lembut.Lelaki ti







