เข้าสู่ระบบ“Keluargaku bukan sekadar tabib,” jawab Ling'er pelan. “Kami adalah penjaga catatan tentang Pilar. Selama berabad-abad, kami mempelajari tanda-tanda kebangkitannya.”
Wu Teng memejamkan mata sejenak. Dunia terasa semakin absurd. Sekte hancur, dirinya diburu, dan kini ia disebut sebagai bagian dari mekanisme kiamat. “Jika segel itu terbuka?” tanyanya. Ling’er tidak menjawab langsung. “Langit akan retak,” ujarnya akhirnya. “Dan Jianghu hanya akan menjadi halaman pertama dalam kitab kehancuran.” Wu Teng menarik napas panjang. “Baik. Jika aku memang ‘kunci’, maka aku harus tahu bagaimana menguncinya kembali.” Ling’er menatapnya dalam diam, lalu berkata, “Kau harus menyatu dengan fragmen itu. Bukan hanya menyentuhnya. Rasakan memori yang ia simpan.” Wu Teng terdiam. “Meditasi,” lanjut Ling’er. “Namun kau harus siap. Fragmen ini menyimpan gema peristiwa-peristiwa besar. Termasuk malam kehancuran sektemu.” Jantung Wu Teng berdetak lebih cepat. Ia duduk bersila berhadapan dengan Ling’er. Fragmen itu diletakkan di antara telapak tangannya. Ia memejamkan mata. Napas masuk. Napas keluar. Qi di dalam tubuhnya mulai bergerak, perlahan, mengikuti irama yang ia pelajari sejak kecil dari Guru Liu Qingshan. Namun kali ini, aliran itu bercampur dengan hawa dingin dari fragmen. Awalnya hanya getaran halus. Lalu dunia berubah. *** Wu Teng berdiri di halaman Sekte Cahaya Abadi. Langit malam cerah. Lentera menggantung tenang. Tidak ada api. Ia mengerutkan kening. “Ini sebelum serangan…” gumamnya, meski tak ada yang bisa mendengar. Namun sudut pandangnya terasa aneh. Ia tidak berdiri di tengah halaman sebagai dirinya. Ia bergerak melalui tubuh orang lain. Langkahnya ringan. Nafasnya nyaris tak terdengar. Tangan yang ia angkat bukan tangannya sendiri —jemari itu lebih panjang, pucat, dan berbalut sarung hitam tipis. Ia melihat ke bawah. Jubah hitam panjang menyentuh tanah. Tanpa lambang sekte apa pun. Di sekitar, bayangan lain bermunculan di atas atap. Gerakan mereka terkoordinasi, seperti bagian dari satu pikiran. Serangan dimulai dalam sunyi. Wu Teng —atau sosok yang sedang ia rasakan— meloncat ke aula samping. Pedang hitam terhunus. Gerakan pertama yang ia lihat membuat jiwanya membeku. Teknik itu. Langkah menyamping yang memutar ruang. Tebasan yang tidak terlihat, hanya dampaknya yang tiba-tiba muncul di leher seorang murid. Bayangan Sunyi. Namun lebih dalam. Lebih dingin. Qi yang keluar dari pedang itu bukan sekadar gelap, melainkan hampa —seolah memotong bukan hanya tubuh, tetapi keberadaan. Wu Teng merasakan darah memercik di wajah —bukan darahnya sendiri, tetapi dari sudut pandang pembunuh itu. Jeritan pecah. Api menyala. Ia melihat sosok lain di tengah halaman utama. Sosok berjubah panjang, wajahnya tertutup kain putih polos tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Kosong. Namun aura yang keluar darinya membuat seluruh qi di sekitarnya bergetar seperti hewan ketakutan. Sosok itu mengangkat tangan. Udara terbelah. Teknik yang dilepaskannya mirip Bayangan Sunyi, tetapi jauh lebih luas —seperti versi asli yang belum tercemar batas manusia. Beberapa tetua sekte berusaha melawan. Wu Teng melihat Guru Liu Qingshan muncul dari Aula Utama, pedangnya menyala dengan qi terang. Cahaya dan kegelapan bertabrakan di udara, menciptakan ledakan yang mengguncang gunung. Hatinya bergetar. Dalam penglihatan itu, ia melihat dirinya sendiri —Wu Teng yang asli— berlari menuju halaman. Namun sebelum ia tiba, sosok berjubah tanpa wajah itu menoleh. Meski tidak memiliki mata, Wu Teng merasakan tatapannya menembus segala sesuatu. Seketika, dunia bergeser. Adegan berubah. Ia melihat dirinya sendiri terkapar di tanah, dikelilingi mayat. Tangannya berlumuran darah. Pedangnya tertancap di lantai. Sosok berjubah itu berdiri di depannya. Tangan kosong itu menyentuh dahi Wu Teng. Kegelapan menyusup masuk. Penglihatan terputus. *** Wu Teng terhempas kembali ke dunia nyata dengan teriakan tertahan. Tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin membasahi wajahnya. Ling’er segera menahan bahunya. “Apa yang kau lihat?” Wu Teng terengah-engah. “Bukan aku…” “Apa?” “Bukan aku yang memulai pembantaian itu,” katanya dengan suara serak. “Ada seseorang. Berjubah. Tanpa wajah. Tekniknya… seperti Bayangan Sunyi, tetapi lebih dalam.” Ling’er memucat. “Fragmen itu menyimpan memori,” gumamnya. “Dan kau baru saja menyaksikan bagian yang ia pilih untuk tunjukkan.” Wu Teng memandang tangannya. “Tetapi ia menyentuhku. Aku melihatnya menyentuhku. Apa itu berarti—” Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ketakutan merambat pelan. Bagaimana jika sebagian teknik itu memang berasal darinya? Bagaimana jika dalam kondisi tak sadar, ia menjadi perpanjangan tangan makhluk itu? Qi di dalam tubuhnya tiba-tiba bergejolak lagi. Fragmen di tangannya memancarkan kilau lebih terang dari sebelumnya. Ling’er segera menarik fragmen itu darinya. “Cukup,” katanya tegas. “Jika kau terus seperti ini, pikiranmu bisa terkoyak.” Wu Teng menunduk, napasnya masih berat. “Jadi aku adalah kunci. Dan seseorang ingin membukanya.” Ling’er mengangguk. “Jika sosok itu berhasil mengumpulkan seluruh fragmen, segel Pilar pertama akan runtuh.” “Berarti fragmen ini bukan satu-satunya.” “Tidak.” Wu Teng terdiam sesaat, lalu berdiri perlahan. “Baik,” katanya akhirnya. “Kita ke Lembah Salju Abadi. Jika ada catatan atau cara menghentikannya, tempat seperti itu mungkin menyimpannya.” Ling’er menatapnya dengan sorot mata campuran antara kagum dan prihatin. “Kau memilih jalan paling berbahaya.” Wu Teng tersenyum tipis. “Sejak jurang itu, aku tidak melihat jalan lain.” Mereka melangkah keluar dari ceruk batu. Langit mulai memerah menjelang senja. Angin pegunungan bertiup lebih kencang. Namun baru beberapa ratus langkah mereka berjalan, suara tajam membelah udara. Sssst! Sebuah bilah tipis meluncur seperti angin, menembus batang pohon tepat di samping kepala Wu Teng. Bilah itu bergetar, memancarkan dengung halus. Wu Teng langsung menarik Ling’er dan berlindung di balik batu besar. Sosok pria kurus berdiri di atas cabang tinggi, jubahnya berkibar ringan. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya pucat dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai mata. “Buronan dari Sekte Cahaya Abadi,” ucapnya ringan. “Hadiah untuk kepalamu cukup untuk membeli tiga rumah di ibu kota.” Angin berputar di sekitarnya. Daun-daun beterbangan tanpa disentuh. Ling’er berbisik pelan, “Itu dia…” “Siapa?” “Si Pemotong Angin.” Pria di atas cabang itu memutar belatinya dengan satu tangan. “Aku tidak suka berbasa-basi,” katanya. “Mari kita selesaikan ini sebelum malam turun.” Wu Teng menghunus Bayangan Sunyi. Langit senja terasa lebih gelap dari seharusnya. Dan untuk pertama kalinya sejak mengetahui tentang Pilar Kehancuran, Wu Teng menyadari bahwa takdirnya tidak hanya diburu oleh sejarah —tetapi juga oleh darah dan emas. *** Hujan turun tanpa kompromi. Langit seperti panci retak yang ditumpahkan para dewa yang sedang kesal. Kilat menorehkan garis-garis cahaya di atas hutan pinus, memahat batang pohon menjadi bayangan hitam yang panjang dan bergetar. Di antara akar-akar yang mencuat dan tanah berlumpur yang licin, Wu Teng berdiri dengan napas tertahan. Lukanya belum sembuh. ***Sayatan di bahu Wu Teng masih berdenyut pelan, seperti denyut nadi yang mengingatkan bahwa daging manusia bukan baja.Fragmen giok di balik dadanya —Fragmen Pemutus Takdir— bergetar samar, seolah merespons badai yang mengamuk. Atau mungkin merespons sesuatu yang lebih dekat.Ling’er berdiri tiga langkah di belakangnya, rambutnya yang panjang basah menempel di pipi. Tatapannya tajam, meski wajahnya pucat.Ia tidak berkata apa-apa. Kata-kata tidak dibutuhkan ketika hujan berbicara dengan suara ribuan jarum.Sebuah hembusan angin mendadak berubah arah.Daun-daun terangkat, seperti tersedot ke dalam pusaran tak kasatmata.Lalu ia datang.Ia tidak muncul seperti pendekar lain. Tidak ada langkah berat. Tidak ada suara ranting patah. Hanya satu kedipan.Dan bayangan itu sudah berdiri di atas cabang cemara yang tinggi, tubuhnya condong ke depan seperti burung pemangsa.Jubah hitamnya tipis dan rapat, menyatu dengan malam. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya bersih dari emosi, seperti kolam t
“Keluargaku bukan sekadar tabib,” jawab Ling'er pelan. “Kami adalah penjaga catatan tentang Pilar. Selama berabad-abad, kami mempelajari tanda-tanda kebangkitannya.”Wu Teng memejamkan mata sejenak. Dunia terasa semakin absurd. Sekte hancur, dirinya diburu, dan kini ia disebut sebagai bagian dari mekanisme kiamat.“Jika segel itu terbuka?” tanyanya.Ling’er tidak menjawab langsung. “Langit akan retak,” ujarnya akhirnya. “Dan Jianghu hanya akan menjadi halaman pertama dalam kitab kehancuran.”Wu Teng menarik napas panjang. “Baik. Jika aku memang ‘kunci’, maka aku harus tahu bagaimana menguncinya kembali.”Ling’er menatapnya dalam diam, lalu berkata, “Kau harus menyatu dengan fragmen itu. Bukan hanya menyentuhnya. Rasakan memori yang ia simpan.”Wu Teng terdiam.“Meditasi,” lanjut Ling’er. “Namun kau harus siap. Fragmen ini menyimpan gema peristiwa-peristiwa besar. Termasuk malam kehancuran sektemu.”Jantung Wu Teng berdetak lebih cepat.Ia duduk bersila berhadapan dengan Ling’er. Fragm
Wu Teng keluar perlahan, tubuhnya masih lemah namun kini lebih terkendali. Bau ramuan masih melekat pada pakaiannya.Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri tegak. Ia menatap Ling’er lama.Gadis itu memunggunginya, kembali menyusun kantong ramuan seolah tak terjadi apa-apa.“Siapa kau sebenarnya?” tanya Wu Teng pelan.Ling’er tidak menjawab.“Tabib desa tidak berbicara seperti itu pada perwira Aliansi,” lanjutnya. “Dan tabib desa tidak memiliki teknik menyembunyikan napas setingkat itu.”Ling’er berhenti sejenak.“Aku tidak pernah mengaku sebagai tabib desa,” balasnya tenang.Hening jatuh seperti embun.Perasaan bersalah menyelinap di dada Wu Teng. Gadis ini menyelamatkan hidupnya dua kali —dari luka dan dari pengejaran.Namun dunia persilatan telah mengajarinya satu hal: percaya tanpa verifikasi adalah cara tercepat menuju kematian.Perlahan, lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekat.Tangannya bergerak cepat.Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan belati kecil—senjata cadangan
“Simbol pada pedangmu," ujar Ling'er. "Ukiran di bilah bagian dalam, dekat pangkalnya. Itu lambang Klan Bayangan dari zaman Kekacauan Besar. Mereka diyakini telah punah bersama runtuhnya Gerbang Langit.”Wu Teng mengerutkan kening. “Guru tidak pernah menyebut klan apa pun.”“Karena mungkin ia sendiri tidak tahu seluruh kebenarannya,” balas Ling’er tenang.Ia mencabut satu jarum, lalu yang lain. Setiap jarum yang keluar meninggalkan rasa lega bercampur lelah.“Energi dalam tubuhmu bereaksi dengan fragmen ini. Seolah-olah… mereka saling mengenali.”Wu Teng memandang giok di tangannya. Di bawah cahaya pagi, benda itu tampak lebih dalam, seperti sumur tanpa dasar.“Jika apa yang kau katakan benar,” ujarnya perlahan, “maka kehancuran sekteku mungkin bukan sekadar perebutan kekuasaan.”Ling’er mengangguk tipis. “Bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak. Dan kau berada tepat di jalurnya.”Ucapan itu tidak menghibur.Wu Teng menutup mata sejenak. Dunia terasa semakin luas dan s
Wu Teng terbangun dengan insting seorang buruan.Mata lelaki itu terbuka sebelum pikirannya sepenuhnya sadar. Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada akal.Tangan kanannya terangkat, mencari gagang pedang, qi mencoba mengumpul di dantian meski seperti sungai yang nyaris kering.Yang ia cium pertama kali bukan darah.Aroma herbal.Daun pahit yang direbus perlahan. Akar ginseng liar. Sedikit wangi bunga kamelia yang lembut dan bersih. Bau itu menenangkan, namun dalam dunia persilatan, ketenangan sering kali adalah jebakan paling rapi.Pandangan Wu Teng akhirnya fokus.Ia tidak lagi berada di tepi sungai. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu terbaring di atas ranjang kayu sederhana, ditutup selimut kapas tipis.Atap di atasnya bukan langit hutan, melainkan anyaman bambu dengan beberapa celah kecil tempat cahaya pagi menyelinap masuk.Sebuah gubuk kecil.Suara lesung kecil terdengar dari sudut ruangan. Seseorang sedang menumbuk sesuatu dengan ritme tenang dan sabar.Wu Teng mencoba bangkit.
Wu Teng menghela napas panjang, lalu memejamkan mata. Bayangan Gurunya, Liu Qingshan, muncul dalam pikirannya seperti pantulan di permukaan air.“Jangan pernah gunakan teknik itu sepenuhnya,” suara sang guru terngiang. “Bayangan Sunyi bukan sekadar pedang. Ia adalah cermin bagian tergelap dari hati manusia.”Beberapa tahun silam.Di halaman belakang Sekte Cahaya Abadi, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Wu Teng berdiri dengan pedang di tangan. Saat itu ia masih lebih muda, tatapannya penuh gairah.Di hadapannya, Ketua Sekte Liu Qingshan berdiri tegap, tangan di belakang punggung.“Ulangi lagi,” ujar lelaki sepuh itu.Wu Teng menyerang.Gerakannya cepat, hampir tak terlihat. Tubuhnya berkelebat, meninggalkan bayangan samar. Pedangnya mengiris udara tanpa suara.Jurus itu tampak anggun, namun ada sesuatu yang dingin dan ganjil di dalamnya.Ketika ia berhenti, gurunya menghela napas pelan.“Cukup.”Wu Teng menunduk. “Guru, teknik ini luar biasa. Dengan ini, aku bisa melindungi sek







