مشاركة

Bab 007

مؤلف: Nandar Hidayat
last update تاريخ النشر: 2026-03-04 17:59:13

“Keluargaku bukan sekadar tabib,” jawab Ling'er pelan. “Kami adalah penjaga catatan tentang Pilar. Selama berabad-abad, kami mempelajari tanda-tanda kebangkitannya.”

Wu Teng memejamkan mata sejenak. Dunia terasa semakin absurd. Sekte hancur, dirinya diburu, dan kini ia disebut sebagai bagian dari mekanisme kiamat.

“Jika segel itu terbuka?” tanyanya.

Ling’er tidak menjawab langsung. “Langit akan retak,” ujarnya akhirnya. “Dan Jianghu hanya akan menjadi halaman pertama dalam kitab kehancuran.”

Wu Teng menarik napas panjang. “Baik. Jika aku memang ‘kunci’, maka aku harus tahu bagaimana menguncinya kembali.”

Ling’er menatapnya dalam diam, lalu berkata, “Kau harus menyatu dengan fragmen itu. Bukan hanya menyentuhnya. Rasakan memori yang ia simpan.”

Wu Teng terdiam.

“Meditasi,” lanjut Ling’er. “Namun kau harus siap. Fragmen ini menyimpan gema peristiwa-peristiwa besar. Termasuk malam kehancuran sektemu.”

Jantung Wu Teng berdetak lebih cepat.

Ia duduk bersila berhadapan dengan Ling’er. Fragmen itu diletakkan di antara telapak tangannya. Ia memejamkan mata.

Napas masuk.

Napas keluar.

Qi di dalam tubuhnya mulai bergerak, perlahan, mengikuti irama yang ia pelajari sejak kecil dari Guru Liu Qingshan.

Namun kali ini, aliran itu bercampur dengan hawa dingin dari fragmen.

Awalnya hanya getaran halus.

Lalu dunia berubah.

***

Wu Teng berdiri di halaman Sekte Cahaya Abadi.

Langit malam cerah. Lentera menggantung tenang. Tidak ada api.

Ia mengerutkan kening.

“Ini sebelum serangan…” gumamnya, meski tak ada yang bisa mendengar.

Namun sudut pandangnya terasa aneh.

Ia tidak berdiri di tengah halaman sebagai dirinya. Ia bergerak melalui tubuh orang lain.

Langkahnya ringan. Nafasnya nyaris tak terdengar. Tangan yang ia angkat bukan tangannya sendiri —jemari itu lebih panjang, pucat, dan berbalut sarung hitam tipis.

Ia melihat ke bawah.

Jubah hitam panjang menyentuh tanah. Tanpa lambang sekte apa pun.

Di sekitar, bayangan lain bermunculan di atas atap. Gerakan mereka terkoordinasi, seperti bagian dari satu pikiran.

Serangan dimulai dalam sunyi.

Wu Teng —atau sosok yang sedang ia rasakan— meloncat ke aula samping. Pedang hitam terhunus.

Gerakan pertama yang ia lihat membuat jiwanya membeku.

Teknik itu.

Langkah menyamping yang memutar ruang. Tebasan yang tidak terlihat, hanya dampaknya yang tiba-tiba muncul di leher seorang murid.

Bayangan Sunyi. Namun lebih dalam. Lebih dingin.

Qi yang keluar dari pedang itu bukan sekadar gelap, melainkan hampa —seolah memotong bukan hanya tubuh, tetapi keberadaan.

Wu Teng merasakan darah memercik di wajah —bukan darahnya sendiri, tetapi dari sudut pandang pembunuh itu.

Jeritan pecah.

Api menyala.

Ia melihat sosok lain di tengah halaman utama.

Sosok berjubah panjang, wajahnya tertutup kain putih polos tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut.

Kosong.

Namun aura yang keluar darinya membuat seluruh qi di sekitarnya bergetar seperti hewan ketakutan.

Sosok itu mengangkat tangan.

Udara terbelah.

Teknik yang dilepaskannya mirip Bayangan Sunyi, tetapi jauh lebih luas —seperti versi asli yang belum tercemar batas manusia.

Beberapa tetua sekte berusaha melawan.

Wu Teng melihat Guru Liu Qingshan muncul dari Aula Utama, pedangnya menyala dengan qi terang.

Cahaya dan kegelapan bertabrakan di udara, menciptakan ledakan yang mengguncang gunung.

Hatinya bergetar.

Dalam penglihatan itu, ia melihat dirinya sendiri —Wu Teng yang asli— berlari menuju halaman.

Namun sebelum ia tiba, sosok berjubah tanpa wajah itu menoleh.

Meski tidak memiliki mata, Wu Teng merasakan tatapannya menembus segala sesuatu.

Seketika, dunia bergeser.

Adegan berubah.

Ia melihat dirinya sendiri terkapar di tanah, dikelilingi mayat. Tangannya berlumuran darah. Pedangnya tertancap di lantai.

Sosok berjubah itu berdiri di depannya.

Tangan kosong itu menyentuh dahi Wu Teng. Kegelapan menyusup masuk. Penglihatan terputus.

***

Wu Teng terhempas kembali ke dunia nyata dengan teriakan tertahan.

Tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin membasahi wajahnya.

Ling’er segera menahan bahunya. “Apa yang kau lihat?”

Wu Teng terengah-engah. “Bukan aku…”

“Apa?”

“Bukan aku yang memulai pembantaian itu,” katanya dengan suara serak. “Ada seseorang. Berjubah. Tanpa wajah. Tekniknya… seperti Bayangan Sunyi, tetapi lebih dalam.”

Ling’er memucat.

“Fragmen itu menyimpan memori,” gumamnya. “Dan kau baru saja menyaksikan bagian yang ia pilih untuk tunjukkan.”

Wu Teng memandang tangannya. “Tetapi ia menyentuhku. Aku melihatnya menyentuhku. Apa itu berarti—”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Ketakutan merambat pelan.

Bagaimana jika sebagian teknik itu memang berasal darinya? Bagaimana jika dalam kondisi tak sadar, ia menjadi perpanjangan tangan makhluk itu?

Qi di dalam tubuhnya tiba-tiba bergejolak lagi. Fragmen di tangannya memancarkan kilau lebih terang dari sebelumnya.

Ling’er segera menarik fragmen itu darinya.

“Cukup,” katanya tegas. “Jika kau terus seperti ini, pikiranmu bisa terkoyak.”

Wu Teng menunduk, napasnya masih berat. “Jadi aku adalah kunci. Dan seseorang ingin membukanya.”

Ling’er mengangguk. “Jika sosok itu berhasil mengumpulkan seluruh fragmen, segel Pilar pertama akan runtuh.”

“Berarti fragmen ini bukan satu-satunya.”

“Tidak.”

Wu Teng terdiam sesaat, lalu berdiri perlahan.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kita ke Lembah Salju Abadi. Jika ada catatan atau cara menghentikannya, tempat seperti itu mungkin menyimpannya.”

Ling’er menatapnya dengan sorot mata campuran antara kagum dan prihatin.

“Kau memilih jalan paling berbahaya.”

Wu Teng tersenyum tipis. “Sejak jurang itu, aku tidak melihat jalan lain.”

Mereka melangkah keluar dari ceruk batu.

Langit mulai memerah menjelang senja. Angin pegunungan bertiup lebih kencang.

Namun baru beberapa ratus langkah mereka berjalan, suara tajam membelah udara.

Sssst!

Sebuah bilah tipis meluncur seperti angin, menembus batang pohon tepat di samping kepala Wu Teng.

Bilah itu bergetar, memancarkan dengung halus.

Wu Teng langsung menarik Ling’er dan berlindung di balik batu besar.

Sosok pria kurus berdiri di atas cabang tinggi, jubahnya berkibar ringan. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya pucat dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai mata.

“Buronan dari Sekte Cahaya Abadi,” ucapnya ringan. “Hadiah untuk kepalamu cukup untuk membeli tiga rumah di ibu kota.”

Angin berputar di sekitarnya. Daun-daun beterbangan tanpa disentuh.

Ling’er berbisik pelan, “Itu dia…”

“Siapa?”

“Si Pemotong Angin.”

Pria di atas cabang itu memutar belatinya dengan satu tangan.

“Aku tidak suka berbasa-basi,” katanya. “Mari kita selesaikan ini sebelum malam turun.”

Wu Teng menghunus Bayangan Sunyi.

Langit senja terasa lebih gelap dari seharusnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengetahui tentang Pilar Kehancuran, Wu Teng menyadari bahwa takdirnya tidak hanya diburu oleh sejarah —tetapi juga oleh darah dan emas.

***

Hujan turun tanpa kompromi.

Langit seperti panci retak yang ditumpahkan para dewa yang sedang kesal.

Kilat menorehkan garis-garis cahaya di atas hutan pinus, memahat batang pohon menjadi bayangan hitam yang panjang dan bergetar.

Di antara akar-akar yang mencuat dan tanah berlumpur yang licin, Wu Teng berdiri dengan napas tertahan.

Lukanya belum sembuh.

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 150

    "Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 149

    Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 148

    Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 147

    Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 146

    Ling'er, yang kini sepenuhnya menjadi penghubung, memfokuskan semua energi gabungan itu."Ini... adalah... untuk dunia!" raung Ling'er, suaranya kini bercampur dengan gema kekuatan primordial.Ia menyalurkan energi yang tak terukur itu, yang merupakan perpaduan Pilar Ketujuh Wu Teng dan esensi Penyeimbangnya, langsung ke inti Tuan Kegelapan Abadi.Tuan Kegelapan Abadi terkesiap, wujudnya yang tak beraturan bergetar hebat.Seringai kejamnya lenyap, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang nyaris seperti teror."Mustahil! Kau... kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"Energi yang mengalir melalui Ling'er terlalu murni, terlalu kuat, terlalu terhubung langsung dengan akar dunia itu sendiri.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, yang secara inheren mengganggu esensi Tuan Kegelapan Abadi.Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan kegelapan hitam yang pekat meledak di tengah aula, menerangi seluruh a

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 145

    Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 073

    Kali ini dengan rentetan proyektil energi —cakram cahaya yang berputar, memotong udara tanpa suara.Wu Teng menghilang dalam kilatan Pilar Waktu, mempercepat dirinya sendiri dalam jendela denyut sempit.Lelaki berumur tiga puluh tahun itu muncul di sisi kanan penjaga dan menghan

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 072

    Zayan meluncur ke pusat plaza, tangannya menekan simbol kuno dengan presisi. Cahaya biru padam satu per satu.Hening.Wu Teng mengangkat wajahnya, napasnya stabil meski bahunya penuh goresan. Ia menatap Ling’er sejenak. Tanpa kata, tetapi penuh makna.Kepercayaan.

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 071

    Wu Teng melangkah mendekat, tetapi ia ragu menyentuh.Lelaki berumur tiga puluh tahun itu melihatnya bukan sebagai alat. Bukan sebagai bayangan. Tetapi sebagai Ling’er.Gadis yang memilih bertarung dengannya.“Keberadaanku bukan pilihanku,” ucap Ling’er perlahan, menata

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 067

    Ling’er menarik tangannya, napasnya sedikit memburu, tetapi wajahnya bersinar dengan pemahaman baru.“Aku tidak memadamkan kekuatanmu,” katanya pelan. “Aku hanya mengingatkan mereka untuk tidak saling memakan.”Wu Teng tersenyum.“Dunia tidak butuh dua kunci,” ujarnya.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status