Share

Bab 005

Penulis: Nandar Hidayat
last update Tanggal publikasi: 2026-02-17 16:08:07

“Simbol pada pedangmu," ujar Ling'er. "Ukiran di bilah bagian dalam, dekat pangkalnya. Itu lambang Klan Bayangan dari zaman Kekacauan Besar. Mereka diyakini telah punah bersama runtuhnya Gerbang Langit.”

Wu Teng mengerutkan kening. “Guru tidak pernah menyebut klan apa pun.”

“Karena mungkin ia sendiri tidak tahu seluruh kebenarannya,” balas Ling’er tenang.

Ia mencabut satu jarum, lalu yang lain. Setiap jarum yang keluar meninggalkan rasa lega bercampur lelah.

“Energi dalam tubuhmu bereaksi dengan fragmen ini. Seolah-olah… mereka saling mengenali.”

Wu Teng memandang giok di tangannya. Di bawah cahaya pagi, benda itu tampak lebih dalam, seperti sumur tanpa dasar.

“Jika apa yang kau katakan benar,” ujarnya perlahan, “maka kehancuran sekteku mungkin bukan sekadar perebutan kekuasaan.”

Ling’er mengangguk tipis. “Bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak. Dan kau berada tepat di jalurnya.”

Ucapan itu tidak menghibur.

Wu Teng menutup mata sejenak. Dunia terasa semakin luas dan semakin berbahaya. Ia bukan hanya buruan Aliansi Delapan Sekte Besar, tetapi mungkin pion dalam permainan yang lebih kuno.

Tiba-tiba—

TOK! TOK! TOK!

Ketukan keras mengguncang pintu gubuk. Ling’er dan Wu Teng sama-sama menoleh.

Suara kasar terdengar dari luar. “Tabib! Buka pintu!”

Wu Teng otomatis meraih pedangnya, meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya.

Suara itu melanjutkan dengan nada kasar dan penuh curiga, “Apa kau melihat pengkhianat dari Sekte Cahaya Abadi lewat sini?”

Ling’er berdiri. Wajahnya kembali tenang, seolah gelombang di danau baru saja mereda.

Ia menoleh pada Wu Teng.

“Jika kau ingin hidup,” katanya pelan, “jangan bergerak dan jangan gunakan qi.”

Langkahnya ringan saat ia berjalan menuju pintu.

Wu Teng menggenggam pedangnya erat-erat, jantungnya berdebar cepat.

Di luar, suara kain dan senjata beradu samar terdengar.

Terdengar suara ketukan di pintu yang tidak berhenti.

TOK! TOK! TOK!

Bukan ketukan orang yang meminta tolong. Itu ketukan orang yang terbiasa memerintah.

Wu Teng menahan napas.

Ling’er hanya menoleh sekilas ke arahnya. Tatapan gadis itu tenang, tetapi sorot matanya kini tajam seperti jarum yang ia gunakan sebelumnya.

“Cepat,” bisiknya pelan.

Sebelum Wu Teng sempat bertanya, Ling’er sudah bergerak ke sudut ruangan. Ia menarik rak kayu berisi ikatan-ikatan akar kering dan kantong kain penuh rempah.

Aroma menyengat langsung memenuhi gubuk —campuran belerang halus, empedu beruang kering, dan tanaman liar yang pahit.

“Masuk ke bawah sana,” ujar Ling’er cepat sambil menggeser papan kayu tipis di lantai.

Di bawah papan itu terdapat cekungan dangkal, cukup untuk satu orang dewasa berbaring dengan tubuh dirapatkan.

Wu Teng menyipitkan mata. “Jika ini jebakan—”

“Jika ini jebakan, kau sudah mati sebelum ketukan ketiga tadi,” potong Ling’er tanpa menoleh.

TOK! TOK! TOK!

Suara kasar di luar makin keras. “Tabib! Kami tahu kau di dalam!”

Wu Teng mendengus pelan. Tidak ada waktu untuk keraguan.

Lelaki bertubuh kekar itu masuk ke cekungan sempit itu, menahan rasa sakit ketika tulang rusuknya bersentuhan dengan papan kasar.

Ling’er segera menutupnya kembali, lalu menumpuk karung-karung ramuan di atasnya. Akar dan daun kering berjatuhan, menggores kulitnya.

Aroma tajam memenuhi rongga hidungnya, membuat matanya berair.

“Jangan bernapas terlalu dalam,” bisik Ling’er dari balik papan. “Ramuan ini bisa membuat orang pingsan jika terlalu lama terhirup.”

Wu Teng ingin menjawab, tetapi suara pintu yang didorong paksa memotong pikirannya.

BRAK!

Pintu gubuk terbuka dengan kasar.

“Akhirnya,” geram seseorang.

Melalui celah kecil di antara papan dan karung, Wu Teng bisa melihat sepatu bot hitam memasuki ruangan.

Ada tiga orang. Dari suara langkahnya, salah satunya memiliki napas berat —mungkin mengenakan zirah ringan.

“Tabib,” suara itu kasar dan penuh curiga, “kami sedang memburu pengkhianat dari Sekte Cahaya Abadi. Seorang pria tinggi, wajah dingin, pedang hitam. Kau melihatnya?”

Ling’er berdiri tegak beberapa langkah dari mereka.

“Jika aku melihat pria seperti itu, aku mungkin sudah mati,” jawab gadis itu ringan. “Gubukku kecil. Jika ada orang lain di sini, kau pasti sudah mencium bau keringatnya.”

Salah satu prajurit mendengus.

“Kami dengar ada jejak darah menuju hutan ini.”

Ling’er mengangkat alisnya sedikit. “Hutan ini penuh rusa dan babi hutan. Kau akan menemukan darah di mana-mana jika mau melihat.”

Suasana menegang.

Wu Teng menahan napas, berusaha menyatukan qi sekecil mungkin.

Teknik penyembunyian napas adalah dasar dalam dunia persilatan, namun kondisinya sekarang buruk.

Jika ia memancarkan sedikit saja fluktuasi energi, seorang ahli akan merasakannya.

Suara langkah mendekat.

Sepasang sepatu berhenti tepat di dekat papan tempat ia bersembunyi.

Wu Teng merasakan jantungnya memukul seperti drum perang.

“Bau apa ini?” tanya seorang prajurit.

“Ramuan pembusuk bangkai,” jawab Ling’er santai. “Untuk mengobati infeksi dan membersihkan racun dari luka terbuka. Baunya memang tidak bersahabat.”

“Persis seperti bau darah busuk,” gumam prajurit itu.

Ling’er tertawa pelan. “Jika kau ingin mencicipinya untuk memastikan, aku bisa menyeduhkannya untukmu.”

Prajurit itu mundur setengah langkah.

Namun suara lain, lebih berat dan berwibawa, terdengar dari luar gubuk.

“Cukup.”

Langkah kaki terdengar, lebih ringan. Wu Teng merasakan sesuatu —fluktuasi qi halus namun dalam. Orang ini bukan prajurit biasa.

Seorang perwira.

Ia berhenti di ambang pintu. “Tabib,” katanya pelan namun tegas, “kami mendapat perintah dari Aliansi Delapan Sekte Besar. Hutan ini akan disisir sampai ke akar. Jika kau menyembunyikan buronan, kau akan dianggap kaki tangannya.”

Ling’er tidak membungkuk dalam-dalam seperti rakyat biasa di hadapan prajurit.

Ia hanya menyatukan tangan di depan dada dengan gerakan sopan seperlunya.

“Aku hanya tabib. Aku menyembuhkan siapa pun yang datang dengan luka —petani, pemburu, bahkan prajurit aliansi jika mereka membayar dengan sopan.”

Perwira itu terdiam sesaat.

“Kau tampak tenang untuk seseorang yang baru saja didatangi pasukan bersenjata,” ujarnya.

Ling’er tersenyum tipis. “Hutan ini mengajarkan ketenangan. Jika aku panik setiap kali orang mengetuk pintu, aku sudah lama mati karena jantungku sendiri.”

Wu Teng memperhatikan melalui celah kecil. Cara Ling’er berdiri… bahunya rileks, napasnya hampir tak terdengar. Tidak ada jejak qi yang memancar keluar.

Teknik menyembunyikan napas tingkat tinggi.

Bahkan dengan indranya yang terlatih, Wu Teng hampir tidak bisa merasakan keberadaan gadis itu.

Perwira itu akhirnya berkata, “Periksa di sekitar. Jangan lewatkan satu jengkal pun.”

Langkah kaki menjauh.

Suasana di dalam gubuk kembali hening.

Wu Teng tetap tidak bergerak selama beberapa saat. Ia menunggu sampai suara ranting patah dan derap langkah benar-benar menghilang ke arah hutan bambu di sebelah utara.

Beberapa napas kemudian, papan di atasnya terangkat.

Cahaya masuk.

Ling’er berdiri di atasnya. “Keluar. Mereka sedang menyisir sisi barat. Untuk sementara, kau aman.”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 145

    Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 144

    Lin Wei hanya mengangguk, matanya menatap tajam ke depan, siap.Wu Teng menggenggam tangan Ling'er, merasakan denyutan lembut energi Penyeimbangnya. Ia menatap ke angkasa, ke arah Tuan Kegelapan Abadi. Tidak ada lagi ketakutan di matanya, hanya tekad yang membara.Mereka telah tiba.Benteng melayang itu menyambut mereka dengan keheningan yang menyesakkan, sebuah undangan ke dalam jurang kegelapan.Udara di ambang pintu benteng terasa dingin dan mematikan, berbau seperti ketiadaan. Pilar Ketujuh Wu Teng berdenyut waspada.Di dalam, aula besar terhampar, diterangi oleh kristal-kristal es gelap yang memancarkan cahaya redup kebiruan.Tiba-tiba, dari bayang-bayang di setiap sudut aula, sosok-sosok mulai terbentuk.Bukan prajurit bayangan yang rapuh seperti di markas Sekte Jiwa Beku, melainkan "Penjaga Kegelapan" sejati: makhluk-makhluk purba yang terbuat dari esensi kegelapan murni.Bentuk mereka menyerupai manusia

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 143

    Cahaya itu lebih terang dari sebelumnya, namun juga lebih lembut.Energi Pilar Ketujuh berdenyut di inti dadanya, tidak lagi hanya sebagai sumber kekuatan, melainkan sebagai sumbu, sebuah poros yang beresonansi dengan detak jantung dunia.Ia merasa terhubung. Terhubung dengan tanah di bawahnya, dengan udara yang dingin, dengan bintang-bintang di atas, dan yang terpenting, dengan energi dunia yang murni.Ia tidak lagi berusaha mengendalikan energi, melainkan membiarkannya mengalir melaluinya, memurnikan, menyeimbangkan.Ia adalah bejana yang sempurna, jembatan yang dicari Ling'er. Keraguan terakhirnya sirna, digantikan oleh ketenangan yang mendalam.Seminggu penuh berlalu, dan Wu Teng akhirnya bangkit dari meditasinya.Tubuhnya tidak lagi merasakan kelelahan, melainkan kekuatan yang baru ditemukan, sebuah ketenangan yang tak tergoyahkan.Setiap gerakan adalah efisiensi, setiap napas adalah energi. Aura keemasan Pilar Ketu

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 142

    Wu Teng berlutut di depan istrinya, menopang tangannya, menyalurkan energi Pilar Ketujuhnya yang lembut ke dalam tubuh Ling'er, bukan untuk menyembuhkan, tetapi untuk menstabilkan, untuk menjadi jangkar.Di sekeliling mereka, Li Hua dan Lin Wei berjaga, mata mereka waspada, siap menghadapi ancaman apa pun yang mungkin muncul."Ling'er akan mencoba terhubung langsung dengan akar energi dunia," jelas Master Liao, suaranya pelan. "Ini adalah ritual kuno Penyeimbang Pilar yang membutuhkan kekuatan dan kemurnian jiwa yang luar biasa. Jika dia gagal, atau energinya terkoyak, dia bisa... lenyap."Wu Teng merasakan ketegangan merayap di dadanya, namun ia menepisnya.Tidak akan kubiarkan.Ia memfokuskan Pilarnya, menciptakan perisai spiritual tak terlihat yang membungkus Ling'er, melindunginya dari gangguan apa pun, baik fisik maupun spiritual.Saat ritual dimulai, tubuh Ling'er mulai bercahaya samar.Energi Penyeimbangnya memanc

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 141

    Beratnya kekalahan menekan bahu mereka, lebih berat dari beban fisik yang mereka pikul. Gunung es Puncak Beku Abadi kini tampak seperti monumen kegagalan mereka, mengukir janji kiamat yang tak terhindarkan.Saat mereka akhirnya tiba di benteng Aliansi Harapan, suasana sukacita yang sempat menyambut mereka setelah kehancuran Pilar Kebencian kini lenyap, digantikan oleh aura keputusasaan yang melumpuhkan.Wajah mereka yang babak belur, mata mereka yang kosong, menceritakan semua tanpa perlu kata-kata.Master Liao menunggu di aula utama, aura bijaksananya tidak mampu menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam di matanya.Ia melihat Wu Teng yang menopang Ling'er, yang wajahnya kini sangat pucat, hampir tanpa warna. Ia melihat Li Hua yang menunduk, dan Lin Wei yang tatapannya kosong."Tuan Kegelapan Abadi," Master Liao berbisik, namanya berat seperti batu nisan. "Dia benar-benar bangkit."Wu Teng mengangguk, suaranya serak. Ia mencerit

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 140

    Tuan Kegelapan Abadi tidak bergerak, namun kehadirannya saja sudah merupakan badai kegelapan yang mengancam.Aula itu bergetar hebat, es di dinding mulai retak dan runtuh, tidak mampu menahan tekanan auranya.Kemudian, sebuah senyum mengerikan perlahan terukir di kegelapan tanpa wajah itu, sebuah seringai yang merobek ruang hampa.Suaranya, bukan suara yang keluar dari tenggorokan, melainkan gemuruh yang menggelegar di seluruh aula, beresonansi langsung di dalam pikiran mereka, dingin seperti musim dingin yang abadi, dan membawa beban miliaran tahun kehampaan."Selamat datang, Pilar Ketujuh," suara itu menggelegar, memenuhi setiap sudut aula, menusuk hingga ke tulang."Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai. Kalian manusia selalu begitu. Penuh kelemahan. Penuh ketakutan. Kalian menyebutnya harapan, cinta. Bagiku, itu adalah penyakit yang menggerogoti esensi dunia."Wujudnya yang tak beraturan sedikit melengkung, seolah dunia

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 123

    Ling'er juga lelah, energi Penyeimbang Pilarnya telah diperas hingga tetes terakhir untuk menahan kegilaan Master Agung.Namun, tak seperti yang lain, raut wajahnya tak sepenuhnya dipenuhi euforia. Ada kerutan halus di antara alisnya, sebuah bayangan yang tidak bisa dilebur oleh cahaya f

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 117

    Wu Teng menemukan patung naga kecil dengan mata mutiara hitam kusam.Dengan hati-hati, ia memutar mata naga itu ke arah timur.Sebuah suara gemuruh pelan terdengar, dan dinding batu di sebelahnya bergeser perlahan, menampakkan terowongan gelap yang menukik ke bawah.Wu

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 116

    Wu Teng menggunakan pangkal pedangnya untuk memukul pergelangan tangan pria itu, membuat goloknya terlepas.Kemudian, dengan satu gerakan cepat, ia mengunci lengan Pendekar Bayaran itu di belakang punggung, menyerahkannya kepada Ling'er.Ling'er tidak membuang waktu. Dengan jaru

  • PILAR KEHANCURAN: LEGENDA WU TENG   Bab 115

    Udara terasa dingin meskipun matahari bersinar.Rasa hampa yang aneh mulai merayapi jiwa Wu Teng, seolah seluruh emosi positifnya perlahan terkikisSebuah bisikan samar, tetapi mematikan, terngiang di telinganya.Semuanya sia-sia. Perjuangan ini, pengorbanan ini, tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status