LOGIN“Simbol pada pedangmu," ujar Ling'er. "Ukiran di bilah bagian dalam, dekat pangkalnya. Itu lambang Klan Bayangan dari zaman Kekacauan Besar. Mereka diyakini telah punah bersama runtuhnya Gerbang Langit.”
Wu Teng mengerutkan kening. “Guru tidak pernah menyebut klan apa pun.” “Karena mungkin ia sendiri tidak tahu seluruh kebenarannya,” balas Ling’er tenang. Ia mencabut satu jarum, lalu yang lain. Setiap jarum yang keluar meninggalkan rasa lega bercampur lelah. “Energi dalam tubuhmu bereaksi dengan fragmen ini. Seolah-olah… mereka saling mengenali.” Wu Teng memandang giok di tangannya. Di bawah cahaya pagi, benda itu tampak lebih dalam, seperti sumur tanpa dasar. “Jika apa yang kau katakan benar,” ujarnya perlahan, “maka kehancuran sekteku mungkin bukan sekadar perebutan kekuasaan.” Ling’er mengangguk tipis. “Bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak. Dan kau berada tepat di jalurnya.” Ucapan itu tidak menghibur. Wu Teng menutup mata sejenak. Dunia terasa semakin luas dan semakin berbahaya. Ia bukan hanya buruan Aliansi Delapan Sekte Besar, tetapi mungkin pion dalam permainan yang lebih kuno. Tiba-tiba— TOK! TOK! TOK! Ketukan keras mengguncang pintu gubuk. Ling’er dan Wu Teng sama-sama menoleh. Suara kasar terdengar dari luar. “Tabib! Buka pintu!” Wu Teng otomatis meraih pedangnya, meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Suara itu melanjutkan dengan nada kasar dan penuh curiga, “Apa kau melihat pengkhianat dari Sekte Cahaya Abadi lewat sini?” Ling’er berdiri. Wajahnya kembali tenang, seolah gelombang di danau baru saja mereda. Ia menoleh pada Wu Teng. “Jika kau ingin hidup,” katanya pelan, “jangan bergerak dan jangan gunakan qi.” Langkahnya ringan saat ia berjalan menuju pintu. Wu Teng menggenggam pedangnya erat-erat, jantungnya berdebar cepat. Di luar, suara kain dan senjata beradu samar terdengar. Terdengar suara ketukan di pintu yang tidak berhenti. TOK! TOK! TOK! Bukan ketukan orang yang meminta tolong. Itu ketukan orang yang terbiasa memerintah. Wu Teng menahan napas. Ling’er hanya menoleh sekilas ke arahnya. Tatapan gadis itu tenang, tetapi sorot matanya kini tajam seperti jarum yang ia gunakan sebelumnya. “Cepat,” bisiknya pelan. Sebelum Wu Teng sempat bertanya, Ling’er sudah bergerak ke sudut ruangan. Ia menarik rak kayu berisi ikatan-ikatan akar kering dan kantong kain penuh rempah. Aroma menyengat langsung memenuhi gubuk —campuran belerang halus, empedu beruang kering, dan tanaman liar yang pahit. “Masuk ke bawah sana,” ujar Ling’er cepat sambil menggeser papan kayu tipis di lantai. Di bawah papan itu terdapat cekungan dangkal, cukup untuk satu orang dewasa berbaring dengan tubuh dirapatkan. Wu Teng menyipitkan mata. “Jika ini jebakan—” “Jika ini jebakan, kau sudah mati sebelum ketukan ketiga tadi,” potong Ling’er tanpa menoleh. TOK! TOK! TOK! Suara kasar di luar makin keras. “Tabib! Kami tahu kau di dalam!” Wu Teng mendengus pelan. Tidak ada waktu untuk keraguan. Lelaki bertubuh kekar itu masuk ke cekungan sempit itu, menahan rasa sakit ketika tulang rusuknya bersentuhan dengan papan kasar. Ling’er segera menutupnya kembali, lalu menumpuk karung-karung ramuan di atasnya. Akar dan daun kering berjatuhan, menggores kulitnya. Aroma tajam memenuhi rongga hidungnya, membuat matanya berair. “Jangan bernapas terlalu dalam,” bisik Ling’er dari balik papan. “Ramuan ini bisa membuat orang pingsan jika terlalu lama terhirup.” Wu Teng ingin menjawab, tetapi suara pintu yang didorong paksa memotong pikirannya. BRAK! Pintu gubuk terbuka dengan kasar. “Akhirnya,” geram seseorang. Melalui celah kecil di antara papan dan karung, Wu Teng bisa melihat sepatu bot hitam memasuki ruangan. Ada tiga orang. Dari suara langkahnya, salah satunya memiliki napas berat —mungkin mengenakan zirah ringan. “Tabib,” suara itu kasar dan penuh curiga, “kami sedang memburu pengkhianat dari Sekte Cahaya Abadi. Seorang pria tinggi, wajah dingin, pedang hitam. Kau melihatnya?” Ling’er berdiri tegak beberapa langkah dari mereka. “Jika aku melihat pria seperti itu, aku mungkin sudah mati,” jawab gadis itu ringan. “Gubukku kecil. Jika ada orang lain di sini, kau pasti sudah mencium bau keringatnya.” Salah satu prajurit mendengus. “Kami dengar ada jejak darah menuju hutan ini.” Ling’er mengangkat alisnya sedikit. “Hutan ini penuh rusa dan babi hutan. Kau akan menemukan darah di mana-mana jika mau melihat.” Suasana menegang. Wu Teng menahan napas, berusaha menyatukan qi sekecil mungkin. Teknik penyembunyian napas adalah dasar dalam dunia persilatan, namun kondisinya sekarang buruk. Jika ia memancarkan sedikit saja fluktuasi energi, seorang ahli akan merasakannya. Suara langkah mendekat. Sepasang sepatu berhenti tepat di dekat papan tempat ia bersembunyi. Wu Teng merasakan jantungnya memukul seperti drum perang. “Bau apa ini?” tanya seorang prajurit. “Ramuan pembusuk bangkai,” jawab Ling’er santai. “Untuk mengobati infeksi dan membersihkan racun dari luka terbuka. Baunya memang tidak bersahabat.” “Persis seperti bau darah busuk,” gumam prajurit itu. Ling’er tertawa pelan. “Jika kau ingin mencicipinya untuk memastikan, aku bisa menyeduhkannya untukmu.” Prajurit itu mundur setengah langkah. Namun suara lain, lebih berat dan berwibawa, terdengar dari luar gubuk. “Cukup.” Langkah kaki terdengar, lebih ringan. Wu Teng merasakan sesuatu —fluktuasi qi halus namun dalam. Orang ini bukan prajurit biasa. Seorang perwira. Ia berhenti di ambang pintu. “Tabib,” katanya pelan namun tegas, “kami mendapat perintah dari Aliansi Delapan Sekte Besar. Hutan ini akan disisir sampai ke akar. Jika kau menyembunyikan buronan, kau akan dianggap kaki tangannya.” Ling’er tidak membungkuk dalam-dalam seperti rakyat biasa di hadapan prajurit. Ia hanya menyatukan tangan di depan dada dengan gerakan sopan seperlunya. “Aku hanya tabib. Aku menyembuhkan siapa pun yang datang dengan luka —petani, pemburu, bahkan prajurit aliansi jika mereka membayar dengan sopan.” Perwira itu terdiam sesaat. “Kau tampak tenang untuk seseorang yang baru saja didatangi pasukan bersenjata,” ujarnya. Ling’er tersenyum tipis. “Hutan ini mengajarkan ketenangan. Jika aku panik setiap kali orang mengetuk pintu, aku sudah lama mati karena jantungku sendiri.” Wu Teng memperhatikan melalui celah kecil. Cara Ling’er berdiri… bahunya rileks, napasnya hampir tak terdengar. Tidak ada jejak qi yang memancar keluar. Teknik menyembunyikan napas tingkat tinggi. Bahkan dengan indranya yang terlatih, Wu Teng hampir tidak bisa merasakan keberadaan gadis itu. Perwira itu akhirnya berkata, “Periksa di sekitar. Jangan lewatkan satu jengkal pun.” Langkah kaki menjauh. Suasana di dalam gubuk kembali hening. Wu Teng tetap tidak bergerak selama beberapa saat. Ia menunggu sampai suara ranting patah dan derap langkah benar-benar menghilang ke arah hutan bambu di sebelah utara. Beberapa napas kemudian, papan di atasnya terangkat. Cahaya masuk. Ling’er berdiri di atasnya. “Keluar. Mereka sedang menyisir sisi barat. Untuk sementara, kau aman.” ***"Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d
Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c
Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb
Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan
Ling'er, yang kini sepenuhnya menjadi penghubung, memfokuskan semua energi gabungan itu."Ini... adalah... untuk dunia!" raung Ling'er, suaranya kini bercampur dengan gema kekuatan primordial.Ia menyalurkan energi yang tak terukur itu, yang merupakan perpaduan Pilar Ketujuh Wu Teng dan esensi Penyeimbangnya, langsung ke inti Tuan Kegelapan Abadi.Tuan Kegelapan Abadi terkesiap, wujudnya yang tak beraturan bergetar hebat.Seringai kejamnya lenyap, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang nyaris seperti teror."Mustahil! Kau... kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"Energi yang mengalir melalui Ling'er terlalu murni, terlalu kuat, terlalu terhubung langsung dengan akar dunia itu sendiri.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, yang secara inheren mengganggu esensi Tuan Kegelapan Abadi.Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan kegelapan hitam yang pekat meledak di tengah aula, menerangi seluruh a
Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K
Wu Teng menggunakan pangkal pedangnya untuk memukul pergelangan tangan pria itu, membuat goloknya terlepas.Kemudian, dengan satu gerakan cepat, ia mengunci lengan Pendekar Bayaran itu di belakang punggung, menyerahkannya kepada Ling'er.Ling'er tidak membuang waktu. Dengan jaru
Lin Wei tertidur lebih dulu, kelelahan merenggut ketegangannya.Wu Teng duduk bersandar pada batu dingin. Ling’er duduk di sampingnya.Wanita cantik itu memandang bintang-bintang yang samar tertutup kabut.“Kau terus menekan energimu,” katanya lembut.Lelaki ti
Lelaki itu lebih tinggi setengah kepala dari Wu Teng, dadanya lebar seperti dinding batu. Wajahnya dipenuhi bekas luka lama.Rambutnya dicukur habis, memperlihatkan kulit kepala yang penuh guratan seperti peta peperangan.Ia melangkah maju. Pasir di bawah kakinya seolah mengeras
Hari demi hari, reputasi Sekte Cahaya Abadi perlahan berubah.Pendekar dari sekte lain datang bukan untuk menantang, tetapi untuk belajar.Mereka mendengar bahwa sekte ini tidak lagi berbicara tentang dominasi, melainkan harmonisasi.Di pelataran yang kini telah selesai







