로그인Sayatan di bahu Wu Teng masih berdenyut pelan, seperti denyut nadi yang mengingatkan bahwa daging manusia bukan baja.
Fragmen giok di balik dadanya —Fragmen Pemutus Takdir— bergetar samar, seolah merespons badai yang mengamuk. Atau mungkin merespons sesuatu yang lebih dekat. Ling’er berdiri tiga langkah di belakangnya, rambutnya yang panjang basah menempel di pipi. Tatapannya tajam, meski wajahnya pucat. Ia tidak berkata apa-apa. Kata-kata tidak dibutuhkan ketika hujan berbicara dengan suara ribuan jarum. Sebuah hembusan angin mendadak berubah arah. Daun-daun terangkat, seperti tersedot ke dalam pusaran tak kasatmata. Lalu ia datang. Ia tidak muncul seperti pendekar lain. Tidak ada langkah berat. Tidak ada suara ranting patah. Hanya satu kedipan. Dan bayangan itu sudah berdiri di atas cabang cemara yang tinggi, tubuhnya condong ke depan seperti burung pemangsa. Jubah hitamnya tipis dan rapat, menyatu dengan malam. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya bersih dari emosi, seperti kolam tanpa riak. “Wu Teng,” ucapnya, suaranya nyaris tenggelam oleh hujan. “Pendekar terbuang. Pemegang kunci kiamat.” Wu Teng tidak menoleh. “Jika kau datang untuk menyambut, hujan ini bukan pesta yang ramah.” Lelaki itu tersenyum tipis. “Aku datang untuk memastikan kau tak sampai ke Lembah Salju.” “Nama,” kata Wu Teng pendek. “Orang memanggilku Si Pemotong Angin.” Angin menjawab dengan lolongan liar. Lalu dunia bergerak terlalu cepat. Wu Teng tidak melihat kapan tubuh itu menghilang dari cabang. Ia hanya merasakan perubahan tekanan udara, seperti dunia kehilangan satu partikel berat. Sebilah cahaya tipis menyambar dari samping —bukan cahaya matahari, melainkan pantulan kilat dari bilah pedang sempit yang melengkung seperti taring. Wu Teng menggeser kaki kirinya setengah inci. Pedang itu menyapu udara, mencukur setangkai rambutnya. Tanah di bawahnya licin. Ia membiarkan dirinya meluncur mengikuti momentum, tubuhnya merendah, pedangnya sendiri terangkat untuk menahan tebasan kedua —yang datang dari arah mustahil. Dentang. Bunga api tersembur, lalu segera dipadamkan hujan. Si Pemotong Angin tidak berdiri diam. Ia mengalir. Gerakannya bukan sekadar cepat. Ia memahami celah antara detik dan detik. Ia menjejak lumpur seolah ia memiliki perjanjian rahasia dengan gravitasi. Setiap loncatan meninggalkan riak, seolah udara terlambat mengakui keberadaannya. Wu Teng menahan tiga tebasan beruntun. Bahunya berteriak protes. Luka lama menyala seperti bara digaruk pisau. “Kau lamban,” ujar si pembunuh tanpa terengah. “Rumor telah membusukkan namamu lebih cepat dari tubuhmu.” Wu Teng tidak menjawab. Kata-kata adalah beban saat pedang menari. Ia mencoba mengimbangi dengan langkah kilat —teknik dasar para pendekar elit. Namun setiap kali ia maju, pedang lawan sudah menunggu di sisi yang berbeda. Seperti melawan angin ribut dengan selembar daun. Ling’er mundur ke balik batang pohon, tangannya menggenggam jimat kecil. Ia tahu ini bukan arena bagi dua orang. Satu sabetan berhasil lolos. Ujung pedang Si Pemotong Angin menggores dada Wu Teng. Tipis, tetapi cukup untuk memecah kain dan kulit. Darah bercampur hujan, menjadi warna yang tak bisa dibedakan dalam gelap. Wu Teng terhuyung setengah langkah. Rasa pahit merambat dari luka, bukan hanya daging yang tersayat, melainkan harga diri yang terkoyak. Jika ini murni adu kecepatan, ia sudah kalah. Si Pemotong Angin berhenti sejenak, berdiri dua puluh langkah jauhnya, pedangnya miring menghadap tanah. “Kau bahkan tak layak membuatku berkeringat.” Hujan semakin deras. Dalam kepala Wu Teng, sesuatu bergetar. Bayangan Sunyi. Nama itu bukan teknik sembarang. Itu warisan terlarang dari sektenya —gerak batin yang membuat pengguna melangkah ke dalam keheningan antara suara, ke dalam ruang di mana niat bergerak sebelum tubuh menyusul. Teknik itu memintanya melepaskan sebagian kesadaran, membiarkan naluri yang lebih purba mengambil alih. Dan itulah yang ia takuti. Karena terakhir kali ia kehilangan kendali, sebuah sekte terbakar. Sebuah sekte… atau setidaknya, itu yang dituduhkan. Fragmen giok di dadanya berdenyut. Seketika, hujan terasa melambat. Tidak benar-benar melambat —ia tahu dunia tak berubah. Namun pikirannya… melunak. Rintik-rintik air terlihat seperti benang panjang. Hembusan angin memiliki arah yang jelas, seperti jari-jari tak kasatmata menunjuk masa depan satu detik ke depan. Wu Teng menutup mata. Si Pemotong Angin menyerang. Tidak ada suara selain denyut. Wu Teng tidak lagi memusatkan diri pada tubuh lawan. Itu sia-sia. Ia fokus pada angin. Si Pemotong Angin memang cepat —karena ia bergerak bersama angin. Ia memanfaatkan pusaran, mengikuti arah dorong dan tarik udara. Setiap pijakan diselaraskan dengan hembusan berikutnya. Itu sebabnya ia tampak menghilang —ia mengikuti jalan yang sudah dibuka angin. Jika demikian, anginlah petanya. Wu Teng membiarkan Bayangan Sunyi menyelimuti pikirannya. Dunia menjadi samar, seperti lukisan tinta yang direndam air. Namun di balik kabut itu, garis-garis tipis energi terlihat jelas —arah tekanan, perubahan suhu, getar di dedaunan. Di kiri. Tidak —lebih tepatnya, angin akan berbelok ke kiri dalam sepersekian detik. Wu Teng memutar tubuhnya sebelum pedang muncul. Clang. Logam bertemu logam tepat saat bilah lawan tiba. Wajah Si Pemotong Angin akhirnya berubah. Sedikit saja. Seperti retakan pada porselen. Ia mundur, lalu menyerang lagi dari atas. Wu Teng tidak mengikuti gerakan tubuhnya. Ia mengikuti riak hujan yang terpecah di udara saat lawan melaju. Satu langkah ke samping. Sabetan kosong. Serangan berikutnya datang dari belakang, cepat seperti kilat menyambar. Wu Teng merendah tanpa melihat, pedangnya menusuk ke atas mengikuti arus angin yang berbalik arah. Ujung bilahnya menyayat lengan lawan. Darah tercampur hujan, kali ini milik orang lain. Si Pemotong Angin mendarat ringan, wajahnya kini tanpa senyum. “Teknik itu,” gumamnya. “Bayangan Sunyi.” Nama itu diucapkan seperti kutukan. Wu Teng merasakan beban di kepalanya. Bayangan Sunyi bukan sekadar teknik; ia seperti membuka pintu pada ruangan di dalam dirinya yang tak sepenuhnya jinak. Setiap detik penggunaan menggerogoti batas antara kendali dan kekosongan. Fragmen giok ikut bergetar, seolah menyambut. Ia harus cepat mengakhiri ini. Si Pemotong Angin menatap langit. “Baik. Kita percepat.” Tubuhnya menghilang. Tidak —ia membelah menjadi tiga bayangan kabur, berpencar dalam arah berbeda. Teknik ilusi kecepatan. Mata biasa akan bingung memisahkan mana yang nyata. Wu Teng tidak membuka mata sepenuhnya. Ia menajamkan rasa pada udara. Tiga bayangan berarti tiga pusaran kecil. Namun hanya satu yang mengganggu ritme hujan secara tak alami. Itu dia. Wu Teng memutar seluruh sisa energi ke dalam satu langkah maju. Tanah licin, namun ia tak peduli. Pedangnya ditarik mundur —lalu diluncurkan. Satu tusukan. Sederhana. Tanpa gerakan indah. Tanpa putaran teatrikal. Presisi. Bilahnya menembus tepat di bawah tulang rusuk kiri Si Pemotong Angin, di antara celah yang terlalu kecil bagi mata kebanyakan orang. ***"Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d
Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c
Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb
Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan
Ling'er, yang kini sepenuhnya menjadi penghubung, memfokuskan semua energi gabungan itu."Ini... adalah... untuk dunia!" raung Ling'er, suaranya kini bercampur dengan gema kekuatan primordial.Ia menyalurkan energi yang tak terukur itu, yang merupakan perpaduan Pilar Ketujuh Wu Teng dan esensi Penyeimbangnya, langsung ke inti Tuan Kegelapan Abadi.Tuan Kegelapan Abadi terkesiap, wujudnya yang tak beraturan bergetar hebat.Seringai kejamnya lenyap, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang nyaris seperti teror."Mustahil! Kau... kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"Energi yang mengalir melalui Ling'er terlalu murni, terlalu kuat, terlalu terhubung langsung dengan akar dunia itu sendiri.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, yang secara inheren mengganggu esensi Tuan Kegelapan Abadi.Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan kegelapan hitam yang pekat meledak di tengah aula, menerangi seluruh a
Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K
Ling’er menarik tangannya, napasnya sedikit memburu, tetapi wajahnya bersinar dengan pemahaman baru.“Aku tidak memadamkan kekuatanmu,” katanya pelan. “Aku hanya mengingatkan mereka untuk tidak saling memakan.”Wu Teng tersenyum.“Dunia tidak butuh dua kunci,” ujarnya.
Ling’er menegang, berdiri sedikit di belakang Wu Teng.Gadis berambut hitam itu bisa merasakan distorsi yang lebih halus dari yang tadi mereka hadapi. Ini bukan reaksi liar seperti Penjaga Waktu. Ini terkendali. Terarah.Ratu Es muncul tak jauh dari pilar, wujudnya lebih redup d
Wu Teng tahu, satu langkah salah, dan bukan hanya dirinya yang akan tenggelam, tetapi seluruh daratan di bawah langit yang retak. “Tempat ini bukan sekadar dingin,” gumam Ling’er, suaranya hampir tertelan angin. “Ada kesadaran di dalam salju.” Wu Teng mengangguk pela
Peta tua itu retak di beberapa bagian. Garis-garisnya digambar dengan tinta gelap yang sudah memudar, tetapi tujuh titik bundar ditandai dengan simbol yang menyerupai mata tertutup.Tiga di antaranya telah diberi tanda silang.Wu Teng menunduk lebih dekat.Ia mengenali







