Share

Bab 7

Di Bandara Internasional Juanda Surabaya, seorang lelaki mengacak rambut frustasi. Gara-gara tadi drama mobil mogok, akhirnya dia ketinggalan penerbangan yang menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta. Bibirnya berdecak dan dia menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang berderet rapi di Bandara.

Gegas dia mengangkat benda pipih dan menghubungi seseorang yang dimintanya untuk datang ke sana.

“Hallo, Rin, masih di mana?”

“Bentar, sih, Mas! Kemarin ditawarin nginep di apartemenku gak mau! Rasain, telat deh, tuh!”

“Takut jadi fitnah, Rin!”

“Terus sekarang? Telat kan? Emang enak!”

“Ck, sudah gak usah bahas!”

“Dasar Mas Baska tukang ngeyel!”

Panggilan pun ditutup. Harga ticket yang melonjak tinggi membuat lelaki yang tak lain adalah Mas Baska tak berani membeli ulang. Pada akhirnya dia menyerah dan memilih pulang ke Bekasi menggunakan kendaraan roda empat dan menyetir sendiri.

Selang tiga puluh menit, Karina si gadis tomboy itu muncul. Dia tergelak melihat wajah frustasi lelaki yang kemarin menolak tawarannya untuk tinggal di apartemen. Karina langsung duduk di samping Mas Baska yang baru saja bernapas lega.

“Bilang Abi, Mas jadi pinjam mobilnya.” Mas Baska menoleh pada Karina.

“Yes, kalau pinjam berarti nanti ada rencana balikin ke sini lagi, dong!” Kedua mata Karina berbinar.

“Nanti Mas suruh orang buat kirim!” Mas Baska bangkit lalu menyodorkan tangan meminta kunci pada gadis tomboy dengan rambut sebahu itu.

“Harus Mas Baska pokoknya yang balikin! Kalau enggak, gak mau aku minjemin, we!” Karina menjulurkan lidah dan menatap sengit ke arah Mas Baska.

“Gimana Abi mau cepet mantu, kelakuan kek bocah! Sini kuncinya! Mas sudah gak ada waktu.” Mas Baska memasang wajah serius. Akhirnya Karina menyerahkan kunci mobil itu pada Mas Baska.

“Mas balik dulu, ya! Bae-bae loh, entar dikawinin!” kekeh Mas Baska seraya menyentil dahi Karina yang tertutup poni tak rata.

Hanya cebikan dari Karina. Dia pun menyerahkan kunci mobil itu pada Mas Baska dengan dilempar begitu saja. Untung Mas Baska sigap menangkapnya.

“Kenapa, sih, aku jadi anak satu-satunya? Ck! Enak kan kalau punya kakak.” Karina cemberut ketika langkah Mas Baska mulai menjauh meninggalkannya. Tak lama dari itu dia berlari dan mengejar Mas Baska. Berjalan mengekori langkah panjang lelaki itu hingga tiba di parkiran.

“Mas pulang dulu, ya! Assalamuálaikum!” Mas Baska melambaikan tangan pada Karina setelah memasukkan barang-barang ke bagasi mobilnya. Perjalanan Surabaya – Bekasi sudah menanti. Andai bukan menjelang hari Raya, mungkin lebih baik menunggu ticket selanjutnya. Namun sayang, flight kelas ekonomi sudah habis dan hanya tinggal bisnis class yang harganya selangit.

“Bye-bye, Mas! Wa’alaikumsalam!” Karina memasang senyum. Namun tak lama, setelah mobil yang ditumpangi Mas Baska keluar dari parkiran dan menghilang dia berteriak dengan kencang.

“Aaaarghhh!” Ditinjunya angin dan dia mengabaikan orang-orang yang tengah ramai memperhatikannya dengan heran.

Mas Baska mulai menyetir. Diinjaknya gas perlahan. Doa-doa dalam dada dia langitkan.

“Aya … Mas pulang … Kiran … Ayah pulang ….” Mas Baska tersenyum membayangkan akan sebahagia apa Cahaya dan Kiran ketika tahu jika dia pulang. Kepulangannya sengaja disembunyikan agar menjadi kejutan. Dia pun sudah selesaikan semua utang berjumlah milyaran itu. Kini dia pun dipercaya mengelola sebuah perusahaan trading milik Abi yang tengah launching di daerah Bekasi. Perusahaan yang sebagiannya ada saham atas nama dirinya di dalamnya.

***

Kondisi Kiran, benar-benar membuat Cahaya panik. Cahaya pun sudah menelpon Ibu. Perempuan paruh baya itu datang tergopoh dan menggantikan Cahaya berjaga di klinik, meninggalkan suaminya yang sebetulnya tengah sakit-sakitan juga.

“Ibu gantikan dulu jagain Kiran, ya!” Cahaya menatap wajah teduh perempuan pemilik surganya itu.

“Iya, Aya.” Ibu mengangguk. Cahaya sudah membeberkan panjang lebar kalau dia akan pergi mencari pinjaman. Tadi sudah menelpon Mbak Fatma, tetapi tak diangkatnya. Dia ingat jika Mbak Fatma lagi buka bersama di rumah Ibu mertuanya. Biasanya Mbak Fatma sedikit lebih berprikemanusiaan dari pada Mbak Fiska. Buktinya saja kemarin tetap dapat pinjaman untuk membelikan baju lebaran Kirana.

Dengan menaiki ojek. Rumah yang pertama dituju tetap rumah Ibu mertuanya. Untuk meminjam ke tetangga lain, Cahaya pesimis. Dua juta rupiah bukan bilangan kecil. Apalagi menjelang hari raya, semuanya pasti memiliki kebutuhan.

Alunan suara murotal pada masjid-masjid dan bedug yang bertalu sepanjang jalan, hanya itu yang menemaninya. Suara-suara orang melantunkan solawat berseling dari satu masjid ke masjid lainnya. Malam ini, terpaksa Cahaya melewatkan solat tarawih berjamaah.

Sampai di depan rumah mertuanya, kondisi masih ramai. Mobil Mas Fajri pun tampak terparkir di garasi. Tak seperti yang dibilang Mbak Fiska tadi kalau Mas Fajri tengah pergi.

Meskipun ragu, Cahaya tetap mengetuk pintu rumah yang memang masih sedikit terbuka itu. Mbak Fatma yang muncul. Ruang tengah masih berantakan. Beragam makanan tampak memenuhi karpet yang mereka gelar. Anak-anak Mbak Fatma tengah tiduran pada karpet bulu dan tampak bercanda satu sama lain.

Akhirnya Cahaya mengutarakan niatnya pada Mbak Fatma. Bu Rini mendengarkan. Dia seperti kaget mendengar Kiran sakit. Namun sepertinya tetap memilih diam.

“Alah, paling ngada-ngada, Ma. Paling juga cari uang doang buat modal lebaran! Sampai segitunya, ya!” Mbak Fiska terdengar berujar sinis.

“Emang uang yang tadi Baska kasih, sudah habis?” Bu Rini sepertinya lebih percaya pada omongan Mbak Fiska.

“Yang Mama kasih tadi sudah aku belikan beras juga dan kebutuhan lain-lainnya, Ma. Lagian uangnya hanya tiga ratus ribu, buat Kiran dirawat itu bayar awalnya saja dua juta, Ma. Mungkin kalau rawat inapnya lebih, bisa lebih juga.”

“Sakit tipes itu akal-akalan dokter saja, Aya! Dulu Mbak juga waktu Siska dibilang sakit tipes, Mbak minta pulang saja! Berobat pake obat warung juga sembuh. Apalagi kamu memang gak ada uang. Jadi gak usah maksain. Bilang saja mau rawat jalan!” Mbak Fatma angkat bicara.

“Nah itu baru Ibu yang cerdas! Jangan apa-apa mewek, apa-apa panikan! Bisanya nyusahin orang doang!” omel Mbak Fiska.

Cahaya menggigit bibir bawah. Rupanya keragu-raguannya memang berbuah cemoohan saja. Cahaya tak berlama-lama, lekas pamitan pulang. Percuma juga, mereka bahkan mengira sakitnya Kiran hanya mengada-ada.

Langkah Cahaya yang sudah sampai jalanan terhenti ketika suara seseorang terdengar memanggil. Langkah cepat lelaki itu akhirnya bisa mengejar Cahaya.

“Pakailah ini. Pinnya nanti Mas kirim lewat WA!” Mas Fajri sudah berdiri dan tanpa Cahaya sangka meletakkan kartu ATM pada telapak tangannya.

“A--apa ini, Mas?” Cahaya melongo melihat kartu berwarna biru itu.

“Buat kamu … Mas tahu kamu gak bohong. Kiran pasti emang lagi sakit.” Mas Fajri menatap lembut. Cahaya mematung ragu. Namun tak urung juga dia tersenyum dan mengucap terima kasih.

“Makasih banyak, Mas. Uangnya nanti pasti Aku ganti, walau gak janji bisa cepat.” Cahaya berucap dengan bibir bergetar.

“Gak usah diganti, Aya. Mas hanya minta satu malam saja dari kamu.” Ucapan itu seketika membuat kebahagiaan Cahaya terhempas begitu saja. Dia mengepal erat dan dengan mata mengembun menatap lelaki yang berdiri di depannya.

“Aku tak serendah yang kamu pikir, Mas!” Cahaya mengembalikan kartu ATM itu pada Mas Fajri.

“Aya, Baska gak akan pulang! Kamu gak usah sok jual mahal! Mau minta tolong sama siapa lagi kamu? Mau lebaran gini, semua orang uangnya dipakai.” Mas Fajri tersenyum merendahkan, tangannya mencekal pergelangan tangan Cahaya.

“Aku punya Allah, Mas! Aku gak butuh belas kasihan kamu! Suamiku pasti akan pulang! Dia akan pulang!” Cahaya mengepal dan menepis kasar cekalan Mas Fajri pada lengannya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status