MasukDear pembaca setiaku, makasih masih bertahan baca sampai bab ini. Buat pembaca baru, selamat datang. Semoga bisa menikmati kisah Ana dan leon ya. Kalau boleh kasih ulasan yang positif, gem atau gift untuk mendukung novel ini ya. Moga rezeki kalian melimpah, amin. Have a nice day.
Bibir Clara bergerak hendak bersuara. Namun Thorian sudah lebih dulu menyelanya seolah tahu isi kepalanya. Ia tersenyum tipis. “Kalau kau gagal, kau tidak akan keluar dari ruangan ini.”Ancaman itu diucapkan tanpa emosi. Justru itu yang membuatnya nyata. Dan, jantung Clara berpacu dengan cepat. Clara mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan perasaan gelisahnya. “Lepaskan sarung tanganmu.”Thorian mengangkat alis, tapi menuruti. Saat kulitnya terbuka, Clara melihat perubahan warna di buku-buku jari. Itu adalah tanda pembuluh yang sering menegang berlebihan. Ia mendekat untuk melihat denyut di lehernya.“Jangan sentuh aku tanpa izin,” kata Thorian pelan. Namun tatapannya sempat tertuju pada bagian dada milik gadis itu yang menyembul. Namun segera ia mengalihkan pandangannya ketika gadis itu bersuara. “Kalau begitu, Yang Mulia tidak ingin sembuh. Aku harus menyentuhnya. Itu bagian dari prosedur pemeriksaan,” lanjut Clara berterus terang. Ruangan itu mendadak hening. Ketegangan seakan
Clara berjalan perlahan mengikuti langkah besar sang pangeran. Dadanya terasa sesak seketika ketika pertama kali menginjakan kakinya di sana, istana Dragoria.Pemandangan dengan aura gelap langsung menyambutnya. Para prajurit berpakaian hitam bertubuh tinggi besar berdiri di sisi kanan dan kiri jalan menuju balairung utama Dragoria.Langkah kaki Thorian berhenti tatkala melihat kedatangan sang kakak, Draven. Pria itu berjalan dengan begitu gagah dan tampan. Matanya langsung terpacak pada adiknya lalu beralih pada sosok wanita yang menundukan kepalanya ke lantai. Rambut madunya jatuh menutupi wajahnya.Ia berbicara dengan nada rendah bariton—yang berhasil membuat Clara meneguk salivanya. “Siapa dia? Kenapa kau lancang sekali membawa tahanan ke istana?” kata Draven dengan suara yang nyaris membuat semua orang yang melihatnya menahan napas.Clara terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Bahkan dia tidak berani mengangkat pandangannya. Jemarinya bertautan di belakang punggungnya. Kepalanya
Clang! Suara baja dengan baja beradu dengan sengitnya. Benturannya memekakkan telinga. Clara berusaha menahan dorongan pedang dari sang pangeran kejam dengan sekuat tenaga. Dengan kemampuannya sebagai seorang tabib sekaligus alkemis, ia bisa melihat beberapa kelemahan pada pria itu. Kendati tubuhnya tinggi besar lengkap dengan bongkahan otot di sana sini, di matanya, ia memiliki kelemahan yang tak bisa diabaikan dan hanya bisa dilihat oleh para tabib yang teliti.Dengan kemampuannya itu, Clara setidaknya bisa menghindar lalu melakukan pembalasan dengan menyerangnya pada titik tertentu pada tubuhnya yang dianggap lemah. “Kau lumayan kuat dan punya nyali, tabib palsu,” suara Thorian menggema di jeruji besi nan sempit itu. Clara hanya mendecak pelan, mendapat tatapan yang tajam itu dan suara yang menjelma seperti lonceng kematian. Seiring berjalannya waktu, ketegangan semakin meningkat tatkala Clara tak kuasa menghindar lagi.Hampir setengah jam mereka terlibat dalam adu pedang yang
Ruang peta pelabuhan Ravensel dipenuhi bau garam dan aroma laut yang menyengat. Di luar suara burung camar berkriang meramaikan dermaga.Gulungan perkamen terbentang di meja panjang, ditahan batu pemberat agar tak menggulung kembali.Leon berdiri di ujung meja. Jubah kebangsaannya terlepas, hanya mantel gelap di bahu. Tatapannya tajam, menyapu wajah-wajah di hadapannya. Mereka adalah para laksamana, kartografer, dan dewan pelabuhan.Pencarian Evander dan awak kapal Ravensel terus dilakukan. Bahkan kini, mereka sudah bergerak menyusuri daratan hingga pantai-pantai di daerah yang tak jauh dari tenggelamnya Kapal Utama Ravensel.Leon melangkah maju lalu bersuara dengan penuh kharismatik. “Mulai,” katanya singkat.Beberapa detik semua orang menahan napas setelah mendengar suara Leonhart yang terkesan dingin dan penuh kharisma seorang putra mahkota. Di hadapannya, seorang pria tua bersurai keperak-perakan, seorang master Kartograf Haiden melangkah maju. Tangannya gemetar halus saat membuk
“Menghindari api, jatuh ke bara,”...Inez menyeret kakinya dengan sekuat tenaga. Di luar jeruji para penjaga tahanan langsung menyerbunya. “Tuhan,” gumamnya pada diri sendiri. Tidak ada pedang dan senjata. Ia benar-benar harus melewati mereka dengan tangan kosong. Namun ketika seseorang terdesak kemampuan itu akan muncul secara tiba-tiba dan tak terkendali. Inez melawan mereka dengan jurus mematikan yang hanya akan ia keluarkan saat terdesak, karena setelah itu energinya akan terkuras habis. “Tidak adil, aku seorang diri dengan senjata. Tapi mereka mengepungku banyakan,” gumamnya dengan mendesis pelan. Ia memasang kuda-kuda lalu bersiap melawan ke lima pria dengan pedang terhunus. Mereka tertawa saat mendekati Inez, terlalu percaya diri bahwa baja bisa menghabisi manusia dengan sekali tebasan. Serangan pertama datang meluncur dengan gesit dari arah kanan. Sebuah tebasan cepat. Kepala Inez langsung menunduk dalam, membiarkan mata pedang menyisir udara di atas kepalanya. Ia mel
“Jika ingin menumbangkan harimau, kau harus berani menjejak sarangnya,” ...Clara berhasil mengecoh para penjaga dengan sulfurous smoke. Dengan melempar bubuk itu asap mengepul hebat dan ia berhasil membawa Evander menjauh dari kereta tahanan. “Cepat selamatkan Inez,” pinta Evander penuh harap. Matanya memerah dan suaranya melemah. Bahkan ketika kondisinya memprihatinkan, satu nama yang selalu Evander sebut, Inez Valeria. Clara mengangguk meskipun sempat merasa kesal karena Evander terus menerus menyebut nama Inez. Sial, ia jadi iri pada Inez yang mendapat perhatian begitu dalam dari sang pangeran.Sesekali ingatannya tentang Leonhart muncul di kepalanya, menari-nari seperti bayangan obor. ‘Aku menyelamatkanmu. Tapi, kau sama sekali tidak tertarik padaku. Hem, mungkin ada hati yang harus dijaga. Ketika ia tidak beristri mungkin kisah cinta lain akan tumbuh.’Lalu Clara berkata cepat. “Yang Mulia, kau harus berjalan lurus dari sini. Lalu belok ke kanan dan masuk ke lorong sebelah







