MasukTenda yang dibangun oleh Evander sudah siap. Meskipun tenda tersebut berukuran kecil, cukup untuk berlindung sementara bagi Inez.“Kita masuk!” imbuh Evander spontan begitu saja. Sebetulnya, ia membangun tenda untuk Inez saja karena saat itu tidak memungkinan membuat tenda yang jauh lebih besar dari itu. Bahan-bahan sangat terbatas.Inez menegang tatkala mendengar ajakan Evander. Sementara itu melihat reaksi Inez, Evander meralat ucapannya. “Kau masuklah! Aku akan berjaga di luar,” imbuh Evander dengan tersenyum tipis. Ditatap seperti itu, jantung Inez berdegup kencang. Namun ia segera mengusir rasa itu. Mengingat tadi saat ia berada setengah sadar dipeluk oleh Evander dan tak menolak, ia merasa ingin menggali tanah bersembunyi di dalamnya. Ia telah melakukan hal bodoh, pikirnya.‘Inez, ingatlah! Kau tidak boleh terjerat oleh perangkap Evander. Ingat, dia seorang pangeran. Kau hanyalah pengawal tanpa gelar bangsawan,’ batinnya berisik seperti angin ribut. Setelah pulang mungkin kede
“Kenapa diam?” Elia menyeringai getir. “Kau merasa bersalah?” Ia mencondongkan tubuhnya, suaranya menajam seperti belati. “Dasar… anak haram!”Deg.Sorot mata Ana menggelap mendengar kata-kata yang paling ia benci itu. Rahangnya mengetat. Ke dua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Mendengar panggilan itu, amarah meletup-letup di dadanya. Namun ia berusaha menahan diri. Ia memejamkan matanya sejenak. Ia merasakan kesedihan seorang ibu. Sewaktu Juliana keracunan, ia terserang panik. Dan, ia sadar kesedihan Elia lebih parah dari itu. Ana menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia menatap lekat Elia. “Aku datang ke sini untuk melihat kondisimu, Yang Mulia. Aku mengerti perasaanmu. Tidak ada seorang ibu yang ingin kehilangan anaknya.”Elia mendecih kesal. Apapun yang Ana katakan, semua itu menjelma seperti kutukan-kutukan yang membawa petaka. “Kau tidak akan memahaminya! Sampai kapanpun!” kata-katanya keras. Tatapannya menyorot Ana dengan tajam. Ana menghela napas berat. Ke
“Inez, menunduk!” Inez menunduk begitu saja ketika mendengar suara seseorang yang berteriak. Ia sempat menoleh ke arah sosok itu. Pandangannya mengabur. Ia tidak bisa melihat jelas siapakah dia.Naasnya, babi hutan datang lalu menyeruduk. Namun sosok pria bertubuh jangkung menghantamnya dari samping dengan sangat keras. Babi hutan itu terlempar ke pasir sembari mengeluarkan suara melengking karena marah. Sementara itu Inez terhempas ke belakang. Napasnya terhenti sesaat sebelum suara itu menyusul. “Inez!” teriaknya dengan keras. Burung camar memekik kaget, berterbangan ke langit. Inez mengerjap saat mendengar suara familiar itu. Wajahnya kini terlihat jelas. “Pangeran Evander,” gumam Inez dengan mata yang berkaca-kaca. Suaranya pecah diiringi tangisan tertahan—yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun.Inez yang dingin kini menjelma seperti seorang gadis seusianya. Gadis muda yang sedang menangis haru melihat sosok pria yang selama ini ia hindari kehadirannya, muncul dalam kea
Di pesisir pantai yang sunyi, seorang pria berusaha merangkak menuju garis air. Ombak kecil menjilat pergelangan kakinya.Tubuhnya basah kuyup dan penuh luka. Namun kesadarannya masih utuh. Satu kata yang terucap di bibirnya, nyaris tak terdengar. “In … ez”Evander memanggil nama Inez berulang kali kendati kesadarannya sempat hilang. Ia memukul pasir putih dengan frustrasi. “Inez,” lirihnya dengan perasaan yang sesak. Kepalanya terkulai di atas pasir. Tak peduli butiran pasir kasar menempel di pipinya. Padahal sebelumnya ia masih bisa menerjang badai. Ketika Inez jatuh tenggelam ke dalam air laut. Ia sempat menyelam dan menemukannya. Bahkan ia sempat meraih tubuhnya untuk menaiki sekoci kayu. Naasnya, gelombang badai yang dahsyat membuat mereka terombang-ambing di tengah lautan dan berakhir terdampar di pantai asing yang sunyi.Evander hampir menyerah. Namun suara burung camar yang memekik menyadarkannya. “Tidak boleh menyerah. Aku harus menemukannya. Inez, aku akan mencari hingga
Elia segera diboyong menuju kamarnya di paviliun sayap selatan. Langkah para pelayan tergesa, panik bercampur isak tertahan. Tubuh Elia terkulai lemah, wajahnya pucat.Tabib istana sudah menunggu.Saat Elia dibaringkan di ranjang, pria tua itu bergerak cepat. Ia langsung memeriksa denyut nadinya, membuka kelopak matanya, lalu meracik ramuan dengan tangan yang terlatih meskipun tegang. Aroma pahit dari cairan obat segera memenuhi kamar wanita itu.“Bagaimana keadaannya?” tanya Edric, berdiri di sisi ranjang. Suaranya rendah, penuh kecemasan.“Ratu mengalami syok berat, Yang Mulia,” jawab tabib sambil meneteskan ramuan ke bibir Elia. “Kehilangan kesadaran ini dipicu oleh guncangan emosi yang mendadak. Tubuhnya lemah, napasnya tidak stabil.”Edric mengatupkan rahang. Tangannya menggenggam jemari Elia yang dingin. “Pastikan ia selamat,” katanya lirih, tegas. “Apa pun yang kau butuhkan.”Tabib mengangguk. “Ia harus beristirahat total. Tidak boleh ada kabar buruk yang sampai kepadanya, seti
Istana Ravensel mendadak gempar karena kedatangan seorang perwira pelabuhan secara tiba-tiba pagi itu.Leon menyambutnya dengan wajah tegang. “Apa yang ingin kausampaikan?” nada suaranya tegas tapi bergetar. Sang perwira berlutut sembari menundukan wajahnya.“Ini ditemukan terdampar di pesisir barat,” Pria itu meletakan sebilah pedang di atas meja raja. Gagangnya tergores, tapi lambang mahkota masih utuh. Pedang Ironfall adalah pedang milik Evander.Bertepatan ia meletakan pedang, Edric baru saja tiba di sana. Wajahnya dingin. Ia langsung bertanya dengan suara yang pelan tapi penuh penekanan. “Apa maksudmu dengan pedang ini?”Padahal tanpa perlu dijelaskan, sebuah pedang yang ditemukan tanpa sang empunya berarti memang pemiliknya dianggap tidak selamat. Sang perwira mengangkat pandangan hingga tatapannya bertemu dengan manik seorang ayah yang tengah mengkhawatirkan putranya yang tidak pulang. “Yang Mulia, Paduka Raja. Kapal ekspedisi menuju perairan Selvara tidak kembali.”Edric me







