LOGINMendengar teriakan Madam Mia, Ana langsung mencari cermin rias. Matanya membulat dan bibirnya menganga saat melihat wajahnya di sana.
“Apa yang terjadi pada wajahku?” gumam Ana dengan tak percaya.
“Apa kau merusak wajahmu dengan sengaja Ana?” kata Madam Mia langsung mendekat. Ia menilik wajah Ana dari jarak sangat dekat. Bahkan ia menyentuh bagian pipi kanan dan kirinya bergantian.
“Ough, gatal, Madam,” kata Ana dengan lenguhan pelan. Ia meringis kesakitan.
Madam Mia menghela nafas berat, “Jika Baginda Ratu tahu, kau—”
“Cepat obati dia dan rias!”
Suara kharismatik terdengar. Baik Ana maupun Madam Mia langsung membungkukan badan mereka, menyapa sang ratu.
Madam Mia mengangguk pelan seraya menjawab, “baik, Yang Mulia,”
Ratu Seraphina menatap Ana sebentar dengan tatapan yang rumit lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka. Aneh, reaksinya datar.
“Ana, apa yang terjadi?” desak Madam Mia—masih kaget kenapa wajah Ana berubah mengerikan.
Ana mencoba mengingat kejadian semalam. “Madam, semalam ada sekitar tiga orang pria masuk ke kamar. Mereka tiba-tiba membekap mulutku. Setelah itu … aku tidak mengingat apapun. Aku hanya merasakan kalau wajahku gatal dan panas,”
Madam Mia menatap Ana dengan tatapan rumit. Gadis pelayan itu tidak mungkin berbohong. Dari sorot matanya ia bisa melihat kejujurannya.
Namun semua penghuni istana menutup rapat mulut mereka ketika mendengar kondisi wajah sang putri yang bengkak, penuh ruam dan mengerikan. Bahkan ke dua matanya yang biasanya indah tampak segaris. Semua orang yang melihatnya mungkin akan bergidik ngeri, jijik hingga ingin muntah.
Gosip istana pun mulai terdengar memanas dan semakin liar. Mereka mengaitkan apa yang terjadi pada sang putri berhubungan dengan kutukan. Mungkin kerajaan Velmont memang tidak ditakdirkan bersatu dengan kerajaan Ravensel.
Sebaliknya, Ratu Seraphina sama sekali tidak terusik dengan kondisi wajah Ana. Pernikahan akan tetap berlanjut. Ana tetap dirias oleh kepala pelayan kepercayaan ratu, Madam Mia sesuai rencana.
Di depan altar, pemuka agama berdiri dan bersiap-siap memimpin prosesi pernikahan. Di depannya sepasang calon pengantin berdiri dengan perasaan yang aneh. Bukan pernikahan karena cinta. Tapi … pernikahan karena kepentingan kerajaan.
Pangeran Leonhart tampak gagah dalam balutan resmi jubah hitam dengan emblem kerajaan, gambar seekor singa keemasan yang tengah berdiri tegak, cakar depannya mencengkeram dua pedang bersilang, dan di atas kepalanya bertengger sebuah mahkota bertatah permata merah. Sementara itu Ana terlihat anggun dalam balutan gaun pengantin putih yang menjuntai hingga ke lantai. Mahkota kecil bertengger di atas kepalanya yang berbalut veil hingga menutupi wajahnya.
Satu tarikan nafas tertahan sesaat janji suci ikatan pernikahan terucap. Tidak ada ciuman ataupun tatapan mesra dari sang mempelai pria pada mempelai wanita. Hanya ada tatapan intimidatif sang pangeran pada wanita yang kini menjadi permaisurinya.
“Menarik, semua orang merayakan kebohongan,” bisik Pangeran Leonhart tepat ke sisi wajahnya. Ana menahan nafas, gugup.
Gadis malang itu memilin jari jemarinya. Ia berkata lirih. “Maaf, apa maksud Yang Mulia,”
Pria bertopeng phantom itu mendesis pelan. Sudah ketahuan menipunya, masih berusaha menutupi kebohongannya.
Pangeran Leonhart berkata dengan nada dingin, “Aku tahu kau bukan Putri Velmont. Kau hanya seorang pelayan rendahan–”
Tubuh Ana bergetar. Namun … air yang sudah tumpah tak bisa ditadah kembali. Ia memilih bungkam seribu bahasa.
Beberapa detik kesunyian yang ia rasakan. Saat mendongak, Ana hanya bisa merasakan sentuhan jubah sang pangeran yang menyapu lantai. Punggung kekarnya sudah menjauh. Meninggalkan pengantin wanita yang menyedihkan.
Acara pesta berlangsung meriah hingga malam. Keesokan harinya Ana langsung diboyong ke tempat tinggal Pangeran Leonhart. Tidak ada perpisahan yang berarti.
Mereka menaiki kereta kuda mewah berlambang kerajaan Ravensel. Selama perjalanan hening. Ana duduk terpisah dengan sang pangeran. Ia sendirian, tak seperti putri lain yang ditemani dayang mereka. Tentu saja, Ana hanyalah pengantin pengganti. Ia bukan seorang putri.
Suara derit roda yang beradu dengan kerikil terasa seperti detak waktu yang menuntunnya menuju tempat terasing. Perjalanan panjang yang melelahkan itu akhirnya berakhir.
Mereka tiba di kastil milik Pangeran Leonhart. Kastil yang terletak di hutan Ebony, hutan kematian karena pepohonannya terbakar habis, tanahnya menghitam dan keras.
“Hutan ini seperti Pangeran Leonhart,” gumam Ana tatkala ia mengintip di balik tirai sebelum ia turun dari kereta kuda.
Seorang pengawal mengulurkan tangan saat Ana hendak turun. Namun sang pangeran langsung memekik. “Dia tidak pincang. Dia bisa jalan sendiri,”
Suara keras Pangeran Leonhart semakin membuat Ana mengecil. Saat ini ia begitu penasaran, apa rencana pria itu tetap membawanya ke tempatnya padahal sudah tahu jika dirinya bukan Putri Clarissa.
Apakah ia akan dihabisi di ranjang pengantin itu dengan sebilah pedang? Apalagi setelah tahu wajahnya terlihat mengerikan.
Berbagai pikiran buruk berseliweran di kepala Ana. Tanpa sadar, Ana diam mematung di atas jalan berbatu cukup lama. Pangeran Leonhart sudah lebih dulu masuk gerbang istana gelap itu.
Sang pengawal menuntunnya masuk. Sambutan yang pertama kali ia lihat adalah pemandangan gerbang kastil yang terlihat gelap dan kelam, terbuat dari besi tempa. Benar-benar menunjukan karakter The Black Phantom yang misterius.
Seorang pelayan wanita paruh baya langsung menyambut kedatangannya. Ia mengantarnya ke kamar pengantin.
Kamar pengantin yang sudah dirias sedemikian rupa untuk pengantin baru. Sebuah kamar bergaya aristokrat dengan jendela raksasa menghadap hutan.
Ana menelan salivanya susah payah tatkala tatapannya jatuh pada ranjang mewah itu. Entah apa yang akan terjadi malam nanti.
Suara deheman Pangeran Leonhart mengusik indera pendengaran Ana. Sontak, Ana menoleh ke arahnya. Sial, pangeran itu justru mendekat.
“Ana Merwin?”
Ana mengerjap. Pangeran itu sangat cerdas dan ratu begitu naif merasa paling pintar mengelabuinya. Bibir Ana bergetar, ingin bersuara, namun lidahnya mendadak kelu. Tenggorokannya tercekat udara.
Namun Ana harus bisa mengatasi situasi pelik itu. Ia terlihat menghela nafas pelan. “Yang Mulia—”
“Tidak usah pura-pura hormat padaku!” sela Pangeran Leonhart cepat. Tatapannya mengguliti tubuh Ana dari pucuk kepala hingga kaki.
Gadis itu memiliki kulit yang bersih dengan pinggang yang ramping. Sekilat mirip sekali dengan Putri Clarissa. Naasnya, Pangeran Leonhart orang yang teliti. Ia pernah bertemu sekali dengan Putri Clarissa saat acara ulang tahun Raja Edric, ayahnya. Putri itu memiliki tanda lahir di lengan kirinya.
“Kau sudah menjadi istri. Bukankah kau harus membuka veilmu?” kata Pangeran Leonhart dengan suara yang dingin menusuk.
Cengkraman Ana pada gaunnya semakin erat. Sontak, ia berjalan mundur.
Namun tangan Pangeran Leonhart terulur menarik veil tipis dalam sekali hentakan. Wajah Ana tersingkap di bawah cahaya senja yang redup.
Ia menatapnya. Namun bukan dengan kekaguman. Wajahnya justru mengeras dengan rahang yang menegang.
Clara berjalan bolak-balik di depan kamar yang ia tempati. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Di tangannya sebuah surat digenggam erat. Surat yang dikirim oleh Thorian untuknya—yang memintanya bertemu. “Pergi? Enggak? Pergi? Enggak?” monolognya dengan hati yang gelisah. “Kau mau melamar jadi pengawal istana?” Nathan menghampiri kakaknya. Ia berjalan ke arahnya sembari mengucek matanya yang terasa berat. Malam sudah larut, tetapi suara-suara kecil yang dibuat sang kakak, membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Padahal ia tengah bermimpi menjadi seorang putra mahkota di negeri antah berantah. Ketika mendengar suara adiknya, Clara menoleh dengan tatapan tajam. “Aku seorang tabib. Aku tidak tertarik mengawal orang.” Nathan mendesah pelan. “Jadi apa yang kaulakukan malam begini? Apa jangan-jangan kau berniat kabur dari istana?”Clara memutar ke dua bola matanya jengah. Adiknya itu memang sosok yang paling senang menggodanya. “Nathan, ini bukan urusanmu,” bentak Clara akan tetapi sama seka
Meggie melangkah pelan mendekat, menundukkan sedikit tubuhnya sebelum berbisik di samping Inez. “Mereka sering bertanya… kapan semua orang akan berkumpul lagi seperti dulu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat senyum Inez meredup. Di seberangnya, Evander yang semula berdiri tegak mendadak terdiam, napasnya terasa berat.“Seperti dulu?” ulang Inez lirih.Meggie mengangguk. “Ya. Sebelum wabah. Sebelum banyak hal berubah.”Inez memalingkan wajahnya ke arah Juliana yang tengah berdiri di atas kursi kecil, kedua tangannya terentang, berusaha menyeimbangkan diri seolah sedang menaklukkan panggung besar.“Banyak hal memang berubah,” gumam Inez, suaranya nyaris tenggelam oleh tawa anak itu.Evander menangkap nada sendu yang tak sempat disembunyikan. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Inez tanpa menyentuh, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana. “Tapi tidak semua berubah menjadi buruk,” ujarnya tenang.Inez menoleh, alisnya terangkat tipis. “Tidak?”Evander men
“Sepertinya aku akan pulang,” ujar Inez mengakhiri percakapan dengan Clara. Ia menatap Ethan yang sedang menyusu lalu tertidur. “Bayiku sudah tidur lagi. Aku jadi mengantuk juga,” katanya sembari menguap pelan. Bawaan hormon menyusui membuatnya mudah sekali mengantuk. Clara menatap baby Ethan lama. “Sebaiknya kau menginap di sini. Kau belum bertemu dengan si kembar kan,” tebaknya. Inez mengerjap. “Aku nyaris melupakan mereka. Aku tidak melihat mereka di manapun semenjak tiba di sini.”Clara menarik napas dalam sebelum melanjutkan ceritanya. “Semenjak wabah merebak, mereka diasingkan ke paviliun. Mungkin sebentar lagi akan kembali tinggal di istana sayap timur.”Inez tersenyum simpul. “Pangeran Leon pasti sangat protektif pada mereka.”Clara mengangguk pelan. “Jangankan pada anak dan keluarganya. Dia juga …” ada jeda tipis sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. Teringat akan perhatian Leon saat pergi langsung menjemputnya ke perbatasan dengan pengawalan yang ketat. “Kau tidak tertar
Sebelum pulang, Inez menyempatkan diri menemui seseorang. Seseorang yang cukup dekat dengannya selama ini.Ketika ia berjalan menuju air mancur di taman, tampak Clara duduk di bangku batu, membuka catatan kecilnya.“Izin duduk?” Inez berkata singkat. Clara menoleh. Inez berdiri beberapa langkah darinya, menggendong Ethan yang terlelap di dadanya.Clara tersenyum hangat. “Untukmu? Selalu.” Tak lama kemudian, tatapannya turun pada bayi Inez.Inez duduk di sampingnya, menghela napas panjang. “Aku baru dari ruang ibunda ratu.”Clara mengangkat alis tipis. “Dan kau masih terlihat utuh. Itu kabar baik.”Inez terkekeh kecil. “Entah bagaimana… Ethan berhasil melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan.”“Membenturkan tembok?” tebak Clara.“Menghancurkan tembok, lebih tepatnya,” jawab Inez pelan. Mereka paham betul apa yang dimaksud ‘tembok’ adalah hati wanita itu. Mereka terdiam sejenak, memandangi wajah bayi yang damai.“Dia tumbuh cepat,” ujar Clara lembut. Sial, tiba-tiba ia membayangka
Evander menatap wajah ayahnya lebih lama, seolah mencari sesuatu. Semacam gerakan kecil, tarikan napas berbeda, kedipan yang tak ada. Yang tak lain bahwa pertanda ayah mereka akan bangun dari tidur panjangnya. Nyatanya, jauh panggang dari api. Semua itu tidak terjadi seperti yang ia harapkan. Gerakan kecil pada jemarinya itu tidak ada. Itu hanya … sekedar harapannya. Tiba-tiba baby Ethan menangis lirih. Sontak semua mata menoleh padanya. Inez gegas menimbang bayi itu dengan gerakan yang lembut.“Sttsss, kenapa Sayang?” gumam Inez padanya. Ia pun memutuskan untuk mundur beberapa langkah menjauh, agar putranya tidak membuat kegaduhan di sana. Leon berbicara di depan ayah mereka. “Aku akan menjaga Ravensel,” ucapnya akhirnya, lebih tegas. “Tapi aku masih membutuhkanmu.”Tetap saja, tidak ada tanda-tanda kesadaran sang raja. Semua mata tertuju pada ranjang. Evander menegakkan tubuh. “Kak Leon—”Tangisan bayi perlahan mereda dalam pelukan Inez. Dan kamar kembali tenggelam dalam kehenin
Nathan membuka lembar laporan terakhir. “Masih ada sisa kasus. Tapi sudah tidak menyebar. Karantina bekerja.”Clara terdiam sejenak. Perbatasan. Ia menahan pikirannya agar tidak melayang lebih jauh. Ya, pasti, ia memikirkan seseorang yang berada nun jauh di sana. Seorang anggota dewan berkata pelan, “Ravensel berutang pada kalian berdua.”Nathan terkekeh ringan. “Kami hanya melakukan tugas.”“Tidak,” sang anggota menggeleng. “Kalian membuat sistemnya bekerja.”Sunyi sesaat. Di luar jendela, lonceng kota berdentang, sebuah pengumuman pasar kembali dibuka. Tidak lagi ada dentang lonceng kematian. Perlahan semua kembali normal. Clara menutup botol kecil berisi ramuan bening. “Wabah ini mengajarkan satu hal,” katanya pelan. Wajahnya tampak serius. Nathan menoleh. “Apa itu?”“Bahwa kerajaan yang kuat bukan yang memiliki senjata paling banyak,” jawabnya, “melainkan yang paling cepat melindungi rakyatnya.”Beberapa anggota dewan saling pandang. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi penuh







