LOGIN“Lo yakin gak bakal pulang sekarang, Zi? Anak lo nyariin nanti.”
Arga melihat Zio malah tiduran di sofa setelah mereka pulang dari ruang rapat. Padahal ini sudah lumayan sore, tapi Zio sepertinya memilih beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang. “Ayya udah gue titipin sama Inggit, jadi aman,” jawab Zio dengan mata tertutup. “Lah, anak baru itu?” tanya Arga seraya duduk menghadap kepada Zio yang masih berbaring di sofa. “Kenapa memangnya sama anak baru?” “Langsung percaya aja lo sama dia buat jagain Ayya.” Ucapan Arga berhasil membuka mata Zio kemudian menoleh. “Ayya sendiri kok yang mau, jadi yasudahlah! Ternyata enak juga kalo beres kerja gini gak usah mikirin keamanan Ayya. Agak tenang dikit.” “Rupa-rupanya bos gue ini udah mau buka hati ya?” Arga terkekeh pelan. “Apa maksud lo?” “Itu udah ngode supaya Ayya ada yang jagain selagi lo kerja?” Zio terdiam sebentar. “Gue masih setengah hati mau cari yang baru. Takutnya, dia malah sakit hati gara-gara gue belum bisa lupain Vanya.” “Makanya move on Zi, susah amat lo disuruh move on! Udah empat tahun loh, dan lo stuck disana aja,” kesal Arga berucap dengan dahi mengkerut. “Ini bukan masalah move on atau enggaknya. Tapi gue masih ngerasa gak rela kalau Vanya hilang dari hati gue. Hati gue tuh ngelarang, jadi gimana caranya gue bisa move on coba?” “Lo harus bisa rela, Zi. Vanya aja tega ninggalin lo, dan lo bisa-bisanya masih ngerasa sayang sendirian. Vanya yang pergi padahal,” ucap Arga terlampau kesal. Arga tahu betul bagaimana dan serumit apa kisah masa lalu Zio bersama Vanya. Vanya yang tak bisa menerima masa lalunya, Vanya yang meninggalkannya, Vanya yang tak bisa menerima Zio apa adanya, dengan bodohnya Zio masih berharap untuk perempuan seperti itu. Memberi nasihat tentang Vanya kepada Zio, tak akan ada yang masuk ke dalam kepalanya sedikit pun. Meskipun akalnya menerima, tapi hatinya selalu bertolak belakang. Sejatinya, Zio memang tidak pernah berniat untuk melupakan masa lalunya. Makanya setiap ada pendapat masuk sebijak apapun tak akan bisa diterima oleh Zio. Dia selalu menganut kepercayaan jika masa lalu bukanlah suatu hal yang dilupakan. Tapi Zio tidak menyadari jika sikapnya ini justru membuatnya terjebak dan tak mau lagi membuat cerita untuk masa depan. Ia terlalu takut untuk memulai suatu hal yang diiming-imingi rasa akan terulang lagi. Padahal tak ada satu orang pun yang tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. “Dia gak salah. Keadaan yang gue sekarang jalanin ini bukan salah di orang lama. Dia sudah cukup dengan tugasnya, mencintai, melupakan, dan sekarang kembali asing. Gue gak pernah menyalahkan itu,” ucap Zio menerawang dengan menatap lekat langit-langit kantor. Pikirannya melayang kemana-mana terutama kearah kenangan bersama Vanya. Tak pernah bisa Zio lupakan kenangan itu meskipun diakhiri oleh rasa sakit. “Lupakan tentang rasa sayang lo. Sekarang pikirkan kehidupan lo yang sekarang, apa lo mau selamanya hidup sama Ayya tanpa ibu baru untuknya?” Zio mengusap kasar wajahnya. “Di sini masalahnya. Gue yang gak butuh pasangan, tapi Ayya butuh sosok ibu. Sementara gue aja gak tertarik sama siapapun!” “Kalau menurut gue, Inggit juga pas kalau lo mau jadiin istri,” usul Arga tak dianggap serius oleh Zio. Lelaki itu malah sibuk dengan pemikirannya sendiri yang entah akan menepi di kenangan sebelah mana. Setelah terdiam lama, Zio bangun dari sofa dan berjalan menuju lemari kaca di sudut ruangan. Ia mengambil satu tiga botol minuman dengan merek ternama dan tentunya kadar alkoholnya sangat tinggi. “Lo mau ngapain?” heran Arga. Tanpa menjawab, Zio duduk seraya menuangkan minuman yang tadi ia bawa ke dalam gelas kecil sekali minum. Setelahnya ia meneguk minuman itu dan kembali menuangkan lagi untuk kloter selanjutnya. “Lo jangan minum-minum banyak, Zi! Lo lupa pulang sama Ayya?” Zio kembali minum. “Gue minum segini gak bakal mabuk!” “Heh! Tapi tetep aja bahaya kalo bawa anak kecil!” tegur Arga merampas gelas yang hendak Zio minum untuk kelima kalinya. “Ayya ada di rumah Inggit, tadi Inggit ngabarin Ayya ketiduran disana. Jadi gue bisa minum sampe pagi!” jawab Zio dengan tatapan sudah mulai sayu. “Heh! Lo sembarangan banget titip-titip anak! Cepet jemput dia, lo gak takut Ayya diapa-apain? Bagaimanapun kita gak tahu Inggit itu siapa,” tegas Arga yang dibalas decakan sebal oleh Zio. “Gue jemput Ayya sekarang, banyak omong lo!” Zio langsung beranjak dari duduknya. Ia mengambil jasnya kemudian melangkah hendak keluar ruangan. “Perlu gue temenin gak? Lo bahaya kalau bawa kendaraan sendiri!” teriak Arga. “Gue gak mabuk!” Zio menjawab dengan teriak disertai nada ketusnya kepada Arga. Ia sedikit kesal karena acara minum-minumnya tidak jadi. Mungkin saja nanti di rumah bisa ia lanjutkan tanpa ada omelan Arga. Sepanjang perjalanan, Zio berkali-kali mengerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadaran. Minuman beralkohol yang ia teguk empat gelas tadi ternyata sudah memberikan efek terhadap kepalanya. Jika tidak mengingat Ayya yang harus dijemput, mungkin Zio sudah memesan hotel atau jika tidak kuat sama sekali ia akan memilih tidur di kamar kantornya. Tapi sepertinya rasa sebagai ayah Zio masih bisa mempengaruhi otaknya supaya tidak melakukan hal bodoh seperti itu. Setelah beberapa kali melihat nama jalan, Zio akhirnya menemukan satu jalan yang Inggit kirimkan di ruang chatnya. Beberapa menit kemudian mata Zio kembali mengerjap untuk memastikan nomor rumah yang ia lihat sekarang sesuai dengan yang ia cari. Setelah dikira sesuai, Zio turun dari mobilnya kemudian berjalan di sepanjang pekarangan rumah menuju pintu utama. Badan Zio langsung terhuyung ketika kakinya berpijak tepat di depan pintu utama rumah Inggit yang tergolong sederhana. Tangannya ia jadikan tumpuan untuk bisa berdiri. Rambut dan bajunya sudah acak-acakan, begitu pula matanya yang sudah tak bisa melihat dengan benar. Tok ... tok .. tok ... Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Zio mengetuk pintu rumah Inggit. Setelahnya, pria itu kembali mengeratkan pegangannya agar tidak jatuh. Beberapa saat kemudian pintu rumah dibuka oleh seorang gadis dengan pakaian rumahan sederhana. Zio menoleh ketika pintu sudah terbuka . “Pak, sudah sampai? Tapi Ayya sudah tidur, mau saya bangunkan saja sekarang?” tanya Inggit seraya melihat Zio dengan tatapan aneh. Bukannya menjawab, Zio malah membalas tatapan Inggit. Bedanya, ia menatap dengan mata sayu. Inggit bingung sendiri ketika melihat Zio tak berbicara sama sekali padanya. Ia mencoba menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Zio untuk menyadarkan lelaki itu. “Pak!” panggilnya. “Apa saya boleh minta minum?” tanya Zio kemudian. Bau alkohol menyeruak di ronga penciuman Inggit. Ia sangat yakin sekali jika Zio saat ini dalam keadaan mabuk. “Bapak mabuk?” tanyanya polos. “Enggak. Saya hanya mau minum air putih,” ucapnya dengan badan hampir terjatuh di depan Inggit, namun dengan sigap Inggit menahan tubuh jangkung itu oleh tangan mungilnya. “Yaudah, bapak duduk dulu di sini. Saya akan bawakan dulu airnya,” ucap Inggit seraya mendudukkan Zio di kursi depan rumah. Ketika Inggit hendak pergi mengambil air ke dalam rumah, tangan Zio tiba-tiba meraih tubuh mungilnya hingga hampir saja ia jatuh terduduk di pangkuan pria itu. Inggit langsung melepaskan diri dan berdiri dengan tegak di depan Zio. “Kenapa pak?” tanyanya dengan irama jantung tidak beraturan. “Saya ...” “Iya?” Bruk! Tubuh Zio terkulai lemas bertumpu pada sandaran kursi. Zio tidak sadarkan diri akibat minuman beralkohol yang dikonsumsinya. ****"Nak, papa kira selama ini sudah cukup menghidupimu dengan baik. Nyatanya, sesempurna apapun yang bisa papa beri, kamu tetap membutuhkan orang tua yang lengkap" ~ Dari Papa untuk Ayya ~***Wangi aroma masakan ala rumahan menyeruak di rongga penciuman Zio. Pria itu masih betah bergulung selimut di atas sofa panjang ruang tamu. Matanya terasa sangat berat untuk dibuka meskipun otaknya menyuruh dia untuk bangun dan segera memeriksa sumber aroma apa yang memenuhi indra penciumannya itu.Lama-lama Zio terganggu sendiri oleh suara perutnya yang berbunyi setelah mencium aroma masakan tadi. Terpaksa ia membuka matanya dan duduk bersandar ke sandaran sofa. Namun ketika matanya terbuka sempurna, Zio merasakan pening yang luar biasa."Argh!" ringisnya sembari memegang kepalanya kuat-kuat.Rasa pengar akibat minum-minum kemarin ternyata masih terasa efeknya sampai pagi. Zio memejamkan matanya sejenak mencoba menyeimbangkan tubuhnya supaya tidak terasa pening lagi.Zio mengerjapkan matanya beber
“Lo yakin gak bakal pulang sekarang, Zi? Anak lo nyariin nanti.”Arga melihat Zio malah tiduran di sofa setelah mereka pulang dari ruang rapat. Padahal ini sudah lumayan sore, tapi Zio sepertinya memilih beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang. “Ayya udah gue titipin sama Inggit, jadi aman,” jawab Zio dengan mata tertutup.“Lah, anak baru itu?” tanya Arga seraya duduk menghadap kepada Zio yang masih berbaring di sofa.“Kenapa memangnya sama anak baru?”“Langsung percaya aja lo sama dia buat jagain Ayya.” Ucapan Arga berhasil membuka mata Zio kemudian menoleh.“Ayya sendiri kok yang mau, jadi yasudahlah! Ternyata enak juga kalo beres kerja gini gak usah mikirin keamanan Ayya. Agak tenang dikit.”“Rupa-rupanya bos gue ini udah mau buka hati ya?” Arga terkekeh pelan.“Apa maksud lo?”“Itu udah ngode supaya Ayya ada yang jagain selagi lo kerja?”Zio terdiam sebentar. “Gue masih setengah hati mau cari yang baru. Takutnya, dia malah sakit hati gara-gara gue belum bisa lupain Vanya.”“M
“Hallo, anak cantik!”Ayya menoleh cepat kala telinganya mendengar sapaan dari orang yang sedari kemarin ingin ia temui. Senyumnya langsung mengembang sampai matanya menyipit terseret pipi gembulnya.“Tante!” serunya menghampiri Inggit.“Seneng ketemu tante lagi, kah?” Inggit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan badan Ayya yang mungil.Ayya mengangguk semangat.Hari kedua Ayya ikut pergi ke kantor ayahnya tidak sia-sia. Zio tidak lagi berbohong tentang keberadaan Inggit di kantornya. Mengingat pesan dari Arga kalau anak bosnya itu ingin bertemu dengannya, Inggit spontan menegur Ayya sewaktu gadis kecil kuncir dua itu melewati ruangan divisinya. Bahkan Inggit tidak menyadari ada Zio di belakangnya. “Tante lututnya gak sakit lagi, kan?” tanyanya polos sembari menoleh ke lutut Inggit yang masih dibalut perban.Inggit menggeleng. “Udah enggak dong, cantik. Katanya ada yang mau ketemu tante, ada apa hm?”“Ayya dari kemarin mikirin keadaan kamu terus. Dia kepikiran sampe gak mau
Tepatnya 2 hari selanjutnya dari kejadian bertemu Inggit, Ayya sering murung dan tak seceria biasanya. Bahkan yang biasanya bawel minta calon mama kepada Zio, akhir-akhir ini Ayya seperti sudah lupa dengan keinginannya itu.Zio sedikit lega akhirnya Ayya tidak lagi menanyakan calon mamanya, tapi disamping itu ia juga khawatir karena Ayya tak seaktif dulu. Apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya, perasaan Zio tak pernah berbuat hal yang macam-macam.“Ay, hari ini mulai sekolah, kan? Rambutnya diikat ya biar rapi?” tawar Zio menghampiri Ayya yang masih duduk di sofa. Zio sengaja membawa satu buah sisir dan ikat rambut berbagai macam karakter untuk mengikat rambut Ayya. Ayya yang biasanya tak mau, kali ini anehnya dia diam saja mengikuti apa yang akan ayahnya lakukan padanya.“Kamu kenapa, Ay? Lagi mikirin sesuatu? Takut pergi sekolah?” Zio mulai buka pembicaraan seraya tangannya sibuk merapikan rambut Ayya.“Pah!” panggil Ayya tiba-tiba.“Iya, katakan kenapa?” sahut Zio.“Tante yang k
“Ga, lu punya kenalan cewek, gak?” Zio berbicara dengan seseorang di telepon. “Tumben lu nyari cewek, biasanya cerita Vanya mulu haha ...”“Gue serius!”“Kenapa lu?” “Tadi gue salah ngomong ke Ayya kalau gue udah punya calon mama buat dia. Alhasil sekarang gue disuruh ngenalin ceweknya ke dia,” jelas Zio terdengar sangat lucu di telinga Arga.“Mampus lu! Udah tau Ayya anaknya tukang nagih!”“Ya gue tadi awalnya asal jeplak aja.”“Jadi, lo butuh cewek buat sandiwara jadi calon mamanya Ayya?” “Kurang lebih, gitu. Gercep ya, lima menit lagi harus udah ada!”“Ya gak bisa langsung lah, Zi. Lu kira nyari orang semudah nyari upil? Sekarang lo dimana?”“Gue di taman. Tadi gue suruh Ayya nunggu dulu sambil main skateboard. Tapi ini gue masih bingung nyari cara berbohong kalau Ayya nanti nanyain lagi.” Ekspresi Zio seperti pria yang sedang mencari cara berbohong kepada pacarnya. “Gini aja, di taman pasti banyak cewek yang lewat pasti kan? Lo ajak aja satu orang buat bantuin kebohongan lo!”
“Pah, cari mama baru, yuk!”“Pah, itu ada cewek cantik, mau jadiin mama buat Ayya, gak?”“Pah, kayaknya tante itu baik. Papazi mau gak?”“Tadi temen Ayya ke sekolah pada ditemenin mamanya, Ayya kapan punya mama, pah?”“Papah, temen Ayya suka dibekelin makan masakan mamanya. Ayya kapan dibekelin sama mama, pah?”“Masakan seorang mama itu seenak apa sih, pah? Kok temen-temen Ayya sesuka itu sama masakan mama mereka? Ayya jadi mau coba.”Zio menutup kedua telinganya dengan bantal selalu ketika Ayya sudah kembali bertanya mengenai seorang mama padanya. Jujur, Zio sama sekali tidak kepikiran untuk menikah lagi setelah merasa gagal di pernikahan sebelumnya.“Pah! Jangan pura-pura gak denger, Ayya lagi nanya loh!”“Apalagi, Ay? Papazi kan udah bilang mamanya gak nemu.”“Papazi bohong! Papazi emang gak niat cari mama baru!” tuduhnya.Zio memijat pelipisnya kuat. Rasa pening akibat pekerjaan saja sudah membuat otaknya berantakan ditambah kemauan Ayya yang begitu bertolak belakang dengan diriny







