Inicio / Romansa / Pah, cari mama yuk! / Bertemu tante cantik

Compartir

Bertemu tante cantik

Autor: Hello Sii
last update Fecha de publicación: 2026-05-27 12:37:03

“Hallo, anak cantik!”

Ayya menoleh cepat kala telinganya mendengar sapaan dari orang yang sedari kemarin ingin ia temui. Senyumnya langsung mengembang sampai matanya menyipit terseret pipi gembulnya.

“Tante!” serunya menghampiri Inggit.

“Seneng ketemu tante lagi, kah?” Inggit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan badan Ayya yang mungil.

Ayya mengangguk semangat.

Hari kedua Ayya ikut pergi ke kantor ayahnya tidak sia-sia. Zio tidak lagi berbohong tentang keberadaan Inggit di kantornya.

Mengingat pesan dari Arga kalau anak bosnya itu ingin bertemu dengannya, Inggit spontan menegur Ayya sewaktu gadis kecil kuncir dua itu melewati ruangan divisinya. Bahkan Inggit tidak menyadari ada Zio di belakangnya.

“Tante lututnya gak sakit lagi, kan?” tanyanya polos sembari menoleh ke lutut Inggit yang masih dibalut perban.

Inggit menggeleng. “Udah enggak dong, cantik. Katanya ada yang mau ketemu tante, ada apa hm?”

“Ayya dari kemarin mikirin keadaan kamu terus. Dia kepikiran sampe gak mau makan,” potong Zio menjelaskan. Inggit langsung menatap Ayya kaget dengan penjelasan yang diucapkan Zio baru saja.

“Maaf ya, tante. Ayya gak sengaja nabrak tante kemarin.” Ayya menatap sayu.

“Kan tante udah bilang gak kenapa-napa. Udah ya, gak usah dipikirin lagi,” ucap Inggit memegang erat kedua bahu ringkih Ayya untuk meyakinkan.

“Tapi Ayya salah,” sesalnya lagi.

Inggit merasa bingung sendiri. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya menoleh kepada Zio yang masih setia memperhatikan keduanya.

“Kamu kasih Ayya satu hukuman, baru dia bakal lupa sama rasa bersalahnya,” usul Zio kemudian.

Inggit berpikir sebentar. “Ah, begini saja. Ayya traktir tante es krim sebagai hukuman yang kemarin. Gimana? Boleh?”

Ayya langsung mengangguk paham. “Boleh tante, ayo sekarang!”

“Eh?” Inggit spontan menahan tangan Ayya yang tiba-tiba menariknya dengan semangat.

“Kalau sekarang, tante harus kerja dulu. Nanti pulangnya aja ya?” tawarnya.

“Yah, padahal Ayya maunya sekarang. Suka bosen kalau ikut papazi kerja,” ujar Ayya sambil memanyunkan bibirnya merasa sedikit kecewa.

“Kamu hari ini gak usah kerja dulu aja, nanti saya yang izinin. Kebetulan saya juga ada rapat, jadi bisa titip Ayya sebentar. Bisa?” tanya Zio beberapa saat.

Inggit mengangguk setuju. “Yasudah, bisa kalau begitu pak.”

“Hore! Makasih papazi!” seru Ayya sangat senang.

“Saya titip dulu ya, nanti saya hubungi kamu kalau rapatnya beres,” ujar Zio langsung diangguki Inggit.

“Kamu jangan nakal atau bikin tante Inggit susah lagi ya,” pesan Zio kepada Ayya. Ayya memberikan jempol mungilnya pertanda dia siap mematuhi ucapan ayahnya.

“Oke, papazi!”

Setelahnya Zio melangkah pergi meninggalkan Inggit beserta anaknya menuju ruangan pribadi. Entah mengapa ia merasa aman kala menitipkan Ayya kepada Inggit. Firasatnya mengatakan kalau Inggit adalah wanita baik-baik dan disukai anak-anak.

Setelah dipastikan papanya pergi, Ayya membawa Inggit keluar. Di taman tak jauh dari kantor, Ayya melihat pedagang es krim keliling yang selama ini jadi incarannya. Tapi ia tak pernah diizinkan Zio untuk membelinya karena tidak terjamin kesehatannya.

Mumpung tidak bersama Zio, Ayya berniat menghampiri penjual es krim keliling itu untuk membelinya. Kali ini Ayya tidak akan mendengar larangan Zio yang banyak bicara itu.

“Tante, Ayya mau coba es krim yang itu!” seru Ayya seraya berlari memegangi tangan Inggit untuk ikut berlari bersamanya.

“Pelan-pelan, Ay. Nanti kamu jatuh,” ujar Inggit yang ikut berlari.

“Bang, es krimnya 2. Satu buat Ayya, satu buat tante,” ucap Ayya kala mereka sudah saling berhadapan dengan pedagang es krim keliling itu.

“Siap, mau rasa apa neng?”

“Ayya mau coklat. Tante mau rasa apa?” Ayya menoleh.

“Punya saya rasa strauberry aja,” jawab Inggit sembari menoleh kepada pedagangnya.

Pedagang es krim itu mengangguk paham. Selagi menunggu es krimnya siap, Ayya memeriksa tasnya untuk mengambil uang. Seketika Ayya panik ketika uang yang ada di dalam tasnya hanya sisa lima ribu lagi. Sedangkan es krim yang sudah dipesan totalnya sepuluh ribu.

Ayya menoleh kepada Inggit yang masih memperhatikan pedagang es krim dengan tangan dilipat di bawah dada.

“Tante,” panggilnya ragu.

“Kenapa?”

Ayya menyodorkan uang kertas lima ribu rupiah kepada Inggit seraya menatap penuh rasa bersalah.

“Ternyata uang Ayya sisa lima ribu, Ayya lupa minta sama papazi. Gimana?” tanyanya begitu polos di mata Inggit.

Mendengar penuturan polos Ayya, Inggit terkekeh pelan. “Yasudah gak apa-apa, es krimnya biar tante yang bayar ya?”

“Kan Ayya tadi yang mau traktir tante,” sangkalnya.

“Gak apa-apa. Ayya bisa traktir tante kapan-kapan aja.”

“Papazi pasti bakal marah kalau tau Ayya nyusahin tante lagi,” ucap Ayya sambil menunduk sedih.

Melihat itu, Inggit berjongkok mencoba melihat wajah Ayya yang sedang menunduk dari bawah.

“Hei, jangan sedih dong. Udah biarin aja papazi jangan dikasih tau, tante janji gak bakal ngasih tau papazi, kok,” bujuk Inggit berhasil membuat Ayya menoleh.

“Beneran?”

Inggit mengangguk mengiyakan. “Kalau Ayya mau, kita jajan-jajan lagi yang lain. Mau?”

Wajah Ayya langsung berubah sumringah ketika Inggit mengajaknya jajan. Wajar saja, selama hidup dengan ayahnya, Ayya tak pernah bisa makan makanan sembarangan apalagi jajanan-jajanan pinggir jalan.

Zio terlalu ketat perihal makanan juga keamanan anaknya. Makanya, Ayya tidak pernah diperbolehkan memakan makanan yang tidak sehat. Bahkan mie instan pun jarang tersedia di rumahnya.

“Tante beneran mau ajak Ayya jajan?”

“Iya, mau?”

Ayya mengangguk semangat. “Mau, tante!”

Dengan penuh semangat, keduanya pergi lumayan jauh dari kantor Zio. Inggit mengenalkan beberapa makanan yang enak tapi tetap aman dikonsumsi anak kecil seusia Ayya. Inggit juga sedikit-sedikit paham apa saja yang bisa dan enggak dimakan oleh Ayya.

“Tante, kalau yang itu makanan apa namanya?”

Ayya menunjuk seorang penjual kue mochi memakai gerobak.

“Itu namanya kue mochi, Ayya mau coba?”

Ayya mengangguk antusias. “Mau!” serunya.

Mereka menghampiri gerobak penjual kue mochi kemudian membelinya. Seperti biasa setelah membeli satu jajanan mereka langsung duduk dan mencoba terlebih dahulu makanan yang telah dibeli sebelum mencari makanan lain.

Ayya begitu menyukai kue mochi ternyata. Anak kecil itu menghabiskan tiga kue mochi sekaligus meminta Inggit kembali untuk membelinya. Meskipun Inggit menghela napas karena makan Ayya sangat banyak dan menguras dompetnya, tapi ia juga senang melihat Ayya yang ceria bersamanya.

Alhasil setelah ini Inggit harus menghemat lagi.

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pah, cari mama yuk!   6 tahun kemudian

    Semua yang terjadi kemarin ternyata hanya halusinasi Inggit yang begitu menginginkan anaknya sadar dari keadaan koma. Ia baru ingat, semalam sebelum dirinya tak sadarkan diri dokter mengatakan kalau Ayya telah tiada. Setelah mengingat semuanya, Inggit terisak pelan dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isakan yang awalnya pelan langsung terdengar naik oktaf ketika Zio merengkuhnya dengan lembut memberikan ketenangan.“Mas ...” panggil Inggit disela-sela isakannya. “Ayya masih ada, mas ...”Zio hanya terdiam tak bisa melakukan apapun untuk menenangkan perempuan dalam pelukannya itu. Zio begitu mewajarkan kesedihan Inggit karena rasa sayang wanita itu lebih besar kepada Ayya dibanding dirinya. “Mas ... Ayya kemarin bilang supaya kita tetap ada saat dia bangun. Tapi kenapa dia gak bangun lagi?”Isakan dan ucapan Inggit berhasil membuat Zio ikut mengeluarkan air matanya. Sesak yang begitu nyata, sakit yang amat terasa, sekaligus datang mempora-porandakan hatinya. Seakan dada

  • Pah, cari mama yuk!   Berita paling buruk

    Suasana sangat hening ketika pemeriksaan oleh dokter dilakukan. Inggit yang terus memejamkan matanya seraya berdo’a dan Zio mengatur napasnya untuk tidak terlihat panik. Tadi Ayya sempat membuka matanya kembali dan Inggit memanggil dokter dengan cekatan.Alhasil sekarang Ayya sedang diperiksa lagi keadaannya oleh dokter. Mata Ayya kini masih membuka, dan Inggit harap mata itu akan terus membuka tidak menutup lagi. “Syukurlah. Keadaannya sudah lumayan membaik, coba ibu bapak untuk ajak dia berinteraksi agar tubuhnya semakin merespon rangsangan,” jelas dokter itu langsung diangguki oleh Inggit dan juga Zio.Setelahnya, para tenaga medis itu keluar meninggalkan mereka bertiga di ruangan. Inggit tersenyum haru seraya menghampiri Inggit dan mengecup pelan dahi anak itu penuh sayang. “Makasih udah mau membuka matamu, nak. Makasih ...” gumam Inggit dengan menitikan satu air matanya.“Mama ...”“Iya sayang?”“Mama jangan nangis” Ayya berucap begitu lemas. Tangannya terangkat ingin mengusap

  • Pah, cari mama yuk!   Kondisi Ayya memburuk

    “Mama ...”Inggit sontak menoleh ketika suara lemas Ayya terdengar di telinganya. Senyuman merekah Inggit langsung terlihat begitu saja ketika melihat Ayya menatap lemas padanya. Anak itu spertinya ingin berkata sesuatu tapi begitu sulit.“Sayang .... kamu sudah bangun?” Mata Inggit nampak berkaca-kaca.Ayya tak lagi bersuara. Mulutnya terbungkam dengan tangan lunglai dan berhenti bergerak. Mata indah yang tadi terbuka kini perlahan menutup kembali. Menutup rapat hinga membuat Inggit sangat panik.“Ayya ... sayang!”Dengan langkah panik, Inggit berlari keluar memanggil dokter untuk mengecek keadaan anaknya. Dokter yang sedang jaga langsung menghampiri dan memeriksa keadaan Ayya. Selama pemeriksaan, Inggit terus memejamkan matanya berdoa untuk kesembuhan Ayya. “Bagaimana, dok?” tanya Inggit begitu panik.“Begini bu, tadi keadaan anak ibu hanya membaik sesaat. Sekarang keadaannya kembali seperti sebelumnya,” jelas dokter itu.Inggit memejamkan matanya menahan rasa sangat sesak di dad

  • Pah, cari mama yuk!   Untuk Ayya

    Dua hari berlalu setelah Ayya masuk ke rumah sakit. Hari ini kondisinya lumayan membaik hingga bisa dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat inap. Rasa lega Inggit semakin meluas ketika dokter memberikan informasi bahwa Ayya sudah mulai membaik.Namun rasa cemasnyanya masih saja tak berkurang. Melihat Ayya terbaring lemah di atas brankar membuat Inggit seketika merasa kesal dengan dirinya sendiri. Ia belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Ayya hingga tak mampu menjaga kesehatan anaknya itu.“Sayang, masih mau istirahat ya? Cepet sembuh, nak.” Inggit berucap dengan bibir bergetar hebat. Tubuhnya ikut melemas melihat keadaan Ayya yang jauh dari kata baik-baik saja itu.Ia merindukan keceriaan Ayya, merindukan usil Ayya, merindukan pujian Ayya, ia merindukan semuanya tentang Ayya. Rasanya jika bisa, Inggit ingin menggantikan posisi anaknya ini berbaring di atas ranjang rumah sakit. Biarkan dia yang merasakan rasa sakitnya, jangan Ayya.Seketika, satu butir air matanya mengalir di sepanj

  • Pah, cari mama yuk!   Ayya sakit

    Seharian ini akhirnya Inggit tidak berani kemana-mana meninggalkan Ayya. Dari tadi siang sampai sekarang malam pun Ayya masih berada di sampingnya menggenggam erat lengannya. Anak itu sepertinya sangat gelisah sekarang.“Sayang, jangan terlalu dipikirkan ucapan tante tadi, ya. Mama akan selalu lindungi kamu dari siapapun yang akan merebutmu dari mama. Begitupun papazi, dia sedang berusaha supaya kamu tetap tinggal bersama mama dan papazi,” hibur Inggit hanya dibalas anggukan oleh Ayya.“Ayya mau minum?” tanya Inggit berusaha mengajak ngobrol Ayya yang tidak mau bersuara dari tadi. Ayya menggeleng. Inggit menghela napas melihat Ayya begitu murung. Padahal tadi pagi di acara pestanya, anak itu sangat ceria dan bahagia. Tapi setelah kedatangan ibu kandungnya, ia menjadi murung dan tak bersemangat.Inggit merasa iba kepada Ayya dengan umurnya yang masih kecil justru diberikan ujian hidup yang luar biasa hebatnya. Lebih merasa kesalnya karena Inggit benar-benar tidak bisa berbuat apapun u

  • Pah, cari mama yuk!   Siapa dia?

    Kue coklat dengan lilin angka 6 di atasnya sudah siap bertengger di meja putih. Hari ini adalah hari ulang tahun Ayya yang ke-6. Sudah pasti anak itu meminta orang tuanya untuk menyiapkan pesta bersama teman-teman sekolahnya.Bunyi riuh lagu ulang tahun yang dinyanyikan oleh teman-temannya, menggema di taman pinggir rumah mereka. Ayya memakai dress pink dengan tema princess, sementara anak-anak lainnya memakai baju warna pink tanpa tema.Setelah nyanyian ulang tahun selesai, Ayya langsung meniup lilin angka 6 itu dengan senyuman yang tak pernah luntur. Semua orang bersorak sorai dan mengucapkan selamat padanya. Inggit dan Zio berdiri sebelahan ikut tersenyum melihat teman-teman Ayya yang begitu antusias dengan perayaan ulang tahun Ayya.“Kue pertama, buat mama!” ujar Ayya menghampiri Inggit dengan membawa sepiring kecil potongan kue yang ia poting sendiri tadi.“Makasih sayang, semoga panjang umur ya nak” Inggit mengambil piring berisi potongan kue itu kemudian mengecup pelan puncak k

  • Pah, cari mama yuk!   Gara-gara minum

    “Lo yakin gak bakal pulang sekarang, Zi? Anak lo nyariin nanti.”Arga melihat Zio malah tiduran di sofa setelah mereka pulang dari ruang rapat. Padahal ini sudah lumayan sore, tapi Zio sepertinya memilih beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang. “Ayya udah gue titipin sama Inggit, jadi aman,” j

  • Pah, cari mama yuk!   Mana tante cantik?

    Tepatnya 2 hari selanjutnya dari kejadian bertemu Inggit, Ayya sering murung dan tak seceria biasanya. Bahkan yang biasanya bawel minta calon mama kepada Zio, akhir-akhir ini Ayya seperti sudah lupa dengan keinginannya itu.Zio sedikit lega akhirnya Ayya tidak lagi menanyakan calon mamanya, tapi di

  • Pah, cari mama yuk!   Tante cantik

    “Ga, lu punya kenalan cewek, gak?” Zio berbicara dengan seseorang di telepon. “Tumben lu nyari cewek, biasanya cerita Vanya mulu haha ...”“Gue serius!”“Kenapa lu?” “Tadi gue salah ngomong ke Ayya kalau gue udah punya calon mama buat dia. Alhasil sekarang gue disuruh ngenalin ceweknya ke dia,” j

  • Pah, cari mama yuk!   Orang Tua Tunggal

    “Pah, cari mama baru, yuk!”“Pah, itu ada cewek cantik, mau jadiin mama buat Ayya, gak?”“Pah, kayaknya tante itu baik. Papazi mau gak?”“Tadi temen Ayya ke sekolah pada ditemenin mamanya, Ayya kapan punya mama, pah?”“Papah, temen Ayya suka dibekelin makan masakan mamanya. Ayya kapan dibekelin sam

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status