Mag-log inTepatnya 2 hari selanjutnya dari kejadian bertemu Inggit, Ayya sering murung dan tak seceria biasanya. Bahkan yang biasanya bawel minta calon mama kepada Zio, akhir-akhir ini Ayya seperti sudah lupa dengan keinginannya itu.
Zio sedikit lega akhirnya Ayya tidak lagi menanyakan calon mamanya, tapi disamping itu ia juga khawatir karena Ayya tak seaktif dulu. Apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya, perasaan Zio tak pernah berbuat hal yang macam-macam. “Ay, hari ini mulai sekolah, kan? Rambutnya diikat ya biar rapi?” tawar Zio menghampiri Ayya yang masih duduk di sofa. Zio sengaja membawa satu buah sisir dan ikat rambut berbagai macam karakter untuk mengikat rambut Ayya. Ayya yang biasanya tak mau, kali ini anehnya dia diam saja mengikuti apa yang akan ayahnya lakukan padanya. “Kamu kenapa, Ay? Lagi mikirin sesuatu? Takut pergi sekolah?” Zio mulai buka pembicaraan seraya tangannya sibuk merapikan rambut Ayya. “Pah!” panggil Ayya tiba-tiba. “Iya, katakan kenapa?” sahut Zio. “Tante yang kemarin, baik-baik aja kan, pah?” tanya Ayya kemudian. Zio terdiam sebentar. “Kemarin tantenya kan udah bilang gak kenapa-napa.” “Tapi kemarin lutut tantenya berdarah, pah.” “Ayya dari kemarin diam aja karena kepikiran tantenya?” terka Zio yang langsung diangguki anaknya. Zio tak menyangka jika anaknya ini mempunyai simpati yang tinggi terhadap orang lain. Apalagi ini adalah orang yang baru ia kenal. “Ayya mau ketemu sama tantenya udah sembuh atau belum. Kalau sakitnya gak sembuh gimana pah?” Ayya terlihat sudah berkaca-kaca setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. “Gimana caranya? Papa juga gak tahu dimana tantenya tinggal, Ay.” “Papa udah gak sayang lagi sama Ayya, yah?” Ayya berbalik dan menatap Zio dengan mata berkaca-kaca. “Kok mikirnya gitu?” “Ayya cuman mau ketemu tante yang kemarin tapi papazi gak mau ngabulin,” kesal Ayya masih memasang wajah cemberut. “Iya, nanti papa coba cariin dimana tante yang kemarin tinggal, ya. Sekarang kita sarapan dulu, hari ini kan Ayya hari pertama masuk sekolah, oke?” Ayya masih betah dengan wajah cemberutnya. Melihatnya membuat Zio sangat jengah. Tapi meskipun begitu, Zio tak bosan membujuk anaknya. Zio terdiam sebentar ketika otaknya terkoneksi kepada peristiwa ketika ia bertemu dengan Inggit. Perempuan itu mengatakan kalau dirinya melamar kerja di kantor miliknya. Kalau benar dan diterima, berarti ia bisa mencari gadis itu di kantornya hari ini. “Ay, papa kayanya tahu tante kemarin kita carinya dimana,” ujar Zio berhasil membuat Ayya menoleh dengan ekspresi bertanya-tanya. “Dimana pah?” “Di kantor papa. Hari ini mau ikut papa ke kantor setelah pulang sekolah?” Tanpa berpikir panjang, Ayya langsung mengangguk semangat. “Mau!” “Oke, sekarang kita sarapan dulu ya?” ajak Zio yang langsung dibalas anggukan antusias oleh Ayya. Senyum Ayya kembali terbit setelah membuat hati Zio sedikit lebih lega. *** “Papah,” panggil Ayya dari balik pintu ruangan Zio. “Iya, nak.” Zio masih sibuk megotak-atik laptop di meja kerjanya. Seperti janji sebelumnya, Zio benar-benar menjemput Ayya dari sekolahnya untuk dibawa ke kantor. Kalau tidak, Ayya pasti akan lebih marah kepadanya. “Ayya udah keliling-keliling kantor papa, tapi gak nemuin tante yang kemarin,” adu Ayya dengan nada lemasnya. “Kantor papa tuh luas, nak. Kamu belum sempat ke semua tempat mungkin,” ujar Zio tanpa melihat ke arah anaknya. Tangannya sibuk dengan pulpen dan kertas serta sesekali menari-nari di atas keyboard komputernya. “Udah kok, pah. Bahkan tadi dibantu om Arga juga, tapi kata om Arga emang gak ada,” sangkal Ayya. “Itu pasti om Arganya yang gak tahu. Biar nanti papa ketemu sama om Arga ya, Ayya coba cari lagi sama om Wisnu dibawah oke?” Ayya menghela napas lelah ketika mendapat jawaban yang kurang puas dari ayahnya. Dengan sedikit tidak semangat, Ayya kembali ke lantai bawah bersama salah satu asisten Zio untuk menemaninya. Sesaat kemudian, Arga sudah menghadap di ruangan Zio. Meskipun Arga adalah teman dekat Zio, tapi ketika di kantor Arga akan lebih menghormati Zio yang merupakan atasannya. Makanya, ketika ia dipanggil oleh Zio, sesibuk apapun dia akan datang, entah itu dipanggil masalah kerjaan atau masalah pribadi. “Lo yakin tadi udah keliling-keliling tiap sudut, gak ketemu juga?” tanya Zio to the point. Arga menghela napas. Tanpa judul, tanpa aba-aba tiba-tiba Zio berkata begitu. Kalau bukan sebagai atasannya, Arga pasti sudah menggetok kepala Zio itu. “Apa sih lo? Pake judul kalo mau ngomong!” “Orang yang Ayya cari” “Emangnya siapa? Lo gak ngasih tahu namanya, gimana gue bisa tau!” “Namanya Inggit,” jawab Zio. “Inggit?” Arga mengernyitkan dahinya. “Perasaan, di kantor kita gak ada karyawan namanya Inggit.” “Dia anak baru. Waktu itu dia sempat bilang lamar kerja di sini, lo inget rekrut dia gak?” Arga menerawang sebentar. “Kayanya gak ada nama Inggit deh yang gue rekrut.” “Lah, seriusan lo?” kaget Zio. “Nih gue punya foto-foto orang yang direkrut dan engga, lo bisa liat yang mana yang namanya Inggit,” ucap Zio menyodorkan ponselnya kepada Zio untuk diperiksa. Zio menerima ponsel Arga kemudian menggeser beberapa foto di ponsel Arga sampai akhirnya menemukan foto yang mirip dengan perempuan yang ia cari itu. “Kayaknya ini orangnya,” ujar Zio memperlihatkan foto itu kepada Arga. Arga menatap lekat foto perempuan yang dimaksud oleh Zio. “Ini ada keterangannya. Nama dia Anggita, bukan Inggit.” “Anggita? Inggit? Kayaknya orang sama mungkin, mirip-mirip gitu namanya. Terserahlah siapa itu, lo rekrut dia gak?” Arga seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. “Seinget gue, dia gak dateng waktu wawancara makanya gak gue rekrut.” “Kenapa dia gak dateng?” “Coba gue cek chat dari dia,” ujar Arga merebut ponselnya kemudian mencari riwayat chat Inggit yang masuk ke dalam ponselnya. “Nih, dia izin gak bisa ikut wawancara karena kakinya keseleo, katanya.” Jawaban dari Arga spontan membuat Zio tertegun. Apakah yang ia masuk keseleo adalah waktu Ayya menabrak dirinya menggunakan skateboard? Apakah separah itu sampai ia tak masuk untuk wawancara kemarin? Bagaimana kalau Ayya sampai tahu, anak itu pasti akan sangat khawatir. “Lo kok diem? Kenapa?” “Sebenernya waktu di taman kemarin gue ketemu dia yang gak sengaja ketabrak skateboard sama Ayya. Lututnya lecet dan berdarah. Apa mungkin dia keseleo gara-gara itu juga?” tanya Zio sedikit panik. “Lah, bosnya sendiri ternyata yang bikin dia gak keterima,” ujar Arga menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jangan bilang-bilang soal ini ke Ayya, dia pasti sedih. Kemarin orangnya bilang baik-baik aja pun Ayya kepikiran. Gimana kalau dia denger orangnya sampe gak bisa jalan.” “Lagian gak bener banget jaga anak sampe bisa bikin orang luka lo!” “Gue lagi telpon lo waktu itu, lo juga salah berarti!” Zio tak terima disalahkan sendirian. “Jadi sekarang gimana?” Zio berpikir sebentar. “CV dia bagus gak? Kalau bagus terima aja. Terus suruh kesini sekarang juga. gue udah capek denger Ayya ngerengek mulu,” titahnya kepada Arga. “CV-nya bagus sih kalau menurut gue. Tapi suruh dia datang besok lah Zi, masa iya udah sore gini suruh orang mulai kerja,” usul Arga. “Yaudah lah daripada dia gak datang sama sekali. Biar nanti gue cari alasan apa aja buat nenangin Ayya kalau dia nanya lagi,” pasrah Zio. Arga terkekeh pelan. “Apa jangan-jangan Ayya menyukai anak baru itu? Gimana kalau misalnya Ayya minta lo buat nikahin dia?” Zio menoleh tajam. “Gak usah ngada-ngada lo! Jangan sampe ngomporin Ayya juga supaya gue cepet-cepet nikah!” “Lah emangnya kenapa? Lo udah empat tahun pisah dari Vanya, masa iya masih stuck aja di masa lalu? Gak ada niatan apa bener-bener nyari istri lagi?” “Lo yang harusnya nyari istri. Gue udah pernah nikah dan lo masih jomblo dari dulu!” Skakmat! Arga yang niatnya meledek Zio karena tak bisa move on dari masa lalunya, malah dia yang kena karena masih sendiri sampai sekarang. Alhasil pria itu menghela napas panjang mendengar penuturan Zio yang balik meledeknya. “Bentar lagi undangan gue sampe, lo liat aja!” geram Arga diledek menjomblo terus oleh Zio. Kedua sahabat itu kalau bukan masalah pekerjaan, ngobrolnya hanya sebatas saling meledek satu sama lain. Arga yang meledek Zio tak bisa move on, dan Zio meledek Arga karena tak pernah dapat pasangan dari dulu. Padahal wajah Arga tidak terlalu buruk. Mungkin dia terlalu pilih-pilih. ***Semua yang terjadi kemarin ternyata hanya halusinasi Inggit yang begitu menginginkan anaknya sadar dari keadaan koma. Ia baru ingat, semalam sebelum dirinya tak sadarkan diri dokter mengatakan kalau Ayya telah tiada. Setelah mengingat semuanya, Inggit terisak pelan dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isakan yang awalnya pelan langsung terdengar naik oktaf ketika Zio merengkuhnya dengan lembut memberikan ketenangan.“Mas ...” panggil Inggit disela-sela isakannya. “Ayya masih ada, mas ...”Zio hanya terdiam tak bisa melakukan apapun untuk menenangkan perempuan dalam pelukannya itu. Zio begitu mewajarkan kesedihan Inggit karena rasa sayang wanita itu lebih besar kepada Ayya dibanding dirinya. “Mas ... Ayya kemarin bilang supaya kita tetap ada saat dia bangun. Tapi kenapa dia gak bangun lagi?”Isakan dan ucapan Inggit berhasil membuat Zio ikut mengeluarkan air matanya. Sesak yang begitu nyata, sakit yang amat terasa, sekaligus datang mempora-porandakan hatinya. Seakan dada
Suasana sangat hening ketika pemeriksaan oleh dokter dilakukan. Inggit yang terus memejamkan matanya seraya berdo’a dan Zio mengatur napasnya untuk tidak terlihat panik. Tadi Ayya sempat membuka matanya kembali dan Inggit memanggil dokter dengan cekatan.Alhasil sekarang Ayya sedang diperiksa lagi keadaannya oleh dokter. Mata Ayya kini masih membuka, dan Inggit harap mata itu akan terus membuka tidak menutup lagi. “Syukurlah. Keadaannya sudah lumayan membaik, coba ibu bapak untuk ajak dia berinteraksi agar tubuhnya semakin merespon rangsangan,” jelas dokter itu langsung diangguki oleh Inggit dan juga Zio.Setelahnya, para tenaga medis itu keluar meninggalkan mereka bertiga di ruangan. Inggit tersenyum haru seraya menghampiri Inggit dan mengecup pelan dahi anak itu penuh sayang. “Makasih udah mau membuka matamu, nak. Makasih ...” gumam Inggit dengan menitikan satu air matanya.“Mama ...”“Iya sayang?”“Mama jangan nangis” Ayya berucap begitu lemas. Tangannya terangkat ingin mengusap
“Mama ...”Inggit sontak menoleh ketika suara lemas Ayya terdengar di telinganya. Senyuman merekah Inggit langsung terlihat begitu saja ketika melihat Ayya menatap lemas padanya. Anak itu spertinya ingin berkata sesuatu tapi begitu sulit.“Sayang .... kamu sudah bangun?” Mata Inggit nampak berkaca-kaca.Ayya tak lagi bersuara. Mulutnya terbungkam dengan tangan lunglai dan berhenti bergerak. Mata indah yang tadi terbuka kini perlahan menutup kembali. Menutup rapat hinga membuat Inggit sangat panik.“Ayya ... sayang!”Dengan langkah panik, Inggit berlari keluar memanggil dokter untuk mengecek keadaan anaknya. Dokter yang sedang jaga langsung menghampiri dan memeriksa keadaan Ayya. Selama pemeriksaan, Inggit terus memejamkan matanya berdoa untuk kesembuhan Ayya. “Bagaimana, dok?” tanya Inggit begitu panik.“Begini bu, tadi keadaan anak ibu hanya membaik sesaat. Sekarang keadaannya kembali seperti sebelumnya,” jelas dokter itu.Inggit memejamkan matanya menahan rasa sangat sesak di dad
Dua hari berlalu setelah Ayya masuk ke rumah sakit. Hari ini kondisinya lumayan membaik hingga bisa dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat inap. Rasa lega Inggit semakin meluas ketika dokter memberikan informasi bahwa Ayya sudah mulai membaik.Namun rasa cemasnyanya masih saja tak berkurang. Melihat Ayya terbaring lemah di atas brankar membuat Inggit seketika merasa kesal dengan dirinya sendiri. Ia belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Ayya hingga tak mampu menjaga kesehatan anaknya itu.“Sayang, masih mau istirahat ya? Cepet sembuh, nak.” Inggit berucap dengan bibir bergetar hebat. Tubuhnya ikut melemas melihat keadaan Ayya yang jauh dari kata baik-baik saja itu.Ia merindukan keceriaan Ayya, merindukan usil Ayya, merindukan pujian Ayya, ia merindukan semuanya tentang Ayya. Rasanya jika bisa, Inggit ingin menggantikan posisi anaknya ini berbaring di atas ranjang rumah sakit. Biarkan dia yang merasakan rasa sakitnya, jangan Ayya.Seketika, satu butir air matanya mengalir di sepanj
Seharian ini akhirnya Inggit tidak berani kemana-mana meninggalkan Ayya. Dari tadi siang sampai sekarang malam pun Ayya masih berada di sampingnya menggenggam erat lengannya. Anak itu sepertinya sangat gelisah sekarang.“Sayang, jangan terlalu dipikirkan ucapan tante tadi, ya. Mama akan selalu lindungi kamu dari siapapun yang akan merebutmu dari mama. Begitupun papazi, dia sedang berusaha supaya kamu tetap tinggal bersama mama dan papazi,” hibur Inggit hanya dibalas anggukan oleh Ayya.“Ayya mau minum?” tanya Inggit berusaha mengajak ngobrol Ayya yang tidak mau bersuara dari tadi. Ayya menggeleng. Inggit menghela napas melihat Ayya begitu murung. Padahal tadi pagi di acara pestanya, anak itu sangat ceria dan bahagia. Tapi setelah kedatangan ibu kandungnya, ia menjadi murung dan tak bersemangat.Inggit merasa iba kepada Ayya dengan umurnya yang masih kecil justru diberikan ujian hidup yang luar biasa hebatnya. Lebih merasa kesalnya karena Inggit benar-benar tidak bisa berbuat apapun u
Kue coklat dengan lilin angka 6 di atasnya sudah siap bertengger di meja putih. Hari ini adalah hari ulang tahun Ayya yang ke-6. Sudah pasti anak itu meminta orang tuanya untuk menyiapkan pesta bersama teman-teman sekolahnya.Bunyi riuh lagu ulang tahun yang dinyanyikan oleh teman-temannya, menggema di taman pinggir rumah mereka. Ayya memakai dress pink dengan tema princess, sementara anak-anak lainnya memakai baju warna pink tanpa tema.Setelah nyanyian ulang tahun selesai, Ayya langsung meniup lilin angka 6 itu dengan senyuman yang tak pernah luntur. Semua orang bersorak sorai dan mengucapkan selamat padanya. Inggit dan Zio berdiri sebelahan ikut tersenyum melihat teman-teman Ayya yang begitu antusias dengan perayaan ulang tahun Ayya.“Kue pertama, buat mama!” ujar Ayya menghampiri Inggit dengan membawa sepiring kecil potongan kue yang ia poting sendiri tadi.“Makasih sayang, semoga panjang umur ya nak” Inggit mengambil piring berisi potongan kue itu kemudian mengecup pelan puncak k
“Lo yakin gak bakal pulang sekarang, Zi? Anak lo nyariin nanti.”Arga melihat Zio malah tiduran di sofa setelah mereka pulang dari ruang rapat. Padahal ini sudah lumayan sore, tapi Zio sepertinya memilih beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang. “Ayya udah gue titipin sama Inggit, jadi aman,” j
“Hallo, anak cantik!”Ayya menoleh cepat kala telinganya mendengar sapaan dari orang yang sedari kemarin ingin ia temui. Senyumnya langsung mengembang sampai matanya menyipit terseret pipi gembulnya.“Tante!” serunya menghampiri Inggit.“Seneng ketemu tante lagi, kah?” Inggit berjongkok untuk menya
“Ga, lu punya kenalan cewek, gak?” Zio berbicara dengan seseorang di telepon. “Tumben lu nyari cewek, biasanya cerita Vanya mulu haha ...”“Gue serius!”“Kenapa lu?” “Tadi gue salah ngomong ke Ayya kalau gue udah punya calon mama buat dia. Alhasil sekarang gue disuruh ngenalin ceweknya ke dia,” j
“Pah, cari mama baru, yuk!”“Pah, itu ada cewek cantik, mau jadiin mama buat Ayya, gak?”“Pah, kayaknya tante itu baik. Papazi mau gak?”“Tadi temen Ayya ke sekolah pada ditemenin mamanya, Ayya kapan punya mama, pah?”“Papah, temen Ayya suka dibekelin makan masakan mamanya. Ayya kapan dibekelin sam







