Share

BAB 6 | Reka Adegan Semalam

Aвтор: Smilegummy
last update publish date: 2026-07-07 02:42:02

Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai bergaya monokrom. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi memancarkan kesan elegan dan berkelas. Trian mematikan mesin mobil, lalu melepas sabuk pengamannya.

"Turun."

"Hah? Saya ikut turun juga, Mas?" Davina mengerjap bingung.

"Mau nunggu sendirian di mobil sampai gelap?" Pertanyaan itu langsung membuat Davina kehilangan alasan untuk membantah. Tanpa menunggu jawabannya, Trian lebih dulu keluar dari mobil. Davina hanya bisa mengembuskan napas pelan sebelum ikut turun. Ia merapikan blazer abu-abunya, lalu mengekor di belakang pria itu.

Rumah itu terasa begitu bersih hingga nyaris tak memiliki cela. Benar-benar mencerminkan pemiliknya.

"Silakan duduk di mana saja," ujar Trian sambil melonggarkan dasinya. "Tapi jangan pegang barang sembarangan."

Davina mendengus dalam hati. Emangnya aku anak kecil? Meski kesal, ia tetap menurut. Ia memilih duduk di sofa ruang tamu yang empuk, meletakkan tas kerjanya di samping kaki sambil mengamati sekeliling. Pandangannya berhenti pada sebuah foto keluarga berukuran besar yang tergantung di dinding. Di dalam foto itu, Trian berdiri di tengah kedua orang tuanya sambil tersenyum tipis.

Davina berkedip. Ternyata bisa senyum juga.. Senyum itu terasa begitu berbeda dengan ekspresi dingin yang setiap hari ia lihat di kantor.

"Jangan melamun, nanti kemasukan. Saya yang repot" Suara bariton Trian membuat Davina hampir melonjak dari sofa. Pria itu kini tidak lagi mengenakan kemeja dan jas formal. Pakaiannya telah berganti menjadi kaus hitam polos berlengan pendek yang pas membalut tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana panjang kasual berwarna gelap.

Rambutnya tampak sedikit basah, seolah baru saja membasuh wajah atau mungkin mandi dengan singkat. Penampilannya memang jauh lebih santai dan entah kenapa... Justru terlihat lebih menarik.

Sial... batin Davina. Kenapa sih orang ini tetap kelihatan keren walaupun cuma pakai kaus?

Trian berjalan menuju dapur kecil, lalu kembali membawa dua botol air mineral dingin. Salah satunya ia letakkan di atas meja.

"Jangan sampai dehidrasi di rumah saya," tambah Trian datar sebelum duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengannya.

"Terima kasih, Mas." Davina membuka tutup botol lalu meneguk air beberapa kali. Namun, keheningan kembali memenuhi ruangan. Semakin sunyi suasananya, semakin sulit pula Davina mengendalikan pikirannya.

Tanpa diminta, ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam. Tubuh mereka yang begitu dekat. Pelukan Trian, ciuman yang begitu panas..dan Kecupan hangat di keningnya pagi tadi.

Wajah Davina seketika memanas. Ia buru-buru meneguk air lebih banyak, berharap debar jantungnya ikut mereda. Sayangnya, usaha itu sia-sia.

Trian yang sejak tadi diam perlahan mulai memperhatikannya. Botol air di tangannya diletakkan ke atas meja dengan bunyi pelan.

"Kamu kenapa? Mukamu merah."

Refleks kedua tangan Davina langsung menempel di pipinya sendiri. "N-nggak kok!"

"Cuma... gerah." Tatapannya mendadak berkelana ke segala arah.

Ia melirik ke arah pendingin ruangan. "Kayaknya AC-nya kurang dingin."

Trian tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Davina beberapa detik, seolah sedang menguji apakah perempuan itu sedang berkata jujur atau justru menyembunyikan sesuatu. Davina dapat melihat, senyum tipis yang mulai muncul di sudut bibir Trian.

"Gerah atau lagi kepikiran kejadian semalam?"

"Uhuk!" Davina langsung tersedak air yang baru saja diminumnya. Ia terbatuk-batuk sambil menepuk dadanya sendiri.

"M-maksudnya apa, Mas?" bantahnya tergagap. "Saya nggak ngerti."

Trian bangkit dari duduknya. Dengan langkah tenang, ia menghampiri sofa tempat Davina duduk. Hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan perempuan itu.

Davina spontan mendongak. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Aroma parfum maskulin bercampur sabun yang masih segar dari tubuh Trian perlahan memenuhi indra penciumannya membuat jantung Davina kembali berdetak tidak karuan, terlebih saat Trian sedikit membungkukkan badan, menatap tepat ke dalam mata Davina.

"Jadi...ingatanmu tentang semalam benar-benar hilang, ya..?" Ia berhenti sejenak, seolah sengaja memberi jeda.

"...atau kamu cuma pura-pura lupa, Dav?"

"Coba jelaskan," ucap Davina, berusaha terdengar setenang mungkin. "Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? Saya benar-benar nggak ingat." Ia sengaja memancing reaksi Trian. Davina yakin pria itu tidak mungkin berani mengatakannya terus terang. Bagaimanapun juga, mereka adalah atasan dan bawahan. Mustahil Trian akan dengan gamblang mengakui bahwa mereka menghabiskan malam bersama setelah acara kantor.

Trian menatapnya beberapa saat tanpa berkedip. Tatapan itu membuat Davina mulai ragu pada strateginya sendiri.

"Lupa?" tanya Trian datar. Davina mengangguk mantap. Pria itu mengembuskan napas pelan.

"Baiklah...."

Sebelum Davina sempat bertanya apa maksud jawaban itu, Trian tiba-tiba melangkah setengah langkah mendekat. Davina refleks menahan napas.

"Apa yang—"

Cup.

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya. Begitu cepat hingga Davina bahkan terlambat bereaksi. Matanya langsung membelalak lebar.

"Mas!"

Ia spontan mundur selangkah sambil menutup bibirnya dengan ujung jari. Wajahnya memerah seketika.

"Apa yang Mas lakukan?"

Alih-alih terlihat bersalah, ekspresi Trian tetap tenang "Kamu bilang lupa, saya cuma membantu mengingatkan saja"

Trian kembali melangkah mendekat. Jarak mereka kembali memendek hingga punggung Davina tanpa sadar bersandar pada sandaran sofa. Pria itu menumpukan satu tangan di sandaran sofa, membatasi ruang gerak Davina, tetapi tetap menjaga jarak yang pantas. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah perempuan itu.

"Kalau begitu...mau saya lanjutkan untuk reka ulang bagian berikutnya...?" Ia berhenti sejenak, sengaja membiarkan Davina menebak sendiri kelanjutan kalimatnya.

"...supaya ingatanmu benar-benar kembali?"

Jantung Davina langsung berdegup tak karuan. Ia buru-buru menggeleng sekuat tenaga.

"Nggak usah!" Jawabannya terlontar terlalu cepat hingga membuat Trian mengangkat sebelah alis.

"Berarti...sebenarnya kamu masih ingat, kan?" Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.

Davina menelan ludahnya yang terasa tercekat di kerongkongan. Jantungnya bergemuruh hebat, berkejaran dengan waktu yang seolah melambat di antara jarak mereka yang teramat dekat.

​Pura-pura lupa?

​Kalau ia mengaku ingat, itu sama saja dengan menggali kuburnya sendiri. Tapi kalau ia terus menyangkal, tatapan tajam dan menghanyutkan dari pria di hadapannya ini seakan mampu menembus lapisan pertahanan terakhirnya.

​"S-saya beneran lupa, Mas..." cicit Davina, suaranya nyaris berbisik. Ia berusaha mempertahankan benteng terakhir harga dirinya dengan menatap balik mata Trian, meski manik matanya bergetar hebat. "Efek... efek alkohol semalam bikin saya amnesia dadakan."

Davina membuka mulutnya, hendak melontarkan pembelaan diri sekali lagi atau sekadar protes kecil untuk menutupi rasa salah tingkahnya. Namun, sebelum suara itu sempat lolos, Trian kembali membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman yang jauh lebih dalam dan menuntut.

​Kali ini, ciuman itu terasa sarat akan rasa lapar yang tertahan. Tangannya yang melingkar di pinggang Davina semakin mengeratkan dekapan, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah agar berpindah posisi hingga terduduk sepenuhnya di pangkuannya.

​"Ah... Mas..." racau Davina tertahan di sela ciuman, jemarinya secara refleks merambat naik, mencengkeram erat bahu Trian demi mencari pegangan di tengah dunia yang mendadak terasa berputar.

​Trian membiarkan ciumannya turun perlahan, menelusuri rahang tegas Davina sebelum singgah di leher jenjang wanita itu. Gigitan kecil dan isapan basah yang ia berikan sukses membuat Davina melengkungkan punggungnya ke belakang, mendesah pelan seraya membenamkan jemarinya ke dalam helaian rambut hitam Trian.

​Trian menatap wajah Davina yang kini terlihat basah oleh peluh tipis, dengan mata sayu penuh pasrah dan bibir yang membengkak merah. Pria itu menyeringai tipis, ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah Davina yang sedikit bergetar.

​"Rapat dengan klien masih dua jam lagi, Dav," bisik Trian tepat di dekat telinganya, suaranya terdengar serak dan menggoda. "Dan sepertinya, kita punya waktu yang cukup untuk meluruskan semua... kesalahpahaman semalam."

Продолжить чтение
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!    Kangen, ya?

    Davina langsung tersentak kaget. Ponsel di tangannya refleks ia balik menghadap meja, seolah benda itu adalah barang bukti kejahatan yang tertangkap basah. Wajahnya seketika merona panas, panik setengah mati memikirkan kemungkinan Inka sempat mengintip isi pesannya barusan.​"Hah? Apaan? Nggak ada siapa-siapa kok!" elak Davina dengan suara yang sengaja ia buat setenang mungkin, meski jantungnya sudah berdegup kencang seolah mau copot dari rongga dadanya.​Inka menyipitkan mata, menatap curiga ke arah sahabatnya itu. Ia melipat kedua tangan di depan dada dengan gaya seorang detektif amatir. "Masa? Dari tadi aku perhatiin kamu senyum-senyum sendiri kayak orang kesurupan. Jangan-jangan kamu lagi chatting sama gebetan baru ya, Dav? Ngaku nggak?"​"Mana ada! Kamu ini ada-ada aja, Inka," sangkal Davina cepat-cepat, lalu berpura-pura sibuk merapikan tumpukan berkas di atas mejanya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Udah sana balik ke meja kamu, kerjaan numpuk tuh. Nanti kalau keduluan gal

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!    Dinas Luar

    Davina terlonjak kaget, bahunya terangkat seketika akibat rasa terkejut yang mendadak. Dengan gerakan refleks, ia menoleh ke sumber suara dan mendapati Inka sudah berdiri tepat di belakangnya dengan dahi berkerut heran.​"Kenapa, Dav? Kayak lihat hantu aja mukanya pucat begitu," sapa Inka sambil memperhatikan gelagat aneh sahabatnya.​Davina mengerjap beberapa kali, berusaha menormalkan debar jantungnya yang sempat mencelos. "Eh, Inka... tumben pagi banget datangnya?" tanyanya mengalihkan perhatian.​"Iya nih, tadi kebetulan numpang mobil sepupu aku yang searah. Kamu sendiri juga tumben banget datang sepagi ini. Biasanya kan kita hobi banget telat bareng, terus ujung-ujungnya kena potong gaji barengan juga," ledek Inka sambil menyenggol pelan lengan Davina.​Ucapan itu ada benarnya. Di bawah kepemimpinan Trian sebagai manajer operasional, peraturan perusahaan memang semakin ketat. Selain aturan klasik tentang larangan menjalin hubungan asmara antar-karyawan satu kantor, Trian juga m

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!    Takut Ketahuan

    "Mas, kamu serius? Mau cari mati?" Davina melotot kaget, kedua matanya membelalak tak percaya mendengar kalimat barusan. "Nanti apa kata anak-anak kantor kalau sampai lihat kita berangkat bareng? Bisa jadi bahan gosip satu divisi!"​Trian tidak menanggapi protes itu dengan serius. Pria tersebut justru menyunggingkan senyuman simpul yang tampak begitu tenang—dan menyebalkan di mata Davina.​"Pokoknya besok saya jemput," ucap Trian mutlak, seolah tidak menerima bantahan apa pun. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Davina dengan lembut sebelum akhirnya pria itu berbalik dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan unit apartemen.​Malam harinya, setelah Trian pulang, suasana hening di apartemen Davina terasa sedikit berbeda. Gadis itu berbaring di atas ranjangnya, memeluk guling erat-erat sementara layar ponsel di tangannya menyala terang. Jantungnya kembali berdetak tak beraturan saat sebuah chat masuk dari nama yang paling ia hindari sekaligus ia nantikan malam ini.​Trian:

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!    Ronde Kedua tanpa Ampun

    Trian ikut berjongkok di lantai kamar mandi yang basah, membawa tubuh lemas Davina ke dalam dekapannya. Pria itu mengelus puncak kepala Davina dengan kelembutan yang kontras dengan keliaran mereka beberapa detik lalu.​"Aku bahkan... belum keluar," bisik Trian di dekat telinganya, nada suaranya terdengar menggoda sekaligus menuntut.​Davina langsung mendongak, matanya yang sayu menatap Trian dengan campuran rasa ngeri dan tak percaya. "Mas... marah ya sama aku?" lirihnya lemah, napasnya masih memburu.​Trian memiringkan kepalanya, tersenyum tipis. "Kenapa harus marah?"​"Gara-gara aku bilang pendek waktu mabuk di pesta kantor... Makanya Mas melampiaskannya kayak nggak pakai ampun."​Trian terkekeh pelan, lalu menarik Davina ke dalam pelukan hangatnya. "Aku cuma bercanda, Dav," bisiknya.​Namun, rengkuhan itu justru menjadi bensin bagi bara api yang belum padam. Sentuhan langsung antara kulit polos mereka yang sama-sama lembap oleh keringat seketika membangkitkan kembali hasrat Trian.

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!    Desahan Davina di Kamar Mandi

    Davina merasa pertahanan dirinya benar-benar telah runtuh tak bersisa. Ia membiarkan Trian menarik lembut pergelangan tangannya, membawanya melangkah masuk ke dalam ruangan kamar mandi yang masih mengepulkan uap air hangat.​Begitu pintu tertutup dan tubuh mereka terkurung di ruang privat itu, Trian langsung menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi yang dipenuhi gairah membara. Davina yang terbuai refleks membuka bibirnya, membiarkan lidah Trian menjelajah masuk, mengecap rasa manis di sana serta menarik lembut bibir bawahnya dengan ritme yang memabukkan.​Tangan kekar Trian bergerak liar, menyingkap daster satin Davina ke atas hingga melingkar di pinggang, lalu meremas bokongnya dengan penuh penguasaan.​"Maas... hngh..." Satu desahan tertahan lolos begitu saja dari bibir Davina saat ia merasakan bibir panas Trian beralih menciumi lekuk lehernya.​"Jangan di-kissmark, nanti membekas..." Protes Davina setengah hati sambil menahan dada bidang pria itu.​Trian mengangguk paham dengan mat

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!    Mandi Bareng?

    Davina terpaksa mengangguk setuju. Ia membiarkan Trian mengekor di belakangnya menuju unit apartemennya yang terletak di lantai lima. Setibanya di depan pintu, Davina merogoh saku tas kerjanya untuk mencari kartu akses. Saat pintu terbuka dan mereka melangkah masuk, Trian sempat melirik sekilas ke sekeliling ruangan—entah mengapa, ada perasaan déjà vu yang tiba-tiba melintas di benaknya, mengingatkannya pada malam penuh kekacauan beberapa waktu lalu.​"Duduk dulu, Mas. Saya buatkan teh hangat," ucap Davina sambil meletakkan tas kerjanya di atas sofa ruang tamu. Sungguh, dalam skenario paling liar sekalipun, ia tidak pernah membayangkan akan menjamu Trian, atasannya yang dikenal paling galak dan perfeksionis di kantor, duduk santai di ruang tamu rumahnya.​Tak lama kemudian, Davina kembali dari arah dapur dengan membawa secangkir teh uapnya masih mengepul. Kini ia sudah berganti pakaian, melepas baju kerjanya dan mengenakan sebuah daster satin rumahan yang nyaman untuk tidur. Tanpa di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status